Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 85


__ADS_3

Hati Malik sudah terselimuti rasa iri dan dengki hingga ia tak bisa melihat setitik kebaikan yang ada pada diri Bani. rasa benci terhadap Bani sudah mendarah daging di seluruh tubuhnya.


"Jika kalian datang ke sini hanya untuk ceramah, kalian salah tempat" ucap Malik ketus.


"Kami kesini karena ada sesuatu hal yang ingin kami tanyakan sama kamu Malik" ujar Tama.


"Apa bener kamu dalang dari pembakaran kantor Bani ?" tanya Tama.


Mendengar pertanyaan Tama, Malik langsung tertawa terbahak - bahak. "Kamu nuduh saya ? tanya Malik yang masih terus tertawa.


"Kami sudah punya buktinya" ucap Tama seketika membuat Malik langsung terdiam, matanya menatap tajam ke arah Bani dan Tama secara bergantian.


"Kamu mau menjarakan saya, silahkan" ucap Malik emosi.


"Aku tidak ada niat untuk menjebloskan kamu ke penjara, aku hanya ingin tau kenapa kamu melakukan itu semua" ucap Bani mencoba tenang agar tak terbawa emosi.


"Aku tau kenapa kamu tidak ingin melaporkan ku, Kamu itu lemah Bani, masa mencari pelaku pembakaran kantor kamu saja tidak becus" ucap Malik sambil tertawa.


Malik terus menertawakan Bani, saat malam pertama sedang enak - enak dengan istri harus terhenti di tengah jalan karena kantornya kebakaran, Malik sedang membayangkan betapa frustasinya Bani saat itu.


"Aku dan Tio sudah mengamankan anak buah kamu, bahkan aku dan Tio juga sudah menyerahkan anak buah kamu kepihak kepolisan, aku hanya ingin tau, apa salah ku sama kamu, hingga tega kamu melakukan semua ini" ujar Bani.


"Aku kesal sama kamu Bani, kamu buka usaha sama seperti aku, semua pelanggan ku pergi meninggalkanku dan beralih ke kamu, usaha ku hampir bangkurt karena ulah kamu yang memberikan harga di bawahku dengan kualitas bagus, hingga akhirnya ada seseroang yang menawarkan ku untuk jadi pengedar narkoba, dari sama aku meraih ke untungan yang cukup fantastis" Jelas Malik.


"Tapi aku memberikan harga yang sesuai" Bela Bani.


"Sesuai menurut kamu, tapi untuk ukuran kita yang sedang berbisnis untungnya sangat kecil" jawab Malik.


"Harusnya masalah ini kita selesaikan dengan cara baik - baik, tadinya aku ingin bekerja sama dengan perusahan kamu" jelas Bani.


"Aku tak sudi bekerja sama dengan orang macam kamu" jawab Malik ketus.

__ADS_1


Di Balik sekat ruangan tersebut, ada seseroang yang sedang mendengarkan pembicaran antara Bani, Tama dan Malik. ia tak menyangka Malik akan berbuat sekeji itu pada temannya sendiri, dan ini adalah kejadian bukan yang pertama kalinya melainkan untuk kedua kalinya. seseorang tersebut terus mendengarkan percapakan tersebut.


"Aku memang tak bisa menjebloskan kamu ke penjara, semoga dengan peristiwa ini membuat kamu dasar" ucap Bani. "Dan ini ada sarung, baju koko, peci dan sejadah untuk kamu" ucap Bani seraya menyerahkan paper bag yang berisi perlengkapan shalat.


"Aku tak butuh ini semua" ujar Malik lalu membuang paper bag tersebut, sehingga isinya berceceran di lantai. hal itu membuat Tama emosi.


"Heh Malik, kamu itu tidak tau bersyukur, harusnya kamu bangga punya teman seperti Bani, walaupun kamu jahat, tapi dia tidak pernah melaporkan kamu ke polisi, kalau aku jadi Bani mungkin aku sudah membuat mu membusuk di penjara, Walupun sekarang dia tau kamu dalang dari pembakarannya dia tetap tidak mau melaporkan kamu, apa kamu tau betapa banyak kerugian yang harus Bani tanggung akibat ulah kamu, namun Bani tetap memaafkan kamu, karena bagi Bani kamu adalah temannya" Bentak Tama yang sudah tak tahan menahan emosinya melihat tingkah Malik.


"Hahaha aku harus bangga dengan orang telah menghancurkan usahaku" ucap Malik sambil tertawa. "Lebih baik sekarang kalian pulang, gak ada gunanya kalian di sini" usir Malik.


"Pak tolong usir mereka dari sini, mereka telah membuat ancaman untuk saya" teriak Malik pada penjaga.


Malik di bawa oleh penjaga lainya keruangan tahanan, sedangkan Bani dan Tama di suruh pulang karena jam kunjungan mereka juga sudah habis.


Di dalam penjara Malik memang berada satu ruangan dengan anak buahnya, namun tak ada satu pun anak buahnya yang bercerita bahwa mereka pernah di sekap oleh Tio.


"Hei kalian bodoh sekali, kenapa kalian bisa tertangkap oleh Tio dan anak buahnya ?" tanya Malik emosi karena kejahatannya sudah di ketahui.


"Tetap saja kalian payah" bentah Malik.


...****...


"Tam langsung antar aku pulang ke rumah ya" pinta Bani.


"Gak ke kantor ?" tanya Tama


"Hari ini aku gak ke kantor, mertuaku akan datang, dan satu lagi istriku lagi hamil" ujar Bani senang.


"Wah selamat ya, tokcer juga kamu" ujar Tama yang ikut senang atas kebahagiaan temennya.


Tiba di rumah keluarga Kyai Hasan dan keluarga pak Umar sedang melakukan makan siang bersama, hingga akhirnya Tama pun ikut makan siang bersama dengan keluarga Kyai Hasan dan juga pak Umar.

__ADS_1


Selesai makan siang Tama pamit pulang, dan yang lainnya kini sudah berkumpul di ruang tamu.


"Nak Bani habis dari mana ?" tanya pak Umar.


"Tadi ada urusan sebentar, dan Alhamdulilah urusannya sudah selesai" ucap Bani. ia tak ingin menceritakan yang sebenarnya, karena ia tak ingin membuka aib temenya sendiri.


"Oh iya nanti setelah lebaran Bani dan Syifa akan pindah ke rumah kita, lokasinya dekat dengan kantor Bani" jelas Bani pada keluarganya.


"Apa gak nanti saja setelah lahiran" Saran Umi.


"Ini baru rencana ko, nanti keputusannya lihat kondisi Syifa dulu" jawab Bani.


...****...


Fariz hari ini kembali meninjau persiapan cabang restonya, Kali ini Fariz pergi sendiri, karena Zidan sedang sibuk untuk persiapan menyambut bulan suci ramadhan.


Fariz berharap bulan ramadhan nanti cabang resto sudah bisa beroperasi, namun sayang keinginan itu harus Fariz pendam, seminggu lagi bulan suci ramadahan, dan pengerjaan cabang restonya baru saja mencapai sepuluh persen. mau tak mau pembukaan cabang akan berlangsung nanti setelah lebaran idul fitri.


Fariz kembali ke resto utama, karena ia sudah janjian dengan Rara untuk makan siang bersama di restonya Fariz. sampai di resto ternyata Rara sudah menunggu.


"Maaf jadi menunggu, tadi ada kerjaan di luar" ucap Fariz saat menenui Rara.


"Tidak papa, aku juga baru sampai" jawab Rara.


Fariz memanggil pelayan dan memesan beberapa menu makan siang. "Untuk kali ini biar aku yang bayar, sebagai rasa terima kasih aku karena kamu sudah menolonh aku" ujar Rara.


"Bayar saja makanan yang kamu pesan, makanan ku biar aku yang bayar" jawan Fariz.


"Hmmm jangan gitu dong" Rengek manja Rara "Aku tau ini resto kamu, tapi biarkan aku yang bayar semuanya" pinta Rara.


"Ya sudah terserah kamu saja" jawab Fariz santai. ia tak ingin berdebat tentang masalah pembayaran karena ia sudah benar - benar lapar.

__ADS_1


__ADS_2