Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 58


__ADS_3

Bani terkejut saat tau yang menghubunginya adalah Aisha. "Aisha hubungi gue" bisik Bani pada Tio.


"Inget lo itu sudah mau nikah" ucap Tio pelan namun tatapannya tajam.


"Bani apa kamu denger suara aku ?" Tanya Aisha karena tak ada jawaban dari Bani.


Bani langsung mematikan ponselnya, berkali - kali Aisha menghunungi Bani namun tak ada jawaban.


"Kenapa lo gak angkat ?" Tanya Tio.


"Gue bingung harus jawab apa dia terus ngajak ketemuan mulu" jawab Bani.


"Harusnya kamu jelasin jika kamu sudah mau nikah, biar dia bisa pahan dan gak hubungi kamu terus, nanti kalau Syifa tau bisa berabe kamu" Ucap Tio menakuti Bani.


"Nanti bakal aku jelasin biar sekalian kasih undangan" ucap Bani.


...*****...


"Syifa, tanyain ke Bani undangannya kapan jadinya ?" tanya Ummah.


"Besok pagi di anterin" jawab Syifa.


Ummah dan Abi Umar kembali melihat catatan tamu undangan mereka.


"Bi siapa kira - kira yang belum ?" tanya Ummah.


"Kayanya sudah semua ko" jawab Ummah.


Di sela - sela obrolan mereka terdengar suara pintu masuk di ketuk. "Biar Abi yang buka" ucap Abi Seraya bangkit dari tempat duduknya.


"Asalamualikum pak, saya dari butik N mau menganar pesenan baju keluarga" ucap seseorang yang merupakan pekerja butik N.


"Oh iya, makasih ya pak" ucap pak Umar.


"Untuk tanda terima silahkan tanda tangan di sini" ucap pegawai butik N sambil menunjukan letak di mana pak Umar harus tanda tangan. " untuk pembayarannya sudah lunas ya pak" sambung pegawai tersebut.


pegawai tersebut lalu menurunkan beberapa kardua yang berisikan baju seragam untuk keluarga, setelah selesai pak Umar kemudian memberikan tip uang rokok pada ke dua pegawai tersebut.

__ADS_1


"Umi baju seragam untuk keluarga sudah datang" ucap Abi Umar memberi tahu istrinya.


"Iya nanti kita bagikan kalau sekalian undangannya" jawab Ummah santai.


Syifa sedang di kamarnya, sedang asik chatan bersama temen - temen masa sekolahnya. teman - temannya banyak yang tak menyangka jika Syifa bakalan secepat ini menikah, mereka tau Kalau Syifa gak pernah pacaran.


Sinta


Gue gak nyangka kalau Syifa akan secepat ini menemukan jodohnya.


Tika


Mana undangannya ko belum sampai ke tangan gue si ?.


Linda


Jangan bilang kalau kamu di jodohkan.


Semua temennya menyangka kalau Syifa di jodohkan kedua orang tuanya kerena mereka tak pernah melihat Syifa menggandeng pasangan. hanya Melati yang mengetahui tentang kisah cintanya bersama Bani. chatan tersebut terhenti karena tiba - tiba ada telepon masuk.


"Hallo Asalamualikum" sapa Syifa saat menjawab panggilan tersebut.


"Iya, tadi kan Ustaz udah kirim pesan" jawab Syifa.


"Takut kamu lupa, Aku matiin teleponnya soalnya mau pulang" ujar Bani.


"Ya sudah, hati - hati di jalannya" ucap Syifa, kemudian telepon tersebut terputus.


Dasar, orang telepon basa - basi nanyain kabar ini mah kagak sama sekali huhhhff. gerutu Syifa dalam hatinya.


Sementara Bani sedang bersiap - siap untuk pulang namun ponselnya kembali berdering, Nomor Aisha kembali mengubunginya dan lagi - lagi Bani membiarkannya. setelah itu pesan masuk dari nomor Aisha yang mengatakan ngajak bertemu, ia ingin menjelaskan kejadian dulu.


Bani tak membalas pesan tersebut, Sebenarnya ia sedang berusaha menghindar karena sebentar lagi menikah ia takut jika pernikahannya akan gagal gara - gara masa lalunya.


Tiba di rumahnya Bani langsung masuk ke kamarnya dan membersihkan badannya karena waktu magrib sebentar lagi, dan ia juga harus mengajar santri setelah magrib dan Isya.


...*****...

__ADS_1


Pagi Hari Bani berangkat lebih awal dari biasanya.


"Nak kapan kamu mau libur kerja, gak baik kalau calon pengantin masih berkendara terus" ucap Umi saat melihat Bani sudah akan berangkat bekerja.


"Doain ya supaya kerjaan Bani minggu ini sudah kelar biar bisa ambil libur, oh ya Bani berangkat dulu, Bani juga mau mengantrkan undangan dulu pada Syifa" ucap Bani seraya pamit mencium kedua tangan Uminya.


Keluarga Kyai Hasan sarapan tanpa Bani.


"Kak Bani mana ?" tanya Fariz yang tak melihat keberadaan kakaknya.


"Bani sudah berangkat, katanya mau sekalian anterin undangan ke rumah Syifa" jawab Umi


"Pinter juga kak Bani, pasti dia mau sekalian minta sarapan" ucap Fariz sambil tertawa.


"Kamu ini ya" ucap Umi seraya menahan tawanya.


"Oh iya, untuk keluarga kita kapan undangan di bagiin ?" tanya Fariz yang antusias dengan pernikahan kakaknya.


"Mulai hari ini Umi dan Abah akan menyebarkannya" jawab Umi.


Bani memarkirkan mobilnya di halaman rumah Syifa, pak umar yang sedang berada di luar pun langsung menyambutnya.


"Ayo masuk" ajak pak Umar.


"Bani gak lama ko, Bani cuma mau nganterin undangan ini saja" ucap Bani seraya menunjuk ke arah tumpukan undangan yang ada di dalam mobilnya.


Pak Umar memaksa Bani untuk masuk, Bani pun menurut saja, kemudian Syifa turun menghampiri ustaz Bani.


Bani,Syifa dan pak Umar pun membahas persiapan pernikahan yang di rasa sudah hampir tujuh puluh lima persen.karena sudah terlalu lama berada di rumah Syifa Bani pun pamit untuk berangkat ke kantornya.


Sepanjang perjalanan ponsel Bani terus berdering ternyata Aisha yang mengubunginya, karena merasa terganggu, Bani menepikan mobilnya dan langsung menjawab panggilan dari Aisha.


"Hallo Bani, ini aki Aisha, kenapa kamu gak pernah angkat telepon aku ?" tanya Aisha saat panggilannya di jawab Bani.


"Maaf aku lagi sibuk, nanti kalau sudah tak sibuk aku akan menghubungi mu, aku juga ingin bertemu dengan kamu, ada sesuatu yang harus aku sampaikan, tapi untuk sekarang aku belum bisa karena masih banyak kerjaan yang harus segera aku selesaikan, aku harap kamu bisa mengerti dan berhenti untuk menghubungi aku, jujur aku sangat terganggu, asalamualikum" ucap Bani langsung menutup teleponnya.


Bani menarik nafasnya, ini merupakan ujiannya menjelang hari pernikahannya. kemudian Bani melanjutkan perjalanannya menuju kantornya.

__ADS_1


Aisha terkejut saat tau Bani mematikan teleponnya secara sepihak. "Bani kenapa kamu sekarang berubah tak seperti yang aku kenal dulu, Bani aku masih mencintaimu, selama ini aku memperjuangkan cinta kita, dulu kamu bilang akan selalu menunggu aku kembali. tapi kenapa kamu berubah saat aku kembali, Bani kamu jangan bilang kalau sudah punya pasangan yang baru" gumam Aisha dalam isak tangisnya.


Kehidupan Aisha kini telah berubah, kedua orang tuanya sudah tiada, mereka berdua meninggal karena serangan jantung saat tau kisah hidup anaknya Aisha. Kini ia hidup bersama adiknya yang bernama Mikayla. Aisha dan adiknya kabur dari bali secara diam - diam. kini mereka kembali ke kota kelahiran mereka, Aisha mencoba mencari kerjaan agar bisa mengidupi dirinya dan adiknya, dan secara diam - diam juga Aisha mencari keberadaan Bani. Aisha ingin memperjuangkan kembali cintanya bersama Bani.


__ADS_2