Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 134


__ADS_3

Salwa dan Robby terdiam mendapatkan pertanyaan seperti itu dari mamah Erni.


"Jika memang penyebabnya kejadian kemaren, mamah minta maaf, kamu belum mendengarkan penjelasan mamah, itu semua tidak sesuai yang kamu pikir, mamah harap kamu pikirkan baik - baik kepindahan kamu ini" mamah Erni menurunkan egonya karena ia tak ingin anaknya jauh pergi meninggalkannya.


"Robby sudah memikirkan hal ini dari jauh - jauh hari, keputusan Robby sudah bulat" ujar Robby tegas, ia harus berbohong pada orang tuanya, karena tak ingin orang tuanya merasa bersalah akan kepindahan dirinya dan Salwa.


"Nak, Mamah mohon jangan pindah, kalau kamu tak ada, siapa yang akan nolongin mamah". ujar mamah Erni memohon. "Nak mamah akan melakukan apapun asal kamu mau maafin mamah dan jangan pergi dari kota ini" sambung mamah Erni kembali memohon.


Melihat gurat kesedihan di wajah sang mertua membuat Salwa tak tega meninggalkan mertuanya.


"Aku sudah memaafkan mamah tapi keputusan ku untuk pindah tidak bisa di ganggu gugat" ujar Robby dengan tegas.


"Jika kalian tetap ingin pergi silahkan tapi kasih tahu mamah alamat kalian yang baru" ujar Mamah Erni.


"Untuk saat ini aku tidak akan memberikan alamat baru ku, jika waktunya sudah tepat, tanpa mamah minta aku akan memberikannya" jelas Robby.


"Pasti ini semua ulah kamu Salwa, kamu sengaja menjauhkan ibu dan anaknya" Mamah Erni menuding Salwa dalang dari semua ini.


"Ini semua rencana ku, tak ada sangkut pautnya dengan istriku" ujar Robby membela Salwa. "Kami harus berangakat sekarang, jaga diri mamah baik - baik, aku titip Tasya juga" ujar Robby pamit.


"Mah Salwa pamit ya" ujar Salwa yang sedari tadi hanya diam saja.


Robby dan Salwa keluar rumah dan menuju ke mobil mereka, sedangkan mamah Erni terisak melihat anaknya pergi meninggalkannya.


"Arrggghhhh, rencana ku gagal total" gerutu mamah Erni.


Robby menghiraukan teriakan mamahnya, namum Salwa sangat khawatir dengan kondisi sang mertua.


"Mas, kasian mamah sepertinya mamah sedih sekali, aku takut mamah akan berbuat sesuatu yang bisa membahayakan dirinya sendiri" ujar Salwa.


"Aku tau karakter mamah, ia akan baik - baik saja" ujar Robby kemudian menjalankan mobilnya.


Sementara Mamah Erni lagi kebingungan di dalam rumahnya, rencananya bener - bener akan gagal total, ia pun berusaha memikirkan cara agar bisa memisahkan Salwa dan Robby.

__ADS_1


...******...


"Sayang, kalau kita pergi bagaimana dengan rumah ?" tanya Syifa yang masih khawatir tentang beredarnya kabar jika sering ada orang yang selalu memantau rumah kosong di perumahannya.


"Rumah kita akan baik - baik saja, mana mungkin ada maling rumah, yang ada maling isi rumah" ujar Bani. Syifa pun mendengus kesal dengan jawaban sang suami.


"Untuk barang - barang yang berharga seperti perhiasan dan surat - surat penting kita titip di rumah Umi saja, gampangkan" ujar Bani.


"Lalu yang lainnya ?".


"Maling itu ngambilnya barang - barang yang mudah di bawa sayang, kalau mereka ngambil televisi, kulkas, kompor atau sofa mereka bingung menyembunyikannya di bawa, dan bawanya juga susah" jelas Bani seraya tersenyum saat melihat ketakutan yang berlebih di diri sang istri.


"Iya yah bener juga, maling rata - rata ngambilnya uang atau perhiasan" sahut Syifa.


"Lagian rumah kita sudah di pasang cctv, dan untuk masalah security nanti mulai bekerjanya setelah kita pulang dari liburan" ujar Bani pagi.


Syifa dan Bani membereskan barang - barang yang menurut mereka sangat berharga, mereka memasukannya kesebuah koper dan nantiny akan di simpan di rumah Umi.


"Ke rumah Uminya kapan ? tanya Syifa.


"Iya Syifa sudah menghubungi Abi dan Ummah, kata mereka selamat bersenang - senang". jelas Syifa.


Waktu yang di tunggu pun tiba, Syifa dan Bani berangkat ke bandara dengan di antar oleh Fariz. mereka mengambil penerbangan yang pagi, hingga mereka harus berangkat dini hari ke bandara, karena jarang bandara dan rumah mereka sangat jauh.


Mereka mengudara hampir selama dua jam lamanya, hingga akhirnya mereka tiba di bandara denpasar Bali. karena Bani memilih paket wisata, maka dari bandara mereka langsung di jemput oleh pemandu wisata.


Bani dan Syifa di bawa ke sebuah hotel, saat memasuki hotel tersebut Syifa sangat terkejut, dalam hotel tersebut sudah di hiasi kelopak mawar dan juga lilin, di atas tempat tidur juga terdapat gambar hati yang di bentuk dari susunan kelopak bunga mawar.


Saat melihat pemandangan ke ruang itu samgat indah, karena dari kamar hotel tersebut Syifa langsung bisa memandang hamparan lautan yang luas.


"Silahkan istirahat dulu, nanti saya akan kembali ketika makan siang tiba" ujar pemandu wisata tersebut.


"Terimakasih" ujar Bani dan Syifa secara bersama - sama.

__ADS_1


Syifa masih betah menikmati pemandangan laut, rasa lelah perjalanan hilang begitu saja.


"Kamu suka gak tempatnya ?" tanya Bani.


"Suka banget sayang, dulu pernah berlibur ke sini bareng keluarga, tapi gak tau lupa lagi kita nginep di mana, pemandangannya sangat berbeda dengan yang ini". jelas Syifa.


Bani dan Syifa pun menikmati waktu istirahtnya. Syifa lebih memilih membersihkan badannya yang lengket. sedangkan Bani memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur.


deburan ombak menemani waktu istirahat mereka sebagai musik alami.


Di hari pertama Bani dan Syifa hanya mengahabiskan waktu mereka di hotel dan sorenya mereka berjalan - jalan di sekitar pinggir pantai, dan untuk malamnya Bani menyiapkan sebuah dinner romantis.


"Abang kita makan di sini ?" tanya Syifa seakan - akan tidak percaya.


"Iya sayang, kamu suka gak ?".


"Suka banget , terimakasih sayang buat semuanya".


"Jangan seneng dulu, ini semua tidak gratis" ujar Bani.


Syifa mencerna kata - kata Bani. "Tidak gratis, jadi Ini semua Syifa yang bayar ?" tanya Syifa seakan - akan tidak percaya.


"Bukan bayar pake uang tapi".


"Lalu pake apa ? alat pembayaran yang sah kan cuma uang" sahut Syifa merasa bingung.


"Bayarnya nanti di atas kasur sayang" bisik Bani di telinga Syifa.


"Abang".


"Sudah ayo kita makan, kamu kan nanti harus membayar semua ini di hotel" sahut Bani membuat Syifa tersipu malu.


Mereka menikmati liburan mereka layaknya orang sedang kasmaran dan juga seperti pengantin baru, tangan Syifa tak akan pernah lepas dari gengaman tangan Bani, kemana pun Bani melangkah, tangan sang istri selalu di genggamnya. Bani seperti ingin menunjukan bahwa ia bahagia bersama istrinya, dan ia akan selalu bersama sang istri dalam suka mau pun duka.

__ADS_1


Cinta yang tumbuh di hati mereka dan kian tubuh subur ketika cinta tersebut di ikat oleh sebuah akad, yang menjadikan cinta itu halal di hadapan sang ilahi, walaupun tak ada kata pacaran namun cinta mereka tak akan pernah goyah walaupun badai menerpa kehidupan mereka. pertengkaran kecil dalam rumah tangga mereka anggap sebagai bumbu dalam kehidupan mereka.


__ADS_2