
Salwa duduk termenung di atas kasurnya, sejak kejadian tersebut ia lebih banyak menyendiri. Rasa sedih, sesal, dan kecewa bercampur aduk di dalam kalbunya. Kisahnya sungguh teragis, itulah pikiranya.
Flashback On
Suasana gedung aula pesantren itu sudah sepi, semua santri sudah kembali, begitu pun dengan ustaz dan ustazah lainnya, yang hanya menyisakan Salwa dan Bani.
Salwa pun memanfaatkan moment tersebut untuk mendekati ustaz Bani. Salwa mendekati ustaz Bani yang sedang merapihkan kitab Al-quran.
"Ustaz Bani" sapa Salwa dengan nada yang begitu manja dan menggoda, bahkan dengan berani Salwa langsung menggandeng tangan Salwa.
"Salwa apa yang kamu lakukan ?" Bentak Bani yang terkejut dengan tingkah Salwa.
Dengan cepat Bani menghindar dan menajuhi Salwa.
"Ustaz aku sudah dari dulu menyukai mu, aku mau kau jadi pendamping ku" ucap Salwa tak tau Malu.
"Aku tidak suka dengan wanita yang tak bisa menjaga ke hormatannya" bentak Bani, membuat Salwa tertunduk.
"Maaf ustaz tapi aku gak tau gimana cara untuk mendekatimu" jawab Salwa sendu.
"Sekarang kamu pergi atau akan aku laporkan perbuatan mu pada Abah" ancam Bani pada Salwa.
Dengan rasa penuh ke takutan, Salwa berlari meninggalkan pesantren berjalan menyusuri aspal dalam ke gelapan malam, berjalan tak tentu arah, hingga ia sampai di dekat jalan raya.
Salwa duduk di trotoar jalan raya, menangis ke takutan, takut perbuatannya akan di laporkan pada pemilik pesantren. "Bani jahat sekali kalau berani menolak ku" rintihan Sawla di sela - sela tangisannya.
Salwa tak menyadari bahwa di depannya ada seorang pria yang memperhatikannya.
"Permisi, apa Nona baik - baik saja ?" Tegur laki - laki tersebut.
__ADS_1
Salwa tak menggubris teguran tersebut, ia masih saja terus menangis.
"Nona ayo saya antar pulang" ujar pria tersebut seraya mengulurkan tangannya, memberi bantuan untuk berdiri.
"Siapa kamu, apa yang akan kamu lakukan di sini ?" Salwa kaget dengan ke hadiran pria tersebut.
"Maaf nona perkenalkan Nama saya Robby, saya tadi melihat anda sedang menangis, makanya saya berhenti untuk memberikan bantuan". Jawab Robby sopan.
"Saya baik - baik saja, jadi tak perlu khawatir, silahkan anda bisa pulang" ketus Salwa.
"Ini sudah malam, tidak baik buat peremuan di jalanan sendirian dengan kondisi seperti ini" ujar Robby menjelaskan
Salwa baru sadar setelah melihat jam di ponsel layarnya yang sudah menunjukan pukul sebelas malam, tak mungkin ia kembali ke pesantren karena gerbang pesantren sudah di gembok, dan tak mungkin juga ia kembali ke rumahnya karena ayahnya akan melaporkannya pada Kyai Hasan.
"Apa nona baik - baik saja ?" tanya Robby saat melihat Salwa ke bingungan. "Saya antar pulang ya ?".
"Saya tidak tau harus pulang ke mana, kalau mau bawa saja ke tempat paling tenang". Jawab Salwa tegas.
Karena tak ada pilihan lagi, akhirnya Salwa pun setuju, ikut dengan Robby, tak lupa Salwa memberi kabar ke ustazah Nissa kalau dirinya sedang keluar ada urusan dan akan kembali besok.
"Apa sebenarnya yang membuat nona seperti ini ?" Robby pun memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Nama saya Salwa, anda bisa panggil saya Salwa" ketus Salwa.
"Hmm baiklah, lalu apa yang membuat kamu seperti ini ?" tanya Robby lagi.
"Saya kecewa karena orang yang aku cintai menolak ku secara mentah - mentah" jawab Salwa dan kembali menangis.
"Salwa, Jika dia memang jodoh kamu, walapun dia menolak kamu sekarang percayalah suatu saat pasti kalian akan bersatu, tunjukanlah pada dia kalau kamu pantas untuknya, buktikan dengan cara yang elegan, dan ingat jangan mudah putus asa, berdoa serta kejar terus hingga tuhan berkata stop". Perkataan Robby membuat Salwa berhenti memangis, ia tiba - tiba tersenyum penuh makna.
__ADS_1
Mereka sudah sampai di tempat tujuan ya itu apartemennya Robby, mereka menaiki lift menuju lantai 15, Robby membukakan pintu apartemennya dan mempersilahkan masuk.
"Silahkan masuk, maaf jika berantakan". ucap Robby.
Setelah di persilahkan duduk, Sawla duduk di kursi tamu dan memperhatikan ruangan sekitar. Robby menyajikan sebuah minuman air mineral botol kemasan yang masih di segel tutupnya.
"Kamu istirahat dulu di sini, ini kamar kamu" Robby menunjuk sebuah kamar tamu. "Dan yang di pojok sana adalah kamar saya" jelas Robby seraya menunjukan di mana letak kamarnya. "Saya mau mandi sebentar". Robby pamit ke kamarnya untuk kenyegarkan kembali tubuhnya.
Salwa mengambil air minumnya, dan meneguknya secara kasar, rasa hausnya begitu kuat setelah menangis. Namun tiba - tiba pandangan Salwa terfokus pada sebuah botol minuman Alkohol. "Kata orang - orang minuman ini membuat kita lupa akan masalah kita" ujar Salwa dalam hatinya.
Entah setan dari mana yang membuat Salwa berani meneguk segelas minuman tersebut, rasa pahit itulah yang di rasakanya, namun dengan tekad ingin melupakan masalahnya maka ia dengan bersusah payah ia menelan minuman tersebut. Di pikirannya Asal tidak banyak maka tidak akan membuatnya mabuk.
Namun sayangnya Salwa ke bablasan hingga ia hampir menghabiskan satu botol, Robby yang keluar kamar hanya menggunakan celana pendek dan kaos oblong pun kaget, Salwa sudah dalam ke adaan mabuk.
"Ya Allah itu kan minuman punya Roni, kenapa Salwa nekad, aku harus bagai mana ?" Robby ke bingungan apa yang harus ia perbuat untuk menyadarkan Salwa. Lalu terbesit di dalam pikirannya untuk membawa Salwa ke kamar mandi dan mengguyurkan air ke tubuhnya berharap Salwa sadar.
"Salwa kamu jangan nekad itu bukan cara menyelesaikan masalah, sudah hentikan ayo ikut aku" Robby merebut gelas yang berisi alkohol dan melemparnya ke sembang arah, lalu menariknya ke sebuah kamar mandi yang ada di dalam kamar tamu.
"Mas Bani kamu ada di sini, pasti kamu nyari untuk minta maaf" ujar Salwa yang sudah ke hilangan ke sadarannya.
Dengan bersusah payah Robby membawa Salwa ke dalam kamar tamu, karena Salwa selalu menolak.
"Mas mau apa kita ke kamar, oh aku tau, akan aku buktikan pada mu jika aku sungguh - sunggu mencintai mu" rancu Salwa seakan kini yang berubah menjadi agresif menggod Robby.
Dengan gerakan cepat, tiba - tiba Salwa menarik Robby ke atas kasur. "Mas Bani ku sayang, ayo lakukan ini akan menjadi bukti cinta kita". Salwa terus mengoda.
"Astaghfirullah, kenapa jadi begitu, harus kuat, tahan tahan" ucap Robby dalam hatinya.
"Salwa lepaskan, Aku bukan Bani tapi aku Robby" bentak Robby.
__ADS_1
Robby terus meronta - rontak meminta untuk di lepaskan, karena takut Robby tak akan bisa mengendalikan dirinya, namun semakin meronta membuat Salwa semakin jauh melakukannya hingga membuat Robby hilang kendalinya.