
Hampir satu jam Syifa tertidur di ruangan Bani, kemudian ia terbangun saat suara adzan berkumandang.
"Astagfirullah aku ketiduran" gumam Syifa.
"Sayang pulang saja ya, istirahat di rumah saja, biar lebih nyaman" ujar Bani.
"Di sini juga nyaman sayang" sahut Syifa. kemudian ia bergegas ke kamar mandi mencuci muka dan sekalian mengambil Air wudhu.
Usai Shalat berjamaah Bani dan Syifa menyantap makan siang di beli oleh Tio lewat aplikasi online.
"Sayang besok aku ikut kamu kerja lagi ya " ujar Syifa ketika makanan nya telah habis.
"Untuk apa sayang ?" tanya Bani lembut agar tak menyinggung perasaan sang istri.
"Aku betah di sini sayang" jawab Syifa asal, entah kenapa ia merasa nyaman berada di sama apa lagi ia akan terus berdekatan dengan sang suami. Akhir - akhir ini, manja Syifa bertambah, ia merasa ingin selalu berada di dekatnya, suaminya pergi ke kamar mandi lama sedikit pasti Syifa sudah memanggilnya agar cepat buru - buru kembali.
"Gimana besok saja ya sayang" ujar Bani. ia tak ingin jika istrinya selalu ikut ke tempat kerjanya akan berpengaruh butuk pada kondisi calon buah hati mereka.
...*****...
Kehamilan Salwa sudah jalan enam bulan lebih, perutnya sudah sangat membuncit, mungkin itu karena Salwa hamil anak kembar tiga.
Kini Robby semakin ekstra dalam menjaga Salwa, ia tak ingin terjadi apapun terhadap istri dan calon anak - anaknya.
Sore hari Salwa sedang merebahkan tubuhnya di kamar, sedangkan Robby sang suami berada di dalam kamar mandi sedang membersihkan dirinya setelah sepulang bekerja.
Terdengar suara dering ponsel dari tas kerja milik Robby.
"Mas sepertinya ponsel kamu bunyi tuh" ujar Salwa dengan sedikit berteriak.
"Biarin saja, mungkin operator" sahut Robby dari dalam kamar mandi.
Salwa pun membiarkan ponsel suami nya terus berdering. Salwa merasa curiga jika itu bukan panggilan dari operator karena panggilan itu terus berulang - ulang.
"Mas ponselnya bunyi terus, sepertinya bukan dari operator deh" ujar Salwa.
"Ya sudah kamu lihat saja, ponselnya ada di dalam tas". Salwa segera bangkit dari posisi tidurnya dan melihat siapa yang menghubungi suaminya sampai berkali - kali.
__ADS_1
"Mas yang menghubungi kamu itu Tasya, ia sampai lima kali panggilan tak terjawab" ujar Salwa.
"Angkat saja, bilang Mas lagi di kamar mandi" teriak Robby dari dalam kamar mandi.
Salwa pun akhirnya menjawab panggilan dari Tasya.
"Hallo, Asalamualaikum" ucap Salwa saat menjawab panggilan tersebut.
"Kak Salwa, kak Robby mana ?" tanya Tasya seperti yang sedang panik.
"Kakak kamu sedang di kamar mandi, ada apa kok suara kamu seperti sedang panik ?".
"Kak mamah jatuh di kamar mandi, dan sekarang keadaannya kritis" jelas Taysa seperti sedang menahan tangisnya.
"Serius kamu ?" tanya Salwa.
"Iya kak, ini aku sedang di rumah sakit. alamat rumah sakitnya nanti aku kirim via wa" ujar Tasya.
"Kakak akan segera ke sama" Salwa menitip panggilannya. dan berlari ke arah pintu kamar mandi.
"Mas mamah sakit" ujar Salwa.
"Tapi ini Tasya yang bilang, sekarang sedang kritis di rumah sakit. mana mungkin Tasya bohong suaranya saja seperti orang sedang menangis" ujar Salwa yang seketika menjadi panik.
"Sudahlah, kamu kaya gak tau mamah seperti apa saja" ujar Robby, ia tak ingin kembali terjebak dalam permainan sang mamah.
"Sayang coba tanyain Abi atau ummah saja, pasti mereka gak akan bohong".
"Baiklah" Robby mengalah, ia tak ingin istrinya di landa ke panikan yang tak berguna menurutnya.
Robby menghubungi Abi Umar, ia sepertinya nampak serius saat berbicang - bincang dengan Abi umar, tak lama kemudian Robby menutup panggilannya.
"Sayang, siap - siap dari sekarang, Yang di bilang Tasya benar, mamah masuk rumah sakit, dan sekarang Abi juga ada di sana" ujar Robby.
"Tuhkan bener kata aku" gerutu Salwa.
Salwa di bantu bi Tinah merapihkan barang yang akan mereka bawa. sedangkan Robby sedang sibuk mencari tiket pesawat untuk keberangakatan sekarang.
__ADS_1
Dengan perasaan campur aduk, Robby dan Salwa berangkat menuju ke bandara di antar oleh supir pribadi mereka. telat lima menit saja mereka akan ke tinggalan pesawat.
Tiga puluh menit mereka mengudar dan tiba di bandara tujuan Robby langsung memesan taksi online untuk mengantar mereka ke rumah sakit tempat mamahnya di rawat.
Di rumah sakit Tasya masih menangis dalam pelukan Ummah, sedangkan Tim medis sedang menangani mamah Erni di ruang icu.
"Bagaimana keadaan mamah ?" tanya Robby.
"Insya allah mamah kalian akan baik - baik saja" ujar Abi Umar menenangkan.
"Kak, mamah kak" kini Tasya beralih memeluk kakaknya yang sedang berdiri tepat di hadapan dia.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mamah ?" tanya Robby pada Tasya.
"Sudah seminggu asisten rumah tangga di rumah mengundurkan diri karena ia ingin fokus pada keluarganya. tadi mamah sedang menggosok kamar mandi tanpa sengaja mamah menginjak lantai yang licin, dan akibatnya mamah jatuh dan langsung tak sadarkan diri" Tasya menjelaskannya sambil berurai air mata.
Mereka berharap cemas menunggu kondisi mamah Erni, karena sejak tadi belum ada satu pun dokter atau perawat yang keluar dari ruangan tersebut.
...******...
Sudah tiga hari Rara terbaring lemah di rumah sakit, ia mengalami mual dan muntah yang hebat, bahkan setiap makanan yang masuk akan keluar lagi lewat muntahan tersebut.
Karena tak tega melihat kondisi Rara yang seperti itu Fariz pun membawa Rara ke rumah sakit agar mendapat penanganan yang baik, untung saja kandungan Rara cukup kuat hingga kondisi janin tak perlu di khawatirkan.
Setelah kondisi Rara kembali membaik, Rara pun di perbolehkan pulang, kini mama nya setia menemaninya di rumah ketika Fariz sedang berangkat bekerja. sesekali jika tidak ada kegiatan Umi juga akan datang menjenguk.
"Aku berangkat bekerja dulu, kamu sama mama, nanti agak siangan Umi juga akan datang ke sini" ujar Fariz sebelum berangkat bekerja.
"Jangan pakai minyak wangi di kamar, aku gak tahan dengan baunya". ujar Rara dengan menutup hidungnya dengan kedua tangannya. indera penciumannya sangat sensitif, dan setiap mencium aroma yang menyengat ia akan langsung pusing, mual dan juga muntah - muntah.
Fariz pun memilih untuk tidak memakai minyak wangi, ia memasukan minyak wangi dalam tas kerjanya dan akan di pakai nanti jika sudah sampai di resto.
Mamanya Rara masuk ke dalam kamar dengan membawa semangkuk bubur, sop dan juga segelas susu hangat khusus ibu hamil.
"Ma, Fariz berangkat kerja dulu ya, nitip Rara, maaf Fariz jadi merepotkan mama" ujar Fariz.
"Tidak apa - apa nak, berangkatlah bekerja, Rara ada mama yang jagain jadi kamu gak perlu khawatir tentang keadaan Rara" ucap Mama nya Rara.
__ADS_1
usai makan bubur dan minum susu, Rara kembali berbaring karena ia tidak kuat jika harus duduk lama - lama karena kepalanya akan pusing. tiba - tiba ponselnya berbunyi tanda ada pesan notifikasi masuk.
Ceraikan suami mu atau kamu tanggung akibatnya sendiri. isi pesan tersebut dari nomor yang tidak di kenali.