Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 70


__ADS_3

Bani menyerahkan pekerjaannya pada Tio sedangkan masalah pembakaran kantornya ia serahkan pada Tama dan juga timnya. untuk masalah Aisha, Bani menganggapnya sudah beres apalagi Aisha sekarang tak pernah datang lagi ataupun menghubunginya.


Untuk menyenangkan hati sang istri, Bani mengajak Syifa untuk menginap beberapa hari di rumah Abi Umar dan Ummah, Hal itu di sambut bahagia oleh Syifa karena sudah hampir seminggu Syifa tidak bertemu keluarganya. Bani dan Syifa pun mengemasi barang yang akan mereka bawa ke rumah Abi Umar dan Ummah.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Abi dan Ummah, raut wajah Syifa berseri - seri membuat Bani gemes sendiri melihat wajah Syifa. karena jalanan tak terlalu macet, Syifa dan Bani sampai ketika ba'da dzuhur. ke datangan mereka pun sudah di tunggu oleh Ummah.


"Abi mana ?" tanya Shela karena yang menyambutnya cuma Ummahnya saja.


"Abi, lagi kerja nak" jawab Ummah.


Bani menurunkan barang bawaan yang mereka bawa, kemudian Bani menaruhnya di kamar Syifa. Bani untuk pertama kalinya masuk ke dalam kamar istrinya. kamar Syifa rapih, bersih dan terawat. Bani meletakan koper di dekat meja rias, lalu kembali ke ruang keluarga dimana istri dan mertuanya sedang melepas rindu.


mereka makan siang hanya bertiga, karena Abian dan istrinya sedang berkunjung ke rumah orang tua shela sedangkan Abi Umar sedang bekerja dan akan pulang nanti sore, Syifa mengajak Bani untuk bersantai di taman belakang rumahnya.


"Ini yang nanam bunga siap ?" tanya Bani.


"Siapa lagi kalau bukan Ummah, kata Ummah untuk mengisi ke kosongan saja, kalau lagi di tinggal Abi kerja" jawab Syifa santai.


Hampir satu jam Syifa dan Bani berada di taman belakang, dengan antusias Syifa menceritakan tentang dirinya di mana kecil, kadang cerita tersebut membuat Bani semakin gemas pada Syifa, ingin sekali ia menikmati tubuh indah sang istri, namun hasrat itu harus Bani tahan beberapa hari lagi hingga tamu tersebut bener - bener sudah tidak ada. dari balik jendela sepasang mata memprhatikan Syifa dan Bani, Ummah merasa senang, perlakuan Bani terhadap Syifa membuat Ummah merasa tenang saat melepas Syifa.


Adzan Ashar berkumandang. membuat mereka melangkahkan kaki masuk ke kamar mereka. "Abang mau ke mesjid ya" izin Bani pada istrinya.


"Gak shalat dirumah saja" ujar Syifa.


"Shalat berjammah lebih baik sayang" ucap Bani tentunya membuat Syifa langsung merah merona, karena untuk pertama kalinya Bani memanggilnya sayang secara langsung.

__ADS_1


"Ya sudah terserah Abang saja" ucap Syifa lalu Bani pamit untuk ke mushola di dekat rumah Abi Umar.


Setelah kepergian Bani, Syifa langsung masuk kamar mandi, Syifa langsung membersihkan tubuhnya dan mandi besar karena tamunya sudah hilang.Syifa pun melaksanakan shalat sendiri di kamarnya, saat Bani kembali dari mushola ia kaget saat masuk kamar, ia melihat istrinya sedang melaksanakan Shalat. Bani langsung mengganti baju koko dan sarungnya dengan pakaian santai.


"Tamu kamu sudah gak ada ?" tanya Bani saat Syifa telah selesai Shalat.


"Dari tadi pagi juga sudah gak ada, Syifa tadi shalat dzuhur namun datang lagi dikit, lalu mandi lagi sekarang, mudah - mudahan bener - bener gak ada" jelas Syifa seraya melipat mukenanya.


"Tau gitu kita shalat berjammah di rumah" ucap Bani.


"Nanti saja magrib, mudah - mudahan gak datang lagi biar gak mandi lagi" ujar Syifa yang ikut duduk di pinggir kasur.


Sebelum keluar dari kamar, Syifa meminta Bani agar tidak menceritakan masalah Aisha pada orang tuanya, Bani pun setuju karena takut menjadi beban pikiran untuk kedua orang tuanya.


Syifa berlari menuju Abinya, sedangkan Bani hanya berjalan saja.


"Sudah lama di sini ?" tanya Abi Umar.


"Baru tadi siang sampai" ucap Syifa masih memeluk Abinya.


"Jangan lama peluknya kasian suami kamu nanti cemburu" goda Abi umar pada pasangan pengantin baru itu.


"Abiii !! seru Asyifa. yang lain hanya bisa tertawa melihat tingkah Syifa.


Pak Umar menanyakan kasus tentang kebakaran itu, Bani menjelaskan sesuai kedaan. "Kami doakan kalau emang ini di sengaja, semoga pelakunya cepat ketangkap". doa Abi Umar. dan di aminin oleh Bani, Syifa dan juga Ummah.

__ADS_1


Bani dan Syifa sedang bersiap untuk Shalat magrib berjamaah, namun tiba - tiba Abi Umar mengajak Bani untuk Shalat berjamaah di mushola, Bani pun tak sanggup menolaknya, ada rasa kecewa namun Syifa menyikapinya dengan senyuman.


pukul sepuluh malam Syifa dan Bani masuk ke kamar mereka. seperti biasa mereka selalu membersihakan diri dan mengganti baju mereka sebelum tidur, bahkan Syifa kadang memakai serangkaian perawatan untuk wajahnya sebelum tidur.


"Maaf tadi abang gak bisa nolak ajakan Abi" ucap Bani tak enak hati pada istrinya.


"Gak papa ko, santai saja" ucap Syifa.


Bani memeluk istrinya yang sedang duduk di depan meja rias. pelukan yang selalu Asyifa rindukan, Syifa pun terhayut dalam dekapan hangat sang suami. "Makasih sudah mau menjadikan Syifa sebagai istri Abang" ucap Syifa lirih.


Kini Bani menggendong Syifa ke atas tempat tidurnya, tangan Bani menangkup kedua pipi Asyifa, di usap lembut wajah sang istri membuat bulu kunduk Syifa berdiri, berdesir hebat aliran darahnya. "harusnya Abang yang berterima kasih, karena kamu sudah memilih Abang. kenapa Allah memilikan Syifa buat abang ?, Karena Syifa adalah perempuan baik - baik, perempuan terhormat. dan perempuan terhormat itu di muliakan bukan hanya dengan hadiah kado atau pun coklat tapi dengan akad".


Ucapan Bani benar - benar menggetarkan jiwa Asyifa. sederhana, namun memberi makna dan pesan yang mendalam.


Ya Robbi, betapa bahagianya hati Asyifa saat ini, begitu banyak nikmat yang telah Allah limpahkan. mendapatkan jodoh di usia yang masih terbilang muda yaitu sembilan belas tahun, suami yang paham agama dan senantiasa menjaga ketakwaannya. Maka nikmat mana lagi yang harus ia dustakan.


Bani mengecup kening istrinya, lalu turun ke bibir manis milik istrinya, Syifa menikmati setiap sentuhan yang di berikan Bani. perlahan Bani membuka kerudung milik istrinya dan melemparkannya ke sembarang arah, sentuhan lembut yang Bani berikan membuat Syifa semakin melayang. " Sekarang boleh ya" bisik Bani di telinga sang istri.


Asyifa mengangguk pelan, tentu dalam hatinya merasa takut, namun setuhan Bani yang begitu halus membuat Asyifa tak dapat menahan suara kenikmatan tersebut. Bani pun menikmati bibir sang istri yang terasa manis menurutnya, Bani tak menyia - nyiakan kesempatan ini, karena sudah tertunda hampir delapan hari, membuat Bani begitu antusias saat tahu tamu istrinya sudah menghilang. rasa yang selama ini Bani tahan akhirnya bisa tersalurkan.


🍃🍃🍃🍃🍃


Hallo semuanya para readers. maaf kalau cerita ini terlalu berbelit - bekit, dan terimakasih juga yang sudah menyampaikan saran dan kritikannya, insyallah kedepannya Auhtor akan memperbaiki ceritanya.


Jangan lupa Like dan juga hadiahnya, mungkin itu tanda kalau para readers menghargai karya Author.

__ADS_1


__ADS_2