
Aisha terlihat sangat tegang, cucuran keringat dingin mengalir di tubuhnya. seraya menunggu sidang selanjutnya Aisha memilih untuk menunaikan shalat Dzuhur terlebih dahulu. ia pun berdoa agar dapat memenangkan sidang tersebut, dan mantannya itu mendekam di balik jeruji besi.
"Aku yakin, kita akan memenangkan persidangan ini" ujar Bayu menguatkan Aisha.
Sidang pun di mulai, kini giliran pembacaan vonis. Tuan Rico di dakwa dengan pasal yang berlapis dan dinyatakan bersalah dengan bukti - bukti yang telah ada. tuan Rico di hukum dua belas tahun penjara dan denda dua puluh milyar rupiah. rupanya Tim tuan Rico sangat keberatan hingga ia berencana akan mengajukan banding.
Aisha bisa bernafas lega dengan putusan hakim, ia tak peduli jika mereka akan mengajukan banding, yang terpenting Aisha memenangkan sidang tersebut.
Acara sidang selesai, Bani, Tama dan Tio langsung pamit pulang, namun saat hendak menuju parkiran tanpa sengaja mereka bertemu dengan tuan Rico yang di kawal ketat oleh pihak yang berwajib.
"Puas kamu !" ujar tuan Rico dengan wajah penuh amarah.
"Maaf tuan, saya hanya ingin Tuan tahu satu hal, jika saya tidak pernah terlibat dalam kepergian Aisha. jadi saya harap jangan libatkan saya dan juga keluarga saya dalam masalah anda dan juga Aisha" ujar Bani.
Tuan Rico langsung berlalu di bawa oleh pihak yang berwajib.Bani dan kedua rekannya pun langsung menuju mobil mereka masing - masing.
Setelah memeriksa beberapa kerjaannya Bani memutuskan untuk pulang lebih awal, ia sadar sikapnya beberapa hari ini pasti telah melukai hati sang istri, apalagi setelah hamil istrinya menjadi lebih sensitif.
Sampai di rumah Bani langsung mencari keberadaan sang istri.
"Bi Syifa mana ?" tanya Bani.
"Dari pagi neng Syifa di kamar terus, tadi makan siang saja di kamar" jelas Bi Tuti.
"Syifa sakit bi ?" tanya Bani panik.
"Nggak pak, cuma katanya lagi males ngapa - nagapain" jawab Bi Tuti.
Bani langsung berlari menuju kamar sang istri.
saat membuka kamar, ia melihat sang istri sedang berbaring di tempat tidur. Bani mendekati sang istri.
Bani mengelus lembut pipi sang istri, dan lamat - lamat Syifa membuka matanya.
"Abang sudah pulang ?" tanya Syifa yang masih setengah sadar.
"Iya Abang sengaja pulang cepat, maaf jika abang mengganggu tidur kamu" ujar Bani.
Syifa bangun dari tidurnya dan duduk di samping sang suami. "Tumben gak pulang malam lagi ?".
__ADS_1
Satu pertanyaan yang sederhana namun mampu mengobrak - ngabrik hati Bani. ia paham jika istrinya sedang marah kepadanya.
"Enggak suka ya, kalau abang pulang cepat ?" tanya Bani balik.
"Ya kan Syifa cuma tanya saja, wajar dong istrinya bertanya ketika ada sesuatu yang aneh dari suaminya" Sindir Syifa.
"Maafin Abang yah" ujar Bani lirih.
"Untuk apa ?" Rasanya Syifa ingin berkata dengan ketus pada suaminya namun ia takut menjadi istri yang durhaka.
"Abang tau, Abang salah karena beberapa hari ini Abang nyuekin kamu, Abang minta maaf ya".
"Engga apa - apa Abang kerja pagi sampai malam kan itu semua demi keluarga, jadi Sebagai istri aku hanya bisa mendukung apa yang di lakukan suaminya".
Bani memilih berlalu menuju kamar mandi untuk mengganti pakainya, ia paham betul jika istrinya sedang marah, Syifa bukan perempuan yang gampang di bujuk rayu jika sedang marah. maka dari itu Bani harus bisa bersabar dalam meluluhkan hati sang istri.
"Sayang, besok abang libur kerja, gimana kalau kita pergi buat beli perlengkapan untuk calon buah hati kita" ujar Bani berharap jika istrinya mau.
"Hmm sepertinya Syifa ingin di rumah saja, mungkin lain kali saja" ujar Syifa menolak.
Pintu kamar mereka di ketuk dari luar.
"Ini bibi, di luar ada tamu yang ingin bertemu neng Syifa dan juga bapak" ujar bi Tuti.
Syifa segera membuka pintu kamarnya. "Siapa bi ?" tanya Syifa.
"Bibi lupa nanya mereka siapa, tapi kalau gak salah yang satu pernah datang ke sini" ujar Bi Tuti.
"Suruh masuk saja bi, nanti kita langsung ke bawah". ujar Syifa.
Syifa segera merapihkan baju dan juga hijabnya sebelum menemui tamu tersebut.
"Abang janjian sama orang di rumah ?" tanya Syifa.
"Enggak Sayang" sahut Bani.
Siapa lagi yang datang ? semoga saja tak ada yang aneh - aneh lagi. gumam Syifa dalam hatinya.
Bani dan Syifa berjalan beriringan seperti orang yang tak ada masalah. tangan Bani menggenggam tangan Syifa dan tak ada penolakan dari sang istri. Bani menuntun sang istri menuruni anak tangga.
__ADS_1
"Aisha, Bayu ada apa kalian datang ke sini ?" tanya Bani terheran - heran atas kedatangan Aisha dan juga Bayu, karena menurutnya mereka sudah tidak ada masalah lagi.
"Maaf jika kedatangan kami mengganggu waktu kalian" ujar Aisha.
"Oh tidak apa - apa. mbak Aisha gimana kabarnya ?" tanya Syifa ramah.
"Alhamdulilah baik, kamu sendiri gimana ?" tanya Aisha balik.
"Alhamdulilah baik juga. oh iya selama ini mbak ke mana saja kok gak pernah kelihatan ??".
"Saya memutuskan tidak tinggal di kota ini lagi, dan Alhamdulilah saya sekarang kerja di sebuah yayasan mengajar anak - anak yatim piatu" jelas Aisha.
"Masya Allah, semoga apa yang mbak berikan ke anak - anak itu menjadi ladang pahala buat mbak Aisha" ujar Syifa.
Bi Tuti datang dengan membawa minuman dan juga cemilan lalu menyajikannya di meja.
"Silahkan di minum, mbak Aisha dan Mas Bayu" .
"Terima kasih" ujar Bayu dan Aisha secara bersamaan.
"Hmm maaf sebelumnya, ada keperluan apa ya datang ke sini ?" tanya Bani.
"Oh maaf, saya jadi lupa niat awal saya datang ke sini" ujar Aisha. "Bani, Syifa sekali lagi terima kasih atas bantuannya, mohon maaf sekali lagi karena kalian menjadi terlibat di dalamnya".
Bantuan ? terlibat ? apa maksud semua ini ? apa ada yang abang sembunyikan dari aku, hingga aku tak mengerti maksud Aisha. apa ini ada hubungannya dengan sikap abang beberapa hari ini ?. batin Syifa.
"Sama - sama. sesama manusia sudah selayaknya kita saling tolong menolong" ujar Bani.
"Jujur saya tidak enak karena kalian menjadi ikut terlibat dalam permasalahan saya, bahkan kalian menjadi korban dalam permasalahan saya yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan kalian" jelas Aisha.
Syifa semakin di buat bingung oleh Aisha, sebenarnya apa yang terjadi ? ia mencoba melirik sang suami untuk meminta penjelasan namun Bani hanya tersenyum membuat Syifa semakin kebingungan.
"Sudahlah, lupakan saja apa yang telah terjadi, yang terpenting sekarang masalahnya sudah selesai" ujar Bani.
"Sekali lagi, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. kalau gitu saya pamit dulu karena harus segera kembali ke yayasan" ujar Aisha.
Syifa dan Bani mengantar Aisha dan Bayu hingga depan teras rumah mereka, setelah mobil milik Bayu melaju meninggalkan rumah Bani. Syifa melirik suaminya dengan sangat tajam, ia meminta penjelasan dari semua ini.
"Ayo masuk, nanti Abang jelaskan di dalam" ujar Bani yang paham akan tatapan sang istri.
__ADS_1