Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 104


__ADS_3

"Iya memang kamu yang salah, mamah maafkan perbuatan kamu kali ini, karena ini pertama kalinya kamu bertemu dengan tante Lusi, kedepanya jangan ulangi lagi hal seperti ini" ujar mamah Erni.


"Mamah juga minta maaf" titah Robby.


"Kenapa mamah harus minta maaf ?" perintah Robby membuat mamah Erni bingung.


"Karena mamah selalu menuntut Salwa segera hamil, jadi Salwa merasa tertekan" jelas Robby.


"Jika mamah tidak meminta maaf, maka Robby dan Salwa tidak akan pernah datang ke sini lagi, bahkan Robby melarang mamah untuk datang ke apartemen" ancam Robby.


"Iya mamah minta maaf" ujar Mamah Erni ketus.


"Mah, yang bener !" bentak Robby.


"Mamah minta maaf kalau ada salah" ujar mamah Erni dengan senyuman yang sangat terpaksa.


"Ini sudah malam, kita mau pulang dulu" ujar Robby.


"Kenapa gak nginep di sini saja" tawar mamah Erni.


"Kapan - kapan saja" ujar Robby lalu pamit untuk pulang.


sepanjang perjalanan Salwa tak banyak bicara, pikirannya melayang - layang. hatinya bertanya tanya salahkah dirinya tadi berkata seperti itu namun itu semua terjadi di luar kendalinya.


Sampai apartemen Salwa langsung membersihkan dirinya begitu pun Robby, mereka masuk ke kamar mandi secara bergantian. Salwa merebahkan tubuhnya di atas kasur. lelah, emosi, kecewa, sakit hati, bercampur menjadi satu.


"Lupakan kejadian tadi, jangan terlalu di pikirkan apalagi di masukkan ke dalam hatinya, jangan sampai kamu sakit gara - gara masalah ini" ujar Robby saat melihat istrinya tengah melamun di atas tempat tidur.


"Maafkan aku atas semua kejadian tadi, maaf jika perilaku ku mencoreng nama baik keluarga kamu, itu semua bener - bener di luar kendali ku" jelas Salwa dengan raut wajah yang sedih.


"Sudah jangan di bahas lagi, lebih baik kita istirahat" sahut Robby yang sudah merasa ngantuk dan juga lelah. namun berbeda dengan Salwa yang masih terngiang - ngiang kejadian tadi yang membuat dirinya merasa terhina dan tidak ada harga dirinya.


Salwa tak mampu memejamkan matanya hingga dini hari, Salwa pun memutuskan untuk shalat malam meminta ketenangan hatinya.


...*****...


Di rumah pak Umar, Ummah sedang bersiap - siap membuat menu makanan untuk menyambut ke datangan keluarga kyai Hasan, sedangkan Shela dan Abian sedang jalan - jalan pagi mengelilingi komplek perumahan, Syifa membantu Ummah di dapur, sementara Abi dan Bani sedang duduk santai di taman belakang.


tak banyak menu makanan yang di masak namun cukup untuk menyambut keluarga besannya.


"Nak kamu nanti ikut pulang ?" tanya Ummah.


"Iya ummah" jawab Syifa.

__ADS_1


Ada rasa sedih di hati Ummah saat anak - anaknya akan meninggalkan rumah yang telah membesarkannya, dirinya akan kesepian, namun ia tak boleh egois karena bagaimana pun kini anak - anaknya telah memiliki keluarga.


Waktu terus beranjak, tamu yang di tunggu pun tiba pukul sebelas siang, Abi Umar dan Ummah menyambutnya besan mereka.


"Kak Zahwa tidak ikut ?" tanya Syifa yang tak melihat keberadaan sang kakak ipar.


"Ia sudah berangkat tadi pagi menuju kota kelahiran suaminya" jelas Umi.


"Hmmm padahal aku sudah menyiapkan jelly untuk Zyan" gumam Syifa pelan. dan untungnya tidak ada yang mendengarnya.


Ketika mereka sedang bercengkrama tiba - tiba saya perut Syifa mengalami kram, membuat semua orang panik, dan untungnya kram itu tak berlangsung lama.


"Apa kita ke dokter saja" ujar Ummah yang mengkhawatirkan kondisi anaknya.


"Gak perlu, sepertinya Syifa hanya perlu istirahat" ujar Syifa yang meringis menahan sakitnya.


"Bani, bawa Syifa ke kamar" titah Umi.


Tubuh Syifa yang tak terlalu besar, membuat Bani dengan gampang menggendong Syifa menuju kamarnya, dan membaringkannya di tempat tidur.


Sebelum melakukan makan siang pak Umar terlebih dahulu mengajak keluarga Kyai Hasan untuk melaksanakan Shalat dzuhur dan setelah itu di lanjut makan siang bersama.


Syifa dan Bani memilih melaksanakan shalat di kamar, karena Bani tak ingin meninggalkan istrinya sedetik pun. selain Shalat mereka pun makan siang di kamar.


Selesai makan siang Fariz mengetuk pintu kamar sang kakak.


Fariz pun masuk ke kamar kakaknya dengan ragu - ragu. " Kakak pulang hari ini kan ?" tanya Fariz.


"Entahlah, kakak khawatir Syifa perutnya kram" jawab Bani.


"Aku sudah baik - baik saja" sahut Syifa. "Memangnya kenapa kalau kami pulang hari ini ?" tanya Syifa penasaran.


"Hmmm kalau kalian pulang hari ini, maka aku akan pulang duluan dan nanti Abah dan Umi pulang bareng kalian" jelas Fariz dengan ragu - ragu, namun hal itu membuat Bani penasaran.


"Kamu mau ke mana memangnya ?" tanya Bani penuh selidik.


"Hmmm mau ke anu" ucap Fariz.


"Anu apaan sih, yang jelas ngomongnya" titah Bani.


"Anu itu aku mau ketemu sama Zidan, ya aku sudah janjian sama Zidan" ucap Fariz berbohong.


"Zidannya perempuan apa laki - laki ?" tanya Bani lagi.

__ADS_1


"Masa kakak gak kenal Zidan, dia asisten ku resto" jelas Fariz.


"Ya kali saja Zidannya berubah menjadi perempuan, Ya sudah terserah, tapi izin dulu sama Abi dan Umi" ujar Bani.


"Oke"Jawab Fariz senang,dan langsung berlari menuju ruang tamu, dimana keluarganya sedang berkumpul.


"Umi, Abah, nanti pulangnya bareng kak Bani, Fariz ada urusan, jadi harus pulang duluan" ujar Fariz.


"Urusan apa ? ini kan masih suasana lebaran ?" tanya Abah.


"itu mau ketemu Zidan penting Abah" ujar Fariz.


"Fariz juga sudah bicara dengan kak Bani, kata kak Bani terserah tapi harus Izin dengan Abah dan Umi" jelas Fariz.


Setelah mendapat izin, Fariz pun meninggalkan kediaman pak Umar dengan riang gembira, dan memberi kabar apa Rara jika dirinya akan segera menuju rumahnya.


"Begitulah anak bungsu kami, ia lebih memilih kehidupan di luar pesantren, di suruh ngurus administrasi pesantren saja gak mau apalagi suruh ngajar seperti kakaknya, katanya itu bukan bidangnya" jelas Kyai Hasan sambil tertawa.


"Ya sama saja, Abian suruh urus konveksi saya malah lebih milih buka cafe" ujar Abi Umar.


"Walaupun satu turunan, tapi mereka berbeda beda" ujar Kyai Hasan sambil tertawa.


...*****...


Perjalanan menuju rumah Rara cukup memakan waktu, dan untung saja jalanan tak begitu macet membuat Fariz bisa memacu kendaraan dengan kecepatan sedang.


"Apa keluarganya akan menyambutku dengan baik, bagaimana kalau keluarganya malah mengusirku" gumam Fariz.


"Aku harus mencari buah tangan, masa ia aku datang dengan tangan kosong, sungguh memalukan" gerutu Fariz.


"Tapi apa ya ?" tanya Fariz pada dirinya sendiri.


Fariz terus berpikir buah tangan apa yang aian di bawa ke rumah Rara, hingga ia menemukan sebuah Mall besar yang buka, ia pun punya ide untuk masuk ke mall tersebut dan mencari buah tangan.


Fariz memilih beberapa kotak kue dan juga donat sebagai buah tangannya, setelah mendapatkan buah tangannya Fariz segera meninggalkan Mall untuk menuju rumah Rara.


Tiba di rumah Rara setelah adzan Ashar, untung di dekat rumah Rara ada sebuah mushola hingga Fariz menyempatkan untuk Shalat terlebih dahulu dan juga menyiapkan mental bertemu keluarga Rara, karena menurut Rara masih ada beberapa tantenya yang belum pulang.


Dengan perasaan cemas Fariz memberhentikan mobil miliknya di depan rumah Rara, dan terlihat kakaknya Rara yaitu Tama sedang duduk santai di depan rumahnya.


"Asalamualaikum" ucap Fariz saat memasuki halaman rumah Rara.


"Ada Tamu tak di undang nih" ujar Tama tentunya membuat nyali Fariz langsung menciut.

__ADS_1


Apa ini sebuah tanda kalau kak Tama tak merestui aku untuk mendekati adiknya. gumam Fariz dalam hatinya.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2