
Setelah Shalat Magrib Bani kembali ke rumahnya karena tidak ada kegiatan yang melibatkan dirinya.
Asyifa izin untuk tidak mengikuti kegiatan Tilawah Al-quran, karena harus menyaksikan kepulangan orang tuanya. sebelum pulang Ummah membantu membawakan beberapa barang milik Asyifa ke kamar Asramanya.
Pak Umar juga pamit dengan keluarga Kyai Hasan.
"Kami pamit dulu, ini sudah malam takut ke malaman sampai rumah, kami titip anak kami, kalau salah hukum saja sesuai peraturan" ujar Abi Umar.
"Kami akan membimbing anak kamu jadi anak baik" jawab Ummah seraya tersenyum.
Setelah pamit dengan keluarga Kyai Hasan, Asyifa mengantarkan kedua orang tuanya sampai parkiran pesantren, setelah itu Asyifa langsung kembali ke tempat surau untuk mengikuti kegiatan seperti biasanya.
Asyifa melupakan sesuatu, hingga ia harus kembali ke asramanya, iya ia lupa membawa mukena. namun ketika ia ingin kembali ada suara yang menghentikannya lagi.
"Syifa tunggu". ucap seseorang tersebut.
Asyifa menoleh ke arah tersebut " Ada apa ya ?" tanya Asyifa.
"Nggak ko, cuma mau tanya, kenapa tadi siang kamu ada di pernikahan Salwa ?" tanya Fariz penasaran.
"Oh itu karena kak Robby adalah kakak ku, maaf aku harus segera ke surau takut di cariin, dan gak baik juga kita berduaan di tempat sepi seperti ini" ujar Asyifa menjelaskan. kemudian meninggalkan Fariz yang masih penuh tanda tanya.
Fariz kembali ke rumahnya. di dalam kamar ia masih memikirkan ucapan Asyifa. Kalau Robby kakaknya tapi kenapa yang duduk di pelaminan mendampingi Robby bukan orang tua Asyifa. tanya batin Fariz.
Mungkin kakak ketemu gede. jawab batin Fariz.
...******...
Hari semakin berlalu, Asyifa dan Ustaz Bani tak seperti Tom and Jerry pagi, entah kenapa Bani semakin perhatian dengan Asyifa membuat kedua temen Asyifa bingung.
"Syifa tumben kamu gak marah - marah lagi sama ustaz Bani ?" tanya. Mila karena waktu itu Nayla sedang pulang ke rumahnya.
"Gak tau, sejak aku melihat dia sedih duduk di pojokan saat di pernikahan ustazah Salwa, aku jadi kasian dengannya" jawan Asyifa santai.
"Jangan bilang kamu mulai menyukainya" tebak Mila.
"Aku hanya kasian Mila" jawab Asyifa penuh penekanan.
Sudah hampir seminggu Bani melakukan shalat di sepertiga malam, untuk memantapkan hatinya, yang masih gundah gulana, ia meminta petunjuk tentang jodohnya pada sang maha pencipta. semakin hari hatinya semakin mantap dengan pilihannya hingga ia memberanikan diri mencurahkan semua ke inginannya lewat selembar kertas.
...*******...
Setelah menikah Robby dan Salwa tinggal di rumah orang tua Robby. dengan terpaksa Salwa bersandiwara depan mertua dan Adik iparnya bahwa hubungan mereka baik - baik saja.
__ADS_1
"Salwa kalian jangan menunda punya momongan ya, mamah gak sabar ingin punya cucu" ucap mamah Erni ketika sedang sarapan bagi.
Salwa terdiam, ia bingung harus bicara apa, walaupun dia pernah melakukan hubungan itu, namun ketika mereka menikah Salwa belum pernah melakukannya lagi, untuk tidur saja mereka terpisah.
"Kami tidak menunda mah, tapi itu semua kami serahkan pada sang maha kuasa, kita hanya bisa berencana biar Allah yang menentukan" jawan Robby.
Mereka pun melanjutkan sarapannya, setelah sarapan Salwa memilih kembali ke kamarnya dengan alasan sedang tidak enak badan. kemudian Robby pun ikut pamit karena harus pergi ke kantor, namun ia harus menemui istrinya terlebih dahulu.
"Berapa lama kita akan tinggal di sini ?" tanya Salwa ketus.
"Emang kenapa ?" tanya Robby balik.
"Aku ingin tinggal di rumah ku" jawab Salwa.
"Kita sudah menikah, ini juga menjadi rumah kamu" ujar Robby.
"Aku tidak nyaman dengan kehadiran mamah kamu dan adik kamu" jawab Salwa jujur.
"Ya sudah gimana kalau kita tinggal di apartemen ku saja" usul Robby.
"Mungkin itu lebih baik" jawab Salwa yang masih asik dengan ponselnya.
"Ya sudah rapihkan barang - barang kita, aku akan bicara dengan mamah". ujar Robby.
Mamah Erni sedang duduk santai di ruang televisi sedangkan Tasya sudah berangkat ke sekolah.
"Mah Robby mau tinggal di apartemen saja" ucap Robby pelan.
"Kenapa nak, apa kalian tidak nyaman tinggal di sini ?" tanya Mamah Erni penuh selidik. Robby terdiam ia sedang mencari alasan yang tepat.
"Kami nyaman di sini, tapi kamikan sudah berumah tangga, jadi Salwa dan mas Robby ingin belajar mandiri" ujar Salwa yang datang tiba -tiba.
"Kalau itu ke inginan kalian, mamah setuju saja, tapi ingat sering - sering berkunjung ke sini ya" ucap mamah Erni sedih.
"Kami mau siap - siap dulu mah" ujar Robby.
Setelah semua beres, Salwa dan Robby pun pamit, ada gurat sedih di wajah mamah Erni, namun itu tidak membuat Salwa mengurungkan niatnya.
...*****...
Syifa sedang membersihkan halaman pesantren, ketika itu Bani lewat, karena sepi Bani memanfaatkan situasi tersebut untuk memberikan sepucuk surat yang sudah ia tulis sejak empat hari yang lalu.
"Syifa ini buat kamu, baca ini dan jangan sampai ada yang tau tentang ini" ujar Bani seraya memberikan sepucuk surat.
__ADS_1
"Ini apa ?" tanya Asyifa bingung.
"Sekarang masukan saja ke saku kamu, jangan sampai ada yang tau, kamu akan mengetahuinya setelah membacanya" jelas Bani yang langsung pergi meninggalkam Asyifa.
Asyifa masih bingung dengan selembar kertas yang di lipat - lipat seperti surat cinta, namun karena takut ada yang melihat dengan segera Asyifa memasukan kertas tersebut ke dalam saku baju gamisnya.
"Orang Aneh kadang nyebelin, perhatian eh sekarang bikin orang penasaran" gumam Asyifa dalam hatinya.
"Hey Ayo lanjutkan malah bengong" tegur Nur yang juga santri di pesantren tersebut.
"Kamu Nur bikin aku kaget saja, untung gak punya penyakit jantung" ucap Asyifa seraya mengusap - ngusap dadanya.
"Habisnya kamu malah melamun" jawan Nur santai.
Asyifa kembali ke Asramanya, pagi itu sebelum ada kegiatan Asyifa selalu mencuci baju terlebih dahulu agar tidak menumpuk.
"Aku mau nyuci baju dulu" ucap Asyifa pada ke dua temen asramanya.
"Hey nyuci baju ko sampai di kunci sih" tegur Nayla saat pintu kamar mandi di tutup dan di kunci.
"Saya mau BAB, apa kalian mau mencium aromanya" ucap Asyifa berbohong.
"Jorok kamu Syifa" ujar Nayla dan Mila kompak dan langsung menutup hidung mereka.
Aku penasaran dengan ini. gumam Asyifa pelan seraya melihat kertas yang di berikan Bani tadi.
pelan - pelan Asyifa membuka lipatan kertas tersebut. Apa bener ini tulisan tangan dia, kenapa rapih sekali, kaya tulisan tangan ku kalah dengannya. gumam Asyifa dalam hatinya.
Asalamualaikum
Entah sejak kapan rasa ini muncul namun nyatanya rasa ini muncul jauh sebelum peristiwa itu terjadi. aku hanya menganggapnya itu semua hal wajar.
Sudah satu minggu aku menyebut nama mu di sepertiga malam ku, yang membuat ku yakin hati ini telah memilih mu.
Aku tidak akan memaksa mu untuk memilih ku tapi aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasa selama ini, jika kamu ingin tahu hatimu memilih siapa, lakukanlah Shalat di sepertiga malam dan sebut namaku dalam setiap doa mu.
Maaf jika ini membuat mu terkejut tapi percayalah kamu bukan pelarian ku dari semua masalah ku.
Nb: Maaf aku bukan tipe pujangga yang pandai merangkai kata. jadi harap maklum dengan kata - kata ku. aku tunggu balasan dari kamu secepatnya.
Wasalam
M.Rabbani Altafaraz
__ADS_1