
Seseorang tengah menerima laporan dari anak buahnya, dengan kesombongannya ia tertawa terbahak - bahak, karena mendapat kabar bahwa polisi telah menghentikan penyelidikan tentang kasus kebakaran kantor Bani.
"Good job kawan, tak sia - sia aku membayar kalian mahal - mahal" ucapnya seraya tertawa senang karena dapat melumpuhkan musuhnya.
"Pantau terus kegiatan mereka" titahnya dan langsung menutup teleponnya.
"Hahahaa ini hadiah pernikahan terindah untukmu sobat" ucap pria tersebut seraya tersenyum penuh kelicikan.
...*****...
Hari ini akan di mulai memperbaiki kantor yang rusak, Bani berangkat lebih pagi, dan kebentulan Fariz pun siap ikut dengan kakaknya meninjau langsung pelaksanaan perbaikan kantor, Fariz melajukan mobilnya menuju kantor sang kakak, sedangkan Bani duduk di samping Fariz pikirannya melayang, harus mencari uang ke mana jika nantinya ada kekurangan.
"Berapa lama kira - kira ini akan selesai ?" tanya Bani pada sang mandor.
"Saya targetkan satu bulan akan selesai" ucap sang mandor. Bani sangat berharap jika yang di ucapkan sang mandor itu benar - benar terjadi.
Fariz telah kembali ke resto, sedangkan Bani terus memantau para pekerja, bahkan dengan senang hati ia akan ikut terjun kelapangan membantu para pekerja, dan berharap bisa meringankan para pekerja dalam menyelesaikan tugasnya.
...*****...
Syifa sibuk di dapur memasak menu untuk makan siang, kali ini ia bener - bener mengerjakannya sendiri karena Syifa memasak menu special untuk sang suami. setelah selesai masak Syifa membersihkan dirinya dengan mengguyur tubuhnya lalu mengganti pakainya, memoles wajahnya dengan make up yang tipis.
"Kamu mau ke mana ?" tanya Umi saat melihat Syifa sudah berpakaian rapih dan ada sebuah tas di bahunya.
"Syifa ingin mengantarkan makan siang buat Abang" ucap Syifa malu - malu.
"Umi ikut ya" pinta Umi.
"Boleh".
"Tunggu Umi mau ganti baju dulu".
Sambil menunggu Umi, Syifa pun mempersiapkan makanan yang akan di bawanya. tak lupa ia juga mengabari suaminya bahwa ia akan datang ke sana.
__ADS_1
Syifa dan Umi berangkat, mereka menggunakan taxi online yang sudah Syifa pesen sebelumnya. perjalanan lumayan agak macet karena hampir jam makan siang. namun tiba - tiba taxi yang di tumpangi Syifa dan Umi mendadak berhenti.
"Apa apa pak ?" tanya Syifa bingung karena taxinya tiba - tiba terhenti.
"Gak tau bu, saya cek dulu ya" ucap si supir taxi lalu turun dari mobilnya. "Bannya bocor gak bawa ban cadangan dan jauh juga dari bengkel" gerutu si supir saat tau ternyata ban belakang mereka bocor.
"Maaf bu, kayanya ibu harus turun di sini karena ban mobil saya kempes, saya gak bawa ban cadangan dan bengkel juga jauh" ucap si sopir menjelaskan ke adaan mobilnya.
"Baiklah" ucap Syifa, lalu membayar taxi tersebut sesuai tarifnya.
Syifa dan Umi berdiri di pinggir jalan berharap taxi yang kosong lewat, panas terik di siang bolong sudah tak mereka hiraukan lagi. hampir dua puluh menit mereka berdiri di sana namun taxi yang lewat kebanyakan sudah membawa penumpang.
Tiba - tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapan Syifa dan Umi, membuat mereka bertanya - tanya siapa dia dan untuk apa mereka berhenti di depan Syifa dan Umi.
Turun dari mobil seorang lelaki dengan berpakaian sangat rapih dan juga menggunakan jas hitam senada dengan celana dan juga sepatu yang pria itu kenakan.
"Ibu masih kenal dengan aku" sapa lelaki tersebut, Umi bingung karena ia bener - bener tidak mengenal siapa lekaki tersebut.
"Ini Umi nya Bani kan, Aku Malik temen kuliahnya Bani" ucap lelaki tersebut memperkenalkan dirinya pada Umi, dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Itu temen awal kuliah Bani yang suka ikut maen ke rumah Umi" jelas Malik.
"Hmm, maaf Umi bener - bener lupa nak, maklum faktor u" ucap Umi seraya tersenyum.
"Kamu sedang apa di sini nak ?" tanya Umi ?ada Malik.
"Gak papa Umi, Emang sekarang Malik juga jarang bertemu dengan Bani, ya karena kesibukan masing - masing" ucap Malik basa - basi. "Tadi mau ke kantor terus lihat Ibu lagi berdiri di sini makanya saya minggir dulu" jelas Malik. "Ini pasti istrinya Bani ya" ucap Malik menunjuk ke arah Syifa, lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Syifa menakupkan tangannya di dada " Maaf" ucap Syifa karena tak bisa menyambut uluran tangan Malik.
Malik kembali menarik tangannya. Istrinya Bani cantik banget, masih remaja kayanya, boelh juga buat di goda pasti masih labil. ucap Malik dalam hatinya.
"Kalian mau ke mana ?" tanya Malik.
__ADS_1
"Mau maen ke kantor Bani" jawab Umi.
"Ya sudah bareng saya saja, kebetulan jalur kita satu arah" tawar Malik. Syifa ingin menolaknya namun Umi membujuk Syifa agar mau ikut Malik karena waktu makan siang semakin dekat, dan belum tentu mereka bisa menemukan taxi dengan segera. Syifa pun ikut apa kata mertuanya.
Malik membuka pintu bagian belakang mobilnya dan mempersilahkan Syifa dan Umi untuk masuk. selama perjalanan menuju kantor Bani, diam - diam Bani terus memperhatikan Syifa dari balik kaca depan. Syifa yang menyadari aksi Malik pun hanya menundukan kepalanya, menjaga pandangannya, bahkan Syifa merasa risih dengan tatapan malik padanya.
"Maaf Bu, kayanya ibu harus turun di sini deh, karena saya mau belok kiri, kalau lurus nanti muternya ke jauhan" ucap Malik mencari alasan karena ia takut ketahuan Bani kalau dirinya sedang bersama ibu dan juga istrinya.
"Oh iya gak papa nak, ibu dan Syifa turun di sini saja, terimakasih atas tumpangannya" ucap Umi lalu turun dari mobil Malik di ikuti oleh Syifa.
Mobil Malik melaju dengan kencang. Syifa bernafas lega karena bisa turun dengan cepat. Umi dan Syifa pun melanjutkan jalan mereka menuju kantor Bani yang hanya tinggal beberapa meter saja.
"Kenapa kalian lama sekali ?" tanya Bani saat Umi dan Syifa sudah tiba.
"Tadi ban taxinya bocor jadi kita agak lama" jelas Syifa, ia tak ingin menceritakan pertemuanya dengan malik di hadapan mertuanya.
Bani mengajak istri dan Ibunya ke ruangan yang masih layak di gunakan, di sana Bani menyantap makan yang di bawakan istrinya dengan lahap, ikut membantu para pekerja membuat tenaga Bani sedikit ikut terkuras dan menjadi cepat lapar.
"Pelan - pelan makannya" tegur Syifa.
Bani pun menghabiskan semua makanan yang di bawakan istrinya, Telah itu Syifa pun membereskan tempat makanan bekas Bani.
"Oh iya nak, kamu emang punya temen namanya Malik ?" tanya Umi.
"Iya, emang kenapa ?" tanya Bani baik karena penasaran.
"Tadi kita bertemu di jalan, bahkan dia tadi menawarkan tumpangan pada kami, karena kami tak kunjung dapat taxi pengganti" jelas Umi bagaimana tadi bisa bertemu dengan Malik.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Buat yang nanya kenapa sekarang updatenya hanya satu bab? ko gak dua bab lagi ?
kondisi Author sedang kurang fit, jadi author putuskan untuk beristirahat sejenak. tapi insya allah Author usahakan untuk selalu update walau hanya satu bab saja.
__ADS_1
Terima kasih