Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 204


__ADS_3

Seluruh tulang persendiannya terasa luluh lantah mendengar penjelasan dari Bani. bibirnya mengatup rapat, ibarat tersambar petir di siang bolong, pertahanannya roboh, tumbang dengan segala kenyataan yang menyesakan dada.


Dengan sigap Abi Umar menopang badan sang istri yang tak sadarkan diri. kemudian di bawa ke tempat duduk di ruang tunggu, Umi mencoba menyadarkan Ummah, sedangkan Bani perasaannya semakin hancur melihat mertuanya tumbang. sebagai lelaki yang harus melindungi wanita, ia merasa telah gagal melindungi istri dan juga mertuanya.


Bani menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya, ia tak memiliki lagi kekuatan, menangis meskipun dengan begitu ia terlihat seperti orang yang tak beriman.


"Harus kuat nak, bagaimana Syifa mau kuat jika kamunya saja seperti ini" Abah Hasan mendekati anaknya, mencoba menguatkan anaknya.


"Bani telah gagal jadi seorang kepala rumah tangga, Bani gagal melindungi istri Bani" ucap Bani lirih dengan derai air matanya.


"Semua ini sudah takdir yang tak akan pernah bisa kita hindari" ujar Abah mencoba menasehati anaknya agar bisa kiat dalam menghadapai cobaan ini.


Pintu ruang operasi di buka, Syifa siap di pindahkan ke ruang Icu, alat - alat kesehatan menepel di tubuh Syifa. suasana di luar ruangan itu pun kini semakin haru biru.


"Nak kamu harus kuat, si kembar masih membutuhkan kamu" ucap Umi lirih.


Karena tak kunjung sadar, Ummah di bawa ke ruang igd untuk mendapatkan perawatan yang terbaik, sedangkan Umi dan Abah mereka sedang melihat cucu mereka dari luar ruangan khusus bayi.


Malam ini begitu terasa panjang untuk mereka lewati, tak ada rasa ngantuk yang menghampiri mereka, Bani masih menggungu kabar terbaru dari sang istri.


"Syifa Abi, Syifa" ucap ummah lirih ketika membuka matanya.


"Syifa baik - baik saja" sahut Abi Umar, ia tak meninggalkan istrinya walaupun hanya sedetik.


"Ummah ingin melihat anak dan cucu kita ! seru Ummah, ia bangun dari posisi duduknya. sakit di kepalanya sudah tak ia rasakan.


"Ummah harus sehat dulu, Syifa akan sedih jika melihat Ummah dengan kondisi seperti ini".


"Tapi Ummah ingin melihat keadaan mereka".


"Nanti kalau cairan infusnya sudah habis baru boleh melihat mereka, bagaimana Ummah mau gendong cucu kembar kita jika Ummahnya saja lemas begini" Abi Umar terus membujuk istrinya agar mau mendengarkan kata -.katanya. bukan karena apapun tapi Abi Umar khawatir jika sang istri akan bertambah drop jika melihat kondisi Syifa.


Ummah mengangguk, ia merasa sedikit kecewa karena suaminya melarangnya untuk bertemu dengan anak dan cucunya, tapi tak di pungkiri Ummah juga merasa badannya masih lemas.

__ADS_1


Semua keluarga kecuali Abi umar dan Ummah, mereka setia menunggu di depan ruang icu, tak ada satu pun di antara mereka yang memejamkan matanya. mereka masih menunggu kondisi Syifa.


Jam empat, seseorang dokter yang menangani Syifa datang menghampiri keluarganya.


"Dok bagaimana kondisi istri saya ?" Tanya Bani.


"Pasien masih kritis namun keadaanya masih stabil" jelas sang dokter.


"Dok apa boleh saya melihatnya ke dalam ?" tanya Bani lagi.


"Tentu saja boleh, tapi waktu berkunjungnya di batasi dan jumlah orang maksimal dua orang saja, itu di lakukan untuk menjaga kondisi pasien agar tetap stabil" jawab sang dokter seraya tersenyum. "Saran saya, berilah dia motivasi untuk sadar dan juga tentunya bantu dengan doa" sambung sang dokter.


"Baik dok, saya paham" Bani sangat senang bisa melihat sang istri secara langsung.


"Oh, Iya, ada yang harus saya sampaikan juga".


"Apa itu ?" tanya Umi penasran.


"Apa Syifa harus segera mendapat donor darah ?" tanya Umi lagi.


"Lebih cepat lebih baik"sahut sang dokter.


"Baiklah, nanti jika ada yang sama dan bersedia mendonorkan darahnya, kami akan memberi kabar pada dokter" ujar Bani.


"Saya tunggu segera !".


Dokter pun berlalu dan seorang perawat datang untuk mengantar Bani menemui sang istri.


"Umi ikut ya" ujar Umi.


Sebelum masuk ruangan tempat Syifa di rawat, Umi dan Bani di persilahkan untuk menggunakan baju khusus terlebih dahulu. setelah itu baru mereka masuk.


"Waktunya hanya dua puluh menit saja !" Seru sang perawat, Bani dan Umi pun mengangguk tanda mengerti.

__ADS_1


Bani duduk di samping tempat tidur sang istri, lalu di belai lembut wajah sang istri hingga cairan bening itu lolos mengalir di pipinya.


"Sayang bangun, lihat anak kita sangat lucu, mereka rindu akan sosok Ummahnya" ujar Bani Lirih. "Sayang kamu telah berhasil melahirkan anak kita, maka dari itu cepet bangun, jangan tidur terus, buah hati kita ingin di gendong oleh Ummahnya, katanya masa Abinya terus yang gedong, Ummahnya kok malah enak - enakan tiduran saja". sambung Bani. ia bener - bener tak kuasa menahan tangisnya.


"Jangan menangis, Syifa pasti sedih nak" ujar Umi memberitahu, Bani pun segera menghapus buliran bening tersebut.


"Nak, bangun. jangan terlalu lama ya tidurnya, kasian anak - anak kamu butuh sosok seorang ibu, katanya bosan di gendong terus sama neneknya" ujar Umi, ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya.


Umi keluar terlebih dahulu karena ia tak sanggup jika melihat lama keadaan Syifa. waktu kunjungan masih ada sepuluh menit lagi, Bani pun memanfaatkan dengan membaca alquran yang di berikan Abah Hasan ketika ia akan masuk ke dalam ruangan icu.


"Sayang, abang jaga buah hati kita dulu, kamu cepat bangun ya, biar kita bisa jagain anak kita bareng - bareng" ujar Bani lalu mendaratkan satu kecupan di kening sang istri dan setelah itu ia berlalu meninggalkan ruangan icu karena waktu yang di berikan sudah habis.


Usai mengunjungi sang istri, Bani kini memilih untuk mengunjungi ruang perawatan di mana mertuanya di rawat.


"Bani, ada apa nak ?" tanya Abi Umar pelan, karena istrinya sedang terlelap tidur.


"Bani mau bicara, sama Abi" ujar Bani ikut mengecilkan volume suaranya.


Abi Umar pun mengajak Bani untuk ngobrol di luar, karena jika mereka bicara di dalam akan menganggu istrinya yang sedang tidur.


"Ada apa nak dan bagaimana kondisi Syifa ?".


"Syifa masih seperti semalam, kalau Ummah bagaimana, maaf Bani baru sempet ke sini sekarang" ujar Bani.


"Ummah hanya syok, insya allah besok sudah baikkan. tidak apa - apa nak, Abi titip Syifa, Abi belum bisa jenguk Syifa karena harus nungguin Ummah".


"Oh iya, tadi kata dokter Syifa perlu donor darah, tapi stok golongan darah yang sama dengan Syifa sedang habis" jelas Bani.


"Apa kondisi Syifa sangat parah, hingga memerlukan donor darah ?".


"Keadaan Syifa stabil Abi, tapi untuk mempercepat proses kesembuhan Syifa, agar bisa cepat melewati masa kritisnya".


"golongan darah yang sama dengan Syifa adalah Ummah" ujar Abi.

__ADS_1


__ADS_2