Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 75


__ADS_3

"Abang gak ke kantor ?" tanya Syufa saat melihat suaminya masih asik santai di ruang keluarga.


"Hari ini hari minggu, Abang mau di rumah saja nemenin istri Abang" ucap Bani genit.


"Abang jangan gitu nanti ada Umi dan Abah, malu" ucap Syifa malu - malu karena di goda oleh suaminya. " Bang maen ke rumah Ummah yuk" ajak Syifa.


"Hayu" Bani setuju, ia tahu jika istrinya sedang merindukan orang tuanya.


Mereka pun bersiap - siap untuk pergi menuju rumah Ummah dan Abi Umar, di tengah perjalanan Bani melihat ada sebuah kecelakaan yang melibatkan beberapa motor dan membuat kemacetan karena banyak yang berkerumun.


"Bang liat yuk" ajak Syifa yang penasaran dengan kecelakaan tersebut.


"Susah buat nyari tempat parkirnya" Bani menolak ajakan Syifa.


Mereka hanya memperhatikan kerumunan dari dalam mobil, Syifa membuka kaca mobilnya bermaksud untuk bertanya tentang kecelakaan tersebut. "Maaf pak, apa ada korban dalam kecelakaan tersebut.?" tanya Syifa pada seorang bapak - bapak yang kebetulan lewat samping mobil mereka.


"Gak ada neng, hanya pecet - lecet saja, biasa anak remaja neng bawa motornya ugal - ugalan" jelas bapak - bapak tersebut.


"Terima kasih infonya" ucap Syifa.


Jalanan kembali lancar setelah polisi turun tangan mengatur arus lalu lintas, Bani dan Syifa pun melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah ke dua orang tua Syifa, di tengah perjalanan mereka berhenti untuk membeli buah tangan untuk kedua orang tuanya dan juga kakaknya, Syifa membeli beberapa kue dan juga buah - buahan. Tiba di rumah ternyata sedang ada Tante Erni,Tasya,Salwa dan juga Robby.


"Wahh lagi pada kumpul ternyata" Seru Syifa.


Syifa dan Bani ikut gabung dengan keluarga yang sedang berkumpul.


"Syifa udah isi ya, ko sekarang gemukan ya" Seru Tante Erni, membuat Syifa kaget.


"Belum tante" jawab Syifa, entah kenapa pertanyaan itu membuat hatinya sakit, ya walaupun pernikahan mereka baru berjalan satu bulan tapi tak bisa di pungkiri jika Syifa sudah merindukan ke hadiran sosok malaikat kecil di rahimnya.


"Ah kan baru juga sebulan ya, kamu harus rajin minum ramuan penyubur kandungan,biar bisa cepet hamil, tante sudah ke pengen gendong cucu" Tante Erni secara halus menyindir menantunya yang tak juga kunjung hamil.

__ADS_1


"Doa kan saja tante, kita manusia hanya bisa berdoa dan berusaha, sisanya Allah yang menentukan" ucap Bani.


Salwa tertunduk, ia sadar jika mertuanya sedang menyindirinya secara tidak langsung, Salwa berusaha menahan air matanya, menunjukan ke semua orang kalau dirinya sedang baik - baik saja.


Mamah Erni terus membahas tentang kehamilan, membuat Syifa maupun Salwa semakin tidak nyaman berada di situ. Ummah berusaha mengalihkan pembicaraan mereka dengan cara mengajak makan siang.


Sore hari tante Erni dan keluarganya pamit pulang, sedangkan Syifa dan Bani memutuskan pulangnya nanti setelah adzan magrib.


"Nak gimana ke adaan kantor ?" tanya Abi Umar.


"Sekarang lagi proses perbaikan, insya allah sebelum bulan suci ramadhan sudah selesai, dan untuk penyelidikan polisi sudah di hentikan" jelas Bani.


"Semoga gak ada kejadian seperti ini lagi ya" doa Abi Umar dan di aminin oleh semuanya.


"Kak Shela kapan lahirnya ?" tanya Syifa pada kakak iparnya.


"Nanti setelah lebaran, oh ya, untuk acara tujuh bulanan akan di adakan di rumah orang tua shela" jawab Abian.


Hari sudah malam Bani dan Syifa pamit pulang, di tengah perjalanan Syifa melihat seorang wanita sedang berjalan di pinggir jalan.


"Sayang, bukannya itu Aisha ya" ucap Syifa seraya menunjuk ke arah seorang wanita sedang berjalan.


"Biarkan saja, kita sudah punya kehidupan dan kebahagiaan masing - masing" jawab Bani santai dan tetap fokus menyetir mobil.


"Abang gak kasian sama jalan cerita hidupnya ?" tanya Syifa penasaran.


"Abang sudah bahagia dengan istri abang sekarang, jadi untuk apa abang memikirkan masa lalu yang belum tentu akan membuat abang bahagia" ucap Bani lembut, Sebenarnya dari lubuk hatinya ia merasa kasian dengan kehidupan Aisha yang sekarang, namun Bani harus sadar karena sekarang ada hati yang harus selalu Bani jaga.


"Maaf kalau kata - kata Syifa membuat abang tersinggung, Syifa hanya kasian melihat kisah Aisha, apalagi sekarang dia harus berjuang sendiri untuk kehidupannya dan juga adiknya" ucap Syifa tertunduk.


"Kita doakan saja, semoga dia selalu di beri kekuatan untuk menghadapai semua cobaannya" ucap Bani. "Jangan di bahas lagi ya" pinta Bani pada sang istrinya.

__ADS_1


Tiba di rumah Bani dan Syifa langsung di pergi ke kamar, mereka membersihkan diri mereka masing - masing secara bergantian lalu melaksanakan Shalat Isya secara berjamaah. mereka berdoa bersama untuk kebaahagiaan rumah tangga dan juga keluarga mereka, di jauhkan dari orang akan berbuat jahat. tak lupa juga Syifa berdoa akan di berikan keturunan yang soleh dan solehah.


...*******...


"Ada apa kalian malam - malam telepon" ucap Tio saat menjawab panggilan teleponnya.


Setelah mendengar menjelasan dari anak buahnya, Tio tersenyum penuh makna. "Kamu kirim alamatnya sekarang, saya akan langsung meluncur ke sana" ucap Tip lalu menutup teleponnya.


Tio mengambil jaketnya dan langsung minta izin pada istrinya untuk keluar karena ada urusan.


"Urusan apaan si malam - malam, jangan macem - macem deh" ucap Istrinya Tio.


"Gak macem - macem ini hanya urusan kemanusiaan, papa setia selalu sama mama" ucap Tio lalu mencium kening istrinya dan juga mencium anak mereka yang sudah terlelap tidur.


"Jangan tunggu papa pulang, tidurlah" ucap Tio seraya meninggalkam istrinya yang masing kebingungan.


Urusan kemanusiaan ? ya allah semoga suami hamba tidak berbohong, dan semoga tidak berbuat yang tidak - tidak, semoga kembali dalam keadaan baik - baik saja. doa istri Tio dalam hatinya.


Tio melajukan mobilnya menuju tempat yang telah di kirim oleh anak buahnya, Jarak yang lumayan jauh, Tio harus bersabar karena masih butuh beberapa jam untuk sampai di tempat tujuan.keadaan jalan cukup lengang hingga Tio bisa memacu kendaraannya dengan cepat, ia juga harus konsentrasi karena jalan yang kurang penerangan. rasa ngantuk pun harus Tio lawan agar cepat sampai ketempat tujuan.


Tiba di tempat tujuan sudah pukul dua dini hari, kedatangan Tio sudah di tunggu anak buahnya.


"Apa kalian tidak salah tangkap ?" tanya Tio.


"Kami yakin tidak karena kami sudah mengintainya dan selalu mengikuti kegiatan mereka, jumlah mereka hanya tiga orang" ucap salah satu anak buah Tio.


Tio di bawa masuk ke dalam ruangan oleh anak buahnya, di dalam ruangan tersebut ada tiga orang yang sudah di ikat bahkan mulut mereka juga sudah di lakban.


"Malam semuanya" sapa Tio pada ketiga orang yang sedang di ikat tersebut. ketiga lelaki tersebut hanya menatap tajam ke arah Tio.


"Saya akan melepaskan kalian, asal kalian menyebutkan siapa bos kalian" ucap Tio lagi, mereka bertiga kompak menggelengkan kepalanya tanda bahwa mereka tidak akan menyebutkan siapa bos dari mereka.

__ADS_1


"Baiklah kalau kalian tidak mau menyebutkan bos kalian, maka kalian akan membusuk di penjara sedangkan bos kalian akan bersenang - senang di luar penjara" ancam Tio.


__ADS_2