
Bani sudah bisa menebak apa yang akan di biacarakan abah soal Fariz, namun hal itu berbeda dengan Zahwa.
"Ada apalagi dengan anak ini, dia berbuat ulah ?" tanya Zahwa seraya menatap Fariz dengan sinis.
"Kalau soal aku, pasti pikirannya jelek semua" protes Fariz.
"Lalu tentang apa ?" tanya Zahwa penasaran.
"Jadi gini, Fariz ingin mengkhitbah wanita pilihannya" jelas Abah Hasan.
"Hahahahaa, emang ada ya wanita yang kecantol sama kamu" seru Zahwa.
"Banyaklah kan aku ganteng" sahut Fariz.
"Pasti adiknya si Tama" tebak Bani.
"Kamu tau ceweknya ?" tanya Zahwa.
"Taulah" sahut Bani.
"Jadi ceritanya aku doang yang gak tau tentang ini" protes Zahwa.
"Umi dan juga Abah baru tau beberapa hari yang lalu saat Fariz membawanya ke sini" jelas Umi.
flashback on
"Aku takut jika orang tua mu tidak menyukai ku" Rara ragu saat Fariz akan memperkenalkan pada orang tuanya.
"Orang tua ku tak pernah banyak menuntut, mereka membebaskan ku dalam mencari pendamping hidup" ujar Fariz.
"Kakak kamu pakaiannya tertutup ?" tanya Rara.
"Iya kak Zahwa selalu menggunakan pakaian tertutup karena sejak kecil ia tinggal di lingkungan pesantren, tapi tenang saja di rumah hanya ada Abah dan juga Umi. Kak Bani dan istrinya sudah mempunyai rumah sendiri, begitu pun dengan kak Zahwa yang ikut dengan suaminya" jelas Fariz lagi.
"Hmm kalau gitu antar aku pulang dulu, aku harus ganti pakaian ku" ujar Rara
"Ada apa dengan pakaian mu ?".
"Aku akan menggantinya, rasanya malu jika pakaian ku seperti ini, bahkan aku tidak menggunakan kerudung" jawab Rara.
"Aku hanya ingin kamu jadi diri kamu sendiri, kamu tak perlu jadi orang lain hanya untuk di sukai orang lain" ujar Fariz.
"Tapi" Rara bener - bener ragu jika ia pergi dengan penampilannya yang sekarang, walaupun pakaiannya tertutup tapi Rara tidak pede jika tidak menggunakan kerudung, apalagi ia akan memasuki kawasan pesantren.
__ADS_1
"Plis, antar aku dulu pulang, aku hanya ingin menutup kepala ku dengan kerudung, bukan masalah bertemu dengan orang tua kamu yang berbasis agamis namun kita akan memasuki kawasan pesantren" ujar Rara ia memohon agar Fariz mengerti tentang perasaannya.
"Ya sudah terserah kamu saja" Fariz tak tega melihat wajah yang memelas.
Fariz mengantarkan Rara kembali ke rumahnya, kini Rara berganti dengan menggunakan bawahan rok dan juga menggunakan kerudung yang menambah kecantikan Rara.
"Mau ketemu calon mertua baru pake kerudung" goda Tama saat melihat penampilan sang adik yang berbeda dari biasanya.
"Kakak" rengek Rara saat di goda sang kakak.
Beberapa hari yang lalu, Fariz dan Tama telah berbicara empat mata, Fariz mengutarakan niatnya untuk meminang Rara, dan Tama pun pun merestui hubungan mereka. Tama ikhlas jika harus di langkahi sang adik.
Fariz dan Rara mereka berangkat menuju kediaman Fariz. Rara merasa tak karuan antara bahagia dan juga takut jika keluarga Fariz tak mau merestui hubungan mereka.
"Asalamulaikum" ucap Fariz memberi salam saat mereka berada di depan pintunya.
"Waalaikumsalam" Jawab Umi yang kemudian membukakan pintu rumahnya.
"Umi kenalin ini Rara, temen Fariz" Fariz memperkenalkan Rara dengan malu - malu.
"Kenalin nama saya Umi Kulsum" Umi memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.
"Nama Saya Tiara, biasa di panggil Rara tante" ujar Rata dengan malu - malu.
"Sebentar ya, Umi mau panggil dulu Abah ia sedang istirahat di kamar" ujar Umi kemudian meninggalkan Fariz dan Rata.
"Umi kamu ramah tapi apa dia menyukai ku ?" bisik Rara pada Fariz.
"Insya Allah" jawan Fariz seraya tersenyum.
Umi kembali dengan membawa makanan dan minuman. dan di belakangnya di ikuti oleh lelaki paruh baya yang sudah Rara tebak itu pasti Abah yang di maksud Umi.
"Perkenalkan ini dia Abah Hasan, bapaknya Fariz, panggil saja Abah" ujar Umi memperkenalkan Rara.
"Saya Rara" sahut Rara seraya mengatupkan tangannya di dada.
Mereka pun berbincang - bincang hingga akhirnya Fariz mengutarakan ke inginannya untuk mengkhitbah Rara.
"Abah dan Umi sebagai orang tua terserah pada kalian saja, Abah dan Umi merestui kalian" ujar Abah Hasan membuat hati Rara merasa lega.
"Maaf Umi, Abah sebelumnya, Rara ingin mengatakan sesuatu" ujar Rara pelam penuh keraguan.
Fariz merasa pemasaran apa yang di katakan Rara, padahal masalah bahwa Rara harus melangkahi Tama, sudah ia ceritakan pada orang tuanya.
__ADS_1
"Jadi begini sebenarnya penampilan saya setiap hari tidak seperti ini, apalagi ketika bekerja, walaupun pakaian saya tertutup tapi kadatang juga ada yang ketat dan di keseharian aku tidak pernah menggunakan kerudung" jelas Rara dengan wajah yang menunduk.
"Nak jangan pernah jadi orang lain hanya untuk dapat perhatian orang lain. menutup aurat adalah kewajiban dari setiap umat muslim, namun jangan pernah kamu melakukannya hanya karena seseorang tapi lakukanlah semua itu sesuai hati kamu. jika seseroang itu telah membuat kamu kecewa maka bisa di pastikan kamu akan kembali seperti dulu, dengan gampangnya kamu akan kembali membuka auratmu" jelas Abah Hasan.
"Nak kami tidak mempermasalahkan kerudung mu, itu hak kamu, tapi memang bagusnya sebagai wanita harus bisa menutup auratnya. tutuplah auratmu dari hati mu, bukan karena seseorang" ujar Umi.
"Terimakasih atas nasehatnya, Insya allah Rara akan belajar untuk menutupnya".
"Nak jangan menutupnya hanya karena kami, tapi karena Allah" ujar Abah Hasan.
"Iya Abah".
Setelah waktu sudah sore, Rara pun pamit pulang, dan Fariz pun mengantarkan Rara kembali kerumahnya dengan perasaan bahagia.
Flasback off
"Jadi kapan kita akan datang ke rumah Rara, dan acaranya akan seperti apa ?" tanya Bani.
"Untuk Acaranya akan dilakukan di hari sabtu dan waktunya Empatminggu dari sekarang lebih lebih tepatnya satu bulan lagi" jawab Fariz.
"Lalu konsep acaranya seperti apa ?" tanya Zahwa.
"Untuk masalah itu masih di bicarakan, Rara ingin acara lamarannya di adakan di hotel dan mengundang temen - temennya" jelas Fariz.
"Itu mah acaranya gede - gedean dong" sahut Zahwa.
"Iya karena Rara merupakan anak satu - satu di keluarganya" ujar Fariz.
"Itu acara khitbah, nah untuk acara nikahnya kapan ?" tanya Bani.
"Fariz inginnya satu bulan setelah acara khitbah" jawab Fariz.
"Ngebet yah" goda Zahwa. dan semuanya tertawa hanya Fariz yang terdiam menundukan kepalanya.
"Umi dan Abah menyerahkan semuanya pada Fariz, terserah acaranya mau bagaimana" ujar Umi.
Mereka pun terus membahas tentang masalah khitbah Fariz. mereka pun harus mempersiapkan segala - segalanya termasuk baju seragam untuk keluarga.
"Maaf mungkin Bani tak bisa banyak membantu, minggu depan Bani dan Syifa akan pergi berlibur tiga atau empat hari" ujar Bani.
"Iya Umi Abang ngajak Syifa liburan, gimana Umi, Abah dan yang lainnya, mau ikut gak liburan bareng biar perginya rame" jelas Syifa yang ingin mengajak keluarga besarnya ikut juga berlibur bersama.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1