Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 25


__ADS_3

Asyifa membaringkan tubuhnya di ranjang asrama, tak terasa sudah hampir sebulan ia tinggal di pesantren, banyak pengalaman yang ia dapatkan selama di pesantren. pandangannya dulu terhadap sebuah pesantren ternyata salah, awalnya dia menganggap tinggal di pesantren tiap menit akan belajar ilmu agama, namun nyatanya berbeda, selain belajar ilmu agama ternyata di pesantren juga di ajarkan keterampilan untuk hidup di dunia.


Asyifa merasa beruntung di kirim ke pesantren karena di sana Asyifa belajar mandiri.


"Asyifa kamu belum tidur ?" tegur Mila.


"Astaghfirullah, bikin kaget saja" ujar Asyifa yang kaget dengan ke hadiran Mila di samping tempat tidurnya. "Ada apa ?" tanya Asyifa.


"Antar aku ke dapur pesantren, mau ambil air minum".


"Ini udah hampir jam sebelas, memangnya dapurnya gak di kunci ?" tanya Asyifa lagi.


"Kalau dapur jarang di kunci ko, galon yang di asrama kosong semua, sudah aku cek tadi" ujar Mila menjelaskan.


"kenapa gak minum dari botol ku saja" tawar Asyifa karena merasa takut harus keluar malam - malam apalagi ke dapur yang posisinya ada di belakang gedung aula.


"Takut kamu kurang" ujar Mila yang tak enak hati jika harus minta pada temennya.


"Punya ku masih banyak, pindahin aja ke botol kamu sebagian, insya allag cukup sampai besok" ujar Asyifa.


Mila dengan malu - malu memindahkan air dari botol milik Asyifa ke botol miliknya. "Makasih ya" ucap Mila saat sudah selesai menuangkan airnya.


"Iya sama - sama, Aku tidur yah, takut ke siangan besok" ujar Asyifa langsung menarik selimut milik ya.


...*****...


Ke esokan malam dimana Bani akan mengkhitbah Salwa. semua persiapan sudah di lakukan. Umi sudah mempersiapkan sebuah cincin sebagai tanda keseriusan Bani.


Di rumah ustazah Salwa sudah ramai dengan saudara yang di undang, Salwa bersiap - siap di kamarnya di bantu oleh tim make up, Salwa begitu cantik dengan balutan busana hijau tosca aura ke cantikannya begitu terpancar. keluarga Salwa sedang menunggu ke datangan dari keluarga Bani, Ayahnya Salwa begitu cemas takut keluarga Bani tidak datang.


"Herman ( Herman adalah Ayah dari Salwa ) bisa diam tidak, aku pusing melihat kamu mondar - mandir terus" tegur pak Wisnu yang merupakan kakaknya Herman.


"Pak, Ibu yakin mereka pasti datang" ujar Ibu Yuli yang merupakan ibu kandung dari Salwa.


Pak Herman mengatur napasnya dan duduk di samping istrinya, mencoba menenangkan dirinya.


Sementara di rumah Kyai Hasan, Semua keluarga inti sudah kumpul berkumpul termasuk Zahwa dan suaminya Tommy beserta anak mereka.


Kyai Hasan hanya mengajak keluarga inti saja, di tambah ustaz Ali dan ustazah Aisyah sebagai pengurus pesantren.

__ADS_1


"Bani apa kamu yakin dengan jawaban kamu ?" tanya Abah untuk meyakinkan putranya.


"Insya Allah Bani yakin" ujar Bani sambil tersenyum, namun sayangnya itu bukan senyum ke bahagiaan namun senyum karena paksaan.


"Semoga keputusan mu ini adalah keputusan terbaik ya nak". ujar Umi sambil mengusap punggung anaknya.


"Pak Kyai, Umi sepertinya kita harus segera berangkat, takut di jalan macet" ujar ustaz Ali.


Keluarga Bani menunju mobil yang akan di gunakan, mereka menggunakan dua mobil, mobil pribadi Bani dan mobil milik kakak iparnya.


Fariz duduk di kemudi, dan di sampingnya duduk Bani sedangkan kedua orang tuanya duduk di bangku belakang, sedangkan di mobil satunya lagi Tommy beserta keluarga kecilnya dan di tambah ustaz Ali dengan ustazah Aisyah.


Beberapa ustaz dan ustazah mengiringi kepergian romongan keluarga Bani, walaupun mereka tidak ikut namun mereka selalu mendoakan dalam kelancaran acara tersebut.


"Ini Hari patah santri" ujar rata - rata para santri.


"Aku kurang gercep ternyata" ujar para santri.


Asyifa merasa kesal karena semua santri dari siang selalu membahas tentang ustaz Bani dan Ustazah Salwa. membuat kupingnya terasa pengang.


"Emangnya gak ada topik lain selain ngirusin dua orang itu" ketus Asyifa pada kedua temannya yang dari tadi terus membahas Bani dan Salwa.


"Wah kayanya ada yang kepanasan, tenang masih ada adiknya ko" Goda Nayla.


"Berarti nanti kamu sodaraan dong sama ustazah Salwa" sahut Mila.


"Pikiran mu terlalu jauh" ujar Asyifa sambil tertawa.


" Ya kali aja kamu mau sodaraan" jawab Mila Asal.


"Ustazah Salwa sudah lama gabung di pesantren ini ?" tanya Asyifa yang penasaran.


"Belum Baru Lima bulanan, itu juga awalnya mengajar Paud milik pesantren ini, lama - lama ikut gabung deh dengan pesantern ini, denger - denger si Ayahnya ustazah Salwa temennya Kyai Hasan juga" tutur Nayla menjelaskan.


"Mungkin Ayahnya yang meminta gabung di sini" sambung Mila.


"Soudzon mulu kalian ya" tegur Asyifa.


"Bukan soudzon tapi sesuai gosip yang beredar" ujar Mila.

__ADS_1


"Kalian cocok jadi Lambe nyinyir" ujar Asyifa tertawa kegirangan.


"Jangan kenceng - kenceng nanti ada yang ngikutin" tegur Nayla.


"Yang ngikutin paling kalian berdua" Jawab Asyifa dengan asal.


Di dalam Kamar rasa tegang dan takut menyelimuti pikiran Salwa. Keluarga Bani bekum kunjung datang padahal waktu yang di tentukan jam delapan malam namun kini sudah jam delapan lewat dua puluh belum kunjung datang, membuat Salwa gelisah tak Karuan.


"Herman cepat hubungi calon besanmu itu" titah Wisnu.


"Iya bang akan aku hubungi".


Herman melangkah ke ruang keluarga yang agak sepi karena semua sodaranya sudah berkumpul di ruang tamu. mencari nomor Kyai Hasan lalu menghubunginya.


Setelah mendapat jawaban yang sangat melegakan Herman kembali ke ruang tamunya.


"Pak bagaimana ?" tanya Ibu Yuli.


"Lima menit lagi mereka akan sampai, jalanan macet katanya, makanya dia telat" ujar Herman menjelaskan.


"Alhamdulilah" ucap semua orang kompak.


Bu Yuli ke kamar anaknya memberi tahu kalau Bani akan segera datang, dan menyuruhnya untuk bersiap - siap.


Keluarga Bani sampai dan di sambut hangat oleh keluarga Salwa.


"Maaf kami terlambat, Jalanan macet karena ada kecelakaan" ucap Kyai Hasan.


"Tidak papa, kami bisa memakluminya" ujar pak Wisnu.


Keluarga Bani di persilahkan masuk, mereka di arahkan ke tempat duduk yang sudah di sediakan. Kyai Hasan pun memperkenalkan semua anggota yang ikut dalam rombongan tersebut.


Karena waktu sudah malam, Kyai Hasan langsung menyarankan agar acara langsung di mulai.


Bu Yuli menggandeng anak tunggalnya ke ruang tamu, membuat semua yang ada di situ berdecak kagum akan ke cantikan Salwa.


Bani menunduk tak berani menatap Salwa. dalam hatinya berkecambuk belum yakin sepenuhnya bahwa ia bisa menerima Salwa namun demi orang tuanya Bani akan menerima Salwa dengan Ikhlas.


"Maksud ke datangan kami ke sini, tak lain, dan tak bukan, karena niat dari putra kami yang ingin mengkhitbah putri dari Pak Herman dan Ibu Yuli" Kyai Hasan langsung berbicara pada inti acara malam itu.

__ADS_1


"Hentikan" teriakan seseorang dari luar rumah begitu nyaring dan menggema di ruangan tersebut membuat semua orang yang ada di situ menoleh ke arah suara.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2