
"Kamu tau isi surat itu ?" Tanya Mila pada Nayla.
Nayla pun menceritakan di mana menemukan surat itu lalu, menaruhnya di atas meja, saat di lihat ada sebuah nama Rabbani di dalam surat tersebut.
"Ko kamu gak cerita" protes Mila.
"Takut Syifa marah, lagian aku melihatnya sekilas doang, gak berani buka surat itu" Nayla membela dirinya.
Asyifa mengambil surat tersebut di atas meja yang bertumpuk dengan buku, surat itu sudah hampir rusak karena terkena air.
"Sekali lagi selamat ya, semoga acarnya lancar, mudah - mudahan kita bisa datang" ucap Nayla.
"Amin" ucap Mila dan Syifa kompak.
Karena waktu sebentar lagi shalat ashar Syifa pun pamit, karena takut kedua orang tuanya menunggu, Nayla dan Mila mengantar Syifa sampai ke gedung utama pesantren.Lambaian tangan mengantarkan kepergian Asyifa,
Syifa dan keluarganya langsung menuju resto Rafiz Family, Syifa dan keluarga akan melaksanakan shlat ashar di sana. Penyambutan pun di buat sesederhana mungkin, Syifa dan keluarga di arahkan oleh Zidan menuju ruangan yang sudah di persiapkan untuk acara tersebut.
Setelah keluarga pak Umar pergi, Kyai Hasan memerintahkan Ustazah Aisyah dan ustaz Ali sebagai penanggung jawab pesantren datang ke rumah Kyai Hasan.
"Kyai memanggil kami ada hal penting apa yang akan di bicarakan ?" tanya Ustaz Ali.
Kyai Hasan menjelaskan kenapa Ia memanggil mereka karena Kyai Hasan akan mengajak Ustaz Ali dan ustazah Aisyah untuk makan bersama di resto milik anaknya, Kyai Hasan tidak menceritakan tentang alasan kenapa Kyai Hasan mengajak makan di resto tersebut.
Keluarga Kyai Hasan sudah berkumpul, terkecuali Zahwa dan keluarga kecilnya,ereka tidak bisa ikut dalam acara ini karena sedang ikut suaminya yang dapat kerjaan di luar kota.
Setelah shalat Ashar berjamaah di pesantren Keluarga Kyai Hasan pun berangkat menuju resto Rafiz Family. Fariz mengabarkan ke berangkatan mereka pada Zidan. kepergian keluarga Kyai Hasan menjadi pertanyaan di pesantren. apa lagi Ustazah Aisyah dan Ustaz Ali kini ikut dalam rombongan tersebut.
Ketika Keluargan Kyai Hasan sudah Tiba, Keluarga pak Umar baru saja selesai melaksanakan Shalat Asharnya. mereka pun bersiap menyambut keluarga Kyai Hasan.
"Asalamulaikum". ucap Kyai Hasan saat memasuki ruangan yang sudah di sediahkan pihak resto.
"Walaikumsalam" ucap pak Umar dan Keluarganya.
__ADS_1
Ko ada Asyifa dan keluarganya, apa maksudnya ini ? tanya batin ustazah Aisyah.
Mereka duduk lesehan di atas karpet, para pelayan mulai berdatangan menyajikan berbagai menu makanan dan minuman, Zidan membantu para pelayanan dalam menata makanan dan minuman.
"Terima Kasih Zidan" ucap Bani saat Zidan sudah selesai menata makan dan minuman tersebut.
"Sama - sama pak" ucap Zidan.Pelayan keluar dari ruangan di ikuti oleh Zidan.
Acara penentuan tanggal pun di mulai, Kyai Hasan mulai menyampaikan kapan acara akan di gelar, Keluarga pak Umar langsung setuju. kini Ustazah Aisyah dan Ustaz Ali baru paham kenapa mereka di ajak makan di sana, dan juga mereka baru mengetahui alasan Asyifa keluar dari pesantren, ini semua menjadi kabar bahagia bagi semuanya.
Bisa - bisanya Bani menyembunyikan kabar bahagia ini dari aku. ucap ustaz Ali dalam hatinya.
"Jadi Setuju ya, Acaranya enam minggu lagi, di adakan di hari jumat yang bertepatan dengan hari lahirnya Bani, nah sekarang tinggal pementuan tempatnya" ucap Kyai Hasan.
"Kalau tempat Gimana kalau kita adakan di Hotel, jadi akadnya pagi jam delapan, nah untuk resepsi kita adakan setelah magrib, nanti kita juga pesan kamar untuk keluarga beristirahat, jadi gak perlu cape - cape bolak - balik" Pak Umar memberikan Saran.
"Untuk akad tidak di rumah saja" ujar Umi.
"Menurut saya, kalau akad di rumah pasti nanti akan repot sendiri, mending sekalian di hotel saja" ucap pak Umar.
Jadi Gimana menurut Bani dan Syifa ?" tanya Kyai Hasan.
"Bani setuju di hotel saja, jadi kita gak bolak - balik, dan untuk urusan cari hotel, Wo, dan yang lainnya biar Bani dan Syifa yang cari saja" ucap Bani dan di angguki Syifa tanda setuju.
"Ya sudah tapi Sebelum cari Wo dan Hotel kalian urus dulu berkas - berkasnya ke KUA" ucap pak Umar mengingatkan.
"Nanti hari Selasa akan di urus ke KUA, Besok Bani ada kerjaan yang gak bisa di tinggalkan" ucap Bani.
Setelah semua beres, acara pun di lanjutkan dengan makan - makan, Setelah selesai makan keluarga pak Umar Pamit pulang karena hati juga semakin gelap.
Keluarga pak Kyai pun bersiap - siap untuk pulang, ustazah Aisyah dan Ustaz Ali datang ke pesantren di sambut dengan berbagai pertanyaan dari rekan - rekannya.
"Nanti Kyai Hasan sendiri yang akan menyampaikannya" ucap Ustazah Aisyah, walalupun tidak ada larangan untuk menceritakan hal itu, namun menurut ustazah Aisyah itu bukan kapasitasnya untuk berbicara.
__ADS_1
Nayla dan Mila sedang menghabiskan doant yang tadi di bawakan oleh Syifa untuknya, tiba - tiba pintu asrama mereka terbuka, dan masuklah seseorang.
"Kalau mau masuk kamar orang ketuk dulu kek, ucap salam dulu kek, bukan nyelonong aja kaya jelangkung" protes Mila.
"Oh gini ya, kalau lagi makan yang enak - enak mah diem - diem" ucap Rima saat melihat Nayla dan Mila sedang makan donat.
"Ada apa kamu ke sini, ganggu saja" ucap Mila yang tak suka dengan Sikap Rima.
"Syifa mana ?" tanya Rima yang tak melihat ke beradaan sosok Asyifa.
"Syifa udah pulang dari tadi kali" jawab Mila ketus, Sedangkan Nayla masih tetap memakan donat tak memperdulian kehadiran Rima.
"Ko pulang lagi, dia keluar dari pesantren ?" tanya Rima penasaran.
"Iya dia keluar, puas kamu !" seru Mila.
"Tuhkan sudah aku bilang, kalau anak manja mah gak bakalan kuat tinggal di pesantren lama - lama, kalian si susah banget di bilangin" ujar Rima menjelek - jelekan Asyifa.
"Terserah kamu saja, tapi kalau nanti kamu tau alasan kenapa Syifa keluar jangan pingsan atau pun kena serangan jantung" ucap Nayla yang sudah kesal melihat tingkah Rima.
"Sudah sana keluar ganggu orang istirahat, ini udah malam, waktunya tidur jangan keliaran mulu" Mila mengusir Rima dari dalam kamarnya.
"Eh bentar ini paperbag isinya apa ?" Rima meraih paperbag yang berisi Baju dan juga kerudung dari Asyifa yang belum sempat mereka taro ke lemari.
"Kamu ini kepo sekali sama barang orang" protes Nayla. Rima memang sosok santri yang sudah lama tinggal di sana, sejak sekolah smp hingga sekarang setelah lulus sekolah menengah atas ia masih bertahan di pesantren, walaupun umur dia beda satu tahun dengan Nyala dan Mila tapi Rima berani sama mereka karena ia merasa sudah senior di sana. Rima paling kepo dengan setiap kegiatan santri atau barang - barang santri, bahkan ia juga memiliki mulut yang sedikit lemes.
"Sini aku lihat" Rima menarik paksan paperbag tersebut, dan mengeluarkan isi dari paperbag tersebut. "Kalian habis beli baju dan kerudung baru dimana dan kapan ?" tanya Rima "Atau jangan - jangan kaliam diam - diam keluar dari pesantren buat beli ini ya" tebak Rima.
"Itu mulut bisa di jaga gak sih kalau ngomong, ini tuh hadiah dari Syifa sebagai tanda perpisahan dengan kita" Jawab Nayla jujur.
"Hahahha, baju ginian mah banyak di pasar lima puluh ribu dapat dua, saja juga bisa beli ginian mah selusin malahan mah" ucap Rima mengejek.
"Kami tak mempermasahkan harganya, yang penting niatnya" jawab Nayla membungkam mulut Rima.
__ADS_1
"Udah sana pergi napa " ucap Mila mengusir.
"Iya aku pergi, tapi bagi doantnya satu ya, kayanya enak" ucap Rima langsung mengambil satu buah donat menunggu persetujuan dari Nayla dan Mila. "Dahhh aku pergi" sambung Rima seraya pergi meninggalkan kamar asrama milik Nayla dan Mila.