Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 35


__ADS_3

"Kak Robby" panggil Asyifa lagi seraya menepuk bahu Robby.


"Astaghfirullah" ucap Robby kaget. Robby menatap ke arah seseorang yang serada di sampingnya.


"Syifa sejak kapan kamu di sini ?" tanya Robby kaget.


"Udah dari sejam yang lalu tau" jawab Asyifa ngasal. "Masa pengantin malah melalun, pasti sedang mikirin. . " ucap Asyifa namun terhenti.


"Kamu anak kecil tau apa tentang pengantin" ledek Robby seraya mencubit hidung minimalis milik Asyifa.


"Kakak lupa kalau hari ini aku ulang tahun" rengek Asyifa karena Robby melupakan hari specialnya.


"Wah berarti kamu sudah dewasa, apa kamu sudah punya pacar ?" Goda Robby.


"Hahaa, kalau aku pacaran bisa - bisa di gantung sama Abi" jawab Asyifa seraya tertawa.


"Kamu bisa saja, katanya di pesantren ko ada di sini ?".


"Aku kagi libur sekalian izin buat hadir di pernikahan kak Robby" jawab Asyifa. "oh ya siapa wanita yang akan jadi calon kakak ipar ku nanti ?" Tanya Asyifa balik, ia bener - bener penasaran.


"Nanti pas hari H kamu akan tau" jawab Rooby seraya berjalan meninggalkan Asyifa yang masih terduduk di samping kasur milik Robby.


Acara kumpul keluarga sekaligus acara syukuran menjelang pernikahan Robby pun di gelar secara sederhana, setelah acara selesai kaluarha pak Umar pun izin pamit.


Sampai di rumah Asyifa membantu menyiapkan berbagai menu makanan untuk menyambut ke datangan sahabat - sahabat Asyifa. Tak lupa Ummah juga membuatkan nasi tumpeng special buat Asyifa.


"Wah wah wahh banyak makanan nih" seru Abian yang baru datang dari kafe.


"Ini makanan buat menyambut temen - temen aku, bukan untuk kakak" jawab Asyifa ketus.


"Tapi boleh dong kakak nyobain, takut gak enak, nanti bikin kamu malu".


"Bilang aja kalau mau, dasar modus" ketus Asyifa.


"Hahahaa ada yang marah heyy" Abian tertawa puas karena berhasil membuat Asyifa cemberut.

__ADS_1


Shela pun ngajak suaminya masuk ke kamar, karena tak tega melihat Asyifa terus di jaili oleh Abian.


"Kamu ini hobi sekali bikin Asyifa bete, giliran gak ada Asyifa aja kamu kesepian" ujar Shela pada suaminya.


Malam hari semua makanan sudah tersusun rapih di meja makan, satu persatu temen - temen Asyifa pun berdatangan, termasuk teman dekat Asyifa yaitu Melati.


"Hai Asyifa" sapa Melati.


"Melati" ucap Asyifa.


Keduanya pun berpelukan saling melepas rindu masing - masing. Setelah semua berkumpul acara pun di mulai dari pemotongan tumpeng terlebih dahulu dan di lanjutkan dengan acara makan malam, setelah makan malah mereka asyik bercerita tentang ke hidupan mereka masing - masing, Asyifa hanya mengundang teman perempuan saja, yang berjumlah tujuh orang termasuk Melati, harusnya ada sepuluh orang, namun yang tiga tidak bisa datang.


...*******...


Bani memberanikan diri untuk ikut shalat subuh berjamaah, Bani diam tak banyak bicara, ia sengaja duduk di samping abahnya agar yang lain segan untuk bertanya hal - hak yang menjurus ke yangsbedang hangat di bicarakan di lingkungan pesantren.


"Kasian ya Usatz Bani" ujar salah satu santri.


"Iya jadi murung" timpal yang lainya.


"Lebih baik kita jangan bahas soal itu lagi, biar usatz Bani gak sedih lagi" sahut santri yang lainnya.


"Nay udah siang gini ko Syifa belum balik ya" ujar Mila.


"Iya, apa dia sedang di hukum karena telat kembali ?" Tebak Nayla.


"Kalau di hukum pasti dia akan menaruh dulu barang bawaannya di sini" ujar Mila.


"Iya juga si".


Sedangkan pagi itu Bani berangkat ke kantoranya lebih pagi dari biasanya, ia mengendarai mobil milik pribadinya. Sampai di kantor ke adaan masih sepi hanya beberapa pegawainya yang sudah datang.


Bani memasuki ruang kerjanya, memeriksa berbagai berkas tentang orderan sablonnya.


Tak lama ke kemudian Tio dang ke ruangannya. "Bos tumben pagi gini sudah datang" tegur Tio.

__ADS_1


"Aku hanya ingin menenangkan pikiran ku" jawab Bani tanpa menatap ke arah Tio.


"Apa sedang ada masalah besar ?" Tanya Tio yang melihat wajah Bani yang tak seperti biasanya.


"Entah besar atau kecil aku juga bingung, tapi intinya semua orang yang ada di lingkungan pesantren sudah tau kalau aku gak jadi menghitbah Salwa, bahkan mereka juga tau Kalau Salwa akan seger menikah dengan pria lain" ujar Bani menjelaskan.


"Hey Bos apakah kamu sedang patah hati hingga menganggap ini sebuah masalah ?" Tanya Tio lagi.


"Apa maksud mu ?" Tanya Bani yang tak paham ucapan Tio.


"Bani denger bukannya kamu tidak mencintai Salwa, trus kenapa kamu harus pusing mikirin Salwa yang akan menikah, jika orang bertanya tentang hubungan kalian, ya jelaskan saja apa adanya" jelas Tio.


"Aku tadinya sedang berusaha menerima dia, tapi ketika aku berjuang dia dengan seenaknya melemparkan ku banyak kotoran, aku bisa saja menjawab kalau Salwa punya lelaki lain tapi aku bukan tipe yang suka mengumbar air orang" jawab Bani tegas.


"Aku paham, masalah itu bukan untuk di hindari tapi untuk di hadapi, aku yakin kamu pasti bisa menghadapi ini semua" jawab Tio.


Malam hari Mila dan Nayla semakin bingung karena Asyifa tak kunjung datang.


"Mil apa dia gak lanjut lagi ya ?" tebak Nayla.


"Tapi kan barang - barangnya masih di sini juga" jawab Mila. "Mungkin dia lagi ada acara keluarga" tebak Mila.


"Iya kali, padahal kita punya gosip terhot, eh dia nya gak datang - datang" ucap Nayla sedikit kecewa.


"Dasar ratu Gibah !" Seru Mila.


...******...


Pagi hari di temani rintik hujan, matahari bersembunyi di balik awan tak menampakan ke mampuannya. Salwa duduk di depan meja rias, matanya sembab karena habis menangis. ingin rasa ia pergi menjauh meninggalkan semua yang menurutnya hanya benalu untuk pencapai ke bahagiaannya. pintu kamar di ketuk, datang lah Ibu dan Ayahnya.


"Sawla Ayah harap kamu jangan mempermalukan kami di acara nanti, sudah cukup banyak hinaan yang mereka lontarkan terhadap keluarga kita, jadi Ayah mohon jangan kau menambahnya lagi, Robby dan keluarganya sudah berbaik hati menerima semua kekurangan keluarga kita" ucap Pak Herman tegas.


Salwa tak mampu banyak bicara, hanya air mata yang mewakili semua perasaannya. Pak Herman meninggalkan Kamar, hanya tinggal Ibu Yuli dan Salwa, Ibu Yuli memeluk anak semata wayangnya, seakan tau perasaan anaknya.


"Ibu tau ini sulit untuk kamu, tapi percayalah Robby anak yang baik" ujar Ibu Yuli. Salwa menghapus air matanya, ia tak ingin kedua orang tuanya jatuh sakit, sebisa mungkin ia menahan keras air matanya.

__ADS_1


"Cuci muka kamu dan siap - siap setengah jam lagi jasa make up akan datang" ujar Ibu Yuli lalu meninggalkan kamar pengantin.


Acara pernikahan Salwa dan Robby di adakan di sebuah hotel yang tak jauh letaknya dari perumahan Salwa yang sekarang, pernikahan ini akan di gelar pukul sembilan pagi, dan tidak ada resepsi, hanya di hadiri oleh orang terdekat saja.


__ADS_2