
Syifa memperhatikan raut wajah yang ragu - ragu. "Kenapa kamu bertanya seperti itu ?" tanya Syifa balik.
"Aku sudah telat hampir seminggu, tapi aku takut jika hasilnya negatif, dulu juga aku pernah telat seminggu dan beberapa hari kemudian keluar darah haid" bisik Rara pelan.
"Kalian kenapa pada bisik - bisik sih ?" protes Zahwa.
"Tadi Rara bertanya harus telat berapa lama agar kita tahu hamil atau enggak, katanya Rara juga sudah telat seminggu" jelas Syifa sedangkan Rara hanya terunduk malu.
"Kamu hamil Ra ?" tanya Umi dengan wajah yang berbinar - binar.
"Tidak tahu Umi belum mengeceknya" sahut Rara malu - malu.
"Fariz, Fariz, sini nak" teriak umi memanggil anak bungsunya, sedangkan Fariz sedang membicarakan perkembangan resto nya bersama Bani di taman belakang.
Karena merasa di panggil Fariz segera menghampiri Uminya. "Ada apa Umi ?" tanya Fariz.
"Kamu ke apotik sekarang, beli alat tes kehamilan sekarang juga" titah Umi pada anaknya.
"Mana ada apotek sepagi gini udah buka".
"Adalah, cari apotik dua puluh empat jam, cepetan sana jangan mau bikinnya doang gak mau tanggung jawab" ujar Zahwa.
"Eh bentar deh, kalau kak Zahwa hamil lagi kenapa harus Fariz yang beli kenapa gak kak Tommy saja" protes Fariz.
"Kamu memang pinter adik ku sayang, jadi berarti kalau Umi nyuruh kamu siapa dong yang hamil" ujar Zahwa lagi.
"Gak usah berdebat sana berangkat sekarang" sahut Umi.
"Tapi Fariz gak tahu alat tes kehamilan itu seperti apa dan segede apa" ujar Fariz.
"Bilang saja alat tes kehamilan yang paling akurat" ujar Zahwa.
Akhirnya dengan sedikit terpaksa Fariz berangkat mencari apotik yang sudah buka, setelah berputar - putar selama empat puluh lima menit akhirnya ia menemukan apotik yang sudah buka.
"Mau beli apa pak ?" tanya petugas apotik.
__ADS_1
"Saya mau beli alat tes kehamilan yang paling akurat" jawab Fariz.
"Mau beli berapa pak ?" tanya petugas apotik lagi.
Beli berapa yah, tadi Umi atau kak Zahwa gak ngomong harus beli berapa tapi kalau beli satu takut di suruh balik lagi. gumam Fariz.
"Saya beli. . " berpikir sejenak " Saya beli sepuluh saja" sahut Fariz.
Petugas apotik langsung menyerahkan sepuluh buah alat tes kehamilan kemudian menyebutkan nominal yang harus di bayar Fariz.
"Ini kembaliannya, semoga istrinya bener positif hamil" ujar petugas apotik tersebut ramah.
Selama perjalan pulang di pikiran Fariz terngiang - ngiang ucapan Fariz, lalu ia kemudian teringat kata - kata kakak nya.
Jangan - jangan Rara yang hamil, makanya Umi menyuruh aku yang membeli alat tes kehamilan ini. batin Fariz.
Fariz pun melajukan mobilnya di atas rata - rata, untung hari minggu jadi jalanan terlihat sedikit lengang.
Tiba di Rumah Fariz langsung berlari ke arah di mana istri dan yang lainnya sedang berkumpul.
"Kamu ini gimana sih, Umi menyuruh kamu yang beli jadi tahu dong buat siapa ? masa ia jika aku hamil nyuruh kamu yang beli, kan gak mungkin. gitu saja gak paham sih" gerutu Zahwa yang kesal karena adiknya ternyata tidak mengerti dengan ucapannya tadi.
"Ini untuk Rara, mana sini alat nya" ujar Umi seraya tersenyum. namun Fariz masih diam mematung. antara kaget dan bahagia sedang berkecambuk.
Zahwa yang kesal melihat adiknya diam mematung kemudian merebut kantung yang berisikan alat tes ke hamilan tersebut.
"Banyak sekali kamu beli alat tes kehamilan dua juga cukup" ujar Zahwa.
"Ini kamu coba tes di kamar mandi, cara pemakaiannya lihat di kemasan" titah Zahwa
"Iya kak" jawab Rara. ia mengambil dua buah alat tes kehamilan yang di berikan Zahwa. kemudian masuk ke kamar mandi yang kebetulan berada di dekat ruang televisi.
mendengar ada ramai - ramai di ruang televisi Bani dan Abah Hasan langsung menghampiri mereka.
"Ada apa sih, ko rame banget ?" tanya Abah Hasan. "dan kamu kenapa Fariz ko diam seperti kaya patung saja ?" sambung Abah Hasan.
__ADS_1
"Duduk saja dulu abah, nanti juga bakalan tahu" ujar Zahwa.
Bani duduk di samping istrinya, kemudian melirik sang istri meminta penjelasan, namun istrinya malah tersenyum.
"Fariz duduk nak" titah Abah Hasan tapj tida ada jawaban atau pun respon dari Fariz.
"Biarkan saja Abah, ia sedang latihan menjadi patung" ujar Zahwa asal.
Sementara di dalam kamar mandi Rara sedang membaca petunjuk cara penggunakan alat tersebut setelah itu ia menampung air seninya, dan di celupkannya alat tes kehamilan tersebut pada air seni sesuai petunjuk yang telah Rara baca sebelumnya.
Tubuh Rara bergetar hebat, perasaannya bener - bener campur aduk, ia hanya membaca basmalah berkali - kali, Alat itu belum menunjukan hasilnya, Rara harus bersabar menunggu beberapa detik kemudian.
Sedangkan di ruang televisi, Zahwa terlihat mondar - mandir menunggu Rara keluar, bahkan Umi dengan setia menunggu Rara di depan pintu kamar mandi.
"Ma, kenapa kamu terlihat sedang cemas, ada apa ini ?" tanya Tommy suami Zahwa, ia baru saja pulang lari pagi bersama kedua anaknya Lala dan Zayn.
"Nanti juga tahu" jawab Zahwa. Tommy melirik Bani meminta penjelasan namun Bani hanya mengangkat bahunya pertanda ia juga tida tahu. namun saat melirik Fariz ada sesuatu yang aneh.
"Fariz kenapa kamu dia seperti patung ?" tegur Tommy.
"Jangan di ganggu, dia sedang latihan menjadi patung" jawab Zahwa.
Kenapa semua jadi aneh seperti ini, perasaan tadi ketika berangkat lari pagi tidak ada yang aneh deh. gumamTommy dalam hatinya.
Hasil tes yang pertama sudah keluar, namun Rara merasa kurang puas, hingga ia melakukan tes pada alat yang ke dua. kedua alat tes kehamilan tersebut menunjukan hasil yang sama.
Rara meneteskan air matanya, ia bingung harus mengungkapkan perasaannya dengan cara apa. ia mencuci mukanya menghapus tetesan bening yang mengalir di pipinya, ia mencoba mengontrol perasaannya yang berkecambuk tak tentu arah.
Kehamilan memang bisa di rencanakan dengan cara mengikuti program kehamilan, bahkan kadang dokter juga akan memberikan beberapa resep obat sebagai menyubur kandungan sebagai bentuk ikhtiarnya. tapi untuk hasilnya hanya Allah yang tau, sekuat apapun kita berusaha, namun jika Allah belum berkehendak maka hasilnya pun akan sia - sia.
Rara keluar kamar mandi dengan ekspresi datar, dan Umi langsung menyambut dengan pelukan.
"Nak apapun hasilnya jangan pernah berkecil hati, kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan ikhtiar, dan sisanya Allah yang menentukan" ujar Umi seraya mengelus punggung Rara memberikan kekuatan.
Rara terharu dengan ucapan Umi, tanpa di sadarinya langsung menangis sesegukan dalam pelukan Umi, begitupun dengan Umi yang ikut menangis. membaut para lelaki di rumah itu terheran - heran. kecuali Fariz ia masih asik dalam gemingnya, pikirannya melanglang buana entah kemana.
__ADS_1
"Fariz lihat istri kamu memangis, kenapa kamu diam saja, tanya kenapa dia" ujar Tommy menepuk bahu Fariz membuat Fariz sadar dari lamunan panjangnya.