Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 94


__ADS_3

Bani menyadari ternyata sikap dinginya selama ini membuat kedua orang tuanya khawatir,. Sebenarnya kenapa selama ini dirinya tak ingin menjalin kedekatan dengan wanita lain, karena Bani sedang menunggu seseorang yang merupakan cinta pertamanya, selama hampir tiga tahun Bani selalu menunggu tanpa kepastian, hingga akhirnya Bani bisa melupakan Cinta pertamanya, Apa yang di katakan Abahnya benar, Syifalah yang mengubah dirinya menjadi tak dingin lagi, walupun di hadapan banyak orang Bani akan berpura - pura bersikap dingin agar orang - orang di sekelilingnya tak mencurigai dirinya yang diam - diam menyukai Syifa.


"Ternyata pawangnya Bani hanya Syifa" ujar Tommy.


"Iya betul" sahut Fariz sambil tertawa.


Sudah tak ada rasa lagi di hati Fariz untuk Syifa, rasa itu hilang begitu saja dengan sering waktu berjalan. Fariz telah menganggap Syifa sebagai kakak iparnya, hati Fariz kini telah di isi oleh seseorang yang selalu ia sebut dalam doanya.


"Ada apa si sepertinya pembicaraan kalian seru sekali" Seru Zahwa yang datang dari dapur.


"Ternyata pawangnya Bani adalah Syifa, karena dengan kehadiran Syifa telah membuat Bani tak sedingin es kutub lagi" jelas Tommy dan di ikuti gelak tawa Fariz.


"Hey Fariz kamu tak usah menertawakan kakak mu, kapan kamu akan memperkenalkan calonmu, apa kamu tak laku " ujar Zahwa.


"Enak saja, aku sudah laku ko" ujar Fariz keceplosan.


"Nah berarti sudah punya pasangan" seru Bani.


"Tidak, bukan begitu, jadi " ucapan Fariz terpotong.


"Gak usah bohong, kakak bisa baca pikiran kamu" ujar Zahwa.


"Kenapa kalian selalu memojokan aku, dulu kak Bani yang selalu kalian tanya mana pasangannya" protes Fariz.


"Karena cuma kamu yang belum laku" ujar Bani. dan semuanya pun tertawa kecuali Fariz yang masih memonyongkan bibirnya.


Kehangatan keluarga pun tercipta, kumpul bersama merupakan momen terindah yang tak bisa di gantikan oleh apa pun itu, rukun dengan saudara adalah sesuatu yang perlu di syukuri, karena membangun kerukunan dalam berkeluarga bukanlah sesuatu yang mudah, perbedaan dalam pola pikir itulah penyebab utamanya. Umi dan Abah tak pernah membedakan antara anak dan menantunya di mata mereka semuanya sama.


Malam hari setelah melaksanakan shalat terawih Fariz pergi ke kamarnya, ia berniat berniat mengubungi Rara namun dengan segera Fariz mengurungkan niatnya, entah kenapa dia menjadi ragu untuk menghubungi Rara, dalam hatinya ada rasa ketakutan kalau dia menaruh harapan lebih pada Rara namun dirinya takut jika Rara malah sebaliknya, menganggapnya hanya sebagai teman saja.


Di dalam kamar Syifa dan Bani sudah siap - siap untuk tidur karena setelah Syifa di nyatakan hamil, Bani belum pernah menggauli istrinya, hal itu merupakan saran dari dokter Bani harus menahan semua hasratnya demi buah hati mereka. peluk dan cium hanya itu yang mereka lakukan tak ada permainan kuda - kudaan yang biasa mereka lakukan sebelum tidur.

__ADS_1


"Abang, tadi katanya mau cerita tentang Tama" ucap Bani.


"Hmmm, Maaf Abang lupa" ujar Bani.


"Masih muda tapi sudah pikun" gerutu Syifa.


"Tapi percayalah, Abang tak akan melupakan mu" ujar Bani dengan tatapan genitnya.


"Suruh cerita malah menggombal" protes Syifa.


"Jadi gini sayang, tadi Tama memberitahu kalau Malik sudah menjalankan sidang" penjelasan Bani terhenti.


"Nyeritainnya jangan setengah - setengah bikin orang penasaran saja" protes Syifa.


"Istri Abang sekarang mulai kepo deh" ledek Bani. "Jadi kemaren Malik di sidang pembacaan soal hukumannya, ia dia bakal di hukum mati" jelas Bani.


"Hukum mati, berarti Malik di tembak dan langsung mati gitu ?" tanya Syifa.


"Iya semacam itu, tapi gak langsung di tembak mati, semuanya pasti menunggu giliran, tapi anak buahnya hanya mendapatkan hukuman dua puluh tahun saja" jelas Bani lagi.


"Mana Abang tau, kan abang bukan polisi" sahut Bani. "Tapi menurut kabar yang beredar Malik memiliki barang bukti yang begitu banyak, sedangkan anak buahnya tidak menemukan barang bukti. tapi menurut pengacara Malik, barang bukti yang di temukan tersebut, bukan milik Malik melainkan milik temennya Malik, katanya Malik itu di jebak, Tapi temennya Malik itu masih buronan polisi, maka dari itu Malik dan Timnya akan mengajukan banding" jelas Bani.


"Kasian juga kalau Malik memang di jebak" ucap Syifa.


"Kita doakan saja semoga Malik bisa bersabar dalam menghadapi kasusnya" doa Bani. "Besok sebelum ke kantor, Abang mau bertemu Tama, katanya Anak buah Malik ingin bertemu sama Abang" jelas Bani.


"Apa Abang akan melaporkan mereka ? tanya Syifa.


"Tidak, kalau Abang melaporkan mereka sama saja kalau abang melaporkan Malik" jelas Bani, Syifa hanya manggut - manggut apa yang di katakan suaminya ada benarnya juga.


"Abang gak temuin Malik sekalian ?".

__ADS_1


"Untuk saat ini sepertinya tidak, Abang akan membiarkan Malik merenungi semua perbuatanya, hingga ia minta sendiri untuk ketemu dengan Abang" jelas Bani. Ia paham dengan sifat Malik yang keras, maka jika ia selalu menenui Malik maka Malik akan semakin membenci dirinya. " Ayo tidur sudah larut malam" ajak Bani.


"Syifa belum ngantuk, oh iya bang akhir - akhir ini Syifa jadi jarang mual dan muntah, dan menurut orang - orang kalau orang hamil itu suka ngidam yang aneh - aneh tapi ko Syifa gak ngidam yang aneh - aneh ya" ujar Syifa yang menurutnya merasa aneh karena dirinya tak pernah menginginkan hal yang aneh - aneh.


"Kalau soal itu Abang gak tau, kamu bisa tanyakan sama Umi" ujar Bani.


"Tadi aku lupa mau menanyakan hal ini pada kak Zahwa".


"Tapi katanya setiap Ibu hamil akan selalu mengalami hal yang berbeda" jelas Bani.


"Iya juga Sih, Kak Shela juga bilang seperti itu, Semoga calon anak kita baik - baik saja" sahut Syifa.


"Amin. makanya kamu harus banyak istirahat jangan banyak aktivitas inget kata dokter juga" ucap Bani.


Akhirnya Syifa dan Bani pun terlelap dalam tidurnya, Saling berpelukan untuk memberi kehangatan satu sama lain menjadi kebiasan mereka dalam posisi tidur, Karena dari pelukan tersebut mereka menemukan kenyamanan satu sama lain.


...****...


Pagi hari Bani sudah siap untuk berangkat bekerja, Bani kini berangkat lebih awal, karena ada kerjaan yang harus ia kerjaan sebelum berangkat menuju tempat anak buanhnya di tahan.


"Tumben kak Bani berangkat pagi sekali" tegur Fariz.


"Iya soalnya mau ada Tama datang kekantor, katanya ada sesuatu yang harus di bicarakan" jelas Bani, tentunya hal itu membuat Panik Fariz, ada rasa takut di hatinya jika Tama akan menceritakan kedekatan Adiknya dengan dirinya.


"Aku boleh ikut ?" tanya Fariz.


"Untuk apa kamu ikut, Kami hanya akan membahas masalah kami ko" jelas Bani, tentunya jawaban Bani belum bisa menenangkan hati Fariz.


"Tapi kak, biar Fariz tahu masalah apa yang kakak hadapi dan Fariz juga bisa membantunya" ujar Fariz terus membujuk dan mencari alasan agar kakaknya mengizinkan dirinya ikut.


...πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ...

__ADS_1


Note : Buat yang nanya kenapa hukuman Malik dan anak buahnya berbeda padahal kasus mereka sama ? Author suka mau kasih tahu saja, ini kan hanya sebuah karangan bebas jadi jangan samakan dengan di kehidupan yang nyata, soal hukuman yang berdeda ya itu suka - suk AuthorπŸ˜†, Karena dalam cerita itu semua nasib ada di tangan Author termasuk hukuman yang di dapat antara Malik dan dan anak buahnya.


Pliss jangan Bully Author yahπŸ™πŸ™πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»


__ADS_2