
waktu paling mahal adalah kebersamaan. tidak bisa di ulang atau di tukar dengan apapun. apalagi di beli.
Sepi dan bosan, itulah yang di rasakan Syifa. kini ia duduk di taman rumahnya, memandang tanaman yang sudah lama tak terawat semenjak dirinya hamil. itu semua karena larangan dari Bani.
"Rindu kegiatan sebelum hamil. Eh bolehkah diriku begitu ?! Tidak, Syifa ! jangan mengeluh sudah bagus Allah memberikan mu kesempatan menjadi perempuan terpilih. Bayangkan saja, di luar sana masih banyak perempuan yang masih berjuang untuk menjemput kehadiran buah cinta setelah pernikahan" Batin Syifa. lalu beristigfar saat rasa bosan tiba - tiba saja membuatnya hampir saja lalai akan nikmat Allah yang tak terkira.
Sebelum menikah Syifa sering mendengar nasehat dari Abinya. Bahwa setinggi apa pun pendidikan serta karier seorang perempuan, tetap saja karier terbaiknya adalah saat mengurus rumah tangga. gaji seorang istri tak ternilai dengan apa pun, yaitu keikhlasan, Rasa syukur serta ridhoan suaminya. dan puncak emas karier seorang perempuan adalah saat ia berhasil menjadi madrasah bagi anak - anaknya dan menjadi sandaran bagi suaminya dalam keadaan apa pun.
Syifa mengusap setitik bening yang mengalir di sudut matanya. Entah tiba - tiba saja matanya memanas dan air matanya membayang di sana. bukan karena sedih atau kecewa, Syifa terharu, Ada sebersit sesal karena tanpa sadar terlalu banyak mengeluh. Belum hilang dalam ingatannya bagaimana dulu ia kehilangan calon buah hatinya dan berjuang agar anugrah itu cepat kembali hadir dalam rahimnya. Dan kini setelah malaikat kecil itu bersemayam dalam raganya, harusnya ia memperbanyak bersyukur serta ikhlas menjalani hari yang mungkin lebih berat dari sebelumnya.
Kedua tangan Syifa terulur mengusap perutnya, sudah terlihat agak membuncit. sebentar lagi usia kandungannya tepat empat bulan. dan kemaren Bani sudah membahas akan mengadakan Walimatul hamil.
Syifa tersenyum, kemudian meraih ponselnya, membuka salah satu platform jual - beli online. Dia pikir dari pada memikirkan yang tidak - tidak, lebih baik ia mencari kesibukan saja. melihat - lihat berbagai barang perlengkapan Bayi yang lucu - lucu menjadi hobi baru Syifa saat ini. Rasanya sudah tak sabar mengoleksi pernak - pernik serta barang kebutuhan untuk bayinya nanti. Berbicara tentang kebutuhan bayi. Syifa teringat perbincangannya dengan Ummah beberapa waktu lalu. "
*Jangan dulu, ifa, nanti saja tunggu setelah walimatul hamil kalau mau beli barang - barang buat bayi".
"Menang kenapa Ummah ? bener ya, kalau belanja kebutuhan bayi sebelum tujuh bulan itu pamali ?".
"Bukan begitu nak, semua hari itu baik. Enggak ada yang pamali. cuma kalau sudah lewat dari Empat bulan, kan enak bisa tahu jenis kelaminnya. jadi nanti bisa mengira - ngira mau beli yang bagaimana*".
Kalau di pikir - pikir, ada benarnya yang di katakan ummah. kalau sudah lewat dari empat bulan, pasti saat usg sudah terlihat jenis kelamin bayinya sehingga lebih mudah untuk memilih warna atau jenis barang kebutuhan bayinya. ya meskipun hasil usg tidak seratus persen akurat.
__ADS_1
Entah sudah berapa lama Syifa menyelam di dunia online . matanya terasa berat. rupanya kantuk datang menyerang. Sehingga Syifa menutuskan untuk menutup platform jual beli online. Syifa bangkit dari duduknya, ia pun menuju kamarnya dan langsung membaringkan tubuhnya hingga ia tertidur lelap.
Sementara di kantor tempat Bani bekerja, ia sedang bersiap - siap untuk melakukan meeting penting untuk membuat perusahaannya terus berkembang dan di kenal oleh seluruh kalangan. Hari ini Bani kedatangan klien yang mengajak kerja sama dari negara tetangga, hal ini membuat Bani harus bisa tampil baik demi kerjasama yang saling menguntungkan.
Acara meeting itu berjalan dengan lancar, Bani menghembuskan nafasnya lega. karena hasil meeting tersebut sangat menguntungkan bagi perusahaannya. Senyum sumringah pun terukir di wajah Bani saat ia keluar dari ruangan meeting tersebut.
Hari semakin sore, namun masih ada pekerjaan yang masih harus ia selesaikan ya itu menemui seorang investor. Bani bersiap - siap untuk pergi menuju tempat dimana ia dan investor tersebut akan bertemu.
"Tio, aku duluan ya" ujar Bani.
"Tumben, kangen istri ya" goda Tio.
"Itu udah pasti. Tapi gue belum bisa pulang, gue mau nemuin investor buat perusahaan Abinya Syifa" jelas Bani.
"Akhirnya bisa pulang cepat juga" gumam Bani, usai menerima panggilan tersebut. Bani pun kembali melajukan mobilnya dan mencari putaran arah untuk berputar.
****
Syifa merancu saat tangannya meraih guling dan memeluknya erat. udara di sekitarnya juga terasa lebih sejuk dan dingin dari sebelumnya.
Syifa menggeliat saat merasa asa yang mengelus lembut pucuk kepalanya. tak sampai di situ usapan itu bahkan menjalar ke pipi. refleks ia membuka matanya pelan. masih mengerjap dan belum sepenuhnya sadar.
__ADS_1
mengucek matanya sambil memonitor sekitarnya, pandangannya masih kabur.
"Abang. . " lamat - lamat di lihatnya sosok suaminya sedang tersenyum manis ke arahnya.
"Abang ko di rumah ? dari kapan ?" tanya Syifa menegakan badannya dan bersandar di atas ranjang.
Bani tak langsung menjawab, ia malah kembali tersenyum manis dan meremas pelan kedua pipi Syifa gemas sekali, karena kini pipi Syifa semakin cabi.
Syifa melirik jam yang ada di dinding, baru pukul setengah empat. benarkah ?. tapi kenapa Bani sudah di rumah, bukankah ia bilang tadi akan pulang terlambat.
"Abang kok sudah pulang ?" tanya Syifa lagi.
"Kenapa ? gak suka Abang kalau pulang cepat ?".
"Ih, Enggak gitu. kirain kan, pulang malam lagi, tadi pagi juga abang bilang mau pulang telat".
"Alhamdulilah, kerjaan abang sudah selesai, dan buat investor gak jadi bertemu, katanya ada keluarganya yang meninggal jadi ia harus pergi melayat" jelas Bani. Lelaki itu mendekat dan langsung memeluk tubuh istrinya yang masih bersandar pada kepala ranjang.
"Maafin abang ya, akhir - akhir ini sibuk sekali, jadi jarang ada waktu buat kamu sayang". sambung Bani.
"Syifa, enggak kangen sama Abang ?" tanya Bani. ia sadar betul. meskipun setiap hari bertatap muka, namun akhir - akhir ini jarang sekali punya quality time berdua dengan istrinya. pagi - pagi Bani sudah harus berangkat kerja, lalu pulang sore hari, bahkan kadang magrib atau isya baru sampai di rumah. dan ketika malam kadang Bani membawa kerjaannya pulang untuk di kerjakan di rumah.
__ADS_1
walaupun Syifa sering menemaninya dalam menyelesaikan kerjaannya di malam hari tapi itu bukan yang di namakan quality time, karena sejatinya quality time adalah menghabiskan waktu berdua tanpa memikirkan kerjaan dan sebagainya.