
Di dalam perjalanan pulang di mobil yang di kendarai Fariz tidak ada yang berani memulai pembicaraan, semua orang fokus pada fikirannya masing - masing. begitu pun di mobil Tommy tidak ada yang berani membicarakan soal kejadian tadi, mereka sibuk pada pikirannya masing - masing.
Sampai di pesantren Kyai Hasan meminta pada ustaz Ali dan ustazah Aisyah untuk tidak membicarakan masalah ini apa lagi menyebarkan berita ini. semuanya pun paham akan maksud tersebut.
Bani sudah memasuki rumahnya terlebih dahulu dan langsung memasuki kamarnya.
sedangkan yang lain masih berkumpul di ruang tamu kecuali Zahwa yang menemani anak mereka tidur di kamar.
Suasana tegang menyelimuti rumah Salwa, karena Salwa bersikeras tidak mau menikah dengan Robby, namun orang tuanya memaksa karena menurutnya mana ada lelaki yang mau bekas orang.
"Salwa gak mau Ayah". .
"Nak nama keluarga kita sudah tercoreng, apalagi keluarga Kyai Hasan sudah mengetahui semua ini, Ayah malu sama keluarga Kyai Hasan" ujar pak Herman.
"Tapi Salwa maunya sama Bani".
"Nak Bani bukan Jodoh kamu nak, masih untung Robby mau tanggung jawab, lalu bagaimana kalau tidak ada yang mau menikahi mu, gosip ini pasti akan menyebar dengan cepat, apa kamu tega melihat Ibu dan Ayah akan menanggung semua ini" ujar Ibu Yuli. Salwa terdiam mulutnya tidak bisa berkata - kata lagi, ucapan Ibunya langsung membungkam mulutnya.
"Salwa jika kamu tidak mau saya nikahi karena kamu tidak mencintai saya, tapi lakukanlah ini demi orang tua kamu, saya kasih waktu untuk kamu berpikir, jika sudah punya jawaban yang pasti hubungi saya, dan saya akan datang untuk mendengarkan jawab kamu" ujar Robby tegas lalu menaruh kartu namanya di meja, kemudian ia keluar dari rumah tersebut, tak lupa juga ia memberikan beberapa paper bag dan juga buket yang ia bawa.
Pagi hari suasana pesantren begitu riuh semua santri membicarakan tentang lamaran ustaz Bani dan Ustazah Salwa. Setelah shalat subuh selesai Bani banyak mendapatkan selamat dari beberapa ustaz, Bani bingung harus berbicara apa, membuatnya hanya tersenyum kikuk saat mendapat ucapan selamat.
Ustaz Ali dan ustazah Aisyah mendapat pertanyaan dari rekan sesama ustaz dan ustazah membuat keduanya hanya tersenyum saat mendapat berbagai pertanyan seputar tentang ustaz Bani dan Salwa.
Di ruang makan rumah Kyai Hasan tidak banyak bicara, hanya suara sendok dan garpu saling bersahutan, Bani langsung pamit untuk kerja, begitu pun dengan Fariz.
Di ruang makan tinggal Kyai Hasan, Umi dan keluarga kecil Zahwa. suami Zahwa tidak berangkat kerja karena dia sudah izin dua hari.
"Abah gimana dengan Bani, pasti dia terpuruk" ujar Umi khawatir karena dari semalam Bani tidak banyak bicara.
"Insya Allah, Bani akan baik - baik Saja" jawab Kyai Hasan, agar istrinya bersikap tenang.
"Aku gak menyangka kalau Salwa seperti itu" ujar Zahwa yang merasa kecewa dengan Salwa.
"Biarkan saja itu menjadi urusan mereka, kita sebagai saudara sesama muslim hanya mendoakan semoga mereka mendapat jalan keluar yang terbaik" Kyai Hasan menasehati anggota keluarganya agar tidak mempermasalahkan hal itu apa lagi ikut campur yang bukan haknya.
Tiga Hari lagi Asyifa akan mendapat jadwal libur, membuat Asyifa semangat mengikuti setiap kegiatan di pesantren.
__ADS_1
"Yang mau dapat libur, mukanya sudah berseri - seri" Sindir Mila.
"Hahaa. . Sirik aja kamu" jawab Asyifa santai.
"Huss jangan malah ngerumpi, ayo kita ke aula, jangan sampai telat kalau gak mau kena semprot" tegur Nayla.
"Macannya lagi berbunga - bunga jadi mana mungkin dia bisa mengeluarkan taringnya" jawab Mila.
"Ayo gak usah berdebat" Asyifa berjalan terlebih dahulu dan di ikuti oleh Mila dan Nayla.
Acara untuk hari ini adalah membahas tentang ilmu masyarakat sesuai ajaran islam, pematerinya adalah ustazah Aisyah dan Ustaz Zaki.
Semua santri bergabung di gedung Aula, namun ada sekat pembatas antara bagian laki - laki dan perempuan, kegiatan hari ini tidak terlalu banyak yang mengikuti karena sebagian santri sedang sekolah, yang mengikuti kegiatan tersebut adalah santri yang sudah tidak sekolah.
...******...
Di dalam ruangan kerjanya Bani melamun, ada rasa kecewa di hatinya, saat dirinya benar - benar akan menerima Salwa namun ternyata kenyataan pahit yang ia dapatkan. Apa Salwa bukan jodohku, hingga kau rusak acara tersebut. gumam Bani dalam hatinya. kemudian sebuah bayang tentang Asyifa lewat di pikirannya.
"Aaarrggghhh" keluh Bani seraya memegang kepalanya. pikirannya bener - bener kacau.
Pintu di ketuk dari luar, Bani langsung merapihkan rambutnya yang acak - acakan.
"Masuk" seru Bani.
Tio memasuki ruangan Bani, terlihat dari gurat wajahnya kalau Bani sedang tidak baik - baik saja.
"Apa ada masalah dengan laporan yang saya berikan ?" tanya Tio.
"Laporan dari kamu belum saya cek" ujar Bani tanpa ekspresi.
"Oh ya gimana soal Khitbah ?" tanya Tio.
"Gagal" ujar Bani singkat.
"Apa ? ko bisa, bukankah kamu akan menerimanya demi Abah dan Umi ?" Tio melontarkan berbagai pertanyaan pada Bani.
"Intinya bukan gue atau pun Salwa, takdir tidak mempersatukan kita, suatu saat kamu akan tau alasannya" ujar Bani tegas.
__ADS_1
Tio menghela nafasnya, ia pun sadar tidak bisa ikut campur dengan urusan bosnya sekaligus sahabatnya, Tio tau batasanya, jadi ia tidak memaksa untuk Bani bercerita tentang ke gagalannya itu.
"Semoga kamu segera mendapat jodoh yang terbaik" doa Tio untuk Bani.
Tio kembali keruangannya dengan beribu pertanyaan tentang gagalnya Bani menghitbah Salwa.
Sepeninggalan Tio, Bani kembali bekerja memeriksa berkas - berkas dari Tio.
Hari itu semua orang yang ada di pesantren bertanya kenapa ustazah Salwa belum kembali ke pesantren itu.
"Apa Salwa izin untuk tidak datang ke pesantren ?" tanya ustazah Sari.
"Untuk itu aku tidak mengetahuinya" jawab ustazah Aisyah. dan berlalu meninggalkan ustazah Sari.
Sebelum Shalat Ashar Asyifa mendatangi gedung utama dan menuju ruang Administrasi/Informasi.
"Syifa sedang apa kamu di sini ?" tegur ustazah Sari.
"Syifa ingin mengurus untuk izin pulang ustazah" jawab Asyifa sopan.
Asyifa melanjutkan langkahnya menuju ruangan yang di tuju. Asyifa mengurus izin pulang dan memundurkan waktu pulang menjadi minggu depan. setelah selesai Asyifa kembali ke asrama karena Adzan Ashar sudah berkumandang.
"Gimana bisa di mundurin gak ?" tanya Mila dan Nayla berbarengan.
"Bisa dong" ujar Asyifa senang.
"Dulu aja pengen pulang mulu, giliran sekarang bagian pulang malah di mundurin, kenapa si ?" tanya Mila penasaran.
"Karena minggu depan tepat hari minggu aku ultah jadi aku ingin merayakan bareng keluarga" jelas Asyifa seraya tersenyum bahagia.
"Sudah ayo kita ke surau nanti telat" ajak Asyifa pada teman - temannya.
Tempat dekat masuk ke pelataran surau ada suara yang menghentikan langkah Asyifa dan ke dua temennya.
"Kaki kamu sudah sembuh ?" tegur seseorang membuat Asyifa dan kedua temenya langsung membalikan badannya dan melihat ke arah sumber suara.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1