Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 174


__ADS_3

Fariz terkejut melihat istrinya tengah menangis di pelukan umi. hati siapa yang tak sakit jika melihat pasangan yang kita selalu jaga perasaannya, menangis penuh haru di depan mata kepalanya sendiri.


"Kamu kenapa sayang ?" tanya Fariz, namun Rara masih tetap menangis di pelukan Umi, ia tak menjawab pertanyaan suaminya.


"Kakak apain Rara kenapa dia menangis ?" kini Fariz menuding kakaknya.


"Kamu menuduh kakak mu, dasar kurang ajar" Zahwa tak terima jika di tuding penyebab adik iparnya menangis.


"Sudah kalian tidak usah bertengkar" ujar Umi menengahi. "Rara ayo kita duduk dulu" sambung Umi mengajak Rara duduk di dekat Abah Hasan.


"Nak apapun hasilnya kamu harus ikhlas" ujar Umi menasehati Rara.


Zahwa mengambil dua buah alat tes kehamilan dari tangan Rara. karena Zahwa sangat penasaran dengan hasilnya.


"Wah garis dua merah" seru Zahwa dengan mata melotot memperhatikan alat tes kehamilan tersebut.


"Serius kamu Zahwa ?" tanya Umi.


"Iya Umi, nih lihat" ujar Zahwa menyerahkan alat tes kehamilan tersebut.


"Alhamdulilah, nak akhirnya kamu hamil juga" ujar Umi senang, bahkan saking senangnya Umi kembali menangis. ia sempat berpikir jika hasilnya hanya satu garis karena ketika Rara keluar dari kamar mandi dengan wajah datar dan langsung menangis di pelukannya, dan ternyata itu tangisan kebahagiaan.


"Kamu hamil sayang ?!" tanya Fariz dan Rara hanya mengangguk dalam dekapan Umi.


"Kenapa kamu gak ngomong dari tadi, sejak kapan kamu hamil ? kenapa aku gak tau?" Fariz langsung menodongkan beberapa pertanyaan pada istrinya.


"Orang mah ngucap alhamdulilah bukan malah banyak tanya" gerutu Zahwa. sedangkan yang lainnya ikut larut dalam kebahagiaan atas kehamilan Rara.


Mata hari mulai memancarkan sinarnya dengan terik. Fariz kini membawa sang istri ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya. Rasa bahagia kini tengah menyelimuti pasangan Fariz dan Rara, selama perjalanan menuju rumah sakit tak henti mereka mengucap syukur atas anugrah yang mereka terima.


"Dok gimana istri saya, apa bener ia hamil ?" tanya Fariz pada dokter yang sedang telah selesai memeriksa Rara.


"Selamat pak istri bapak sedang hamil, dan kehamilanya baru menginjak usia empat minggu dan masih sangat rentan keguguran, jadi untuk itu saya sarankan kurangi dulu aktivitas yang berat" ujar dokter menjelaskan kondisi Rara.

__ADS_1


"Calon anak saya ada berapa dok ?" tanya Fariz lagi.


Dokter hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Fariz. "Usia kandungan istri bapak baru empat minggu, belum terlihat calon janinnya hanya ada kantung rahimnya saja, saya sarankan dua minggu atau tiga minggu lagi istri bapak bisa kontrol lagi" jelas dokter dengan telaten menjelaskan pada Fariz.


"Dok yang bener dong, dua minggu atau tiga minggu kita kontrol laginya ?". tanya Fariz.


"Tiga minggu lagi saja pak, karena di usia kehamilan tujuh minggu sudah bisa terdengar detak jantungnya juga" ujar dokter.


"Nah gitu dong yang jelas !" Rara langsung menyikut tangan suaminya. Rara merasa malu dengan pertanyaan - pertanyaan polos dari Fariz.


"Ini ada vitamin nanti bisa di tebus di bagian apotik" ujar dokter lalu menyerahkan selembar resep obat.


"Baik dok, terimakasih. saya permisi dulu, mohon maaf jika ada yang kurang berkenan" ujar Rara. kemudian mereka pun keluar dari ruangan dokter dan menuju bagian apotik untuk menebus obat.


"Kenapa kamu tadi bertanya seperti itu?" tanya Rara ketika mereka sedang menunggu obat.


"Bertanya apa ?" tanya Fariz balik.


"Itu tentang calon anak kita ada berapa" jelas Rara.


"Siapa Salwa dan Robby ?" tanya Rara.


"Salwa adalah salah satu tenaga pengajar di pesantren, dan bahkan hampir juga mau menikah dengan kak Bani, tapi karena bukan jodoh, jadi Salwa malah menikah dengan sepupunya Syifa" jawab Fariz.


"Alasan Salwa dan kak Bani gak jadi menikah itu kenapa ?" tanya Rara penasaran.


"Ceritanya panjang, kapan - kapan akan aku ceritakan" jelas Fariz.


Sementara itu Syifa dan Bani harus pamit untuk pulang kerumah mereka.


"Umi, Abah, Syifa dan Abang pamit pulang dulu yah" ujar Syifa.


"Gak nunggu Fariz dan Rara dulu ?" tanya Umi.

__ADS_1


"Sepertinya nggak Umi" ujar Syifa.


"Ya sudah hati - hati di jalan" ujar Umi.


Mobil Bani pun meluncur meninggalkan pondok pesantren, mereka pulang hanya berdua, karena bi Tuti sejak pagi minta izin untuk menengok anak dan cucunya dan akan kembali nanti sore.


"Sayang, Boleh ya kita jalan - jalan sebentar, Syifa pengen beli hijab deh, sekalian makan di luar, sudah lama loh kita gak makan di luar" ujar Syifa merayu sang suami agar mau menuruti ke inginannya. "Sekalian juga belanja buat kebutuhan dapur kaya di kulkas sudah mulai kosong" sambung Syifa.


"Iya sayang, iya boleh, mau belanja di mana ?" mendengar suaminya mengiakan permintaannya hati Syifa langsung senang, bahkan yang tadinya merasa lelah pun jadi hilang seketika.


"Di tempat biasa saja sayang" ujar Syifa.


Mereka pun meluncur kesebuah tempat perbelanjaan terlengkap di daerah tersebut. butuh waktu hampir satu jam dari kediaman umi menuju tempat tersebut.


Bani memarkir mobilnya, Lalu mereka masuk kedalam pusat perbelanjaan tersebut dengan bergandengan tangan, bahkan tangan Bani merangkul pundak Syifa.


"Pegangan saja sayang, malu di liatin orang" ujar Syifa penolak di rangkul.


"Ngapain malu, kita sudah sah, yang harusnya malu tuh yang pacaran tapi sudah berani rangkul - rangkulan di depan umum" ujar Bani. "Mau ke mana dulu sayang ?" tanya Bani.


"Ke toko kerudung dulu yuk !" ajak Syifa.


Syifa asik memilih berbagai macam model hijab, sedangkan Bani hanya mengekor Syifa dari belakang. setelah hampir dua puluh menit memilih hijab, akhirnya Syifa memilih tiga hijab dengan model dan warna yang berbeda.


"Mau ke mana lagi ?" tanya Bani.


"Kita belanja buat kebutuhan dapur dulu, baru setelah itu makan" jawab Syifa dan langsung di ia kan saja oleh Bani.


Tak ada rasa lelah yang tergurat di wajah sang istri padahal tadi ketika di rumah Umi, Syifa merengek minta pulang karena ingin istirahat di rumah.


"Sayang lihat baju bayinya lucu - lucu ya" ujar Syifa saat mereka melewati toko yang menjual berbagai perlengkapan bayi. Bani hanya menganggu tersenyum. ia paham jika istri pasti sudah tak sabar untuk perlengkapan untuk calon buah hati mereka.


Bani mendorong troli, sedangkan Syifa sibuk mengambil kebutuhan rumah yang telah habis persediaannya, dari kopi, gula, minyak, bahkan kebutuhan kamar mandi juga tak lupa membelinya. setelah semua yang di butuhkan di ambil. kini Syifa berpindah ke bagian sayuran dan juga buah - buahan.

__ADS_1


Syifa meminta Bani untuk memilih buah - buahan sedangkan dirinya memilih sayuran. ketika sedang asik memilih sayuran yang akan di beli, tiba - tiba ada seseorang yang menegur Syifa.


"Ini Syifa ya, istrinya Bani" tegur seorang perempuan, membuat Syifa menoleh ke arah perempuan tersebut, melihat wajahnya seperti tidak asing bagi Syifa, tapi ia tidak mengenali sosok perempuan tersebut.


__ADS_2