Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 206


__ADS_3

"Kenapa dengan anak kita ?" tanya Syifa penasaran.


"Anak kita baik - baik saja sayang" jawab Bani


"Bohong !".


Pintu ruangan Syifa di buka, dua orang perawat datang memasuki ruangan tersebut, dengan mendorong dua box bayi.


"Maaf jika lama menunggu, tadi bayi bapak dan Ibu buang air besar, jadi kami harus membersihkannya terlebih dahulu" ujar salah satu perawat. kedua box bayi tersebut di jejerkan di samping tempat tidur Syifa.


Air mata Syifa mengalir begitu saja, ia merasa sedang bermimpi, jika buah hati yang selama ini berada di dalam perutnya namun kini ia bisa menatap wajahnya bahkan menggendongnya.


Syifa menggendong kedua anaknya secara bersamaan membuat ia semakin terharu, apalagi melihat wajah buah hatinya yang laki - laki wajahnya mirip sekali dengan dirinya.


Tangis kedua bayi tersebut membuat Syifa semakin haru, pasalnya ia tak menyangka di usianya yang masih dua puluh, teman sebayanya sedang menikmati masa usia remajanya sedangkan dirinya kini sudah menyandang sebagai seorang ibu dari dia anak kembarnya.


Malam ini menjadi kebahagiaan untuk Syifa mau pun Bani, karena malam ini mereka akan tidur bareng buah hatinya mereka di ruang perawatan. Bani sepanjang malam terjaga, sesekali memandang istri dan juga anak - anaknya, ah rasa bahgaia sekali, karena keluarga kecilnya sudah lengkap dengan kehadiran dua bayi kembarnya.


...***...


Lima hari berada di rumah sakit, akhirnya Syifa pun di perbolehkan pulang oleh dokter karena kondisinya sudah membaik. begitupun ke dua anaknya dalam kondisi yang baik - baik saja.


Sepanjang perjalanan Syifa mau pun Bani terus menyunggingkan senyum ke bahagiaan. Syifa menggendong anaknya yang perempuan sedangan Ummah menggendong cucunya yang laki - laki. sedangkan Umi tidak datang ke rumah sakit, ia lebih memilih menyambutnya di kediaman Bani beserta Fariz dan juga Rara.


Sampai di rumah Syifa langsung membawa kedua anaknya langsung menuju kamar bayi mereka yang sudah di persiapkan dari dulu.


Sedangkan Bani dengan yang lainnya sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Nak kapan kamu mau menggelar aqiqah untuk kedua buah hati kamu ?" tanya Abah membuka pembicaraan mereka.


"Astaghfirullah Bani melupakan acara tersebut !". Bani menepuk jidatnya. "Bani Terlalu fokus pada kesehatan Syifa" sambung Bani.


"Nak jika kamu mampu untuk melaksanakan acara tersebut, maka jangan di tunda - tunda" ujar Abah Hasan lagi.


"Iya Abah, Bani tau kok !" seru Bani. "menurut Abah kapan kira - kira waktu yang tepat ? tapi kalau di hari ke tujuh gak mungkin persiapannya terlalu mepet bah" Bani meminta pendapat pada Abah.


"Jika tujuh hari kalian belum siap, bisa kok di laksanakan di hari ke empat belas atau di hari ke dua puluh satu" terang sang Abah.


"Nanti Bani tanya dulu pada Syifa" ujar Bani. karena bagaimana pun untuk melaksankan hal tersebut harus sesuai kesepakatan bersama sang istri.

__ADS_1


Para tetangga pun berdatangan untuk memberikan selamat pada Syifa dan juga keluarga atas kelahiran si kembar.


"Selamat ya neng Syifa" ujar salah satu tetangga.


"Iya terimakasih bu" sahut Syifa.


Hari mulai menjelang siang dan para tetangga pun sudah tak lagi berdatangan, Bani mendekati sang istri yang sedang memberikan Asi pada putra mereka.


"Kata Abah, kapan kita menggelar Aqiqah ?" Tanya Bani.


"Bukannya lebih bagus itu di gelas pas tujuh hari setelah melahirkan ?" tanya Syifa balik.


"Iya, tapi kalau kita menggelarnya di hari ketujuh apa sempet, kan tinggal dua hari lagi".


"Insya Allah sempet Sayang, kita menggelarnya secara sederhana saja dan kita juga bisa pakai jasa aqiqah jadi lebih praktis" ujar Syifa.


"Lalu akan di gelar di mana acaranya ?" tanya Bani.


"Di rumah kita saja sayang, kita ngundang tetangga dan juga kerabat dekat saja" ujar Syifa dan Bani hanya mengangguk tanda setuju.


Sore hari Robby dan keluarganya datang menjenguk Syifa. karena selama di rumah sakit Salwa maupun Robby tidak bisa datang karena banyak hal.


"Walaikumsalam" ujar Ummah seraya membuka pintu. "Kalian, ayo masuk" ajak Ummah.


Mereka di persilahkan duduk di ruang tamu sedangkan Ummah pergi ke dapur untuk memberitahu Bi Tuti agar membuat minuman untuk Robby dan keluarganya.


Mendengar ada yang datang membuat Umi penasaran siapa yang datang, ia pun meninggalkan Syifa di kamar bersama Rara.


"Eh, Ada nak Salwa" ujar Umi.


Salwa langsung berdiri dan menghampiri Umi kemudian mencium tangan wanita paruh baya itu. " Apa kabar Umi ?" tanya Salwa.


"Alhamdulilah baik, kamu sendiri bagaimana ?" tanya Umi. "Maaf waktu kamu melahirkan Umi gak sempet jenguk kamu" ujar Umi.


"Alhamdulilah Salwa juga baik. iya enggak apa - apa Umi".


"Umi boleh gendong anak kamu ?" tanya Umi.


"Tentu boleh Umi" jawan Salwa.

__ADS_1


Ummah dan Bi Tuti datang dengan membawa minuman dan juga makanan ringan. "Silahkan di minum dulu" ujar Ummah seraya menyajikan minuman dan makanan ringan tersebut dinatas meja.


"Terima kasih Ummah" ujar Robby.


"Ummah panggilkan Syifa dan juga Bani dulu" ujar Ummah seraya berlalu menuju tempat Syifa berada.


Syifa dan Bani turun dari lantai dua, mereka menggendong anak mereka. sedangkan Ummah dan Rara mengekor dari belakang mereka.


"Selamat Syifa dan Bani atas kelahiran putra dan putrinya, maaf kak Robby baru sempat menjenguk" ujar Robby.


"Terima kasih" sahut Bani.


Meraka pun asik berbincang - bincang, suara tangaisan bayi menggema di rumah Syifa, karena ketiga anak Salwa menangis berbarengan meminta susu dan di ikuti kedua anak Syifa yang mungkin terasa terganggu ketika mereka terlelap tidur.


"Kalau setiap hari kumpul, pasti akan rame terus" ujar mamah Erni.


"Bener kata kamu Erni. biasanya bayi kalau nangis satu jadi nangis semua" sahut Ummah.


Selesai Magrib, Robby dan keluarga pun pamit untuk pulang. sementara malam ini Abi Umar dan Ummah menginap di rumah Syifa.


Sepanjang malam Bani dan Syifa akan tidur bergantian untuk menjaga buah hati mereka. Bani menggendong putrinya yang terus menangis padahal sudah di kasih susu.


"Sini bang, biar Syifa yang gendong saja" ujar Syifa.


"Enggak usah biar abang saja, kamu sudah menggendongnya dari tadi, pasti kamu lelah" ujar Bani.


Bani menimang buah hatinya kemudian bersenandung Shalawat yang merdu dan menyejukan hati. Syifa tersenyum bangga karena suaminya berhasil membuat bush hatinya yang tadinya rewel dan kini sudah terlelap tidur di gendongan Bani.


"Sayang kalau sudah tidur taruh lagi saja" ujar Syifa.


"Iya sayang" ujar Bani.


Bani pun menaruh putri mereka ke tempat tidurnya, namun pergerakan Bani membuat jagoannya terbangun dan menangis.


"Aduh kok jagoan Abi malah bangun sih" ujar Bani kemudian menggendong putranya agar tidak mengganggu putrinya tidur.


"Sayang bawa sini, mungkin ia haus" ujar Syifa.


Bani menyerahkan jagoannya pada sang istri. sudah menjadi hal biasa bagi Bani dan Syifa jika buah hati mereka akan bangun secara bergantian, bahkan terkadang buah hati mereka juga akan menangis secara bersamaan yang akan membuat Syifa dan Bani kelabakan dalam menenangkan sang buah hati.

__ADS_1


__ADS_2