Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 47


__ADS_3

Fariz menuruni anak tangga dengan berlari.


"Nak kamu kenapa ?" tanya Umi yang melihat anaknya turun dengan berlari dan wajahnya sudah memerah menahan amarahnya.


Bughh. .


satu tonjokan melayang di pipi Bani. semua kaget bahkan Umi sampai histeris melihat kejadian tersebut, darah segar mengalir dari hidung Bani.


"Hentikan" teriak Kyai Hasan menggema di ruangan tersebut.


Bi Tuti yang sedang bersiap - siap untuk tidur pun langsung terbangun dan berlari ke arah suara keributan. ia pun ikut kaget melihat darah yang keluar dari hidung Bani, dengan secepat kilat Bi Tuti langsung mencari kotak p3k untuk mengobati majikannya. Umi masih menangis dan badanya lemas tak berdaya.


"Fariz apa - apa ini, Abah tidak pernah mengajarkan kamu seperti itu dalam menyelesaikan masalah, Fariz istighfar, yang kamu pukul itu kakak kandung kamu" ucap Kyai Hasan tegas, ia sedang berusaha menahan emosinya.


Umi sedang di tenangkan oleh Bi Tuti sedangkan Bani mengobati lukanya sendiri.


"Apa masalahmu hingga dengan teganya kamu menonjok kakak kamu sendiri ?" tanya Kyai Hasan.


"Aku selama ini diam, Kalian semua selalu membela kak Bani, bahkan sekarang kalian setuju bahwa kak Bani akan mengkhitabah Asyifa. harus kalian tahu Asyifa adalah calonnya Fariz, kalian tega merebut kebahagian Fariz". ucap Fariz emosi.


"Nak kami gak tau kalau Asyifa adalah calon kamu, kamu saja tidak pernah cerita sama kita, jadi wajar kalau kami menyetujui niatan kak Bani, karena kami tidak tau apa - apa" ucap Kyai Hasan.


"Terus setelah kalian tau, kalian mau tetap membiarkan kak Bani menghitbah Asyifa, kalian memang tak pernah peduli dengan Fariz" ucap Fariz lagi.


"Abah akan mencari jalan keluarnya, tapi dengan satu syarat" ucap Kyai Hasan tegas.


"Abah Bani yang cerita duluan, berarti Bani yang akan menghitbah Syifa" ucap Bani yang tak rela jika Syifa jatuh ke tangan adiknya.

__ADS_1


"Aku lebih pantas dengan Asyifa, ia membutuhkan sosok lelaki yang penyayang, pengertian dan lembut, bukan lelaki dingin macam kak Bani" ucap Fariz mengejek kakaknya.


Bani sudah siap dengan kepalan tangannya untuk melayangkan pukulan pada Fariz namun harus ia urungkan setelah mendapat tatapan tajam dari Kyai Hasan.


"Abah akan membiarkan Syifa yang akan memilih, tapi ada satu syarat yang harus kalian patuhi siapapun yang tidak di pilih Asyifa harus menerimanya dengan ikhlas tanpa ada dendam. jika kalian tidak menyanggupi syarat tersebut maka Abah dan Umi akan melarang keras untuk berhubungan dengan Asyifa lagi".


Fariz dan Bani sedang berpikir keras dengan permintaan sang Abah, tapi Fariz penuh keyakinan bahwa Syifa akan memilihnya dan siap menyetujui permintaan sang Abah, berbeda dengan Bani yang merasa ada keraguan jika Syifa akan memilihnya, namun pada akhirnya Bani pun menyanggupi persyaratan dari Abahnya.


"Tapi kalian harus janji, tak ada maen tangan lagi setelah Syifa memilih, paham !!" ucap Kyai Hasan tegas.


Setelah mendapat kesepakatan mereka kembali ke kamar masing - masing. "Abah, Umi gak nyangka anak kita sama - sama menyukai satu wanita" ucap Umi.


"Umi tenang saja, semuanya akan baik - baik saja" jawab Kyai Hasan menenangkan istrinya.


"Apa yakin kalau Abah mau menyuruh Syifa yang memilih, bagaimana jika Syifa tidak memilih ke dua - duanya ?" tanya Umi Khawatir dengan kondisi anaknya, apalagi Bani yang baru saja di tinggal Nikah Salwa satu bulan yang lalu.


"Maut, rezeki dan jodoh allah yang ngatur, kita manusia hanya bisa berdoa dan berusaha" ucap Abah


...*****...


Setelah sarapan pagi, pak Umar pamit untuk pergi ke tempat kerjanya, sudah tiga hari pekerjaannya itu di tinggal, dan artinya sudah banyak kerjaan yang menunggunya.


Sampai di tempat kerja pak Umar di sambut oleh para Kayrawan, pak Umar langsung mengecek bagian produksi dan juga bagian packing, dan alhamdulilah tidak ada kendala, ponselnya berdering dan ia pun berlalu menuju ruangan kerjanya untuk menjawab panggilan tersebut.


Kyai Hasan langsung menceritakan niat baiknya, namun ada yang bikin pak Umar kaget karena di situ Syifa yang harus memilih.


"Maaf sebelumnya, apa pak Kyai yakin, saya takut nantinya ada perselisihan kalau Syifa memilih salah satu dari mereka" ujar pak Umar ragu.

__ADS_1


"untuk itu kami sudah ada kesepakatan kalau yang tak terpilih harus terima dengan ikhlas tanpa dendam" jawab Kyai Hasan. "Kami akan datang tiga hari lagi" sambung Kyai Hasan lalu izin untuk menutup panggilannya.


Pak Umar jadi bingung sendiri, bagaimana mungkin Syifa harus memilih di antara dua bersaudara, pak Umar tidak menginginkan jika ke hadiran anaknya akan membuat hubungan persaudaraan hancur.


Di tempat kerja Bani tidak bisa fokus dengan kerjaannya, pikirannya masih tentang siapa yang akan di pilih Asyifa di tambah rasa ngantuk mulai melanda karena hampir semalaman ia tak tidur.


"Mau Kopi ?" tawar Tio saat melihat Bani terus menguap.


"Boleh" jawab Bani singkat.


Tio telah kembali dengan segelas kopi di tangannya. "Ini kopinya" ucap Tio.


"Ada masalah lagi ?" tanya Tio.


"Aku mau cerita tapi aku mau selesaikan kerjaan ku dulu" jawab Bani yang masih fokus pada layar laptop. Tio pun kembali ke tempat kerjanya dan melanjutkan kerjaannya.


Segelas kopi membuat Bani sedikit bisa melek hingga ia bisa dengan cepat menyelesaikan kerjaannya. ia pun mengubungi Tio agar datang ke ruangannya.


Tio datang dengan membawa makan dia, karena tadi Bani menyuruh Tio untuk membeli makan siang untuk mereka, siang ini mereka makan siang di ruangan Bani.


Setelah makan siang mereka Bani mulai cerita tentang dirinya, Asyifa dan Fariz, tak lupa Bani juga bercerita tentang kejadian selama.


"Jodoh gak kemana bro" ucap Tio.


"Tapi kalau Syifa memilih Fariz gue harus siap mengadapi dua kenyataan, yang pertama kehilangan orang yang di sukai dan yang ke dua aku harus siap di langkahi adikku" jelas Bani.


"Berdoa saja, minta yang terbaik, gue percaya lo bisa melewati masalah ini" ujar Tio.

__ADS_1


Sementara di rumah Syifa tak banyak melakukan aktivitas, Ia hanya di kamar sambil memainkan ponselnya. Syifa sedang berpikir bagaimana cara menyampaikan tentang isi surat dari Bani pada keluarganya. dan pastinya Bani sudah menunggu jawabannya tersebut.


Ketika ingin membicarakan hal itu dengan kakak iparnya namun ada rasa malu yang menghinggapi, hingga membuat ia tak yakin akan bercerita. Syifa mencoba merangkai kata namun baginya itu terlalu sulit, andai kertas itu tak tertinggal ia bisa langsung memberikannya tanpa harus bercerita panjang lebar.


__ADS_2