
Syifa mengulur senyum, ia tak menyangka bisa sampai titik ini, rasanya baru kemaren ia merengek ke Abi dan Ummah karena tak ingin tinggal di pesantren, namun nyatanya sekarang malah mendapat jodoh di pesantren. baru kemaren rasa ia menikah, namun kini Syifa di usia yang masih dua puluh tahun sudah memiliki dua buah hatinya bersama sang suami.
Hari ini Syifa dan Bani akan menggelar acara aqiqahan untuk buah hati mereka yang kembar. sesuai kesepakatan keluarga, acara tersebut di gelar di kediaman Bani dan Syifa. Mereka hanya mengundang tetangga, kerabat dekat dan beberapa rekan kerja dari Bani.
Sejak pagi, rumah Syifa sudah ramai dengan persiapan Aqiqahan yang akan di gelar nanti sore. Ummah dan Bani sudah menginap sejak kemaren sore.
Siang menjelang para saudara pun mulai berdatangan seperti keluarga kecil Zahwa, keluarga kecil Abian dan keluarga kecil Fariz.
mereka sengaja datang lebih awal agar bisa bercengkrama terlebih dahulu.
"Aunty kenapa dede bayinya diem teyus, tadi Zayn ajak ngomong gak nyaut - nyaut" satu pertanyaan yang terlontar dari mulut Zayn membuat Syifa hanya bisa tepuk jidat. "Aunty kok ikut diem juga kaya dede bayi?" tanya Zayn lagi saat pertanyaan pertamanya tak di gubris oleh Syifa.
"Dedenya baru lahir, jadi dedenya belum bisa bicara, jadi harus belajar dulu ya" ujar Syifa ia berharap Zayn mengerti dengan ucapannya.
"Oh gitu ya, jadi dede bayinya harus sekoyah dulu, aunty sekoyahnya yang sama saja dengan Zayn biar Zayn punya temen baru" ujar Zayn membuat Syifa kelabakan dalam menjelaskannya, sedangkan Zahwa hanya tertawa kecil, karena ia sedang menggendong keponakan perempuannya.
"Kalau dede bayi sekolahnya di rumah sayang" Syifa dengan rasa sabar menjelaskan pada Zayn.
"Kok di rumah, lalu ibu guyunya siapa ?" tanya Zayn yang sepertinya semakin penasaran.
"Aunty Syifa dan Om Bani, jadi dulu juga ketika Zayn lagi bayi yang jadi gurunya mama dan papa" ujar Syifa dan Zayn pun mengangguk sepertinya kini sudah mulai mengerti dengan apa yang di jelaskan Syifa.
Satu persatu para tetangga berdatangan untuk menghadiri acara aqiqahan buah hati Syifa dan Bani, tak lupa Bani juga mengundang Robby dan keluarga namun yang datang hanya Robby saja, karena sore ini mamah Erni ada jadwal terapi sedangkan Salwa sedang tidak enak badan hingga tidak bisa ikut dengan sang suami untuk datang ke acara tersebut.
"Sayang, Abang pake baju yang mana nih ?" tanya Bani pada istrinya.
"Yang biru saja sayang" jawab Syifa dan Bani pun setuju.
Acara Aqiqah pun di mulai dengan pembacaan ayat suci alquran, acara demi acara pun di lewati dengan lancar, kini giliran anak Syifa di bawa keliling para tamu yang hadir untuk di potong rambutnya, Bani dan Abi Umar menggendong si kembar, sedangkan Fariz membawa perlengkapan lainnya, acara tersebut di iringi bacaan sholawat oleh ustaz Ali.
__ADS_1
Usai pemotongan rambut Bani pun menyampaikan sepatah dua patah kata kepada para tamu yang telah hadir dalam acara aqiqahan buah hati kembarnya.
"Pertama saya ucap kan terima kasih atas ke kehadiran bapak dan ibu dalam acara aqiqahan putra dan putri kami, saya juga sampaikan rasa terima kasih kami atas doa - doa yang telah ibu dan bapak berikan untuk keluarga kami" ujar Bani.
"Anak pertama kami berjenis kelamin laki - laki, yang kami beri nama Ghana Ashaqi altafaraz dan anak ke dua kami berjenis kelamin perempuan kami beri nama Ghina Alesha Azzahra. semoga anak kami menjadi anak yang soleh dan solehah, bisa mengangkat derajat kedua orang tuanya serta berguna bagi agama" ujar Bani memberi tahu siapa anak kembar mereka sekaligus mengakhiri sambutannya. dan acara tersebut di tutup dengan doa.
...***...
Waktu terus berjalan Syifa dan Bani menikmati peran baru mereka sebagai orang tua. Bani sudah berkali - kali menawarkan jasa pengasuh bayi untuk meringankan kerjaan Syifa, namun berkali - kali juga Syifa menolak karena ia masih merasa mampu untuk merawat ke dua buah hatinya.
"Bi boleh minta tolong" ujar Syifa pada bi Tuti.
"Minta tolong apa neng ?" tanya Bi Tuti.
"Tolong jagain si kembar bentar di dalam kamar, aku mau ke membersihkan badan dulu, Abinya si kembar bentar lagi pulang" ujar Syifa.
Biasanya sore menjelang sang suami pulang,
kedua anaknya akan tidur pulas setelah Syifa memandikan ke dua anaknya, namun ada pemandangan yang berbeda dengan kali ini, kedua buah hatinya tak kunjung tidur. padahal bentar lagi Bani pulang Syifa belum membersihkan dirinya, hingga akhirnya Syifa meminta tolong pada bi Tuti agar menjaga anaknya ketika dirinya sedang membersihkan badanya.
Setengah jam kemudian Bani tiba di rumahnya, dan Syifa pun sudah selesai membersihkan tubuhnya.kini saat Bani pulang kerja tujuan pertamanya adalah bertemu dengan kedua buah hatinya. Bani langsung menuju kamar sang buah hati.
"Asalamulaikum" ucap Bani saat membuka pintu kamar.
"Walaikumsalam" sahut Syifa yang tengah asik bermain dengan kedua buah hatinya yang kini sudah menginjak usia tiga bulan.
Tangan Bani langsung terulur ingin mengendong sang buah hati, namun aksi tersebut langsung terhenti tatkala Syifa langsung menepis tangan Bani.
"Abi, cuci muka, cuci tangan dan cuci kaki dulu" protes Syifa pada Bani.
__ADS_1
"Hehe maaf abang khilaf" ujar Bani seraya tersenyum jahil pada sang istri.
"Khilaf ko tiap hari ".
"Tapi kalau hilapnya malam mah enggak apa - apa, iya kan ?". Bani menggoda sang istri.
"Apaan si Abi ini" ujar Syifa seraya tersipu malu.
"Gak usah malu - malu Ummah, noh kita udah berhasil membuatnya" ujar Bani membuat pipi Syifa semakin merah merona.
"Sudah ah sana, katanya mau gendong tapi malah becanda mulu".
"Baik Ummah cantik" ujar Bani seraya berlalu menuju kamar mandi.
Setelah itu Bani pun bisa menggendong putri cantiknya, karena putranya sedang dalam gendongan sang istri. rasa lelah setelah bekerja seharian itu seakan langsung hilang tak tersisa saat melihat kedua buah hatinya dan juga sang istri yang selalu menyambutnya dengan senyuman. Kehadiran sayang buah hati memberi warna baru dalam rumah tangga Bani dan Syifa.
Bani menimang putri cantiknya hingga tertidur lelap dalam gendongan sang Abi.
"Tumben di gendong langsung tidur" ujar Bani.
"Mungkin dia ngantuk, Biasanya kan habis mandi ia tidur, tapi tadi mah gak tidur sama sekali" ujar Syifa. "mungkin ingin tidur dengan Abinya" sambung Syifa.
"Masya allah manjanya anak Abi yang cantik ini" ujar Bani seraya menatap sang anak yang wajahnya hampir sama persis seperti dirinya.
Bani meletakan sang putri di tempat tidur. "Sini biar Ghana Abi yang gendong, pasti kamu lelah seharian menjaga mereka" ujar Bani.
Syifa menyerahkan sang putra pada sang suami, Bani menyenandungkan shalawat hingga sang putra terlelap tidur dalam gendongannya.
"Ummah mau di gendong juga seperti mereka ?".
__ADS_1