
Nama itu masih sangat terdengar asing di telinga Syifa dan Bani, namun saat dokter mengatakan tidak ada janin membuat Syifa dan Bani panik seketika.
"Apa itu Blighted Ovum ?" tanya Syifa penasaran.
"Blighted ovum atau hamil kosong adalah kehamilan yang tidak mengandung embrio. dalam dunia medis, juga dikenal dengan istilah Anembryonic gestation. kondisi ini merupakan salah satu penyebab terjadinya keguguran pada trimester pertama pada kehamilan.
Blighted ovum biasanya terjadi akibat kelainan kromosom. Kelainan kromosom dapat disebabkan oleh pembelahan sel yang tidak sempurna serta kualitas sel telur dan ****** yang buruk. Pada hamil kosong, pembuahan (pertemuan sel telur dan sel ******) tetap terjadi, tapi hasil pembuahan ini tidak berkembang menjadi embrio. Blighted ovum dapat ditandai dengan nyeri perut hingga pendarahan. Hamil kosong sering kali baru diketahui setelah melakukan USG. Hal ini karena gejala-gejala yang umum dirasakan selama kehamilan, seperti mual, muntah, hasil test pack yang positif, payudara yang terasa lebih keras, juga bisa dirasakan oleh ibu hamil yang mengalami blighted ovum".
"Dok lalu apa yang harus dilakukan ?" tanya Bani yang mulai panik.
"Ada dua pilihan, dengan mengonsumsi obat - obatan atau tindakan medis seperti kuretasi. semua ini bertujuan untuk mengeluarkan jaringan yang ada di rahim" jelas dokter.
"Dok saya ingin mempertahankan kandungan saya, beri saya obat penguat kandungan" ujar Syifa.
"Tapi kandungan ibu kosong, jadi tidak ada yang bisa di pertahankan, beda lagi ketika kandungan ibu di katakan lemah" jelas dokter memberi penjelasan.
"Itu mungkin dokter saja yang salah periksa, saya yakin janin saya baik - baik saja" ujar Syifa tegas.
"Bu, walaupun ibu tidak melakukan tindakan kuretasi atau pun mengonsumsi obat - obatan, tapi nantinya ibu akan mengalami pendarahan dengan sendirinya" jelas dokter yang mencoba memberi pengertian pada Syifa. "Jika Ibu dan Bapak kurang yakin ibu dan bapak bisa melakukan pemeriksaan di rumah sakit yang lain" sambung dokter.
Syifa menyetujui untuk memeriksakan kandunganya di rumah sakit lain, karena ia sangat yakin jika kandunganya baik - baik saja. Syifa dan Bani menuju rumah sakit lainnya, berharap sebuah ke ajaiban bagi ke duanya, lantunan doa - doa mereka panjatkan selama perjalanan menuju rumah sakit.
Sama seperti di rumah sakit pertama, Syifa dan Bani mengantri di bagian pendaftaran, karena hari semakin siang maka dari itu mereka harus sabar dalam mengantri.
Saat menemui dokter ke dua hati Syifa mulai cemas, namun dalam hati kecilnya tetap berharap bahwa semuanya baik - baik saja.
satu jam mengantri kini giliran Syifa di periksa.
"Selamat pagi Ibu Syifa dan Pak Rabani" sapa dokter ramah. "Silahkan duduk" sambung dokter tersebut.
"Pagi juga dokter" jawab Bani dan Syifa kompak. mereka pun duduk berhadap - hadapan dengan dokter.
"Jadi apa keluhannya ?".
__ADS_1
"Tadi pagi saya kram di bagian perut, dan saya juga sudah memeriksakan ke dokter katanya saya mengalami BO, karena saya kurang percaya maka saya mencoba untuk periksa ke rumah sakit lain" jelas Syifa.
"Silahkan ibu berbaring dulu biar saya periksa dulu" titah dokter pada Syifa.
Syifa pun menurut, berbaring di ranjang rumah sakit, perasaannya sudah tak karuan namun tetap berpikiran positif.
"Sepertinya memang benar ibu mengalami BO, di usia kehamilan sebelas minggu harusnya janin sudah ada, dan detak jantungnya pun harus sudah bisa terdeteksi" jelas dokter.
"Ini rahim ibu" dokter menunjukan letak rahim Syifa dari layar monitor. "Harusnya di sini bakal janin sudah tumbuh, tapi ini kosong bu, yang terlihat hanya kantong ke hamilannya saja" jelas dokter lagi.
"Dokter periksa lagi dengan benar, atau jangan - jangan alat dokter ini rusak" ujar Syifa kesal kenapa hasilnya masih sama saja dengan rumah sakit pertama.
Dokter hanya tersenyum, ia paham dengan apa yang di rasakan Syifa, apalagi ini merupakan anak pertama bagi mereka.
"Jika masih kurang percaya, Ibu dan Bapak bisa melakukan pemeriksaan ke rumah sakit lain" jelas dokter tersebut.
Bani berpikir rumah sakit mana yang harus di kunjungi, karena dua rumah sakit yang berada di daerahnya sudah di datangi. kemudian ia teringat sebuah rumah sakit besar yang jaraknya lumayan, dan menurut informasi di sana peralatannya pun sudah canggih - canggih.
"Dok jika hasilnya sama bagaimana ?" tanya Bani yang sedari tadi hanya diam saja.
Syifa dan Bani memutuskan untuk memeriksakan kandungannya ke rumah sakit ke tiga, Syifa dan Bani masih berharap tentang sebuah mukjizat tuhan. kepanikan mereka sudah melupakan tentang kegiatan mereka hari ini.
Sementara di resto semua yang di undang sudah hadir termasuk Tama dan Rara, karena masih kesal dengan Rara Fariz pura - pura menyibukan dirinya hingga tidak ada waktu dirinya untuk menyapa pujaan hatinya, bahkan ponsel Fariz masih rusak dan belum di ganti. Umi dan Abah mereka datang dengan di antar oleh supir pesantren. awalnya mereka akan di jemput Bani namun entah kenapa sampai setengah sepuluh Bani tak kunjung datang, bahkan Bani susah untuk di hubungi.
"Nak kakak kamu belum datang ?" tanya Umi.
"Kak Zahwa kan gak bisa datang" jelas Fariz.
"Bukan Zahwa tapi Bani".
"Bukannya kak Bani bareng Umi ?" tanya Fariz.
"Mereka tidak menjemput Umi dan Abah, bahkan waktu Umi menghubunginya tak ada jawaban padahal ponselnya aktif" jelas Umi.
__ADS_1
Karena penasaran Fariz menghubungi nomor kakaknya menggunakan ponsel milik Zidan dan benar saja apa yang di katakan orang tuanya, Bani tak menjawab panggilannya.
"Umi sudah menghubungi Syifa ?" tanya Fariz.
"Sudah tapi sama saja" jawab Umi.
Kenapa perasaan ku jadi tidak enak. gumam Umi.
"Umi hubungi bi Tuti" titah Kyai Hasan yang sedari tadi diam saja.
Umi mencoba menghubungi Bi Tuti untuk bertanya tentang keberadaan anak dan menantunya.
"Bi, Apa Bani dan Syifa ada di rumah, sudah saya hubungi tapi tak ada jawaban".
"Pak Bani dan neng Syifa tadi pagi izin ke rumah sakit, katanya habis dari rumah sakit mau langsung ke acaranya pak Fariz" .
"Tapi Bani dan Syifa belum sampai di tempat acara".
Deg, Bi Tuti merasa kaget, padahal majikannya sudah pergi dari pagi. apa yang terjadi dengan mereka ? tanya Bi Tuti dalam hatinya.
"Bibi tau gak, kenapa mereka ke rumah sakit ?" Umi pun nampak gelisah perasaannya pun mulai tak enak.
"Tadi pagi neng Syifa perutnya kram, makanya mereka pergi kerumah sakit untuk memeriksakan kandungannya".jelas Bi Tuti membuat Umi semakin panik.
"Bi tau gak, mereka pergi kerumah sakit mana ?".
"Kalau itu saya tidak tau bu".
"Ya sudah bi, nanti kalau mereka sudah pulang hubungi saya ya" pinta Umi dan langsung menutup panggilannya.
"Kata Bi Tuti mereka pergi ke rumah sakit, tapi kenapa mereka lama sekali" ujar Umi.
"Mungkin antri" sahut Kyai Hasan menenangkan istrinya yang gelisah.
__ADS_1
"Fariz, acaranya mulai saja, ini sudah lewat dari waktu yang sudah di tentukan, masalah Bani nanti biar abah yang akan menjelaskan pada mereka kenapa acara ini di mulai tanpa menunggu mereka" jelas Abah, ia tak enak pada tamu yang sudah datang dan menunggu.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...