
"Bang perut Syifa sakit" rintih Syifa seraya memegangi perutnya.
"Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit".
Fokus Bani terpecah, ia harus tetap fokus mengemudi dan ia juga tidak tega melihat sang istri terus merintih kesakitan sepanjang perjalanan. entah kenapa rasanya lama sekali mereka sampai ke rumah sakit padahal Bani sudah mengendarai mobilnya dengan cepat.
Tiba di rumah sakit Syifa langsung di bawa ke ruangan bersalin. dokter kandungan dan beberapa perawat telah memasuki ruangan bersalin sedangkan Bani menunggu di luar ruangan dengan perasaan yang cemas. ia tidak bisa membayangkan betapa sakit yang di rasakan sang istri.
Lima belas menit kemudian Dokter keluar ruangan bersalin dengan wajah sumringah.
"Dok bagaimana keadaan istri dan anak saya, apa ketiganya selamat ? tapi kenapa ya dari tadi kok saya tidak mendengar tangisan dari anak - anak saya ?" Bani menodongkan berbagai pertanyaan yang ada di pikirannya. dokter Della pun hanya tersenyum saat melihat ke panikkan di wajah Bani.
"Pak, istri dan anak bapak baik - baik saja kok, tapi sekarang istri bapak belum waktunya melahirkan" terang sang dokter.
"Tapi dok istri saya tadi mengalami sakit di perutnya" ujar Bani.
"Itu hanya kontraksi palsu pak, dan ini memang wajar di alami seorang perempuan saat menjelang melahirkan" jelas dokter.
"Tapi bagaimana dengan anak saya ?".
"Bapak tenang saja, istri dan juga anak bapak dalam keadaan sehat. semuanya normal, tinggal kita nunggu waktu lahirannya saja" ujar dokter menjelaskan.
"Dok saya boleh masuk ?"
"Silahkan pak, istri bapak juga bisa langsung pulang kok" jawab sang dokter.
Bani langsung menemui Syifa. "Sayang kamu enggak apa - apa ?" tanya Bani.
"Aku baik - baik saja sayang" ujar Syifa seraya tersenyum pada sang suami.
__ADS_1
Dokter pun menjelaskan perbedaan antara kontraksi palsu dan kontraksi bener - bener akan melahirkan, dokter menjelaskan hal tersebut agar Bani dan Syifa tidak panik saat Syifa mengalami kontraksi saat melahirkan nanti.
Syifa dan Bani pun kembali ke rumahnya karena kondisi Syifa baik - baik saja tak perlu ada yang di khawatirkan.
"Nak kamu ngprank Abi ya, tadi Abi panik banget" ujar Bani seraya mengelus perut sang istri. Syifa pun hanya tersenyum. "Kenapa kamu tadi gak ngomong jika itu hanya kontraksi palsu " ujar Bani.
"Mana Syifa tahu, sayang" sahut Syifa.
Sampai di kediaman mereka ternyata Bi Tuti masih menunggu mereka di ruang makan. saat Syifa dan Bani masuk ke dalam rumah Bi Tuti pun langsung menghampirinya.
"Neng Enggak apa - apa ? tadi kata pak Yanto neng di bawa ke rumah sakit karena sakit di bagian perut ?" tanya Bi Tuti.
"Syifa baik - baik saja bi, tadi memang Syifa merasakan sakit di bagian perut, Syifa kira Syifa akan melahirkan, ternyata itu hanya kontraksi palsu bi" ujar Syifa.
"Maaf tadi bibi ketiduran jadi bibi gak tau kalau neng Syifa sakit di bagaian perut".
"Enggak apa - apa kok bi, Bibi lanjut tidur lagi saja" ujar Syifa dan bi Tuti hanya menganggukkan kepalanya.
"Sayang, kata dokter kita itu harus dari sekarang mengemasi perlengkapan bayi dan juga calon ibu, agar ketika ingin melahirkan tinggal langsung berangkat tanpa mikirin apa - apa lagi". ujar Syifa.
"Iya besok kita kemasi yang harus di bawa ke rumah sakit nanti. sekarang waktunya tidur sudah larut malam sayang" ujar Bani sambil membaringakan tubuhnya berharap rasa ngantuk datang menghampiri dirinya. Syifa pun melakukan hal sama dan harapan yang sama dengan sang suami.
...*****...
Segala persiapan telah di lakukan Salwa untuk menjelang hari kelahiran sang buah hatinya, dan mamah Erni sudah melarang Salwa untuk merawatnya lagi, itu di lakukan agar Salwa mempunyai waktu untuk persiapan melahirkan.
kini mamah Erni di rawat oleh asisten rumah tangganya dan Salwa masih membantu sedikit - sedikit seperti menyuapai makan dan juga memberi obat yang harus di konsumsi mamah Erni di setiap harinya.
"Mah apa benar ya, kalau melahirkan caesar itu tidak bisa di katakan sebagai ibu yang sempurna karena tak bisa merasakan perjuangannya mengeluarkan calon buah hatinya ?" tanya Salwa.
__ADS_1
"Kata siapa nak, mamah juga dulu dua - duanya caesar, yang terpenting adalah keselamatan antara bayi dan si ibu, dokter juga memberi saran di caesar itu karena ada alasannya" ujar mamah Erni.
"Mah kemaren waktu kontrol, dokter menyarankan Salwa untuk caesar, karena resikonya sangat besar melahirkan tiga bayi jika dengan proses lahiran normal", jelas Salwa.
"Nak, dokter menyarankan seperti karena beralasan. menurut mamah itu lebih baik, yang di pikirkan sekarang bukan tentang cara lahirannya tapi keselamatan antara bayi dan juga ibunya.
Salwa perlahan mulai mengerti, ia pun pasarah jika memang harus caesar yang terpenting adalah keselamatan untuk anak - anaknya.
tiga hari kemudian menjelang subuh Salwa di larikan kerumah sakit karena mengalami pecah ketuban dan sampai di rumah sakit Salwa langsung di masukan ke ruangan bersalin.
Tasya langsung menghubungi keluarga Salwa, Ummah dan Juga Abi Umar itu semua sesuai perintah Robby.
Robby di izinkan untuk mendampingi sang istri saat menjalani operasi caesar. sedangkan yang lain hanya boleh menunggu di luar ruangan.
Robby berusaha memberikan kekuatan kepada sang istri dengan menggenggam erat tangan sang istri.
Detik demi detik waktu terus berjalan, Robby dan Salwa sama - sama tak bisa memendung rasa harunya ketika mereka dengan pertama kalinya mendengar suara tangis dari anak pertama yang berhasil di keluarkan. hingga akhirnya ke tiga bayi berhasil di keluarkan dari rahim Salwa dengan keadaan selamat dan juga sehat. bayi mungil itu menangis saling bersautan hingga suaranya menggema di ruangan tersebut.
Bayi di bersihkan oleh perawat yang sudah di tugaskan sedangkan sang dokter dengan perawat lainnya mengurus ibu dari ketiga bayi tersebut.
Dengan derai air mata ke bahagiaan Robby mengumandangkan adzan di telinga sang buah hati secara bergantian. setelah selesai di adzani ketiga bayi tersebut di bawa menuju Salwa.
Anak pertama mereka berjenis kelamin laki - laki dengan berat 2,4 kg dengan panjang 48 cm, anak kedua berjenis kelamin laki - laki dengan berat 2,5 kg dengan panjang 48 cm dan anak ketika mereka berjenis kelamin perempuan dengan berat 2,4 kg dan panjang 47cm. ketiga anaknya mempunyai wajah yang mirip sekali dengan Robby. Salwa melahirkan di usia kehamilan 35 minggu 3hari.
Salwa masih tak menyangka dengan semua anugrah yang di dapatkannya. ia menatap ketiga anaknya.
"Mas ini anak kita ?".
"Iya sayang ini anak kita" ujar Robby lalu mendaratkan kecupannya di kening sang istri.
__ADS_1
Rasa sakit pasca operasi caesar, hilang begitu saja ketika ia melihat wajah ke tiga anaknya. Salwa memberikan Asi pertamanya secara bergantian kepada ke tiga anaknya.