Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 184


__ADS_3

Tiba di resto sebagian Karyawan sudah datang dan sedang membersihkan resto, Fariz dan Rara langsung menuju ke ruangannya.


"Kalau mau sesuatu ngomong saja" ujar Fariz.


"Iya" sahutnya singkat.


Fariz mulai mengerjakan tugasnya, sedangkan Rara memilih untuk menonton siaran televisi. Suara ponsel Fariz berdering, dan segera Fariz menjawab panggilannya.


"Asalamualaikum" ucap Fariz saat menjawab panggilan tersebut.


"--------------------".


"Maaf Saya tidak bisa keluar, jika anda memang serius silahkan datang saja ke resto saya" ujar Fariz tegas.


"----------------------".


"Kalau seperti itu lebih baik batal saja".


"-----------------".


"Ya silahkan saya tunggu" Fariz kemudian mengakhiri panggilannya. Rara melirik sang suami, sebenarnya ia sangat penasaran siapa yang menghubungi suaminya, namun saat mau bertanya Rara sedikit ragu, takut di cap terlalu ikut campur tentang urusan resto.


"Huhh aneh masa ia malah ngajak ketemuan di luar" gerutu Fariz, kini ia berjalan menuju sang istri.


"Apanya yang aneh ?" tanya Rara.


"Itu orang yang kemaren masa ia ngajak ketemuan di tempat lain, katanya biar lebih santai. lah emang di sini gak santai ? apa karena kemaren gak aku kasih minuman, ya habisnya lupa" ujar Fariz seraya duduk di samping istrinya.


"Makanya nanti kasih minum, ia hauslah" ucap Rara asal. "Ah, ngomongin soal minuman ko jadi pengen jus jeruk seger" ujar Rara.


"Kamu mau jus Jeruk ?"Rara hanya mengangguk pelan. "Ya sudah bentar tunggu aku ambilkan". ujar Fariz.


"Tapi tunggu bentar deh, aku pinginnya kamu yang buat" ujar Rara dan Fariz hanya mengangguk seraya berlalu keluar ruangannya.


Lima menit kemudian Fariz kembali dengan membawa satu gelas jus jeruk pesenan sang istri. "Ini Sayang jus jeruknya" Fariz meletakan jus jeruk itu di meja hadapan Rara.


Rara memperhatikan gelas jus tersebut, lalu mengambilnya dan menimunnya tapi hanya sedikit.


"Kamu bohong" ujar Rara kemudian menaruh kembali gelas tersebut.


"Bohong apanya ?".

__ADS_1


"Ini bukan buatan kamu, ya kan ngaku !".


Kenapa dia biasa tau, apa dia tadi mengikuti ku kebagaian dapur. bantin Fariz.


"Hehe maaf".


"Sana buatkan lagi, tapi harus kamu yang bikin" ketus Rara.


Fariz pun kembali membuatkan minuman untuk istrinya, kali ini bener - bener ia yang membuatkan, ia tak ingin istrinya marah karena keisengannya.


Huh apa bedanya sih, rasanya juga tetep sama, dasar perempuan suka aneh - aneh saja. batin Fariz saat melihat Rara meneguk jus jeruk buatannya hanya dengan sekali tegukan saja.


Ketika mereka sedang asik bercanda, ada satu pegawai yang memberi tahu jika orang yang kemaren sudah datang dan sudah menunggu di meja pengunjung.


"Kamu mau ikut ke luar ?".


"Aku di sini saja" sahut Rara.


Fariz pun menemui orang perempuan yang bernama Leni, di sana terjadi perbicangan alot, Leni terus membujuk Fariz agar mau bekerja sama, namun Fariz tetap dengan pendiriannya menolak kerja sama tersebut, sampai - sampai Leni mencoba menggenggam tangan Fariz untuk memohon dan dengan repleks Fariz langsung menghindar.


Sementara Rara diam - diam mengintip dari dalam, ternyata tebakannya bener. perempuan itu sama yang seperti di Foto.


Tinggg


Rara hanya senyum kecut saat saat melihat foto tersebut dan membaca keterangan foto tersebut. Rara kembali keruangan suaminya, ia segera memberi tahu kakaknya tentang hal ini.


Sedangkan Bani Baru saja sampai ke Resto, karena sebelumnya ia mampir terlebih dahulu ke kantornya. melihat adiknya sedang duduk bersama perempuan, Bani pun langsung menghampiri adik dan perempuan tersebut.


"Perkenalkan ini kakak saya, Namanya Bani, beliau juga merupakan pemilik dari resto ini" Fariz memperkenalkan sang kakak pada perempuan itu.


Perempuan itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Bani, namun Bani malah mengatupkan tangannya di dada, perempuan itu menjadi merasa malu karena Bani menolaknya.


"Saya Leni" perempuan itu memperkenalkan dirinya.


Leni menjelaskan maksud dan keinginannya untuk menjalani kerja sama dengan resto milik Fariz. dengan perlahan Bani menjelaskan tentang resto tersebut, menolak kerjasama tersebut secara halus, membuat Leni tak bisa membantah setiap perkataan Bani. hingga akhirnya Leni pamit untuk pulang.


"Kalau begitu, saya pamit dulu, karena masih banyak kerjaan lainnya". ujar Leni seraya berlalu.


Setelah Leni pergi, Bani juga ikut pergi karena ia harus pergi ke kantornya sebentar sebelum menjemput sang istri tercinta di rumah mertuanya.


Leni keluar menggunakan mobilnya menuju sebuah cafe, ia harus memberikan laporan pada bosnya.

__ADS_1


"Gagal bos, dia tidak sendiri tadi ada kakaknya yang mendampinginya" ujar Leni memberi laporan.


"Tak apa, yang terpenting aku bisa mendapatkan foto kalian berdua. kita ubah strategi kita" ujar seorang lelaki yang merupakan bos dari Leni.


"Bos katanya dari info yang saya dapat, istrinya Fariz juga sedang hamil" jelas Leni.


"Info yang bagus" ujar Bosnya.


Sementara di Resto, Fariz kembali keruangannya dengan perasaan lega, karena Leni bisa mau mengerti kenapa ia menolak kerja sama tersebut.


"Gimana hasilnya ?" tanya Rara.


"Ia mau menerima jika kita menolaknya, bahkan tadi ia tidak berkutik saat kak Bani bercerita panjang lebar" jelas Fariz.


"Lah kak Bani nya mana ?".


"Kak Bani langsung pergi ke kantornya, karena ia juga akan menjemput istrinya di rumah mertuanya" jelas Fariz.


"Oh iya kamu kenal di mana dengan perempuan itu?" tanya Rara.


"Enggak di mana - mana, dia datang sendiri ke sini memperkenalkan dirinya dan langsung mengajak kerja sama" ujar Fariz.


"Sayang aku mau makan lapar" ujar Rara.


"Makan apa ?" tanya Fariz.


"Hmmm apa ya" Rara mencoba berpikir makanan apa yang sekiranya enak di lidahnya. "Hmmm ayam rica - rica, enak kali ya" ujar Rara.


"Ya sudah, aku akan ke dapur untuk memesan makanan ke inginan kamu" ujar Fariz.


"Tunggu, inget ya harus kamu yang masak".


"Kenapa aku ?".


"Karena anaknya mau makanan buatan papanya".


"Anaknya apa mamanya"


"Dua - duanya" ujar Rara seraya mendengus kesal. "Bentar deh, aku ikut ke dapur saja, biar gak kamu bohongin terus" ujar Rara.


Kini Fariz dan Rara berjalan menuju dapur Resto, karena ini jadwal makan siang jadi semua chef sedang sibuk memasak.

__ADS_1


Fariz menggunakan apron chef, Fariz mulai memasak dengan sangat lihai, hanya butuh waktu dua puluh menit makanan sudah siap di sajikan.


Fariz membawa makanan untuk dirinya dan istrinya, menuju ruangan kerjanya. namun Rara melarangnya karena Rara ingin menikmati makan siang bersama dengan sang Suami di meja pengunjung resto.


__ADS_2