
Sinar mentari pagi menyusup lewat celah - celah jendela, membuat Robby terbangun dari tidurnya. Namun betapa kagetnya dirinya setelah ada wanita yang tertidur lelap tanpa busana dan terdapat bercak darah di seprainya.
"Robby apa yang kamu lakukan, ia masih di segel, bodoh sekali kamu Robby" Robby merutuki dirinya sendiri.
"Maafkan aku, aku janji aku akan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi" ucap Robby pelan lalu mengecup kening Salwa, tak lupa ia pun mempotretnya. Robby pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Salwa membuka matanya, yang ia rasakan adalah badanya serasa remuk, apalagi di bagian dareah intimnya, begitu terasa perih dan sakit, Salwa membuka matanya perlahan memperhatikan sekeliling kamar dan itu bukan kamar asrama pesantren atau pun kamar miliknya, dan betapa kagetnya setelah melihat ke tubuhnya yang kini sudah telanjang bulat.
"Akhhhhhhhhhhhhhh" teriak Salwa sekenceng - kencengnya.
Robby langsung keluar dari kamar mandinya dan melihat ke adaan Salwa.
"Dasar lelaki berengsek kenapa kamu lakukan ini pada ku ?" Tanya Salwa seraya menangis.
"Maaf Salwa, aku ke bablasan, kamu yang terus menggoda saya, kamu mabuk Salwa" ucap Robby tegas.
Salwa tak percaya dengan apa yang Robby katakan hingga Robby memperlihatkan sebuah video rekaman lewat cctv.
"Saya akan bertanggung jawab, saya akan datang ke orang tua mu untuk minta restu dan izin menikah" ucap Robby dengan rasa bersalahnya.
"Aku tak mau nikah dengan lelaki seperti mu, aku akan menikah dengan pujaan hati saya" jawab Salwa tegas.
"Tapi yang kita lakukan itu salah, aku akan bertanggung jawab" ujar Robby kekeh pada pendiriannya.
"Terimakasih sudah mau bertanggung jawab, namun aku rasa tidak perlu, kamu cukup merahasiakan ke jadian ini" ucap Salwa seraya memungkuti bajunya lalu pergi ke kamar mandi.
"Apapun yang terjadi, aku harus menikahi mu" ucap Robby dalam hatinya.
Setelah kejadian malam itu, Robby menyuruh seseorang untuk mencari tahu tentang Salwa. Robby kaget ketika mendengar bahwa Salwa adalah tenaga pengajar di sebuah pesantren.Tekad Robby semakin kuat untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Robby berbulan - bulan membujuk Salwa agar mau nenikah dengannya namun Salwa selalu menolak dengan alasan tidak cinta, hingga Robby mendapat kabar kalau ada seorang lelaki yang akan mengkhitbah Salwa, menurutnya di sana waktu yang tepat untuk diri ya mempertanggungkan perbuatnyanya, Robby pun menyediakan berbagai bukti untuk memperkuatnya.
flsahback off
Pintu kamar di ketuk, dan membuyarkan lamunan Salwa.
__ADS_1
"Ibu boleh masuk ?" Tanya ibunya Salwa dari balik pintu.
"Masuk saja"jawab Salwa singkat.
Ibunya Salwa masuk ke kamar anaknya membawa sepiring cake ke sukaan Salwa.
"Ibu buat ini untuk kamu, jadi ibu harap kamu mau menghabiskannya" seru Ibunya Salwa.
"Aku tidak pernah memerintahkan siapa pun untuk membuat cake" jawab Salwa datar.
"Salwa inget !! jangan bikin orang tua mu itu malu untuk ke dua kalinya, atau kamu ingin melihat kami mati di hadapan kamu" seru Ibunya Salwa emosi.
Setelah menaruh cake di atas nakes, ibunya Salwa langsung pergi meninggalkan kamar anaknya kalau terus - terusan di sana ia takut darah tingginya kumat lagi.
Salwa menghela nafasnya panjang, pernikahan tinggal menghitung hari, namun ia belum bisa melupakan Bani. "Aku benci kamu Robby, kenapa kamu tega mengancurkan kebahagiaan ku" gerutu Salwa dalam hatinya.
...*******...
"Ummah apa kita di rumah tante Erni lama ?" Tanya Asyifa.
"Syifa mau undang temen - temen buat datang ke sini, Syifa mau ngerayain ulang tahun kecil - lecilan di sini bareng temen - temen" jawab Asyifa.
"Gimana kalau ngundang temen - temennya sekalian acara makan malam" Ummah memberi usulan dan langsung mendapat sambutan baik dari Asyifa.
"Asyifa mau siap - siap buat ke rumah tante Erni, sekalian mau ngasih tahu ke temen - temen kalau acaranya nanti malam" ujar Asyifa lalu pergi ke kamarnya.
Asyifa mengirim undangan makan malam lewat grup chatnya, dan mendapat respon yang baik, hanya ada beberapa temen yang tak bisa hadir karena ada acara keluarga yang tak bisa di tinggalkan, Asyifa pun memakluminya.
Asyifa sedang berdandan ala anak remaja sebelum pergi, tiba - tiba kakak iparnya masuk ke kamarnya.
"Wahh adik kak Shela sekarang udah pinter pake make up" goda Shela saat melihat Asyifa duduk di depan meja rias.
"Haa kak Shela aku hanya pake bedak dan lipstik saja" jawab Asyifa. "Ko kak Shela belum siap - siap, kita kan mau pergi ke rumah tante Erni ?" Tanya Asyifa.
"Kakak gak ikut, kakak harus banyak istirahat sayang". Jawan Shela seraya mengusap - ngusap kepala Adik iparnya. "Gimana di pesantren betah gak ?" Tanya Shela penasaran.
__ADS_1
"Kalau sekarang mulai betah kak, para santri watinya juga ramah - ramah walau pun ada beberapa juga yang nyebelin, tadinya Ifa mau pesantren sambil kuliah tapi kayanya bakalan cape banget deh" ujar Asyifa menjelasakan.
"Kalau kamu nerusin kuliah, emang mau ngambil jurusan apa ?".
"Gak tau, gak kepikiran" jawab Asyifa seraya tertawa.
"Dari pada bingung milih jurusan, mending nyari pendamping hidup saja, enak tau kalau udah nikah mah" seru Shela.
"Kak Shela, umur ku saja baru sembilan belas tahun, aku belum punya pikiran ke sana" jawab Asyifa sambil merapihkan kerudungnya.
"Masa sih de gak ada cowok yang di taksir, di pesantren emang gak ada pilihan ?" tanya Shela yang mulai kepo.
"Kayanya gak ada deh kak, soalnya gak ada yang lagi diskon" jawab Asyifa ngasal.
Pembicaraan mereka pun terhenti karena Ummah sudah memanggil Asyifa, dan sidah siap untuk berangkat.
Perjalanan menuju rumah tante Erni memakan waktu empat puluh menit, ke datangan keluarga Asyifa langsung di sambut oleh Tante Erni.
"Wah ponakan tante yang satu ini makin cantik saja, gimana nak di pesantrennya betah ?" tante Erni yang melihat kedatangan Asyifa langsung memeluknya.
"Ah tante bisa saja" jawan Asyifa malu - malu. "insya Allah Asyifa betah di sana" jawab Asyifa.
Setalah puas memeluk Asyifa, tante Erni menggandeng tangan Asyifa untuk masuk ke rumahnya. di dalam sana sudah banyak sanak saudara yang berkumpul.
"Tante Kak Robby mana ?" tanya Asyifa yang tak melihat ke beradaan Robby.
"Ada di kamar".
"Syifa ke kamar kak Robby ya".
Di dalam kamar Robby sedang melamun, pikirannya melayang entah ke mana, yang jadi pikiranya, salah gak si dia memaksa menikahi perempuan hanya karena ia ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya. rumah tangga seperti apa yang akan Robby bangun. Robby terus memandang foto Salwa yang ada di ponselnya.
Asyifa masuk ke kamar Robby karena kebetulan pintu kamar Robby sedikit terbuka. sebelum melangkah masuk Asyifa mengetuk pintu terlebih dahulu namun tak ada respon dari sang pemilik kamar. Asyifa melangkah mendekati Robby.
"Kak Robby" sapa Asyifa namun tak ada respon dari Robby.
__ADS_1
Robby terus menatap foto tersebut, Asyifa kaget kalau Robby sedang menatap sebuah foto perempuan yang sedang tidur yang terlihat hanya wajahnya karena seluruh badannya tertutup oleh selimut.