Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 51


__ADS_3

"Sebenarnya dia udah sembuh tapi ya paling males saja buat balik ke sini lagi" ucap Rima ngasal.


"Syifa gak kaya gitu orangnya" bela Mila.


"Di bilangin gak percaya ya sudah" ucap Rima.


Mila dan Nayla tak meladeni ucapan Rima lagi, karena kalau terus meladeni bisa - bisa mereka akan naik darah. Mila dan Nayla melanjutkan kegiatan mereka masing - masing.


Kegiatan sarapan pagi keluarga pesantren cukup hening, hanya sendok dan piring yang saling beradu.Zahwa dan keluarganya sudah pulang sejak semalam.


"Bani sekarang kamu pikirankan tanggal dan bulan buat kamu menikah" titah Abah ketika mereka selesai makan.


"Acaranya akan di laksanakan dua bulan sebelum puasa" jawabnya.


"Abah dan Umi terserah kamu saja" ujar Umi.


"Berarti aku harus mencari cari gandengan ini mah" ucap Fariz membiat kedua orang tuanya tertawa.


"Fariz kamu gak dendamkan sama aku ?" tanya Bani ragu.


"Dendam ? Ya nggaklah, aku hanya kecewa sedikit, tapi sisanya aku bahagia kakak ku gak sendirian lagi, dan ini saatnya Abah dan Umi yang akan mencarikan jodoh untuk Fariz" ucap Fariz seraya menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


"Kamu gak mau cari sendiri ?" Tanya Umi.


"Nyari doang Umi, kan nantinya biar banyak pilihan Umi" jelas Fariz membuat Abah dan Uminya saling pandang atas penjelasan Fariz.


"Dasar buaya !" Seru Bani.


"Bukan buaya kakak, memilih yang terbaik dari yang baik itu perlu" jelas Fariz lagi.


"Dahlah terserah kamu saja" ucap Bani. Umi dan Abah merasa senang anak bungsunya mempunyai hati yang besar untuk menerima semua kenyataan ini.


Bani berangkat bekerja seperti biasa begitupun dengan Fariz mereka berangkat dengan menggunakan mobil mereka masing - masing. Hari ini Bani berniatan untuk mencari sebuah rumah yang akan ia tinggali setelah menikah nanti, ia mencari rumah tersebut dekat tempat ia bekerja agar lebih mudah, hari ini Bani di temani Tio untuk mencari sebuah rumah yang akan di belinya.


Bani menemukan rumah impiannya walaupun tak sebesar rumahnya, namun ke adanya cukup nyaman bahkan bisa di bilang asri, dan ke betulan jarak rumah tersebut dan kantor Bani pun tak terlalu jauh. Perumahan itu cukup strategis karena berdekatan dengan pasar dan juga Mall. Membuat Bani yakin dengan pilihannya itu. Bani pun mengurus pembelian rumah tersebut, ia pun berniatan akan merombak sebagian dari bangunan tersebut. setalah menyelesaikan pembayaran rumah tersebut Bani langsung menyuruh Tio untuk mencarikannya seorang tukang.


"gercep ya bro" ledek Tio.


"Berisik !!".


Tio dan Bani kembali ke kantornya, keadaan kantor sudah aman, orderan sablonnya semakin banyak membuat nama percetakan Bani semakin terkenal di mana, lantas hal itu membuat seseorang tersebut semakin tidak menyukai Bani dan mempunyai rencana buruk terhadap Bani.

__ADS_1


...*******...


Ummah, Shela dan Asyifa sedang berkumpul di ruangan televisi, sedangkan Abian dan Pak Umar mereka sedang bekerja di tempat mereka masing - masing.


Syifa sedang bersandar manja di bahu sang Ummah. "Anak Ummah yang cantik bentar lagi nikah, ummah gak nyangka jodoh kamu secepat ini" ucap Ummah mengelus - ngelus kepala anaknya yang tertutup oleh hijab.


"Ummah nanti kalau Syifa nikah, Syifa masih boleh tidur di rumah ini kan ?" tanya Syifa.


"Ya tentu boleh sayang".


"Hmm Syifa masih ragu, apa Syifa pantas buat dampingi ustaz Bani" ujar Syifa lagi yang masih belum yakin.


"Nak insya allah pantas ko" jawab Ummahnya memberi semangat pada anaknya.


"De yakin mau mondok lagi ?" tanya Shela.


"Gak tau masih bingung juga" jawab Syifa.


"Saran kakak sih mending gak usah, kalau ummah gimana ?" Shela meminta pendapat sang mertua.


"Ummah gimana Syifanya saja" jawab Ummah.


"Nanti aku akan meminta pendapat ustaz Bani saja" ujar Syifa.


"Lalu apa dong ?" tanya Asyifa polos


"Abang, kakanda, sayang, ayang mbeb" ucap Shela memberi contoh.


"Nanti akan Syifa pikirkan lagi" ucap Syifa.


Ummah dan Shela memberi wejangan atau nasehat tentang pernikahan dan menjadi istri yang taat suami, Syifa hanya manggut - manggut tanda mengerti, hingga ia tak sadar kalau Syifa sudah terlelap tidur.


"Dasar bocah sekarang, kalau di nasehatin malah tidur" gerutu Ummah. Shela da Ummah pun melanjutkan menonton siaran televisi.


...*****...


Malam hari Bani dan keluarga sedang berembuk tentang tanggal pernikahan Bani dan Asyifa, mereka sepakat bahwa acara pernikahan Bani akan di gelar enam minggu lagi dan harinya hari jumat dan menjadi kebetulan hari tersebut bertepatan dengan hari ulang tahun Bani yang ke 26 semua keluarga pun setuju.


"Bi gimana kalau untuk membicarakan tanggal kita gelar di resto milik kita saja" saran Fariz.


"Hmm boleh juga ide kamu nak" ucap Kyai Hasan.

__ADS_1


"Kapan waktunya ?" tanya Ummah.


"minggu sore saja, sekalian Syifa kan kembali ke pesantren" jawab Bani.


"Ya sudah nanti abah yang akan menghubungi keluarga Asyifa" ucap Kyai Hasan. karena hari sudah mulai malam, mereka pun pergi ke kamar masing - masing.


Bani memainkan ponselnya dan ada pesan masuk dari Asyifa.


Asyifa


Asalamulaikum ustaz, saya cuma mau minta pendapat, menurut ustaz saya lebih baik kembali ke pesantren atau tidak ya ?.


Bani yang membaca pesan itu hanya tersenyum bahagia, hatinya senang karena sudah dari kemaren ia menantikan pesan atau pun panggilan dari Asyifa.


Ustaz Bani


Walaikumsalam, maaf kalau boleh saran jangan panggil ustaz doang panggil abang saja, Abang mau memberi tahu kalau pernikahan kita akan di gelar enam minggu lagi, abang rasa kamu gak perlu ke pesantren lagi, karena akan di sibukan dengan persiapan pernikahan kita.


Asyifa


enam minggu lagi ? bukan kemaren abang bilang kalau dua bulan lagi ?.


Ustaz Bani


Abang sudah gak sabar ingin menghalalkan kamu, dan abang sudah sepakat dengan keluarga kalau minggu sore kita akan adakan pertemuan keluarga kita di resto Rafiz Family.


Asyifa


Ya sudah Syifa ikut kata bang saja, nanti Syifa sampaikan sama Abi dan Umi.


Ustaz Bani


Iya, sekarang kamu cepet tidur udah malam gak baik buat kesehatan.


Selamat tidur calon istrikušŸ˜


Asyifa


Selamat tidur juga calon imamkuā¤ļø


Kedua insan tersebut hanyut dalam pikiran mereka masing - masing, Bani dan Syifa berkomunikasi hanya lewat aplikasi chat, tak lupa juga Bani memberi tahu kalau ia telah membeli rumah untuk di tempati mereka nanti setelah menikah.

__ADS_1


Rasa bahagia menyelimuti Syifa, ketika ia sedang mengetik membalas pesan dari ustaz Bani, tangan Syifa sampai bergetar, coba kalau bicara langsung tak mungkin Syifa berani memanggil ustaz Bani dengan panggilan Abang, bagi Syifa panggilan itu terasa asing dan juga aneh karena belum terbiasa. Sosok Bani yang di kenal dingin ternyata bisa hangat juga ketika ia sudah mengenalnya dekat, bahkan Syifa gak menyangka kalau orang yang selalu bikin ia kesal akan menjadi pasangan hidupnya.


__ADS_2