Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 67


__ADS_3

Bani sudah tiba di rumahnya, keadaanya sudah acak - acakan, mukanya pun lesu, Bani pulang di antar Tio. Syifa pun menyambut kedatangan suaminya.


"mandi dulu ya" pinta Syifa, Bani pun hanya mengangguk, Syifa pun mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar.


"Maafkan abang, hari bahagia kita harus seperti ini" ucap Bani dengan raut yang sedih.


"Aku baik - baik saja" ucap Syifa agar suaminya tidak terlalu mengkhwatirkan dirinya.


Malam hari Syifa membantu bi Tuti untuk menyiapkan makan malam untuk keluarga suaminya, setelah semua kumpul di meja makan Syifa dengan sigap menyendokan nasi dan juga lauk pauk untuk suaminya, mereka pun makan tanpa banyak bicara. Kyai Hasan belum bertanya bagai mana keadaan kantor, ia menginginkan Bani yang akan cerita sendiri.


Selesai makan mereka semua kumpul di ruang keluarga, Bani mulai menceritakan dugaan awal musibah yang menimpa tempat kerjanya.


"Apa kamu mencurigai seseorang ?" tanya Kyai Hasan.


"Bani gak mau nuduh tanpa bukti nanti jatuhnya fitnah, biarkan polisi yang menyelidiki semuanya" ucap Bani.


"Fariz siap bantu, kalau ada apa - apa tinggal bilang Fariz saja" ucap Fariz semangat.


"Terima kasih" ucap Bani pada adiknya.


"Oh ya, kata satpam kemaren ada wanita yang mengaku temen kamu datang ke sini" ucap Umi memberitahu info yang di dapat dari satpam pesantren.


"Siapa ?" tanya Bani.


"Gak tau, wanita itu gak menyebutkan namanya, satpam malah curiga itu orang jahat karena kalau dia memang temen kamu, kenapa dia tak tahu hari pernikahan kamu" ucap Umi menjelaskan.


Syifa hanya menyimak pembicaraan tersebut, karena ia tidak mengerti dengan siapa wanita yang datang. Bani sedang berpikir siapa wanita itu apa benar itu temennya atau hanya orang iseng.


Hari semakin larut, Bani berbaring di samping Syifa dan menghadap ke arah Syifa. "Mungkin sementara kita tinggal di sini dulu, karena rumah kita di pakai buat penyimanan barang - barang kantor, tapi kalau kamu di sini gak nyaman boleh ko tinggal di tempat Abi dan Umi" ucap Bani seraya menatap Syifa.


"Gak papa kita tinggal di sini saja, kalau tinggal di rumah Ummah dan Abi pasti kejauhan buat bulak balik ke kantor" jawab Syifa.


Bani langsung mengecup kening istrinya lalu di peluk dengan erat, Syifa pun kaget dengan aksi Bani, entah sensai apa yang Syifa rasakan saat bibir Bani mendarat di keningnya. Bani merasa bersyukur dalam kondisi seperti ini Syifa bisa menunjukan sikap ke dewasaannya dan mengerti tentang kondisi suaminya.

__ADS_1


"Maafkan Syifa juga ya, belum bisa memberikan Hak Abang" ucap Syifa malu - malu. Bani hanya manggut, untuk soal urusan yang itu Bani tak bisa menuntut banyak, hanya nunggu waktu saja.


Mereka pun tidur sambil berpelukan, ada sensai yang tak biasa yang di rasakan oleh mereka, namun dengan posisi itu mereka sangat nyaman, Syifa dan Bani terlelap tidur hingga suara adzan subuh membangunkan mereka.


"Bang bangun, gak ke surau shalat berjamaah !" seru Syifa saat membangunkan suaminya.


"Abang shalat di rumah saja" Jawab Bani berlalu ke kamar mandi.


Seperti di rumahnya Syifa bangun pagi dan membantu menyiapkan sarapan untuk keluarga. Bani sudah turun dari kamarnya.


"Abang mau kopi apa teh ?" tanya Syifa.


"Kopi saja" jawab Bani. "Kopinya nanti taro di meja saja, abang mau ke depan sebentar" sambung Bani. Syifa pun hanya manggut - manggut saja.


Bani keluar rumahnya dan mendatang pos satpam, untuk bertanya siapa wanita yang datang dan mengaku dirinya, Satpam hanya menjelaskan ciri - ciri wanita tersebut namun entah kenapa pikiran Bani mengarah pada Aisha. Mana mungkin Aisha datang ke sini, bukannya aku memberi kartu undangan, pasti dia tau tanggal aku menikah, walau kemaren gak datang mungkin ia sibuk, atau jangan - jangan ini ada sangkut pautnya dengan kebakaran kantor. Gumam Bani dalam hatinya.


Bani berlalu meninggalkan pos satpam dengan ke adaan yang masih bingung siapa wanita tersebut, di halaman pesantren Bani bertemu dengan ustaz Ali.


" terima kasih" ucap Bani tersenyum.


Bani kembali ke rumahnya, Abahnya sedang duduk di ruang televisi seraya menonton berita pagi. "Hari ini kamu rencananya apa ?" tanya Abah.


"Bani mau ke kantor, lalu ngcek barang ke rumah dan juga ke kantor polisi " jawab Bani. "Bani mau menyelesaikannya sekarang biar besok bani bisa istirahat" Sambung Bani.


"Abah dan Umi hanya bisa bantu doa, semoga masalahnya bisa cepet selesai" doa kyai Hasan. "oh iya untuk acara ngunduh mantu mungkin Abah akan batalkan saja" ujar Abah.


"Bani ikut saja apa kata Abah". jawab Bani.


Pikiran Bani masih fokus ke siapa dalang dari pembakaran tersebut, untuk yang lainnya Bani belum memikirkan.


Selesai sarapan Bani pamit pada keluarga dan juga istrinya, "Abang janji nanti ba'da dzuhur abang pulang" ucap Bani seraya mengecup kening istrinya spontan pipi Syifa merah merona, Bani mengecup Syifa di hadapan Abah dan Umi.


"Syifa mau ikut Umi ke pasar buat beli stok di dapur" ajak Umi pada Syifa.

__ADS_1


"Boleh Umi, tapi Syifa mau siap - siap dulu" ucap Syifa berlalu ke kamarnya.


...****...


Sebelum menuju ke rumahnya, Bani menuju kantornya terlebih dahulu, untuk melihat kondisi kantornya, setelah itu menuju ke kerumahnya yang kini di jadikan kantor sementara. ke datangan Bani di langsung di sambut Tio dan pekerja lainnya. Tio menjelaskan sudah banyak klien yang menghubunginya tentang masalah kebakaran tersebut, Tio juga sudah merekap semua ganti rugi yang harus kantor Bani, karena Bani harus mengembalikan uang dp.Ada rasa lega karena kerugiannya tak terlalu besar, bahkan ada beberpa klien yang mengiklaskan dp mereka.


"Tio segera kirim barang tersebut sesuai alamat mereka biar cepet selesai, setelah ini selsai kita akan fokus ke berbaikan kantor" ucap Bani pada Tio.


Setelah urusannya selesai tentang ganti rugi, dan urusan karyawan yang di rumahkan, Bani di temani Tio mendatangi kantor polisi. Bani harus bersabar karena pihak kepolisian belum bisa mengungkap siapa pelakunya, karena menurut polisi mereka bekerja dengan rapih, lalu pun ada sedikit kesalahan seperti meninggalkan jerigen.


Bani keluar dari kantor polisi dengan perasaan kecewa. "Bani lebih baik kamu pakai pengacara buat menangani kasus ini, dan tenang saja aku sudah menyuruh orang untuk mengawasi orang aku curigai" ucap Tio.


"Bener kata kamu, hubungi Tama, pasti dia punya kenalan pengacara hebat secarakan dia juga pengacara" titah Bani pada Tio.


Bani langsung menghubungi Tama sesuai perintah Bani. " Tama ingin bertemu kamu sekarang di kafe yx" ucap Tio pada Bani setelah mematikan telponnya.


"Baiklah, sekarang kita ke sana, aku sudah janji ba'da dzuhur akan pulang" ucap Bani pada Tio.


...****...


Syifa dan Umi baru pulang dari pasar, mereka di di antar oleh supir pesantren, saat memasuki gerbang pesantren, Umi mendengar ada perdebatan antara satpam dan seorang wanita yang Umi pun tak tau siapa wanita tersebut.


Umi turun dari mobil di ikuti Syifa. dan menghampiri satpam dan wanita tersebut.


"Kamu siapa ?" tegur Umi wanita tersebut.


"Ini pasti Umi kan, orang tua dari Bani ?"tanya balik Wanita tersebut.


"Iya saya Ibunya Bani " jawab Umi, "Dan Ini Syifa istrinya Bani" ucap Umi memperkenalkan Syifa.


Wanita itu langsung menatap tak suka dan juga tatapan kebencian ke arah Syifa, membuat Syifa bingung kenapa wanita tersebut menatapnya seperti itu setelah Umi memperkenalkan dirinya sebagai istrinya Bani.


"Perkenalkan saya Aisha teman deketnya Bani, bahkan Bani juga punya janji yang belum ia tepati pada saya, makanya saya datang ke sini untuk meminta janji tersebut" ucap Wanita itu penuh ke sombongan.

__ADS_1


__ADS_2