
Syifa kembali masuk ke dalam rumah dengan perasaan sangat lega karena sindikat pencuri yang beraksi di lingkungannya sudah di tangkap dan di amankan polisi.
"Ummah kita masa saja yuk, buat makan siang nanti, tadi Abang bilang kalau ia akan makan siang di rumah" ujar Syifa.
"Ayo".
Keduanya bertempur dengan alat masak, memasak menu makan siang untuk para suami mereka, mereka hanya masak cah toge dan ayam goreng mentega, walau pun menunya sangat sederhana namun di buatkan dengan penuh rasa cinta dan sayang.
"Nak, Ummah liat sekarang kamu semakin berisi ya" ujar Ummah di sela - sela masak mereka.
"Masa sih Ummah ?".
"Iya nak, kamu seperti lagi ngisi lagi" ujar Ummah.
"Mungkin aku terlalu menikmati peran ku sebagai istri, hingga lupa akan penampilan ku" sahut Syifa seraya memperhatikan bentuk tubuhnya.
Selesai memasak, Syifa mengajak Ummah untuk melihat - lihat koleksi bunga Syifa di taman belakang rumahnya.
"Bagus - bagus nak, tanamannya" ujar Ummah.
"Ini kegiatan ku ummah, kalau Abang sudah berangkat kerja dan juga selesai mengerjakan pekerjaan rumah" jelas Syifa.
Ummah pun memperhatikan satu persatu tanaman yang berada di sana. "Oh iya nak, Robby dan Salwa mereka pindah rumah loh". ujar Ummah.
"Pindah ke mana ?".
"Pindah ke luar kota" jawab Ummah.
"Ko jauh banget ?".
"Robby menghindari mamah Erni, karena berusaha memisahkan mereka".
"Kasian Salwa, waktu itu Syifa pernah ketemu dan ngobrol bareng, dia bilang kalau tante Erni sering datang diam - diam dan membawa banyak banget obat - obatan dan juga jamu. semoga di tempat yang sekarang mereka bisa bahagia dan lebih tenang". Ujar Syifa dan berlalu ke arah dapur untuk membuatkan minuman untuk dirinya dan juga Ummah.
Saat Syifa mengambil gelas dan akan menuangkan sirup kepalanya kembali pusing.
"Kepala ku pusing sekali" ucap Syifa lirih, mencoba bertahan agar dirinya tak jatuh tersungkur. botol sirup yang di genggamnya pun terjatuh dan di ikuti oleh tubuh Syifa yang tersungkur di lantai tak sadarkan diri.
Mendengar ada benda jatuh Ummah pun masuk ke dalam rumah untuk melihat keadaan.
__ADS_1
"Syifa, tadi ummah denger ada benda jatuh apa itu ?" tanya Ummah namun tak ada jawaban.
"Syifa kamu di mana nak " teriak Ummah.
Betapa terkejutnya Ummah melihat anaknya sudah tergeletak tak sadarkan diri, dengan pecahan botol di sampingnya.
"Syifa bangun, kamu kenapa ?" Ummah menggoyang - goyangkan tubuh tubuh Syifa, berharap Syifa sadar.
"Nak kamu tidak sedang mengerjai Ummah kan" tangan Ummah menepuk - nepuk pipi Syifa, namun tetap tak ada respon.
Ummah berlari ke luar untuk meminta tolong pada security. " Pak Tolong anak saya" teriak Ummah dari dekat pintu.
Mendengar suara minta tolong security pun berlari menghampiri Ummah. " Kenapa Bu ?".
"Syifa pingsan".
Keduanya berlari menuju tempat di mana Syifa jatuh pingsan. "Pak tolong bawa ke kamar, Baju Syifa basah, saya akan menggantinya" titah ummah pada security.
Syifa di bawa ke dalam kamarnya, lalu security tersebut menunggu di luar kamar karena Stifa akan di ganti baju dan di bersihkan badanya.
"Pak tolong carikan minyak angin" titah Ummah pada security setelah selesai mengganti baju Syifa.
Di dalam kamar Ummah terus mencoba menyadarkan Syifa. "Syifa bangun jangan buat Ummah panik" ujar Ummah.
Ummah mengoleskan minyak angin di dekat hidung milik Syifa. namun ushanya sia - sia Syifa masih tetap tak sadarkan diri.
"Bu, bagaimana kalau kita bawa ke rumah sakit saja" usul security.
Ummah pun setuju, mereka pergi ke rumah sakit dengan menggunakan mobil milik Bani, untung saja kunci mobilnya berada di atas meja rias, jadi tak menyulitkan mereka mencari kunci mobil tersebut. pak security berada di balik kemudi, sedangkan Ummah dan Syifa berada di jok belakang.
"Pak, cepat pak" ujar Ummah.
"Ini sudah cepat bu".
Sampai di rumah sakit, Syifa langsung di bawa keruang UGD. sedangkan Security dan Ummah menunggu di luar ruangan dengan perasaan cemas dan saking paniknya mereka lupa menghubungi Abi Umar dan juga Bani.
Lamat - lamat Syifa membuka mata. kepalanya masih terasa berat sekali dan juga berkunang - kunang.
"Rebahan saja mbak, kalau masih pusing". ucap salah satu perawat, yang membantu mengecek tekanan darah Syifa.
__ADS_1
"Saya ada di mana, ya ?" tanya Syifa. matanya memonitor sekitar ruangan tempatnya berbaring. "Saya sakit apa, ya dok ? kenapa sering sekali pusing akhir - akhir ini ?" Tanya Syifa lagi pada dokter yang sedang memeriksanya.
"Sering lemes juga ya, badannya ?".
"Iya, dok".
"Tenggorokannya sering terasa kering, terus perut bagian bawah juga agak nyeri, ya ?" pertanyaan dokter itu seratus persen persis seperti yang Syifa rasakan.
"Bener semua, dok. jadi saya sakit apa ?" Syifa sudah cemas kalau - kalau dia terkena penyakit yang serius.
Dokter itu malah tersenyum. "Enggak apa - apa, Mbak. Ini hasilnya silahkan di lihat. nanti saya kasih resep vitamin dan juga penambah darah, biar enggak anemia".
Syifa mengangguk. Oh, ternyata anemia. ucap Syifa dalam hatinya lega.
Syifa keluar dari ruang UGD dengan badan yang masih lemas. "Gimana keadaan kamu nak, sakit apa kata dokter ?". tanya Ummah.
"Syifa hanya anemia Ummah, jangan bilang sama Abang ya, Syifa takut kalau mereka khawatir dan jadi tak fokus bekerja" Pinta Syifa pada Ummah.
Setelah menebus obat dan membayar administarsi mereka pulang kerumah, Selain pada Ummah Syifa juga meminta pada security untuk merahasiakan kejadian tadi. Syifa menyimpulkan sakitnya adalah anemia, sehingga ia tidak perlu membaca sebuah surat hasil lab yang di berikan oleh dokter.
...******...
Robby sudah bersiap untuk pulang, ia memutuskan untuk meeting besok akan di wakilkan oleh sekertarisnya, menurutnya meeting besok tak terlalu penting, hingga ia mempercayakannya pada sekertarisnya itu.
Kedatangan Robby membuat Salwa benar - benar terkejut. "Mas sudah pulang, bukanya mas pulang besok sore, kenapa sekarang sudah pulang ?" tanya Salwa heran. harusnya Robby yang mendapat kejutan tetapi malah dirinya yang mendapat kejutan.
"Suami pulang bukannya di sambut malah di todong pertanyaan" gerutu Robby. "Gak seneng ya kalau mas pulang lebih awal ?".
"Bukan begitu mas, antara senang dan terkejut, janjinya besok tadi sekarang sudah balik".
"Iya urusan yang penting sudah abang selesaikan dan untuk urusan besok sekertaris mas mampu menghandelnya, jadi aku putuskan pulang, aku kangen banget sama kamu" jelas Robby. "Badan ku lengket sekali, aku ingin mandi dulu ya" Robby berlalu menuju kamarnya. Salwa masih mematung memandang suaminya, ia bingung harus membuat konsep baru untuk acara memberi kejutan pada suaminya.
Salwa pun pergi ke dapur untuk menemui bi Tinah.
"Bi, Mas Robby sudah pulang, ia sedang membersihkan badannya, bibi masak buat makan malam nanti". ujar Syifa.
"Bapak sudah pulang ? tapi bibi belum merapihkan tempat di belakang" sahur bi Tinah.
"Seadanya aja bi, yang terpenting acaranya berjalan lancar" ujar Salwa.
__ADS_1