Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 102


__ADS_3

Ketika mereka tengah asik mengobrol tiba - tiba tante Lusi datang menghampiri mereka.


"Seru banget ngobrolnya ya" ujar Tante Lusi.


"Eh ada tante, Sini duduk" ujar Syifa dengan sopan.


"Hmm denger - denger kamu sebentar lagi akan melahirkan ya ?" tanya tante Lusi pada Shela.


"Ia insya allah dua mingguan lagi, doakan ya tante semoga berjalan dengan lancar" jawab Shela.


"Iya tante akan doakan semoga keduanya sehat, tante sudah semakin tua, sudah banyak yang manggil tante dengan sebutan nenek" ujar Tante Lusi.


"Tante itu awet muda loh" ujar Syifa.


"Ah kamu Syifa paling jago kalau soal muji - memuji" ujar Tante Lusi dengan centilnya dan malu - malu. "Andai anak tante masih ada mungkin sudah sebesar Syifa" sambung tante Lusi yang teringat pada anaknya semata wayangnya yang sudah tiada akibat kecelakaan yang di alami keluarganya, dalam kecelakaan itu membuat tante Lusi harus kehilangan anak dan juga suaminya.


Kejadian itu terjadi sepuluh tahun yang lalu, namun sampai saat ini tante Lusi masih menjanda, dia merasa bebas tak punya beban sama sekali dengan setatusnya yang sekarang, hingga ia tak pernah berpikiran untuk mencari pengganti yang baru.


"Oh iya tante jadi lupa, selamat ya Syifa katanya kamu lagi mengandung anak pertama kamu" ujar tante Lusi.


"Terima kasih" ujar Syifa seraya tersenyum.


keberadaan tante Lusi membuat Salwa merasa tidak nyaman, ia pun berusaha untuk mencari alasan agar bisa pergi menjauh. di dalam dirinya selalu ada ketakutan saat di tanya tentang kehamilan.


"Saya permisi mau izin ambil minum dulu, ada yang mau nitip sekalian" ujar Salwa.


"Tidak usah, nanti kalau mau kita bisa ambil sendiri" ujar Shela. ia bisa membaca pikiran Salwa yang sedang menghindari pertanyaan seputar kehamilan dari orang - orang di sekelilingnya. Salwa pun berlalu meninggalkan taman.

__ADS_1


"Yang tadi itu istrinya Robby ya, ko orangnya kelihatan sombong banget, oh iya tante denger juga dia belum hamil - hamil, kalah ya sama ponakan tante yang satu ini" ujar Tante Lusi dan membuat Shela dan Syifa saling pandang, ia paham arah pembicaraan tante Lusi yang ingin bergosip tentang Salwa.


"Hmm nggak sombong ko, Salwa orangnya baik" bela Syifa.


"Ah Kamu, setiap orang pasti di bilang baik" protes Tante Lusi yang tak terima jika keponakannya lebih membela Salwa.


"Emang gitu kenyataannya, Syifa kenal ko dengan kak Salwa, dia itu banyak diam karena orangnya pemalu" ujar Syifa.


"Nikahnya tiba - tiba, kirain tante dia hamil duluan eh nyampe sekarang gak hamil - hamil, atau jangan - jangan sebelum nikah mereka pernah menggugurkan kandunganya makanya sekarang mereka mendapat karmanya" ujar tante Lisa tanpa ia sadari ada hati yang tersakiti dengan ucapannya.


Salwa tak pergi ke dalam untuk ambi air minum, namun ia mendengarkan percakapan tante Lusi, Syifa dan juga Shela dari balik jendela. ada rasa senang saat Syifa membela dirinya, namun perkataan tante Lusi cukup membuat Salwa terkejut, kenapa bisa tante Lusi mempunyai pemikiran sampai situ, Salwa berusaha menenangkan dirinya agar tak menangis.


"Astaghfirullah, gak boleh soudzon nanti jatuhnya Fitnah" ujar Syifa memperingati tante Lusi.


"Huh ngobrol bareng kalian mah gak asik" ujar tante Lusi dan berlalu meninggalkan taman, membuat Shela dan Syifa hanya menggelengkan kepalanya dan mengelus dada mereka, tak mengerti lagi dengan jalan pikiran tantenya.


Salwa sudah merasa tak nyaman lagi berada di rumah Abi Umar, ia pun bergegas menemui suaminya mengajaknya pulang, namun saat ingin menemui suaminya Salwa berpapasan dengan tante Lusi.


"Salwa kamu sudah berbulan - bulan menikah tapi ko gak hamil - hamil ?" tanya Tante Lusi yang di kenal dengan mulut nyinyirnya di lingkungan keluarga Syifa dan Robby. bagi keluarga yang lainnya mereka sudah tak mau menggubris setiap omongan yang keluar dari mulut tante Lusi, berbeda halnya dengan Salwa yang baru mengenalnya menurutnya itu cukup membuat Salwa merasa terhina.


"Jangan - jangan kamu mandul ya" tebak tante Lusi yang membuat Salwa tak mampu memendung emosinya, kata - kata tersebut membuat Salwa merasa tertantang untuk membungkam setiap mulut yang bertanya kapan dia hamil, kenapa gak hamil - hamil.


Salwa mengambil nafas secara mendalam dan membuangnya secara kasar. " Tante sudah tertahun - tahun hidup di muka bumi, Tapi ko gak mati - mati jadi kapan tante akan meninggal ?" tanya Salwa dengan wajah yang memerah karena emosi dan sakit hatinya.


"Hey kurang ajar kamu" Teriak Tante Lusi emosi karena sangat tersinggung dengan perkataan Salwa, bahkan tante Lusi pun menampar pipi Salwa.


Salwa meringis kesakitan, tamparan tante Lusi cukup kencang, dan meninggalkan bekas merah di pipi Salwa, bahkan kini Salwa tak dapat memendung air matanya lagi.

__ADS_1


Teriakan tante Lusi membuat semua orang langsung menghampiri tante Lusi dan Salwa, termasuk Robby yang langsung berlari saat mendengar Salwa di tampar oleh tantenya.


Syifa langsung mengampiri Salwa yang sedang seringis kesakitan. "Ada apa ini ?" tanya Syifa.


"Salwa" teriak Robby saat melihat istrinya sedang menangis.


"Ada apa ini ?" tanya Abi yang baru datang.


"Robby ajarkan lagi istrimu itu sopan santun" ujar tante Lusi emosi.


"Ada apa dengan menantu ku ?" tanya mamah Erni.


"Erni ajarin lagi menantu mu itu untuk sopan dengan yang lebih tua, masa dia bertanya kapan aku mati" ujar tante Lusi, membuat mamah Erni emosi, kenapa menantunya berani berbuat seperti itu.


"Salwa apa benar kamu berkata seperti itu pada Lusi, sunggung memalukan kamu itu" ujar Mamah Erni sambil menuding ke arah Salwa.


"Pasti ini semua tante yang mulai, Salwa tak akan berani berkata seperti itu, jika tante tak memancingnya" ujar Robby tak terima jika istrinya di salahkan. "Lihat hasil perbuatan tante, pipi Salawa hingga lebam seperti ini, jika kalau bukan tante aku, sudah ku laporkan ke polisi perbuatan tante ini" Ujar Robby tak terima jika istrinya di sakiti.


"Sudah - sudah, Robby bawa masuk istrimu, kita bicarakan masalah ini di dalam" ujar Abi Umar.


Semuanya berkumpul di ruang tamu, Syifa duduk berdampingan dengan Salwa dan juga Bani, sedangkan Salwa di apit oleh Syifa dan juga suaminya.


"Nak Salwa bisa jelaskan kenapa kamu bisa berkata seperti itu pada Lusi" titah Abi Umar dengan suara yang lembut agar tak menyinggung perasaan Salwa.


Salwa menjelaskan dimana dirinya di tanya tentang kehamilan bahkan ia pun menceritaka. tentang Lusi yang menuduhnya mandul. Setelah mendengar penjelasan Salwa, Abi Umar dan Robby menatap Lusi dengan tatapan tajam.


"Tuh kan bukan istri saya yang mulai" geram Robby.

__ADS_1


Keluarga yang lain hanya diam tak tersuara karena mereka sudah sangat hapal dengan sikap Lusi seperti apa.


Waktu sudah hampir sore, satu persatu keluarga pamit pulang, termasuk Lusi. namun Abi Umar menahan keluarga tante Erni untuk tidak pulang terlebih dahulu.


__ADS_2