
Rara terus berlari menuju resto milik suaminya. ia tak memperdulikan sekian banyak orang yang memperhatikannya. banyak rekan - rekan kerjanya yang memanggilnya dan juga bertanya apa yang terjadi, namun Rara tetap tak menggubrisnya, di pikirannya lari sekencang mungkin agar bosnya itu tak dapat menangkapnya lagi.
Rara memasuki Resto Fariz dengan mata yang sembab dan rambut acak - acakkan, membuat sebagian pegawai resto itu bertanya apa yang terjadi dengan istri sang pemilik resto tersebut. untung saja kejadian itu masih pagi, resto saja baru di buka dan belum ada pelanggan yang datang.
"Rara ada yang terjadi dengan kamu ?" tanya Fariz yang terkejut dengan kedatangan Rara yang tiba - tiba dan juga keadaan Rara yang benar - benar berantakan.
Rara tak menjawab pertanyaan suaminya, ia langsung memeluk erat tubuh sang suami dan menangis sejadi - jadinya. tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika dirinya tak bisa melarikan diri.
Fariz mencoba menenangkan istrinya, dan setelah Rara mulai tenang, Fariz pun mulai bertanya pada sang istri.
"Sayang, kamu kenapa ?". tanya Fariz yang sudah penasaran.
"Aku tidak mau kembali ke kantor itu lagi" jawab Rara sambil terisak.
"Tapi kan kamu belum dapat surat pengunduran diri" ucap Fariz.
"Pokoknya aku tidak mau kembali ke sana titik" teriak Rara.
"Ya sudah kalau tidak mau kembali tidak apa - apa, tapi tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu ?" tanya Fariz lembut.
"Dia mau memperkosa aku" jawab Rara terisak kembali tatkala teringat kejadian tadi di kantor.
"Dia siapa ?" tanya Fariz.
"Bosku, tadi ia akan memberikan tanda tangan untuk surat pengunduran diri aku, tapi dia mengajukan syarat, aku harus melayani dia, untung saja tadi aku bisa kabur, aku takut" jelas Rara membuat Fariz langsung emosi.
"Kurang ajar !" Rahang Fariz mengeras, sebagai suami ia tak terima jika istrinya pendapat perlakuan seperti itu. Fariz bangkit dari tempat duduknya dan berniat untuk menemui bosnya Rara.
"Kamu mau ke mana ?".
"Aku ingin menghajar bos kamu itu !".
"Jangan biarkan aku sendirian, aku takut" ujar Rara mencegah Fariz agar tak menemui bosnya .
"Aku akan laporkan bos kamu itu" ujar Fariz berapi - api, emosinya masih membara.
__ADS_1
"Tapi kita tidak punya bukti yang kuat" ucap Rara. "Jika kita tetap melaporkannya tanpa barang bukti, maka dia bisa menuntut kita balik" jelas Rara.
"Lalu kita harus bagaimana ? Mana mungkin aku membiarkan lelaki seperti itu berkeliaran ". ujar Fariz kesal karena tak ada barang bukti kuat yang bisa menjerat lelaki itu.
Akhirnya Rara pun menenangkan dirinya di ruangan Fariz, sedangkan Fariz melanjutkan kerjaannya, dan berpikir bagaimana cara menjebloskan lelaki itu ke dalam sel tahanan.
...*****...
"Positif" Bani membaca tulisan yang bercetak tebal.
"Tuh kan, aku memang positif anemia" ujar Syifa.
"Bukan anemia !" ujar Bani.
"Kalau bukan anemia lalu apa ?" tanya Syifa jadi bingung karena ia tak pernah membaca hasil lab tersebut. "Obatnya saja di kasih obat penambah darah" sambung Syifa.
"Apa kamu tiba baca hasil lab ini ?" tanya Bani.
Syifa menggelengkan kepalanya, karena menurutnya ia hanya sakit anemia jadi tak perlu lagi membaca hasil lab tersebut.
cuma gak baca hasil lab saja dia sampai bilang aku bodoh, sunggung menyakitkan. gumam Syifa dalam hatinya.
"Cepat siap - siap kita akan pergi" titah Bani dalam hatinya.
"Pergi ke mana ?" tanya Syifa yang malah kebingungan.
"Cepat ! gak usah banyak tanya, aku bisa telat, nanti agak siangan aku ada meeting penting" ujar Bani kesal karena istrinya malah banyak tanya.
Syifa pergi ke kamarnya dengan perasaan bingung, ia pun mengganti pakaiannya dengan pakaian pergi yang menurutnya simple.
"Syifa cepetan, tidak udah dandan !" teriak Bani.
Syifa pun keluar dengan membawa tas selempang kecil. " Ayo cepetan nanti telat" ucap Bani yang berjalan tergesa -gesa menuju mobilnya, tak lupa ia juga membawa obat dan juga hasil labnya.
sepanjang perjalanan Syifa terus bertanya mau ke mana mereka, namun tak ada satu pun pertanyaan Syifa yang di jawab oleh Bani.ia tetap fokus untuk pada kemudi, pikirannya melayang antara senang, tidak percaya, dan takut kehilangan jika ia menjaga istrinya dengan baik.
__ADS_1
Mobil Bani memasuki sebuah klinik yang terdekat, ia hanya ingin berkonsultasi tentang tulisan yang ada di kertas hasil lab. Bano segera mendaftarkan istrinya kebagian pendaftaran. sedangkan Syifa masih bertanya - tanya kenapa dirinya di bawa ke klinik.
"Abang kenapa kita ke sini ?" tanya Syifa.
"Sudah diam kamu" ucap Bani tegas.
Mungkin Abang hanya ingin memastikan sakit ku parah atau nggak. gumam Syifa, ia mencoba berfikir positif.
Karena masih pagi, Syifa tak perlu mengantre lama - lama, karena ia merupakan pasien ketiga di pagi itu.
"Dok tolong jelaskan maksud dari hasil lab ini, dan apa fungsi dari obat - obatan ini ?" tanya Bani pada dokter lalu menyerahkan hasil lab dan obat - obatan tersebut.
Huh dasar posesif gak percaya bahwa itu obat penambah darah. gerutu Syifa dalam hatinya, karena menurutnya aksi suaminya itu sungguh membuat malu dirinya.
Dokter pun membaca dengan teliti hasi lab tersebut, dan setelah itu menutupnya kembali.
"Selamat ya pak, bu" ucap dokter tersebut dengan senyum sumringah.
Masa sakit anemia di beri selamat. gumam Syifa ke bingungan.
"Dok, jelaskan bukan malah memberi selamat" gerutu Bani, karena sama sekali ia tak bisa mencerna kata selamat yang di berikan oleg dokter tersebut.
"Dok saya kan sakit anemia, dan dokter juga memberikan saya vitamin dan juga obat penambah darah" jelas Syifa.
Dokter itu pun tersenyum kembali, menurutnya tingkah pasangan yang ada di hadapannya membuatnya ingin tertawa.
"Sabar dulu pak, bu. Jadi begini ibu memang mengalami anemia di sebabkan karena ibu sedang mengandung dan hal itu wajar terjadi pada ibu hamil dan untuk obat itu memang obat penambah darah khusus untuk ibu hamil, dan juga vitamin khusus ibu hamil" jelas dokter membuat Syifa terkejut, sedangkan Bani hanya terdiam ia bener - bener merasa bahagia jika istrinya kembali hamil.
"Hamil dok ?" tanya Syifa kebingungan.
"Iya bu, dari hasil lab di sini ibu di nyatakan sedang mengandung, usia kehamilan ibu di sini sudah menginjak usia delapan minggu" jelas dokter membuat Syifa terdiam, kemudian mengambil kertas hasil lab yang tak pernah ia baca selama ini.
Benar saja di situ tertuliskan bawa dirinya dirinya positif hamil. dan di situ Syifa merutuki dirinya yang bodoh kenapa ia sampai ceroboh tak membaca hasil lab tersebut. Syifa peneteskan air mata bahagianya.
Ya allah maafkan hamba yang telah lalai menjaga titipan mu. semoga kali ini kau bener - benar menitipkan ini untuk ku. hamba janji akan menjaganya. gumam Syifa dalam hatinya.
__ADS_1