Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 77


__ADS_3

Pengedar narkoba tersebut sudah masuk ke mobil ke polisian dan meninggalkan hotel tersebut, orang - orang mulai meninggalkan tempat itu, jalannan kembali lancar seperti biasanya. Bani pun memutuskan untuk pulang.


"Bang, kira - kira siapa ya tadi yang di tangkap ?" tanya Syifa penasaran.


"Gak tau, coba aja kamu lihat di berita online kali saja ada" saran Bani, sebenarnya ia juga penasaran.


"Ide yang bagus" ucap Syifa. mengambil ponselnya lalu mencari informasi tentang penangkapan bandar narkoba di hotel. Syifa membelalakan matanya saat melihat sebuah foto tersangka. Gak mungkin, ini cuma mirip doang. gumam Syifa dalam hatinya.


"Ada gak ?" tanya Bani.


"M masih di cari" ucap Syifa gugup.


"Kamu kenapa ?" tanya Bani penasaran karena istrinya tiba - tiba jadi gugup.


"Nanti saja cerita kalau sudah sampai rumah" ucap Syifa.


Bani pun menurut saja, kini Bani fokus dalam memacu kendaraannya agar cepat sampai di rumah, sedangkan Syifa sibuk memastikan kebenaran tentang berita yang di lihat. sehingga Syifa tak menyadari bahwa mereka sudah sampai di halaman pesantren.


"Ayo turun kita sudah sampai" ucap Bani.


"Sampai mana ?" tanya Syifa bingung.


"Ya di rumah" jawab Bani. "Kamu kenapa sih, dari tadi sibuk terus sama ponsel kamu" tegur Bani pada istrinya.


" maaf bang" ucap Syifa lalu menaruh kembali ponselnya ke dalam tasnya, dan turun dari mobil, berjalan beriringan dengan suaminya menuju rumahnya.


Di ruang televisi, Abah dan Umi sedang fokus menonton televisi, hingga mereka tak menyadari ke datangan Bani dan Syifa. "Fokus sekali nontonnya, ngucap salam saja tak ada yang menjawabnya" tegur Bani.


"Bani lihat itu" ucap Umi sambil menunjuk ke arah sebuah televisi. "Bukannya itu temen kamu yang waktu itu, dia di tangkap polisi di hotel T" ucap Umi lagi.


Bani menatap tajam ke arah televisi di situ terpampang foto yang sangat Bani kenal sekali. Gak mungkin ini. Gumam Bani tak percaya.


"Umi gak percaya kalau dia seperti itu, padahal anaknya baik ko" ujar Umi yang tetap fokus dengan siaran berita.


"Bani juga gak tau, sekarang Bani sudah jarang kumpul dengannya" jawab Bani yang masih tidak menyangka.


Bani izin ke kamarnya ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, Syifa mengikuti suaminya masuk ke kamar, "Apa kamu sudah tau tentang berita itu ?" tanya Bani.


"Iya tadi Syifa kaget pas cari info penangkapan di hotel, foto itu langsung muncul di beranda pencarian, Syifa ingin cerita tapi takut membuat abang gak konsen mengemudinya" sahut Syifa pelan.


"Hmm Abang mau hubungi Tio dulu" ucap Bani lalu menghubungi Tio.


"Lu di mana ?" tanya Bani saat Tio menjawab panggilannya.


"Mas Tio nya lagi tidur, ini Susi istrinya mas Tio" jawab Susi.

__ADS_1


"Hmm, bisa gak kamu bangunkan Tio sebentar karena ada hal yang penting yang ingin aku bicarakan" titah Bani pada Istrinya Tio.


beberapa waktu kemudian. "Ada apa si bro ganggu orang tidur saja" gerutu Tio.


"Ada berita yang menghebohkan" ucap Bani.


"Apa ?" tanya Tio dengan suara orang yang baru bangun tidur.


"Malik di tangkap polisi, dia di duga sebagai bandar narkoba" uca? Bani.


"Apa ?" teriak Tio kaget mendengar penuturan Bani, saking kagetnya Tio langsung bangun dan duduk di tempat tidurnya.


"Gak usah teriak - teriak kali, ini bukan di hutan" ucap Bani.


Karena merasa tak percaya, Tio pun menyalakan televisi yang berada di kamarnya, dan betul saja semua tayangan sedang menceritakan tentang Malik, dan polisi juga sedang memburu tiga orang rekan malik yang merupakan pengedar juga.


"Bani lo harus ikut gue sekarang" ucap Tio.


"Ikut ke mana ?" tanya Bani bingung.


"Ikut saja, sekarang kamu siap - siap, nanti bakalan gue jemput" ucap Tio lalu menutup ponselnya.


Mungkin Tio ngajak ke kantor polisi buat jenguk Malik. pikir Bani.


Bani sudah selesai mandi karena sudah berkumandang adzan makan Bani menunaikan kewajibannya sebagi umat muslim, Bani melaksanakan shalat sendiri karena istrinya masih di kamar mandi.


"Abang buru - buru, nanti Abang mau pergi bareng Tio, tapi gak tau mau ke mana" jelas Bani pada istrinya.


"Ko bisa begitu ?" tanya Syifa bingung.


"Gak tau juga, Tio cuma bilang kalau abang harus ikut dia, dan dia juga yang akan jemput abang ke sini" jawab Bani.


"Hmm, ya sudah cepetan siap - siap, nanti mas Tio ke buru datang" ucap Syifa, lalu ia juga menunaikan shalat ashar.


Tio sudah datang menjemput, Bani pun pamit untuk pergi menyelesaikan urusanya, sebelum pergi Bani mencium kening sang istri terlebih dahulu. Bani merasa bingung karena Tio melajukan mobilnya menuju sebuah pintu gerbang tol.


"Kita sebenarnya mau kemana ?" tanya Bani bingung.


"Duduk santai saja, karena perjalanan masih lumayan jauh" Jawab Tio semakin membuat Bani bingung.


"Kamu tidak berencana menculikku kan ?".


"Ya Allah Bani pendek sekali pikiranmu Bani, mana ada orang yang menculik terus di jemput ke rumah" ucap Tio seraya menahan tawa dan tetap fokus mengemudi.


"Lalu kita mau ke mana ?" tanya Bani yang masih penasaran.

__ADS_1


"Aku mau ngajak kamu ketemu seseorang, dan sekarang kamu diam saja, nikmati perjalanan ini" ujar Tio.


hampir setengah jam mereka berada di jalan tol lalu Tio mengarahkan mobilnya menuju pintu keluar tol, kini mereka melewati jalanan yang sepi dan kiri kanan jalan adalah hamparan perkebunan warga. Adzan magrib sudah berkumandang namun mereka belum sampai ke tujuan mereka, Tip menepikan mobil di sebuah mesjid di pinggir jalan untuk menunaikan shalat magrib terlebih dahulu.


"Bani kabari istri mu, kemungkinan malam ini kamu tidak akan pulang" titah Tio.


"Alasannya apa ?".


"Bilang saja ada urusan gitu saja" jawab Tio.


"Kalau nanti bertanya urusan apa gimana ?".


"Ya allah Bani, kamu itu pria, bisa gak berpikir cari alasan yang tepat, dan initinya kita tidak akan berbuat yang aneh - aneh, kita akan pulang besok dengan ke adaan selamat" ujar Tio. dia merasa kesal kenapa bosnya jadi bawel dan banyak tanya.


Tio kembali melanjutkan prjalanan mereka, tepat pukul delapan malam mereka sudah sampai di sebuah rumah tua yang berada di tengah hutan.


"Ngapain kita berhenti di sini ?" tanya Bani.


"Kita sudah sampai, Ayo turun".


Dengan ragu Bani turun dari dalam mobilnya dan berjalan mengikuti Tio, kedatangan Tio di sambut ke dua anak buahnya.


"Gimana apa dia sudah mengaku ?" tanya Tio pada anak buahnya.


"Belum bos" jawab keduanya kompak.


"Sialan" umpat Tio kesal.


Lalu Tio membisikan sesuatu telinga salah satu anak buahnya "Baik bos" ucap anak buahnya.


"Sebenarnya ada apa sih ?" tanya Bani bingung.


"Ayo ikut nanti kamu akan tau sendiri jawabannya" Tio mengajak Bani masuk dan menemui tiga orang yang di sekap oleh anak buah Tio.


"Mereka siapa ?" tanya Bani bingung ketika melihat ketiga orang dengan badan besar sedang duduk saling membelakangi dan dalam ke adaan di ikat.


"Mereka bertiga adalah yang telah membakar kantor kamu, harusnya ada empat orang, namun yang satu gagal di tangkap dan sekarang sedang dalam pengejaran anak buah ku" jelas Tio.


"Dari mana kamu tau kalau mereka yang membakarnya, kita tidak punya barang bukti dan juga saksi mata ?".


"Aku sudah mengikuti setiap kegiatan mereka, dan mereka juga sudah mengakuinya bahwa mereka yang melakukan itu, namun mereka belum mau menyebutkan nama bosnya". jelas Tio.


"Apa benar yang di katakan Tio, kenapa kalian tega membakar tempat usaha saya, apa salah saya kepada kalian ?" tanya Bani pada ketiga orang tersebut.


"Karena kami tidak suka atas kesuksesan yang anda raih, apa ada tau gara - gara ada beberapa usaha yang gulung tikar" Ujar salah satu orang tersebut.

__ADS_1


"Anda memberi harga yang jauh lebih murah, dan juga kualitas yang bagus, bahkan anda tak segan memberikan diskon, itu membuat pelanggan kami berpindah pada anda" ucap salah satu orang tersebut dengan berapi - api matanya menatap tajam ke arah Tio dan Bani.


__ADS_2