Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 181


__ADS_3

Seorang dokter keluar dari ruangan icu. semua keluarga pun langsung menghampiri.


"Bagaimana keadaan mamah saya ?" tanya Robby.


"Keadaan pasien alhamdulilah baik - baik saja, pasien telah melewati masa kritisnya, dan akan segera di pindahkan". ujar dokter menjelasakan keadaan mamah Erni. "Saya minta perwakilan keluarga untuk ikut keruangan saya, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan" sambung dokter tersebut.


Robby dan Abi Umar sebagai perwakilan keluarga langsung mengikuti dokter menuju keruangannya.


"Silahkan duduk pak" ujar dokter tersebut ramah. "Jadi gini memang keadaan pasien baik, namun ada berita duka yang harus saya sampaikan juga" ujar dokter.


"Maksud dokter apa ?" tanya Robby.


"Jadi begini, dari serangkaian pemeriksaan yang di lakukan, pasien akan mengalami kelumpuhan, tapi itu hanya sementara, jika pasien menjalani terapi secara teratur pasien akan kembali normal" ujar dokter menjelaskan.


"Apa mamah saya lumpuh, kok bisa ?" tanya Robby terkejut.


"Jadi ketika pasien jatuh tersebut membentur tulang ekornya, maka itulah yang menyebabkan pasien lumpuh, tapi itu hanya sementara, pasein bisa menjalani terapi untuk krmbali bisa berjalan" jelas sang dokter.


"Dok, berapa lama untuk terapinya ?" tanya Abi Umar.


"Beda - beda, tergantung semangat pasien dalam menjalani terapi rata - rata ada yang enam bulan dan kadang juga lebih, tapi melihat umur pasien seperti ya akan lebih dari enam bulan dan juga kurang dari setahun, jadi saya harap jangan bebani pikiran pasien dengan yang berat - berat, kalian sebagai keluarga harus bisa menyemangatinya agar proses penyembuhannya berjalan dengan lancar". ujar dokter.


Setelah berbincang - bincang panjang lebar tentang keadaan mamah Erni, Robby dan Abi Umar pun keluar dengan perasaan yang berkecambuk. Robby bingung harus menjelaskan apa pada Mamahnya nanti.


"Nak kamu sebagai anak laki - laki dan juga anak tertua kamu harus bisa kuat, kalau kamu lemah lalu siapa yang akan menguatkan mamah dan adik kamu itu" ujar Abi Umar.


Robby terdiam, apa yang di katakan Abi Umar itu benar adanya jika dirinya lemah bagaimana bisa menguatkan yang lainnya.


"Abi bantu Robby ya buat jelasin ini semua ke yang lainnnya" pinta Robby.


"Ia nak".

__ADS_1


Mamah Erni sudah di pindahkan ke ruang perawatan namun masih belum sadarkan diri. Robby bingung harus menjelaskan dari aman dulu, Robby kelihatan sangat gelisah sekali.


"Biar Abi yang bicara" bisik Abi Umar pada Robby dan Robby pun hanya mengangguk.


Abi Umar mulai menceritakan kondisi mamah Erni, ia berbicara sangat hati - hati agar tidak membuat yang lain syok.


"Abi, Tapi mamah bisa sembuh kan ?" tanya Tasya.


"Mamah akan sembuh dengan menjalani proses terapi. tapi Abi mohon kalian tidak boleh bersedih agar mamah kalian juga tidak ikut bersedih karena itu akan berpengaruh pada kondisi mamah kalian" ujar Abi Umar seraya mengusap kepala Tasya yang sedari menangis dalam pelukan Ummah.


"Kamu gak boleh nangis lagi, kamu harus bisa menguatkan mamah ya" ujar Ummah seraya mengusap air mata yang mengalir di pipi Tasya.


Lamat - lamat, mamah Erni membuka matanya, padangannya memonitor seluruh ruangan tersebut. kepalanya masih terasa pusing.


"Aku di mana ?" tanya Mamah Erni dengan suara lirih.


Semua terkejut dan berlarian mendekati tempat mamah Erni terbaring.


"Mamah sudah sadar ?" tanya Tasya senang melihat mamah sudah sadarkan diri.


Tak lama dokter datang untuk memeriksa kondisi mamah Erni. "Bu apa ada keluhan ?" tanya Dokter.


"Badan saya berat sekali untuk di gerakan, apalagi bagian kaki" ujar mamah Erni. lalu mamah Erni mencoba menggerakan kaki nya namun ia sangat terkejut saat kakinya kaku untuk di gerakan.


"Dok kaki saya kenapa ?" tanya Mamah Erni panik.


Dokter sekilas melirik Abi Umar, dan yang di lirik hanya menggelengkan kepalanya, pertanda bahwa mereka belum ada yang membicarakan hal itu pada mamah Erni.


"Ibu tenang dulu, kaki ibu untuk sementara harus beristirahat dulu" jelas sang dokter.


"Maksud dokter saya lumpuh ?" tanya mamah Erni tak percaya. dokter pun hanya mengangguk.

__ADS_1


"Tidak mungkin dok, katakan pada saya jika dokter salah memeriksa" ujar mamah Erni tak terima jika dirinya di nyatakan lumpuh.


"Tenang bu, ini bisa di sembuhkan ko, dan ini hanya sementara, jadi nanti ibu bisa terapi" ujar dokter menjelaskan.


Robby berusaha menenangkan mamahnya sedangkan Tasya ikut menangis memeluk sang mamah. suasana dalam ruangan tersebut penuh air mata. Salwa tak berani mendekat ke arah mertuanya, ia tak ingin mertuanya semakin histeris saat melihat dirinya ada di sana, Salwa duduk di sofa ruang tersebut sendirian, dalam hatinya terus merapalkan dia - doa untuk kesembuhan mertuanya.


...*******...


Sementara di kediaman Rara ia sangat terkejut dengan pesan yang di terima nya, namun ia mencoba perpikir positif mungkin itu orang salah kirim.


kehadiran mamanya dan mertuanya membuat Rara bisa melupakan tentang pesan tersebut hingga sampai Fariz pulang dalam keadaan sehat walafiat.


Tapi saat malam tiba ponselnya kembali berbunyi dan terlihat ada pesan yang masuk.


Rara pun membaca isi pesan tersebut.


"Ancaman ku tidak main - main Rara, sekarang kamu tinggal pilih tinggalkan suami mu atau kehancuran akan datang pada kehiduapan mu"


Pesan tersebut berisikan sebuah ancaman, yang dikirim oleh nomor yang sama dengan yang tadi pagi.


Rara terlihat sangat pucat setelah membaca pesan tersebut, ia sedang berpikir siapa yang mengirim pesan tersebut. dan berpikir bercerita atau jangan pada suaminya. melihat gurat lelah di wajah sang Suami Rara memilih menyimpan masalah tersebut sendirian.


Pesan yang serupa kembali masuk dari nomor yang sama, membuat Rara penasaran dengan siapa orang yang telah melakukan ancaman tersebut, Rara langsung menghubungi nomor tersebut namun panggilannya malah di tolak.


membuat Rara semakin penasaran dengan pemilik nomor tersebut.


Apakah kamu merindukan ku hingga kamu terus - terusan menghubungi aku. Rara kembali mendapat pesan tersebut. ia mendengus kesal.


"Kenapa kamu ?" tanya Fariz melihat kekesalan di wajah Rara


"Enggak apa - apa ko, aku tidur duluan ya, ngantuk" ujar Rara. sebelum memejamkan matanya Rara terlebih dahulu mematikan ponselnya agar ketika ada pesan dari nomor tersebut tidak di ketahui suaminya.

__ADS_1


Ke esokan harinya, Rara tak lagi mendapat pesan dari nomor tersebut, membuat Rara bisa bernafas lega. Rara sedang menikmati siaran televisi seorang diri dan hanya ada asisten rumah tangga di rumahnya, hari ini Umi tidak datang karena sedang ada acara pengajian. sedangkan mama nya sedang berbelanja kebutuhan dapur untuk di rumah Rara.


Ponselnya kembali mendapat notif, dan itu di kirim dari nomor yang sama namun kali ini bukan sebuah ancaman namun sebuah foto yang di kirim. dalam foto tersebut napak Fariz sedang berduaan di sebuah meja dengan wanita lain, dari foto tersebut terlihat Fariz seperti sedang tersenyum pada wanita yang ada di hadapannya. dan dari keterang foto tersebut adalah "Apakah suami seperti itu yang dia anggap baik dan juga setia".


__ADS_2