Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 131


__ADS_3

Teriakan Bani sontak membuat Syifa sangat terkejut, karena ini baru pertama kalinya Bani berteriak pada Syifa setelah mereka menikah.


"Kamu tau, ini berkas sangat penting, aku tidak beristirahat hanya karena ingin pekerjaan ini cepat selesai, dan setelah hampir selesai dengan seenaknya kamu menumpahkannya kopi" teriak Bani seraya melemparkan berkas - berkas yang sudah rusak tak berbentuk lagi.


"Maaf, Syifa bener - bener tidak sengaja". ucap Syifa lirih.


"Maaf kamu bilang, maaf mu tak bisa membalikan semua keadaan" bentak Bani lagi, lelaki itu telah di kuasai oleh amarahnya. "Ceroboh sekali kamu !!" seru Bani


"Ya memang kata maaf tidak bisa mengembalikan semuanya, tapi Abang juga tidak perlu bentak - bentak Syifa juga, apa dengan membentak Syifa akan mengembalikan keadaan ? tidak kan !".


"Diam kamu !" Seru Bani.


Syifa berlari ke kamarnya, dirinya tak habis pikir, ada apa dengan suaminya kini ?, bukannya dia lelaki yang selalu sabar dan juga lemah lembut dan penuh kasih sayang, tapi apa yang di lakukannya pada dirinya kali ini bener - bener membuatnya kecewa.


Syifa menangis tersedu - sedu di dalam kamar, sedangkan Bani kembali mengerjakan berkas - berkas yang telah rusak tersiram air kopi, tak ada niatan untuk meminta maaf pada sang istri ia lebih memilih diam saja, karena ia merasa semua ini karena kecerobohan sang istri.


Jam tiga dini hari Bani baru saja menyelesaikan kerjaannya, bahkan ia melewatkan tidur malamnya hanya demi mengerjakan berkas yang telah rusak.


"Lebih baik aku tidur dulu sebentar nanti bangun pas shalat subuh" gumamnya kemudian membereskan semua berkasnya dan menaruhnya ke dalam tas kerjanya. Bani berlalu menuju kamarnya, namun saat memasuki kamarnya Bani sangat tercengang melihat banyak tissu yang berserakan di dalam kamarnya, ia melihat sang istri sedang menangis, matanya sudah membengkak karena menangis semalaman.


Bani baru menyadari jika semalam ia telah membentak sang istri. dengan langkah yang ragu Bani pun mendekati sang istri.


"Sayang maafin Abang yah, Abang tau Abang salah, Abang terbawa emosi karena lelah sayang" ucap Bani secara lemah lembut pada sang istri. Syifa tak bergeming ia masih syok atas perlakuan suaminya semalam.


"Sayang maafin Abang" ucap Bani lirih. "Lalu Abang harus bagaimana biar kamu maafin Abang" ujar Bani lagi, berusaha meminta maaf pada istrinya. karena tak ada jawaban, Bani pun pergi meninggalkan sang istri, tubuhnya yang lelah membuat dirinya terpaksa tidur di ruang televisi.


Pagi menjelang, seperti biasa Syifa akan masak untuk sarapan pagi , walaupun kesal terhadap suaminya namun ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri. Syifa juga telah membuatkan secangkir kopi untuk suaminya yang ia letakkan di atas meja makan.


Sementara Bani sehabis shalat subuh ia kembali memeriksa kerjaannya karena takut ada yang salah, saat pergi ke dapur ingin membuat kopi untuk mengusir rasa ngantuknya, ia pun melihat istrinya dengan mata yang bengkak sedang memasak.

__ADS_1


"Kopinya ada di meja makan" ujar Syifa datar tanpa ekspresi.


"Maafin Abang yah" ucap Bani seraya memeluk sang istri dari belakang.


"Syifa lagi masak" ketus Syifa, sikapnya dingin sekali. bahkan Syifa berusha melepaskan pelukan Bani, namun karena pelukannya sangat kuat membuat Syifa kesusahan dalam melepaskan pelukan Bani.


"Lepasin, Syifa mau Ambil tempat untuk nasi goreng" ucap Syifa agar Bani mau melepaskannya.


"Kamu diam di sini, biar Abang yang ambil saja" ujar Bani.


Setelah makanan tersaji di meja makan, Bani lebih memilih membersihkan badannya sebelum makan, selama sarapan tak ada canda tawa atau pun pembicaraan lainnya, Syifa lebih memilih banyak diam, hanya sesekali menjawab pertanyaan Bani yang menurutnya penting.


"Abang berangkat dulu, karena ada meeting pagi" ucap Bani berpamitan, walaupun sang istri tak banyak bicara Bani tetap seperti biasa sebelum berangkat kerja akan mengecup kening sang istri, begitupun Syifa yang akan mencium tangan sang suami.


Setelah suaminya berangkat Syifa pun melanjutkan kerjaannya seperti menyapu mengepel dan juga mencuci pakaian, walaupun Bani telah menawarkan jasa asisten rumah tangga untuk membantu kerjaannya tapi Syifa selalu menolaknya karena ia juga mampu mengerjakannya sendiri.


"Apa sikap ku sudah keterlaluan ya, padahal Abang kan sudah minta maaf" gumam Syifa.


...******...


"Mas gak berangkat kerja ?" tanya Salwa saat melihat Suaminya masih bersantai - santai.


"Nggak, hari ini aku akan mengajak kamu konsultasi ke dokter untuk program bayi tabung" ujar Robby mengutarakan niatnya.


"Mas yakin ?" tanya Salwa yang masih ragu.


"Yakin".


"Mas itu biayanya mahal sekali, apa gak sayang sama uangnya ?".

__ADS_1


"Mas lebih sayang kamu dari pada uang, uang nanti bisa di cari lagi. aku gak mau kamu terus - terusan di hina orang tua ku" ujar Robby.


"Aku mengerti mas, tapi gak ada salahnya kita menunggu dulu sampai beberapa bulan lagi, Kita menikah baru satu tahun, ada yang lima tahun mereka belum di kasih anak tapi keluarga mereka baik - baik saja" ujar Salwa. "Dan kenapa masa gak ngikutin kemauan mamah untuk menikah lagi" sambung Salwa.


"Sayang, apa dengan mas menikah lagi akan menjamin istri baru mas akan segera hamil ?".


Salwa terdiam, yang di katakan suaminya memang ada benarnya, menikah lagi tidak menjamin bahwa ia akan segera mempunyai keturunan.


"Pokoknya hari ini kita ke dokter" ucap Robby tegas dan tak mampu di bantah oleh Salwa.


Siang harinya mereka pun berangkat menuju sebuah rumah sakit, Robby telah membuat janji terlebih dahulu, sehingga membuat Robby tak perlu mengantri lama - lama.


Dokter pun menjelaskan bagaimana prosedur dalam menjalani program bayi Tabung, dokter sempat terheran - heran dengan pasangan ini karena usia mereka belum satu tahun menikah, dan tidak ada masalah kandungan tapi sudah memutuskan untuk menjalani program bayu tabung ini.


Dokter pun menyaraknkan mereka untuk program bayi tabung di sebuah kota yang berbeda dengan tempat tinggal mereka, menurut dokter di sana alat - alatnya sudah canggih semua dan dokternya pun sudah propesional. selain proses program bayi tabung, Robby juga menanyakan biaya yang harus di siapkan untuk menjalani program bayi tabung. dokter pun memberikan sebuah brosur tentang Bayi tabung dan di sana tertera rincian biaya yang harus di siapkan oleh orang yang akan menjalani bayi tabung.


Setelah selesai konsultasi mereka pun kembali ke apartemen mereka.


"Mas program bayi tabungnya nanti saja ya" bujuk Salwa.


"Emang kenapa ?".


"Lihat mas, biayanya juga tidak sedikit, dan lagian kita baru satu tahun menikah".


"Tapi sayang. . ". ucapan Robby terpotong.


"Aku mengerti perasaan kamu sayang, tapi kita tunggu satu tahun lagi ya" bujuk Salwa lagi.


"Nanti abang pikirkan lagi" sahut Robby, ia pun berlalu menuju kamar mandi karena ingin buah hajatnya. Robby memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamarnya karena sekalian untuk mengganti pakaiannya.

__ADS_1


Saat Robby masuk ke dalam kamar, pintu apartemen pun di ketuk dari luar. Siapa yang datang, apa Mas Robby mengundang temennya ke sini. Gumam Salwa seraya membuka pintu apartemennya. dan ternyata dua orang wanita yang datang, dari salah satu wanita tersebut Salwa sangat mengenalnya.


__ADS_2