
Apa yang terjadi ya allah, kenapa dokter Della begitu serius menatap monitor tersebut. Gumam Asyifa dalam hati.
suasana di dalam ruangan itu begitu tegang, Bani yang sesekali menatap ke arah istrinya yang begitu cemas. Apapun yang terjadi semoga hamba dan istri hamba bisa kuat dalam mengadapi segala macam ujianmu. doa Bani dalam hatinya.
"Kapan terakhir ibu menstruasi ?" tanya Dokter Dilla.
"Sa sa saya lu lupa" jawab Syifa gugup.
"Apa istri saya baik - baik saja dok ?" tanya Bani yang ikut khawatir dengan kondisi sang istri.
"Istri ada baik - baik saja" jawab dokter seraya tersenyum. hal itu membuat Syifa bisa bernafas sedikit lega.
"Ibu silahkan perhatikan ke layar monitor yang ada di hadapan ibu" titah Dokter Dilla membuat Syifa kembali dag dig dug.
Dokter pun menjelaskan keadaan Rahim Syifa, tentunya penjelasan Dokter membuat Syifa dan Bani seperti sedang bermimpi.
"Dok gak salahkan ?" tanya Bani.
"Nggak ko, ini adalah kantong rahimnya, dan titik ini adalah calon dari anak kalian" jelas dokter.
Air mata Syifa langsung lolos begitu saja, ia merasa bahagia, kehadirannya tak di sadari dirinya membuat ia merasa bersalah karena sudah mempunyai pikiran buruk.
"Usia kandungannya sudah enam minggu, dan tolong di jaga ya dari pola makanannya dan juga aktivitasnya" jelas dokter Dilla.
Syifa dan Bani saling berpelukan, rasa syukur terus terucap dari bibir keduanya. Syifa dan Bani menyimak penjelasan dokter tentang kehamilan muda yang sangat rentan, apa lagi ini merupakan anak untuk Syifa dan Bani.
"Ini ada resep vitamin yang harus di tebus, Semoga janin dan ibunya sehat selalu" ucap dokter Dilla seraya menyerahkan selembar kertas resep obat.
"Terimakasih dok" ucap Bani dan Syifa berbarengan. lalu mereka mengantri untuk mengambil obat di bagian apotik.
"Inget kata dokter tadi, kamu gak boleh cape - cape ya" ucap Bani.
...*****...
Sudah hampir satu jam Fariz dan Rara menunggu kakaknya Rara, namun tak kunjung datang juga.
"Kenapa kamu gak lapor polisi ?" tanya Fariz.
"Biar kakak ku yang mengurusnya" jawab Rara.
Tiba - tiba ada seorang laki - laki datang menghampiri Rara dengan menunggunakan Topi hingga Fariz tak bisa melihat dengan jelas lelaki tersebut, namun dapat di pastikan jika laki - laki tersebut merupakan kakak dari Rara.
"Apa saja yang hilang ?" tanya lelaki tersebut.
"Tas, yang isinya dompet, kartu atm, ktp juga" jawab Rara.
__ADS_1
"Ponsel kamu ?" tanya lelaki itu.
"Ponsel masih ada tapi batreinya habis jadi mati deh" jawab Rara seraya menunjukan ponselnya yang mati.
"Kak, kenalin ini Fariz, tadi dia yang minjemin ponselnya buat menghubungi kakak" ujar Rara mengenalkan Fariz pada kakaknya.
"Saya Fariz" ujar Fariz memperkenalkan dirinya. lalu lelaki itu membuka topinya. "Kak Tama" ucap Fariz.
"Fariz".
"Apa kakak kenal dengan Fariz ?" tanya Rara.
"Ia kakak kenal dia adik dari Bani temen kakak yang beberapa bulan lalu menikah" jelas Tama.
"Bukankah nama Adik kak Tama itu Tiara yah ?" tanya Fariz yang bingung, pengetahuan Fariz bahwa Tama itu memiliki adik bernama Tiara yang sedang sekolah di luar negri.
"Nama Asliku Tiara tapi orang - orang sering memanggilku dengan sebutan Rara" jelas Rara.
Fariz sering mendengar cerita Tama tentang adiknya yang memilih sekolah di luar negri, bahkan karena khawatir Tama akan terbang seminggu sekali untuk mengunjungi adiknya.
"Terimakasih sudah nolongin Tiara ya" ucap Tama seraya menepuk pundak Fariz.
"Sama - sama kak" jawab Fariz. "Hmm kalau gitu, aku pamit pulang dulu ya". sambung Fariz.
"Tapi".
"Gak usah tapi - tapian" Sahut Tama. "Oh ya denger - denger kamu mau buka cabang, selamat ya" sambung Tama.
"Terimakasih, Insyallah Nanti pas pembukaan datang ya" Ujar Fariz.
"Insya Allah".
Setalah Fariz pulang, Tama dan Rara masih tetap berada di cafe. Tama mendengarkan kronologi adiknya yang di jambret.
"Kak emang usaha apa, ko mau buka cabang ?" tanya Rara penasaran.
"Faris dan Bani mendirikan resto Rafiz Familly, namun karena Bani sibuk di kantornya jadi untuk urusan Resto di serahkan pada pada Fariz. sekarang resto mereka sedang trend jadi Fariz ingin membuka cabang baru" jelas Tama.
"Jadi Resto itu milik Fariz ?" tanya Rara seakan - akan tak percaya.
"Iya, Emang kenapa ?" tanya Tama balik, bingung melihat Adiknya yang kaget saat mendengar resto itu ternyata milik Fariz.
"Gak papa" jawab. Rara cepat.
Akhirnya Rara dan Tama menuju kantor polisi untuk membuat surat kehilangan, agar bisa membuat Ktp baru dan juga memblokir kartu atmnya.
__ADS_1
...*********...
Fariz sudah sampai di rumahnya, namun ke adaan rumah itu sangat sepi. yang terlihat hanya ada Umi yang sedang menonton siaran televisi.
"Sepi sekali, yang lainnya pada ke mana ?" tanya Fariz.
"Abah lagi di pesantren, Bani dan Syifa lagi jalan - jalan sore" jawab Umi.
"Kak Bani dan Syifa jalan - jalan, bukannya Syifa lagi sakit ?" tanya Fariz heran.
"Katanya sih sudah sembuh" sahut Umi.
Lalu Fariz pergi ke kamarnya untuk membersihkan badanya, yang tadinya ingin langsung menceritakan tentang restonya namun karena keluarganya belum kumpul maka Fariz pun mengurungkan niatnya untuk bercerita, pikirnya nanti saja kalau habis makan malam, karena itu moment keluarganya akan berkumpul.
Sebelum pulang Bani dan Syifa mampir terlebih dahulu ke supermarket, Bani dan Syifa membeli susu hamil dan juga makanan yang lainnya seperti buah - buahan. Bani dan Syifa nyampe rumahnya sudah hampir magrib. mereka pun langsung pergi ke kamarnya untuk siap - siap shalat magrib, kantong belanjaan mereka di biarkan begitu saja dalam mobil.
Selesai Shalat, mereka memanjatkan doa atas anugrah terindah, lantunan doa - doa terus terucap dari bibir Bani sesekali Bani mengucap perut istrinya yang masih rata, Air mata Syifa mengalir, air mata kebahagiaan setelah mendapat begitu banyak cobaan di awal pernikahan,dan bisa mereka lalu bersama - sama.
Keluarga sudah berkumpul di ruangan keluarga atas permintaan Fariz, membuat Umi dan Abah merasa penasaran sebenarnya apa yang akan di bicarakan anak bungsu mereka.
Fariz mulai menceritakan tentang niatannya membuka cabang restonya, namun Fariz belum menentukan kapan acara pembukaan itu berlangsung karena masih dalam persiapan. hal itu di sambut bahagia oleh Abah dan Umi, mereka merasa bangga karena akan sulung mereka sukses dalam pekerjaannya.
"Jangan bubar dulu ada sesuatu yang akan Bani sampaikan" ujar Bani pada anggota keluarganya.
Pasti Bani mau ngajak Syifa pindah kerumah bsru mereka. gumam Umi dalam hatinya.
"Sejujurnya Bani dan Syifa tadi tidak jalan - jalan, maaf jika Bani membohongi kalian semua" ucap Bani memohon maaf telah berbohong.
Pasti mereka tadi pergi kerumah baru mereka. ucap Umi dalam hatinya.
"Tadi Bani dan Syifa pergi ke dokter. . . ".
"Apa sakit Syifa tambah parah ?" tanya Umi memotong pembiaraan Bani.
"Biarkan Bani menyelesaikan dulu ceritanya" nasehat Abah pada istrinya.
"Syifa baik - baik saja, Tadi kita pergi ke dokter untuk konsultasi soal ke hamilan. namun waktu pemeriksaan ada sesuatu yang membuat kita terkejut" ucap Bani terhenti.
Apa Syifa ada masalah dalam rahimnya sehingga ia tak bisa hamil. Gumam Umi dalam hatinya.
"Ternyata Syifa Hamil" teriak Bani bahgaia.
"Alhamdulilah" ucap Abah,Umi dan Fariz secara bersamaan.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1