
Sampai rumah Syifa langsung menuju kamar calon buah hatinya. Syifa memang hanya membeli beberapa potong pakaian bayi, namun Syifa juga membeli beberapa pernak - pernik untuk menghiasi kamar calon buah hatinya.
"Sayang nanti tinggal beli box buat bayinya" ujar Syifa dan Bani hanya mengangguk.
Syifa melihat sebuah tulisan yang ada di meja, itu adalah sebuah daftar apa saja yang harus ia beli untuk menyambut kelahiran sang buah hati. selain perlengkapan Bayi, Syifa juga memprsiapkan mentalnya jelang bersalinanm, Syifa memasrahkan semua yang pada kuasa, ia mau lahiran normal atau pun caesar yang terpenting baginya adalah keselamatan kedua buah hatinya. di hati kecilnya ia ingin melahirkan secara normal agar bisa merasakan bagaimana perjuangan seorang ibu saat harus ngeluarkan buah hatinya.
Kini Syifa sering melakukan olahraga untuk ibu hamil, bahkan sesekali Syifa akan memanggil seorang instuktur senam kehamilan ke rumahnya, itu semua Syifa lakukan agar ia bisa melahirkan secara normal sesuai ke inginannya.
Sementara berbeda dengan Salwa yang kini sama - sama menginjak usia kehamilan tujuh bulan lebih, Salwa juga mengadakan syukuran kecil - kecilan bersama anak yatim piatu di sebuah yayasan. hal itu sesuai permintaannya yang tak ingin merayakannya dengan sebuah kemewahan.
Kini Salwa dan Robby menetap di rumah mamah Erni. itu sudah menjadi keputusan Robby yang tak tega jika harus meninggalkan mamah nya dengan kondisi seperti itu. setiap harinya mamah Erni hanya duduk di kursi roda atau hanya berbaring di tempat tidur, sudah sebulan menjalani terapi namun belum ada perkembangannya.
Selama sakit, Salwalah yang merawat mamah Erni dari memandikan, ganti baju bahkan makan dan juga minum obatnya. walaupun Syifa sedang hamil tua namun ia masih tetap semangat merawat sang mertua.
Perlahan- lahan mamah Erni pun sadar betapa baiknya sang menantu, walaupun sedang hamil tua tapi masih mau merawatnya, padahal di rumah tersebut ada juga asisten rumah tangga yang siap membantu Salwa dalam merawat sang mamah mertua.
Hari ini hari minggu Salwa pun meminta izin pada Robby untuk membawa mertuanya jalan - jalan di sekitar taman yang letaknya tak jauh dari rumah mamah Erni.
"Mas, boleh ya aku bawa mamah keluar buat main di taman, kasian mamah di rumah terus" ujar Salwa ketika mereka selesai sarapan pagi.
"Boleh ko, nanti mas nyusul kamu ya" ujar Robby.
Salwa pun membawa mamahnya ke sebuah taman. dengan penuh semangat Salwa mendorong kursi roda sang mertua melewati rumah - rumah para tetangga.
"Aduh neng Salwa rajin sekali pagi - pagi sudah bawa mertuanya jalan - jalan" ujar salah satu warga yang sedang berbelanja di tukang sayur.
__ADS_1
"Iya, padahal lagi hamil tua tapi masih mau merawat mertuanya, aku jadi pengen dapat menantu seperti neng Salwa" ujar ibu - ibu yang lainnya.
Salwa hanya membalas dengan senyumannya, karena kalau di tanggapi bisa - bisa pembicaran ibu - ibu tersebut akan ngelantur ke mana - mana.
"Kami duluan ya bu" ujar Salwa ramah.
Salwa melanjutkan perjalanannya menuju sebuah taman. semenjak dirinya di rawat oleh Salwa, mamah Erni menjadi pendiam, ia akan bicara jika ada yang penting seperti ingin buang air kecil atau besar dan juga seperti minta minum karena haus.
Rasanya ingin sekali ia meminta maaf pada menantunya itu, namun di hati kecilnya apakah dia pantas untuk di maafkan setelah berbagai kejahatan ia lakukan kepada menantunya tersebut.
Tiba di taman, Salwa duduk di sebuah bangku karena ia merasa lelah, hamil tua membuat Salwa merasa cepat lelah.
"Minumlah" ujar mamah Erni, memberikan sebuah botol air mineral yang berada di tanganya.
"Terima kasih mah" sahut Salwa kemudian menerima boto air mineral tersebut. Salwa merasa senang karena mertuanya perhatian pada nya. "Mamah juga minum yah" Salwa juga mengambil botol air mineral yang baru. kemudian ia buka tutupnya dan di berikan langsung pada mamahnya.
"Salwa" ucap mamah Erni pelan.
"Iya mah, mamah mau apa ?" tanya Salwa.
Tiba - tiba mamah Erni berlinang air mata, walaupun sudah sekuat tenaga menahan air matanya, namun tetap saja air mata itu lolos begitu saja.
"Mamah kenapa, mamah sakit ?" tanya Salwa.
"Maafkan mamah, selama ini mamah jahat sama kamu, tapi balasannya kamu merawat mamah dengan baik, mamah malu dengan diri mamah sendiri" ujar mamah Erni seraya terisak.
__ADS_1
"Mamah gak boleh berpikir seperti itu, mamah adalah ibu dari suamiku dan sudah sepatutnya aku menghormati mamah sebagai mana aku menghormati orang tua ku".
"Tapi mamah banyak salah sama kamu Salwa, mamah malu sama kamu".
"Salwa juga minta maaf sama mamah, mungkin dari awal menikah Salwa gak bisa ngambil hati mamah atau meyakinkan mamah bahwa Salwa bisa jadi istri yang baik. kita buka lembaran baru lagi ya mah, yang terpenting sekarang adalah mamah sembuh, biar nanti mamah bisa maen bareng cucu - cucu mamah" ujar Salwa yang ikut menangis. Mereka berpelukan, Ah rasanya ini seperti mimpi bagi Salwa.
"Mamah boleh ngelus perut kamu kan ?".
"Tentu boleh mah". Salwa membimbing tangan sang mertua untuk mengelus perutnya, saat mamah Erni mengelus pelan perut Salwa ia merasakan ada sebuah tendangan dari perut tersebut membuat ia merasa semakin terharu.
"Mah, cucu - cucu mamah seneng di elus neneknya" ujar Salwa. "Mamah jangan sedih lagi ya, mamah harus semangat buat sembuh" ujar Salwa menyemangati mertuanya.
Salwa pun bisa melihat mertuanya kembali tersenyum, biasanya setiap hari semenjak sakit mertuanya akan lebih banyak diam seperti orang yang sedang melamun.
Mata hari mulai bersinar dengan terik, Salwa pun membawa mamah Erni kembali pulang, tapi di jalan mereka bertemu dengan Robby yang ingin menyusul mereka ke taman.
"Sudah mau pulang ?" tanya Robby.
"Iya mas, matahari sudah mulai terik kasian mamah kalau lama - lama terkena matahari" ujar Salwa.
"Ya sudah, sini biar mas yang dorong mamah" Robby mengambil alih untuk mendorong kursi roda sang mamah. Salwa berjalan di samping sang suami.
para tetangga berdecak kagum pada Salwa dan juga Robby yang rela merawat orang tuanya yang sedang sakit. para tetangga mulai membicarakan kebaikan Salwa membuat mamah Erni merasa semakin bersalah dalam memperlakukan Salwa selama ini.
"Wah enak ya, punya anak dan menantu yang sayang sama orang tuanya, jeng Erni beruntung punya mereka" ujar salah satu tetangga ketika Salwa, Robby dan juga mamahnya melewati pekarangan tetangga tersebut.
__ADS_1
"Alhamdulilah jeng". sahut mamah Erni seraya tersenyum.
Para tetangga memang tidak mengetahui keadaan sebenarnya antara Salwa dan mertuanya. karena memang mereka jarang terlihat bersama - sama.