
Malam Hari Bani dan pengurus pesantren yang lainnya sedang melakukan rapat terkait penyambutan bulan suci ramadhan.
Syifa menunggu Suaminya di kamar hingga ia tak menyadari kalau dirinya ke tiduran. Bani kembali hampir larut malam, dan saat masuk kekamarnya melihat istrinya sudah tidur pulang, Bani hanya membenarkan posisi tidur sang istri dan membenarkan posisi selimut.
Syifa terlelap hingga pagi, ketika ia bangun ia merasa kaget karena suaminya tak ada di sampingnya, Syifa segera bangun dan duduk di tempat tidurnya, dan mengarahkan pandangannya keseluruh ruarangan kamar, hati merasa lega ternyata suaminya ada dan sedang melakukan shalat.
"Jam berapa ini ?" gumam Syifa.
melihat jam di layar ponselnya menunjukan pukul 3 dini hari yang artinya suaminya sedang melaksanakan shalat malam, Syifa pun langsung bangkit pergi kekamar mandi, ambil air wudhu dan melaksanakan shalat malam juga. Mereka berdua berzikir dan berdoa bersama untuk kebahagiaan keluarga kecilnya dan kesehatan janin yang ada di kandungan Syifa.
"Abang gak ke pesantren ?" tanya Syifa.
"Nggak, emang kenapa ?" tanya Balik Bani.
"Gak papa" jawab Syifa. "Oh iya, kemaren abang sama mas Tama habis dari mana si ?" tanya Syifa penasaran.
"Hmm kemaren Abang habis menemui Malik, melihat ke adaannya dan juga bertanya tentang kenapa ia membakar kantor Abang" jelas Bani jujur.
"Hmm, trus kata Maliknya apa ?" tanya Syifa tambah penasaran.
"Katanya sih karena usahanya tersaingi sama abang " jawab Bani sambil menghela nafas panjang.
...*****...
Pagi hari seperti biasa Aisha akan mempersiapakan menu makanan untuk sarapan dirinya dan adiknya.
"Hari ini kakak gak ngajar ?" tanya adiknya.
"Hari ini kakak libur" jawab Aisha.
"Libur harusnya kakak senang, tapi kenapa raut wajah kakak seperti sedang sedih" ujar Adiknya seraya memprhatikan wajah sang kakak.
"Kakak sedih, kenapa nasib kita seperti ini, tak ada satu pun saudara kita yang menganggap kita ada" ujar Aisha sedih.
"Lebih baik kakak nikah lagi, biar kita punya keluarga" sahut sang adik.
"Kak harus nikah dengan siapa, status pernikahan kakak yang pertama saja tidak jelas, lalu laki - laki mana yang mau menerima semua kekurangan keluarga kita" jelas Aisha sambil menahan air matanya.
"Hmm kenapa kakak gak nikah dengan kak Bani, bukanya kita kembali ke sini kita akan cari kak Bani, kakak belum bertemu dengan kakak Bani, biar nanti aku cari bantu juga ya kak" ujar sang adik.
__ADS_1
Aku memang sedang menunggu Bani, tapi bagaimana aku mendapatkan Bani, sedangkan Baninya saja sudah menikah. Gumam Aisha dalam hatinya.
"Sekarang lebih baik kamu berangkat sekolah nanti telat lagi" ujar Aisha pada adiknya. lalu adiknya pun berangkat kesekolah.
Kak sudah berjuang untuk menyekolakan ku, dan sekarang giliran aku yang akan berjuang menemukan kak Bani untuk kakak. gumam adiknya Aisha dalam hatinya.
Adiknya Aisha berjanji akan mencari Bani untuk kakaknya dengan berbekal foto yang ia ambil secara diam - diam di kamar kakaknya.
Aisha masih melamun di meja makan, semakin ia berusaha melupakan Bani namun hati kecilnya selalu berkata bahwa Bani adalah jodohnya.
Ya allah jika memang dia jodohku, permudahkalah jalannya ya Allah. doa Aisha dalam hatinya.
Aisha yakin suatu saat nanti ia akan mendapatkan kembali cinta Bani, dan mereka akan hidup bahagia.
...******...
Fariz dan Rara semakin dekat, setiap hari mereka selalu makan siang bersama di restonya Fariz dan kebetulan Rara bekerja di sebuah kantor yang letaknya tak jauh dari restonya Fariz.
Fariz hanya memposisikan dirinya sebagai teman dekatnya Rara. ia tak ingin terburu - buru dalam mengambil keputusan, intinya ia akan merasa nyaman ketika berada di dekat Rara. begitu pun dengan Rara, ia tak ingin menyalah artikan perasaaannya, ia takut akan sakit di akhir. keduanya menikmati moment kebersamaan seraya memantapkan hati masing - masing.
Secara diam - diam Tama juga ikut memantau kedekatan sang adik dengan Fariz, walaupun ia percaya kalau Fariz tak akan pernah melakukan hal yang aneh - aneh tapi ia tetap selalu mengawasi adik semata wayangnya. sesuai amanah ayahnya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Agar Tama selalu senantiasa menjaga adiknya.
Sore hari Fariz mengantar Rara pulang karena kebetulan kakak tak bisa menjemputnya.
"Aku ingin bicara sesuatu " ucap Fariz dengan keraguanya.
"Biacaralah" pinta Rara.
"Jika ada seseorang yang mengajak kamu kejenjang yang lebih serius apakah kamu mau ?" tanya Fariz tentunya membuat Rara Kaget dan juga bingung.
"Aku belum berpikir ke arah sana, karena kakak ku saja belum menikah, tapi jika kakak ku merestui ku untuk melangkahi dirinya maka aku akan pikirkan kembali" jawab Rara. "Emang kenapa ?" tanya Rara penasaran.
"Nggak ko, cuma nanya saja" ucap Fariz sambil mencoba menutupi ke gelisahan dan juga kegugupannya.
Mereka pun sudah tiba di rumahnya, Fariz pun di ajak mampir terlebih dahulu, ini adalah kali ke tiga fariz di ajak masuk kerumah Rara. Rumah yang sederhana sebagai peninggalan dari ayahnya.
Karena waktu sudah sore, Fariz pun tak berlama - lama di rumah Rara, Fariz pamit pulang pada Rara dan juga Ibunya, karena waktu itu Tama belum pulang.
Setelah mobil Fariz jauh meninggalkan rumah Rara, Tama Baru saja pulang, dan ia juga mengetahui kalau adiknya di antar Fariz namun ia berpura - pura tidak mengetahuinya.
__ADS_1
"Kamu sudah pulang de" tegur Tama.
"Iya kak, pulang di antar Fariz" jawab Rara jujur.
"Oh" jawab Tama dan berlalu menuju kamarnya.
Fariz tiba di rumahnya namun ada seorang wanita yang sedang berdiri di depan pintu gerbang pesantren dan melihat ke pos satpam ternyata dalam ke adaan kosong, akhirnya fariz turun untuk membukakan pintu gerbang dan sekaligus bertanya pada wanita yang sedang berdiri di pintu gerbang.
"Maaf mbak nyari siapa ya ?" tegur Fariz.
"Apa betul ini rumah pak Bani ?" tanya wanita tersebut.
"Iya, dan saya adiknya kak Bani" jawab Fariz.
"Boleh saya bertemu dengan Bani, ada hal penting yang harus saya bicarakan" ujar wanita tersebut.
Aku merasa pernah bertemu wanita ini tapi di mana ya, ko rasanya gak asing banget. Gumam Fariz.
"Saya gak tau kalau kakak saya sudah pulang atau belum dari pekerjaannya, kalau bertemu silahkan masuk tunggu saya di dalam, nanti saya antar untuk menemui kakak saya" ujar Fariz lalu membukakan pintu gerbangnya lalu memarkirkan kendaraanya di tempat biasa.
Fariz pun mengajak wanita itu untuk menuju rumahnya.
"Asalamualikum" ucap Fariz saat mengetuk rumahnya.
"Walaikumsalam" jawab penghuni rumah tersebut.
Umi membukakan pintu rumahnya walaupun tau yang mengucap salam itu adalah anak bungsunya. namun saat membuka pintu Umi kaget karena Fariz datang dengan seorang wanita.
"Umi, katanya si mbak ini mau ketemu kak Bani, apa kak Baninya ada ?" tanya Fariz.
"Kak Bani sedang keluar dengan istrinya, mungkin sebentar lagi pulang". jawab Umi sengaja menekan intonasi di bagian istri, biar wanita itu tau kalau Bani sudah mempunyai istri. "Kalau mau nunggu silahkan masuk, tunggunya di dalam saja" ucap Umi ramah.
Fariz pun pamit untuk pergi ke kamarnya wanita tersebut di temani oleh Umi di ruang tamu. "Kalau boleh tau, ada keperluan apa ya ?" tanya Umi sopan.
"Ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan Bani" jelas wanita tersebut.
"Soal apa ya ?".
"Soal harga diri saya dan keluarga" jelas wanita tersebut.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃...