
"Ada yang mau kamu beli gak " ujar Bani pada sang istri.
"Gak ada yang menggoda sepertinya" sahut Syifa yang memperhatikan penjual di sepanjang jalan.
"Cuma abang yang menggoda, iya kan" ledek Bani.
"Terserah Abang saja" ujar Syifa. "Abang kita mampir ke toko buah yang kemaren yah, Syifa mau beli buah - buahan, dan " ucapan Syifa terhenti.
"dan Apa ?" tanya Bani penasaran.
"Dan kali saja bisa bertemu dengan anak yang kemaren, aku masih penasaran siapa anak tersebut" ujar Syifa.
"Sebenarnya Kamu mau beli buah apa ketemu anak kemaren ?".
"Menyelam sambil minum air, Beli buah sambil ketemu anak kemaren,"
"Dasar kamu ini ya" ujar Bani gemes.
"Emang abang gak penasaran sama anak yang kemaren ?"tanya Syifa.
"Biasa saja, mungkin anak itu salah orang" ujar Bani bohong, walaupun ia menasaran tapi ia tak ingin istrinya mengetahui hal itu, Bani takut jika istrinya akan cemburu.
Sampai di toko buah yang ke maren, Syifa dan Bani langsung memilih - milih buah - buahan yang akan mereka beli, setelah membayar buah - buahan tersebut Bani pun memasukannya ke dalam mobil.
"Ayo pulang, malah bengong saja" tegur Bani.
"Nanti dulu, Syifa masih penasaran dengan anak kemaren" ujar Syifa.
"Tapi anak itu tidak ada di sini, mungkin kemaren sebuah kebetulan saja" ujar Bani.
Akhirnya setelah menunggu hampir lima belas menit, Syifa pun memutuskan untuk pulang saja, menunggu sesuatu yang tak pasti membuatnya sia - sia dan buang waktu saja.
"Sudah jangan pikirkan lagi soal anak itu" ujar Bani.
"Siap pak bos" ujar Syifa seraya menghadap ke suaminya lalu memberi hormat seperti hormat pada bendera kebangsaan.
Ponsel Bani berdering, kemudian Bani menepikan terlebih dahulu mobilnya di pinggir jalan, untuk melihat ponselnya.
"Siapa ?" tanya Syifa.
__ADS_1
"Tama" jawab Bani.
Dengan segera Bani menjawab panggilan dari Tama, lalu Tama pun menceritakan maksud kenapa dirinya menghubungi Bani, dengan wajah yang serius Bani pun mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Tama, raut wajah Bani berubah dari yang serius kini Bani memasang wajah keterkejutannya, membuat Syifa penasaran, apa yang sedang suaminya bicarakan dengan temannya itu. tak lama Bani mengakhiri panggilannya dan kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Syifa masih menunggu Bani cerita, namun hingga mereka sudah sampai pesantren Bani tak sedikit pun menceritakan apa yang tadi dirinya biacarakan dengan Tama.
"Hmm, Apa Abang gak mau cerita, kenapa tadi Tama menghubungi abang ?"tanya Syifa.
"Nanti saja ya ceritanya, sekarang kita turun saja dulu" ujar Bani.
Syifa pun nurut dengan perkataan suaminya, walaupun ia sebenarnya penasaran apa yang di bicarakan antara suaminya dengan Tama.
kedatang Syifa dan Bani di sambut oleh kedua keponakannya yang sedang bermain bersam Fariz di halaman depan rumah.
"Fariz kamu memang sudah cocok" ujar Bani saat melihat Fariz sedang main kejar - kejaran dengan keponakannya.
"Om. . Atee. . . " teriak Zayn saat melihat Bani dan Syifa.
Bani menghampiri keponakan kecilnya "Main sama om Fariz dulu, Om sama tante mau istirahat dulu" ujar Bani.
"Baik om" ujar Zayn dan kemudian kembali berlari mengampiri Fariz.
Bani masuk ke dalam rumah dan di ikuti oleh Syifa, sebelum menuju kamarnya Bani terlebih dahulu pergi ke dapur untuk menaruh buah - buahan yang tadi di belinya.
"Nanti malam pulangnya" jawab Zahwa yang masih sibuk dengan kegiatan memasaknya. "Syifa mana ?" tanya Zahwa.
"Syifa ke kamar, katanya mau mandi" jelas Bani.
"Kehamilan Syifa masih muda sekali, sebaiknya kamu jangan sering - sering bawa Syifa pergi keluar, itu kurang baik untuk kehamilannya" jelas Zahwa menasehati adiknya.
"Iya Fariz tahu kak" jawab Fariz.
"Kakak bicara seperti itu bukan tidak suka kalian pergi - pergi tapi kakak mengkhawatirkan calon anak kalian" jelas Zahwa.
Bani pun hanya mendengarkan apa yang di katakan kakaknya, dan sesekali Bani menganggukan kepala tanda bahwa dia mengerti apa maksud yang di bicarakan kakaknya.
Bani berlalu menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya, ketika masuk kekamar ternyata istrinya baru saja selesai mandi dan sedang berdandan di depan meja rias.
"Cepetan mandi sudah sore, dan Abang juga belum shalat asharkan" ujar Syifa.
__ADS_1
"Kamu sudah shalat ?" tanya Bani.
"Maaf tadi Syifa shalat duluan karena Abang lama sekali" jawab Syifa.
"Maaf tadi Abang bicara sebentar dengan kak Zahwa" jelas Bani.
"Ya sudah sekarang mandi dulu nanti baru cerita lagi" titah Syifa pada Suaminya.
Selesai berdandan Syifa pun menghampiri Umi dan kakak iparnya yang sedang mempersiapkan menu makanan dan takjil untuk berbuka puasa.
"Syifa bantu ya" ujar Syifa.
"Kamu gak istirahat saja, kan tadi perjalanan kamu lumayan jauh juga" ujar Zahwa.
"Syifa baik - baik saja, apalagi setelah mandi tambah seger" Sahut Syifa.
"Ya sudah kamu duduk di kursi meja makan, bantu kupas buah - buahan saja buat bikin sop buah" jelas Zahwa.
Syifa pun dengan semangat membantu mengupas buah - buahan dan juga memotongnya, Syifa melakukan semua itu dengan senang hati, karena biasanya kalau Syifa ingin membantu pekerjaan dapur selalu di larangnya dengan alasan takut membuat Syifa kecapean.
Kekompakan Syifa, Zahwa dan Umi di dapur tak luput dari perhatian Abah, Tommy, Bani dan Fariz, mereka memperhatikan para perempuan yang berada di dapur dari ruang televisi.
"Fariz lihat mereka sangat kompak, kapan kamu akan menambah personil" ujar Tommy.
"Haha di kira band nambah personil" ujar Fariz.
"Fariz jika kamu menambah personil maka beban mereka juga akan berkurang" jelas Bani seraya menahan tawanya.
"Kalian ini sedang membicarakan apa sih" Sahut Fariz yang pura - pura tidak mengerti.
"Fariz kamu yakin itu cewek gak bakalan di kenalin ke kita - kita" goda Bani.
"Cewek yang mana, gak usah ngada - ngada ya" sahut Fariz mencoba menyembunyikan ke panikannya, karena ia takut kedekatanya dengan Rara akan di bongkar oleh Bani yang merupakan sahabat dari kakaknya Rara. "harusnya aku bertanya sama Abah kenapa Abah tidak mencarikan jodoh untuk ku tak seperti kak Bani dulu" ujar Fariz mencoba membelokan arah pembicaraannya.
"Fariz kakak tahu semuanya tentang kamu" ujar Bani bohong, nyatanya ia tak mengetahui apa pun tentang adiknya. Bani hanya berakting seolah - olah tahu untuk menjaili sang adik.
"Abah gak akan menjodohkan kamu dengan siapa pun, Abah akan menyetujui siapa pun pilihan kamu nanti, Abah percaya kamu bisa memilih mana yang baik dan buruk untuk di jadikan pendamping hidup" jelas Kyai Hasan.
"Tapi dulu kak Bani selalu Abah kenalkan dengan banyak perempuan dari anaknya temen Abah, contohnya Salwa" jelas Fariz.
__ADS_1
Abah Tersenyum mendengar penuturan sang anak bungsunya. "Dulu Abah sempat merasa khawatir dengan Bani yang selalu dingin pada setiap wanita, Abah takut jika Bani tak pernah menyukai wanita, maka dari itu Abah dan Umi mencoba mengenalkannya dengan beberapa perempuan, tapi Bani tetap dingin hal itu tentu membuat Abah dan Umi sangat khawatir, apalagi gosip di sekeliling lingkungan kita, banyak yang bilang Bani tak menyukai perempuan karena belum nikah - nikah. tapi ternyata sikap Bani tak dingin lagi setelah bertemu dengan Syifa" jelas Abah, dan tentunya mengundang gelak tawa dari Fariz dan Tommy.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃...