
Aisha hanya mengangguk saat Abah Anom bertanya tentang keyakinan Aisha untuk tinggal di sana. sudah hampir satu jam mereka berada di tempat Abah Anom.
"Saya harus pamit pulang" ujar Bayu.
"Kenapa tidak menginap di sini saja, ini sudah dini hari" tawar Abah Anom.
"Iya bener nak Bayu, menginap di sini saja besok baru pulang" timpal Umi Lilah.
"Terima kasih atas tawarannya, tapi lebih baik saya pulang sekarang saja" ujar Bayu. entah kenapa perasaannya mengatakan jika Bayu harus pulang saat itu juga.
"Kamu yakin ? Gak cape ?" tanya Aisha.
"Aku gak cape ko" jawab Bayu meyakinkan Aisha.
Akhirnya Bayu pun pamit pulang, sebelum pulang ia memberikan sebuah ponsel ke Aisha sebagai alat untuk komunikasi. setelah kepergian Bayu, Aisha kembali masuk ke dalam rumah milik Abah Anom.
"Nak untuk sekarang kamu tidur di sini dulu, baru besok gabung dengan yang lainnya" ujar Umi Lilah seraya menunjukan kamar untuk Aisha beristirahat.
"Oh iya, kami akan melalukan shalat malam sekalian renungan malam, apa kamu mau ikut ?" tanya Abah Anom.
"Tapi jika kamu lelah, lebih baik istirahat saja" Timpal Umi Lilah.
Untuk hari ini Aisha memilih untuk istirahat saja. badannya begitu letih setelah menempuh perjalanan panjang. ia merebah kan tubuhnya ke tempat tidur. butiran bening mengalir di pipi Aisha saat ia merasakan kembali tidur di tempat tidur. karena selama tiga bulan ini Aisha hanya tidur beralaskan kasur lantai itu pun harus berdempet - dempetan.
Suara adzan subuh membangunkan ia dari tidurnya, ia pun bangun dan bergegas untuk menunaikan kewajibannya. keluar dari kamar dan menuju kamar mandi untuk berwudhu. untung semlam sebelum tidur ia izin ke kamar mandi, jadi Aisha sudah tau letak di mana kamar mandi berada.
Usai shalat subuh Aisha mencoba mencari sang pemilik rumah, namun Aisha tak menemukan siapa pun di rumah itu, Syifa mencoba keluar dari rumah Abah Anom. segar itulah yang di rasakan Aisha, dingin menusuk hingga tulang, dan pandangan terhalang oleh kabut pagi.
"Kemana Umi dan Abah, sejak bangun kenapa aku tidak melihat mereka sama sekali" gumam Aisha, pandangannya memonitor ke seluruh penjuru.
"Nak Aisha, sedang apa di sini" suara Umi Lilah mengagetkan Aisha dari belakang.
"Eh Umi, maaf tadi saya cari Umi karena sejak saya bangun di rumah kok sepi" jawab Aisha.
__ADS_1
"Maaf Umi habis membantu masak untuk anak - anak yang tinggal di sini" ujar Umi.
"Asalamualikum" ujar seserong mengucapkan Salam.
"Waalaikumsalam" jawab Umi Lilah dan Aisha bersamaan.
"Ini Aisha yang tadi Umi ceritakan" ujar Umi Lilah pada perempuan tersebut.
"Perkenalkan nama saya Syakia, panggil saja kia" perempuan tersebut memperkenalkan dirinya dengan mengulurkan tangannya. Aisha pun menyambut uluran tersebut dengan ramah.
"Aisha".
"Nak, Aisha. Kia ini sudah tinggal di sini selama dua bulan, dan Aisha akan tinggal satu kamar dengan Kia" jelas Umi Lilah.
Di bantu oleh Kia, Aisha membawa barang - barangnya menuju kamarnya, sebuah ruangan yang tak begitu besar, dan hanya terdapat dua tempat tidur dan dua lemari kecil.
"Beginilah keadaan kamar di sini" ujar Kia.
"Apa boleh aku bertanya sesuatu ?" tanya Aisha.
"Boleh".
"Kenapa kamu bisa tinggal di sini ?" tanya Aisha pelan, takut menyinggung perasaan Kia.
"Aku di sini ingin mempelajari ilmu agama, dan juga menenangkan diri, dulu aku pekerja di tempat hiburan malam, jadi kamu tau dong pandangan orang terhadap orang yang bekerja seperti itu" ujar Kia menjelaskan.
"Aku di cap hina oleh semua orang, bahkan ketika aku bener - bener tobat mereka tetap memandang ku rendah dan hina. mereka menganggap orang seperti ku tak pantas untuk menginjakan kaki di mesjid dan juga tak pantas pendapat ampunan dari Allah. itu membuat aku semakin terpuruk hingga aku mencoba mencari tempat untuk mengasingkan diri dan ketemulah tempat ini. dan di sini aku belajar tentang taubat yang sungguh - sungguh. hingga aku kembali mempunyai harapan hidup yang lebih baik" sambung Kia.
"Maaf jika pertanyaan ku membuat kamu mengingat masa kelam mu" ujar Aisha.
"Tidak apa - apa". ujar Kia. "Sudah selesai kan, beresin barangnya, Ayo ikut aku ke dapur nanti di sana kita sarapan" ajak Kia.
Sementara Tuan Rico kini kembali ke kota Aisha, ia telah merencanakan penculikan Aisha setelah keluar dari penjara. Tuan Rico nekat melakukan hal tersebut, karena Aisha bisa menghasilkan pundi - pundi uang yang banyak.
__ADS_1
"Kenapa kalian sudah balik ?" tanya Tuan Rico pada anak buahnya.
"Lapor bos kami kehilangan jejak Aisha" ujar salah satu anak buahnya.
"Apa ? kalian bisa kerja apa tidak sih ?".
"Tuan, Aisha sudah keluar penjara sejak semalam, namun keberadaannya tidak di ketahui, saya sudah mengunjungi rumah saudaranya dan mereka juga tidak tahu keberadaan Aisha" terang anak buahnya.
"Bodoh kalian, mencari cewek satu saja tidak becus. Cari sampai dapat dan jangan kembali sebelum kalian membawa wanita itu ke hadapan ku !". Tuan Rico murka karena kehilangan jejak Aisha.
Matahari semakin bersinar terang, kini Aisha kembali di panggil Umi untuk menghadapnya kembali, di sana Aisha di tanya tentang masalahnya, dengan bercucuran air mata Aisha menceritakan kehidupannya, tak ada yang Aisha tutupi semuanya ia ceritakan pada Umi Lilah.
"Nak, Allah itu maha pengampun, maka bertaubatlah dengan sungguh - sungguh" ujar Umi Lilah.
Aisha begitu menyimak tentang nasihat - nasihat yang di berikan Umi Lilah, ada perasaan lega saat Umi Lilah bener - bener merangkulnya seperti anaknya sendiri. tetesan bening terus mengalir membasahai pipi Aisha.
"Jangan pernah berputus asa, semua manusia yang bernyawa pasti mempunyai masalah dalam hidupnya dan Allah tidak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya. kamu hebat Aisha, kamu berhasil melewati satu persatu ujian yang allah berikan, maka sekarang banyak - banyaklah bersyukur karena kamu masih di beri kesempatan untuk memperbaiki diri mu". ujar Umi Lilah menasehati Aisha.
Sehari tinggal di sana Aisha merasa bahagia, di sana ia mempunyai semangat hidup untuk masa depannya, karena di sana ia tidak sendiri, banyak orang yang mengalami hal yang sama, namu cerita mereka berbeda.
...******...
Kabar kebebasan Aisha sudah sampai di telinga Tama, maka dari itu, ketika jam makan siang, Tama mendatangi tempat Bani bekerja untuk menyampaikan kabar tersebut.
"Apa si Aisha sudah bebas ?" tanya Tio.
"Masa hukumannya sudah selesai, semalam ia sudah keluar, namun keberadaannya tidak di ketahui sekarang". ujar Tama.
"Kenapa bisa menghilang, apa di culik" tebak Tio.
"Entah intinya keberadaannya tidak di ketahui, ada beberapa orang yang mencarinya, sepertinya itu anak buah Tuan Rico, mereka juga kehilangan jejak Aisha, dan Bayu juga tidak mengetahuinya, ia hanya bilang, Aisha bukun urusannya lagi".
"Ya sudah biarkan ia mencari kebahagiaannya sendiri, toh kita sudah tidak ada hubungannya dengan dia". ujar Bani yang tak mau ambil pusing tentang keberadaan Aisha, yang terpenting Aisha tidak menganggu rumah tangganya lagi.
__ADS_1