
Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Kesalahan, kekhilafan adalah fitrah yang melekat pada diri manusia. Allah berfirman dalam Hadits Qudsi yang artinya, “Nabi Musa a.s bertanya kepada Allah, “Ya Rabbi ! Siapakah diantara hamba-Mu yang lebih mulia menurut pandangan-Mu?” Allah berfirman, “Ialah orang yang apabila berkuasa (menguasai musuhnya), dapat segera memaafkan.” (Kharaithi dari Abu Hurairah r.a) dari Abu Hurairah ra.
Ini berarti bahwa manusia yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat salah, kecuali Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang ma’shum (sentiasa dalam bimbingan Allah). Tetapi, manusia yang baik adalah manusia yang bisa memaafkan kesalahan orang lain yang telah melukai hati perasaannya.
Dalam Islam, mampu memaafkan kesalahan orang lain merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa (muttaqin).
Memaafkan adalah proses untuk menghentikan perasaan dendam, jengkel, atau marah karena merasa disakiti atau didzalimi. Lebih dari itu, pemaafan juga proses menghidupkan sikap dan perilaku positif terhadap orang lain yang pernah menyakiti .
"Aku dan suami ku sudah sepakat untuk mencabut laporan tentang mabk Aisha, sehingga mabk Aisha bisa bebas" ujar Syifa.
"Kalian tidak perlu mencabut laporan itu. dapat maaf dari kalian sudah cukup untuk saya".
"Tapi jika kamu masih di dalam sini, lalu bagaimana kamu bisa mengumpulkan uang sebanyak itu untuk membayar hutang orang tuamu ?".
"Itu urusan aku nanti, Aku mohon jangan baut laporan ini, biarkan aku mempertanggung jawabkan semuanya" Aisha memohon agar Syifa menguringkan niatnya untuk mencabut laporannya.
Syifa dan Bani saling pandang memandang, meminta pendapat satu sama lain.
"Jika itu mau mu, maka aku tidak akan mencabut laporan ini". ujar Bani yang sedari tadi hanya terdiam.
"Terima kasih Bani, Syifa. kalian memang orang baik, dan Bani juga tidak salah memilih istri seperti kamu yang mempunyai hati yang besar hingga mampu memaafkan saya".
"Mabk Aisha baik - baik di dalam ya, Semoga ini cepat berlalu dan mbak Aisha bisa menjalani kehidupan yang lebih baik lagi" ujar Syifa.
Setelah Semua urusan mereka beres, Syifa, Bani dan Tama pergi meninggalkan kantor polisi. mereka bersiap - siap untuk acara sidang dua hari lagi. Sedangkan Bayu masih berada di kantor polisi ia masih berbicara dengan Aisha. Ada rasa bahagia ketika Aisha mau mengakui kesalahannya dan dengan besar hati mau meminta maaf secara langsung pada Aisha dan juga Bani.
"Kenapa kamu tidak membiarkan mereka mencabut laporannya ?" tanya Bayu.
"Aku malu sama mereka, perbuatan ku sungguh memalukan. mereka memaafkan aku saja menurutku itu sudah lebih dari cukup, maka aku ingin menjalani proses ini sebagai penebus rasa bersalahku" jelas Aisha.
"Tapi bagaimana cara kamu mendapatkan uang sebanyak itu ?" tanya Bayu.
"Itu uruasan ku nanti, sekarang aku hanya minta tolong kepada kamu, tolong bantu aku agar kamu mau menangani kasus cerai aku dan Tuan Rico".
__ADS_1
Sementara Bani, Syifa dan Tama, mereka tidak langsung pulang, mereka mampir terlebih dahulu di sebuah restauran untuk makan siang, karena sejak keluar dari kantor polisi Syifa sudah merengek minta makan. sejak hamil Syifa menjadi lebih sering makan walaupun dalam jumlah porsi yang sedikit.
"Heran, kenapa Aisha tidak mau kalian mencabut laporannya" ujar Tama bingung.
"Entah, mungkin ia sudah sadar" jawab Bani santai. Sedangkan Syifa lebih fokus ke makanannya ia tak memperdulikan orang di sekitarnya.
"Sayang makannya pelan - pelan !" seru Bani saat melihat istrinya makan seperti orang kelaparan.
Setelah makan siang Tama habis, ia pamit pulang duluan, ia tak ingin menjadi orang ketiga di antara dua insan yang tengah bahagia.
Sebelum sampai rumah, Syifa memberi beberapa makanan yang menurutnya menggungah seleranya, dari rujak, jus jeruk, dan masih banyak jajanan lainnya yang Syifa beli di pinggir jalan. selama perjalanan pulang mulut Syifa tak berhenti mengunyah makanan membuat Bani hanya bisa menggeleng - gelengkan kepala.
"Sayang, aku mau martabak !" seru Syifa.
"Iya nanti malam kita beli" sahut Bani yang masih fokus dengan kemudinya.
"Sayang aku maunya sekarang, bukan nanti malam" seru Syifa kesal.
"Tapi aku mau nya sekarang !".
"Tapi nyari di mana ?".
"Ya di tempat jualan martabak sayang" jawab Syifa.
"Nanti sore saja ya sayang ku yang cantik dan manis imut - imut" Rayu Bani.
"Kalau nanti sore maunya beda lagi, bukan martabak !".
Bani menarik napasnya dalam, kemudian membuangnya secara kasar. "Ya sudah, Abang anter kamu pulang dulu, baru nanti Abang cari martabaknya" ujar Bani.
Syifa pun tersenyum merekah, saat tau Bani akan membelikannya sebuah martabak.setelah mengantar Syifa pulang, Bani kini berkeliling jalanan mencari orang yang menjual martabak.
Tiga puluh menit Bani menyusuri jalanan yang biasa ada orang jualan martabak namun belum membuahkan hasil. karena ini masih terlalu siang untuk jualan martabak. namun demi istrinya Bani tetap semangat mencari martabak. dari satu warga ke warga lainnya Bani terus bertanya di mana yang jual martabak. namun kebanyakan dari mereka bilang kalau jam segini jarang yang jualan martabak.
__ADS_1
Bani memutuskan untuk menyusuri sebuah Mall, dan berharap di mall tersebut ada yang jual martabak. Bani menyusuri lantai demi lantai, outlet demi outlet namun usahanya sia - sia, di Mall tersebut tidak ada yang menjual martabak.
Bani kembali melajukan mobilnya, ia melajukan mobilnya tak tentu arah, hingga ia melihat sebuah toko penjual martabak. ia pun memberhentikan mobilnya di depan toko tersebut. Bani menatap bangunan tersebut kemudian memperhatikan suasana sekelilingnya. toko itu masih tutup.
Lima menit berdiri di depan toko tersebut, ada seorang lelaki yang berusia sekitar empat puluh tahun datang menghampirinya.
"Maaf permisi pak" ujar lelaki tersebut. ternyata lelaki tersebut membuka toko martabak tersebut hal itu membuat Bani senang.
"Maaf pak, saya mau beli martabaknya dua" ujar Bani dengan senyum sumringah.
"Toko kami belum buka pak, paling cepat buka pukul empat sore, dan ini masih jam setengah tiga" jelas lelaki tersebut.
"Pak saya mohon buatkan untuk saya dua saja, istri saya di rumah sedang ngidam ingin makan martabak. saya sudah mencari ke mana - mana tapi belum dapat" ujar Bani
Lelaki itu napak seperti kasian pada Bani. kemudian datang lagi dua orang lelaki yang masuk ke dalam toko tersebut dengan berbagai barang bawaan mereka.
"Tunggu sebentar pak, saya akan buatkan" ujar lelaki itu.
"Terimakasih pak" ujar Bani dengan senang karena kini ia sudah mendapatkan martabaknya.
Selama perjalan pulang senyum terus terukir di bibir Bani, ia membayangkan betapa bahagia istrinya ketika dirinya pulang dengan membawa dua buah kotak martabak sesuai ke inginannya.
Satu jam perjalanan, Bani sudah sampai di kediamannya. "Asalamualaikum" ucap Bani saat memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam" jawab bi Tuti.
"Syifa mana bi ?"
"Neng Syifa di kamarnya, tadi bilangnya mau shalat Ashar" jawab Bi Tuti.
Bani menyusul ke kamar tentunya dengan membawa dua kotak martabak. dan saat membuka pintu terlihat Syifa sedang memanjatkan doa.
"Kenapa lama sekali ?" satu pertanyaan yang keluar dai mulut Syifa setelah ia selesai memanjatkan doa.
__ADS_1