
Anak adalah anugerah dan amanah dari Allah swt yang harus dipertanggungjawabkan oleh setiap orang tua dalam merawat, mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Orangtua seharusnya mensyukuri nikmat yang tak terhingga, karena dipercaya untuk membesarkan anak-anaknya. Untuk mensyukurinya wajib menjaga pertumbuhan dan perkembangannya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Dengan harapan anak bisa menikmati perjalanan hidupnya sebagai anak yang sholeh atau sholehah dan mencapai kemandirian, yang akhirnya menjadi kebanggaan orangtua, agama, bangsa dan ummat manusia.
Orangtua diberi amanah oleh Allah swt dengan kehadiran anak, bukan hanya untuk kehidupan di dunia, melainkan juga untuk kehidupan di akhirat. Ingat bahwa tidak semua orangtua dianugerahi anak, kecuali yang dipercaya. Begitu sang isteri mengandung, di saat itulah isteri dan suami, sebagai calon orangtua wajib mempersiapkan diri untuk menjaga sejak dalam kandungan hingga dilahirkan berlanjut sampai anak siap membangun keluarga sendiri. Bahkan afdhalnya jika sudah berkeluarga pun sangat dimungkinkan masih bisa ikut mengawal kelanjutan hidupnya, sehingga tetap terjaga anaknya dalam kehidupan yang baik, terhindar dari ancaman neraka. Sebagaimana Allah swt ingatkan, dalam QS. At-Tahrim:6, yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka …” Dalam konteks inilah kita patut respek terhadap orangtua yang sejak awal sudah memiliki komitmen dan kepedulian akan penanaman agama kepada anak-anaknya sejak usia dini.
Selain kita menjaga anak dengan mendidiknya dengan sebaik-baiknya, supaya bisa hidup bahagia di akhirat, kita juga bertanggungjawab untuk membekali anak dengan kecakapan hidup yang memadai sehingga anak-anak menjadi anak yang cakap, kompeten dan kuat. Bukan sebaliknya, membiarkan anak, sehingga menjadi sebaliknya, tak cakap, tak kompeten, dan lemah. Kondisi yang demikian mendapat peringatan keras dari Allah swt, dalam
QS. an-Nisa`: 9, yang artinya “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” Dengan begitu kita orangtua, wajib mendidik anak dengan sebaik-baiknya, dengan memperhatikan bakat dan minatnya, sehingga mereka bisa berkembang optimal. (sumber dari google).
...*****...
"Bani menurut Umi lebih baik kalian pindah ke kamar bawah, karena jika Syifa harus bulak balik naik tangga itu tidak baik untuk kesehatan calon anak kalian" jelas Umi.
"Kalau itu yang terbaik, Syifa dan Bani gak papa, besok kami akan pindah kelantai bawah" ujar Bani.
"Oh iya bang, belanjaan kita masih di mobil !"Seru Syifa yang baru mengingatnya.
"Nanti minta tolong Fariz buat ambilin" jawab Bani santai, ia tak ingin istrinya terlalu banyak gerak.
Fariz pun yang dapat perintah langsung nurut tanpa protes.
"Syifa mau menghubungi Abi dan Ummah" seru Syifa lalu berdiri untuk pergi ke kamarnya karena ponselnya ada di kamar.
"Biar Abang yang menghubungi Abi dan Ummah, kamu duduk di sini saja" titah Bani pada istrinya.
***
Pagi hari Syifa sudah terbangun untuk melakukan shalat subuh, namun ketika masuk kamar mandi Syifa malah memuntahkan isi perutnya hal itu membuat Bani terbangun dan langsung menghampiri sang istri.
"Kamu kenapa ?"
"Aku hanya mual saja, mungkin ini biasa bagi ibu hamil" jawab Syifa.
__ADS_1
"Hmm, Abang baru inget, berarti kemaren kamu mual dan muntah itu kamu hamil bukan karena masuk angin" sahut Bani.
"Iya mungkin" jawab Syifa lemas.
Bani membawa istrinya kembali ke tempat tidur, ketika adzan berkumandang Syifa langsung mengambil air wudhu dan melakukan shalat subuh sendiri. karena Bani melakukan shalat subuh di pesantren karena ada jadwal mengajar setelah shalat subuh.
Setelah Shalat subuh Syifa kembali membaringkan tubuhnya yang merasa lemas dan juga kepalanya terasa pusing, hingga Syifa kembali terlelap tidur.
Acara kajian berakhir di pukul enam pagi, Bani kembali kerumahnya, biasanya ada istrinya yang menyambutnya dengan secangkir kopi, namun untuk hari ini tidak ada penyambutan bahkan sosok istrinya pun tak terlihat ada di dapur.
"Syifa mana ?" tanya Bani pada Umi.
"Dari tadi pagi Syifa belum turun, Umi kira Syifa di kamar bareng kamu" jawab Umi.
Bani langsung berlari menaiki anak tangganya ia bener - bener khawatir akan kondisi istrinya. saat membuka pintu kamar terlihat istrinya sedang tertidur nyenyak di atas tempat tidur.
"Sayang" ucap Bani membangunkan istrinya.
Syifa perlahan membuka matanya, tangannya terus memegang kepalanya yang masih terasa sakit.
"Maaf tadi habis subuh Syifa ke tiduran, kelapa Syifa sakit" sahut Syifa.
"Gak papa, kamu istirahat saja, hari ini abang gak ke kantor karena Abi, Ummah, kak Abian dan kak Shela mau ke sini. dan sekalian mau beberes di kamar bawah" ujar Bani.
"Harusnya Syifa yang beberes bukan Abang" sahut Syifa.
"Gak papa, kita mengerjakannya bareng - bareng" ucap Bani.
setelah sarapan, Bani mendapat telepon dari Tama, bahwa Malik sudah boleh di jenguk,Bani pun tak menyianyiakan kesempatan itu, Tama akan menjemput Bani nanti pukul sepuluh. hal itu membuat Bani langsung membereskan kamar bawah agar langsung bisa di tempati.
Syifa sudah berada di kamar bawah, kerena bosan, Syifa kini duduk di ruang televisi bersama Bani dan juga Umi.
__ADS_1
"Nanti Bani titip Syifa, Bani ada urusan bareng Tama sebentar, jika Abi dan Ummah sudah sampai hubungi Bani ya" ucap Bani pada Umi.
"Mau ke mana kamu ?" tanya Umi penasaran.
"Ada hal yang harus Bani selesaikan" jawab Bani, ia tak ingin keluarganya khawatir kalau tau ia akan bertemu dengan Malik.
Sesuai janji, Tama datang menjemput Bani tepat pukul sepuluh, Sebelum pergi Bani menasehati istrinya agar tak begitu banyak melakukan aktivitas. Tama dan Bani pun berangkat untuk menemui malik.
"Malik sudah di pindahkan ke kantor BNN, semua berkasnya sudah lengkap, mereka akan di sidang minggu depan" jelas Tama.
"Kira - kira berapa lama hukuman yang akan mereka dapatkan ?" tanya Bani.
"kalau sesuai pasal tentang Narkoba ia sebagai pemakai dan juga pengedar, bisa jadi hukuman Mati atau penjara seumur hidup" jelas Bani.
"Apa ada yang bisa meringankan hukuman mereka ?" tanya Bani lagi.
"Lihat saja nanti hasil sidang" jawab Tama.
Sampai di kantor Bnn, Bani dan Tama langsung di antar keruangan khusus kunjungan.
"Untuk apa kalian datang ke sini, untuk menertawakan hidup ku" ucap Malik penuh emosi karena ternyata yang mengunjunginya adalah teman ketika mereka masih kuliah.
"Malik aku datang ke sini karena turut perihatin atas kejadian yang menimpa kamu, aku gak nyangka kamu melakukan perbuatan seperti ini" ucap Bani tetap tenang.
"Aku tak butuh belas kasiahan dari siapa pun, ini hidupku, jadi aku bebas menentukan jalan hidupku sendiri" jelas Malik dengan tatapan yang angkuh.
"Harusnya sebelum kamu melakukan sesuatu kamu harus memikirkan terlebih dahulu resikonya" ujar Bani.
"Aku tak butuh ceramah dari mu" ucap Malik ketus.
...🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1
Kira - kira Malik akan meminta maaf dan menyadari kesalahannya gak yahh ??
Terus dukung author yah, karena dukunganmu sangat berarti untuk author.