Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 90


__ADS_3

Kenapa anak ini sedih sekali saat Abang menyebutkan aku istrinya, siapa anak ini. Gumam Syifa sambil terus memperhatikan wajah anak yang baru beranjak dewasa tersebut.


Anak yang baru beranjak dewasa itu pergi meninggalkan Bani dengan menahan air matanya. Syifa melihat dengan jelas jika anak tersebut berusha untuk tidak menangis, Bani dan Syifa terus memperhatikan kemana arah anak itu berlari hingga anak tersebut tak terlihat lagi oleh Syifa dan Bani.


"Abang kenal anak tadi ?" tanya Syifa penasaran.


"Abang gak kenal, Abang juga kaget ketika dia menarik tangan Abang" jelas Bani. Syifa pun menatap tajam ke arah suaminya.


"Jujur sayang, abang gak bohong ko" jelas Bani lagi, ia tahu jika istrinya tidak akan percaya begitu saja.


"Ah mungkin anak tadi mengira abang ini kakaknya" ucap Syifa lalu memasuki mobil, ia tak ingin ambil pusing dengan anak tadi, walaupun hati kecilnya penasaran siapa anak tersebut, namun Syifa menepisnya, keinginanya sekarang adalah cepat sampai rumah agar bisa menikmati rujak.


Selain Syifa, Bani juga penasaran dengan sosok anak tadi, kenapa anak tersebut mengenal dirinya atau itu semua sebuah kebetulan. tapi Bani tak ingin memikirkan hal itu karena takut istrinya akan berpikiran aneh - aneh.


Tiba di depan rumah Abi Umar, mata Syifa langsung berbinar - binar. rasa rindu pada keluarganya akan terobati, Syifa segera turun dari mobil dan langsung mengetuk pintu rumahnya.


Ummah membukakan pintu rumahnya, betapa terkejut dan bahagia bahwa ternyata yang datang adalah anak bungsunya. mereka pun berpelukan untuk melepaskan rasa rindu masing - masing.


"Kenapa kalian gak bilang kalau mau ke sini" ujar Ummah.


"Ini kejutan Ummah" ujar Syifa.


Bani menyalami mertuanya, Lalu masuk membawa dengan buah tangan yang mereka beli di pinggir jalan tadi.


"Abi mana ?"tanya Syifa.


"Abi lagi keluar sebentar" jawab Ummah.


"Kak Shela dan Kak Abian mana?".


"Mereka sedang ke rumah sakit, bagian jadwal kontrolnya" jawab Ummah.


"Ini ada buah - buahan, maaf kami datang tidak bawa apa - apa " ujar Bani seraya menunjukan kantong plastik yang berisikan buah - buahan.


"Ummah Syifa mau bikin rujak" ujar Syifa.


"Memangnya Syifa gak puasa ?" tanya Ummah


"Syifa tidak di anjurkan puasa, kemaren pas kontrol juga kandungannya agak lemah" jelas Bani. "Oh ya, kamar bawah ada yang kosongkan, kami tidur di kamar bawah saja, karena naik turun tangga tidak begitu baik untuk Syifa" sambung Bani.

__ADS_1


"Ada satu lagi, tapi belum sempat Ummah beresin, ya sudah nanti Ummah beresin dulu.


"Biar Bani yang beresin saja" ujar Bani.


"Iya Ummah biar abang saja, kita buat bumbu rujak saja" sahut Syifa yang sudah tak sabar ingin menikmati segarnya rujak buah.


Bani pun membereskan kamar untuk dirinya dan Syifa, sedangkan Ummah dan Syifa sibuk di dapur membuat sambal rujak dan menyiapkan buah - buahannya.


Ketika sudah selesai semua, Syifa membawa rujak tersebut ke dalam kamar yang sudah di bereskan oleh Bani.


"Mau makan rujak di mana ?" tanya Ummah.


"Di kamar saja, kalau di sini takut nanti ada orang, malu atuh orang - orang lagi pada puasa" ujar Syifa dan berlalu menuju kamarnya dan di ikuti oleh suaminya.


"mau ke mana lagi ?" tanya Bani saat melihat Syifa ingin membuka pintu kamarnya.


"Mau ambil air minum, lupa bawa tadi" jawab Syifa.


"Kamu di kamar saja, biar abang yang ambilin" sahut Bani.


"Minumnya ambil air putih satu botol dan minta es jeruk satu gelas ya" ujar Syifa.


Syifa menikmati sepiring rujak yang di buatnya bersama Ummah, Bani hanya memperhatikan istrinya yang begitu lahap memakan rujak tersebut, membuat imannya sedikit goyah.


"Abang jangan liatin Syifa terus, nanti abang mau lagi" protes Syifa.


"Habisnya kamu bakan rujaknya lahap banget, itu makan mangga emang gak asem " ujar Bani.


"Nggak asem ko, malahan seger bikin mata melek sayang" ujar Syifa.


Satu piring rujak sudah habis di makan Syifa, Saat Syifa akan menaruh piring kosongnya ke dapur, Bani melarangnya.


"Biar abang saja, kamu istirahat saja di kamar" ujar Bani sambil mengambil piring di tangan Syifa.


Bani keluar dari kamarnya lalu berjalan ke arah dapur untuk menaruh piring kotor.


"Bani, kamu habis makan" tegur Abian yang baru pulang.


"Hmm bukan ini bekas Syifa tadi makan rujak di kamar" jelas Bani.

__ADS_1


Mendengar suara kakaknya Syifa pun keluar dari kamarnya.


"Kakak" teriak Syifa seraya berlari menuju kak iparnya. mereka keduanya berpelukan.


"Hey kamu gak puasa ya" ledek Abian.


"Emang kenapa kalau gak puasa, orang kata dokter juga gak di anjurkan untuk puasa" jelas Syifa untuk membela dirinya. "Kak Shela puasa ?" tanya Syifa dan Shela pun langsung mengangguk.


"Yah kirain gak puasa, tadinya Syifa mau ajak makan rujak bareng" ujar Syifa.


"Dasar otaknya makan mulu" ujar Abian.


"Bilang saja kalau kakak pasti tergoda, panas - panas gini makan rujak, uhh nikmat pokoknya" ujar Syifa seraya membayangkan kembali sedang menikmati rujak.


"Ahh terserah kamu saja" ujar Abian dan berlalu menuju kamarnya.


Syifa dan Shela sedang saling bercerita tentang masa kehamilan mereka, Syifa banyak bertanya kepada kakaknya tentang kehamilan di trimester pertama, sedangkan Bani hanya menjadi pendengar setia.


Ummah sibuk di dapur untuk menyiapkan makanan untuk buka puasa nanti, hari ini Ummah harus memasak sendiri, karena Bi Ida sedang pulang karena ada saudaranya yang meninggal, awalnya Shela dan Syifa ingin membantu Ummah, namun keduanya di larang oleh Ummah karena Ummah tak ingin anak dan memantunya kecapean yang nantinya berakibat pada calon cucu mereka, alhasil Syifa dan Shela hanya menonton televisi dan saling bercerita tentang kehidan mereka.


Bani kini sedang di taman belakang bersama Abian, mereka lebih mengobrol ke arah tentang pekerjaan. tiba - tiba Abi Umar menghampiri Abian dan Juga Bani.


"Kayanya seru, kalian sedang membicarakan apa ?" tegur pak Umar.


"Hanya biacara tentang kerjaan saja" Sahut Abian.


"Oh iya Abi sudah pengen istirahat di rumah, menghabiskan masa tua bersama Ummah, Abi harap di antara kalian ada yang mau mengurus konveksi Abi" jelas Pak Umar.


"Itukan bagian Syifa, jadi gimana Bani kamu mau gak bantu di konveksi Abi ?" tanya Abian.


"Dalam bidang itu Bani gak paham sama sekali, tapi sekarang Bani lagi fokus ngembangin usaha Bani dan lagian jarak konveksi Abi dan tempat tinggal Bani cukup jauh. kenapa gak kak Abian saja yang urus" ujar Bani.


"Aku fokus ke cafe ku , aku pikir itu semua bagian Syifa, jadi tadinya aku berharap suaminya Syifa kelak yang akan meneruskan konveksi Abi" jelas Abian.


"Gimana kalau kalian saja yang urus berdua" usul pak Umar.


"Abian sih bisa - bisa saja, tapi paling nanti setelah Shela lahiran, kamu gimana ?" tanya Abian pada Bani.


...🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


__ADS_2