
Setelah Syifa merapihkan alat shalatnya, Bani pun menyerahkan dua kotak martabak tersebut pada istrinya.
"Ini martabaknya sayang ".
"Taruh dulu saja di dapur bang, Syifa kenyang banget" sahut Syifa dengan entengnya, membuat Bani mendengus kesal. ia berlalu ke dapur untuk menaruh martabak tersebut tanpa sepatah kata pun dan kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan juga menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.
Syifa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur seraya menunggu suaminya selesai mandi dan juga Shalat.
"Sayang kenapa lama sekali nyari martabaknya ?" tanya Syifa lagi ketika Bani sedang mengganti pakaian kokonya dengan pakaian santai di rumah.
"Sayang mana ada siang bolong yang jualan martabak jadi ya abang harus muter sana sini" jelas Bani.
"Tapi itu buktinya dapet !" seru Syifa.
"Iya Abang beli di toko yang belum buka, mereka masih beres - beres tokonya, tapi abang maksa buat beli karena istri abang lagi ngidam" ujar Bani menjelaskan bagaimana ia bisa mendapatkan martabak yang di inginkan istrinya.
"Syifa ingin yang makan martabaknya Abang saja deh" ujar Syifa tanpa berpikir panjang.
"Sayang kan kamu yang tadi mau martabak, tapi kenapa harus abang yang makan ?" tanya Bani bingung.
"Tapi Syifa ingin liat Abang makan martabaknya, Syifa cuma mau mengirup aroma martabaknya saja" jelas Syifa, lalu menarik tangan suaminya menuju ke dapur untuk menikmati martabaknya.
"Sayang, kamu makan martabaknya yang rasa keju" titah Syifa pada suaminya.
"Sayang, Abang gak suka martabak, kenapa kamu malah nyuruh abang yang makan ?".
"Jangan bilang tidak suka sebelum mencobanya" ucap Syifa tegas.
__ADS_1
Syifa mengambil sepotong martabak kemudian ia menyuapi suaminya, Bani mencoba mengunyahnya dan ia pun berusaha dengan susah payah menelan martabak tersebut.
Satu potong Bani berhasil memakannya, potongan ke dua dan ke tiga pun masih berhasil lolos masuk ke perut Bani. namun saat potongan ke empat Bani mulai keringet dingin dan tiba - tiba perutnya bergejolak seakan - akan isinya minta di keluarkan, Bani berlari sekuat tenaga menuju kamar mandi dan di sana ia penumpahkan isi perutnya. dengan langkah sempoyongan Bani kembali ke ruang makan.
"Sayang, Sudah ya. Abang gak sanggup lagi" ujar Bani.
"Huh payah kamu !" seru Syifa, namun Bani tidak meresponnya.
Bu Tuti datang dengan segelas teh hangat "Pak di minum tehnya kali saja bisa mengurangi mualnya" ujar Bi Tuti.
"Bi boleh minta tolong panggilkan pak yanto" titah Syifa pada asisten rumah tangganya. tak lama kemudian bi Tuti kembali dengan pak Yanto.
"kalian berdua habiskan martabak ini" titah Syifa pada bi Tuti dan juga pak Yanto.
Bi Tuti memindahkan martabak tersebut pada piring, mereka membagi rata martabak tersebut.
"Bibi makannya di belakang saja" jawab bi Tuti.
"Saya juga makannya di pos saja" sahut pak yanto.
"Kalian makan di sini saja, aku ingin melihat kalian makan martabaknya" ujar Syifa membuat yang lain kebingungan. batin mereka bertanya - tanya sebenarnya apa yang terjadi pada majikan mereka.
Mereka memakan martabak tersebut di dapan Syifa, dan Syifa pun memperhatikannya dengan seperti orang yang menginginkannya juga namun ketika bi Tuti menawarinya Syifa menolaknya. menurut Syifa mencium aroma martabak tersebut sudah cukup membuatnya kenyang.
Bani hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah istrinya yang menurutnya aneh tak seperti biasanya. setelah selesai Bi Tuti maupun pak Yanto kembali menuju tempat mereka masing - masing tak lupa juga mereka mengucapkan terima kasih atas makanannya.
Syifa dan Bani menikmati senja di ruang televisi, Syifa bersandar manja di pundak sang suami, Bani pun tak melarangnya. sebenarnya ia masih kesal dengan istrinya, entah dengan sengaja Syifa mengerjai suaminya atau itu hanya sebuah ke inginan seorang ibu hamil, yang jelas hanya Syifa yang tahu.
__ADS_1
...******...
Dua hari Salwa dan Robby tinggal di rumah orang tua Salwa, dan kini Bani memutuskan untuk kembali ke kota mereka tinggal. Salwa dan Robby pun sebelum menuju bandara ia terlebih dahulu mampir ke rumah orang taunya. namun saat sampai di sana hanya ada adiknya, menurut Tasya mamahnya sedang pergi arisan bersama teman sosialitanya.
Ada rasa sedih terselip di hati Salwa, ia sangat bersedih karena mertuanya masih belum bisa menerimanya, entah apalagi yang akan di tuntut dari dirinya oleh mertuanya. kemaren merengek minta cucu setelah terkabulkan malah menuduhnya dengan menyebut itu bukan anak Robby, seketika hati Salwa hancur - sehancurnya. ia pernah perpikir apakah ini sebuah karma untuknya karena awalnya Salwa tak pernah menginginkan pernikahan ini.
"Mas perhatikan sekarang kamu lebih banyak diam dan juga melamun ?" lelaki itu menaruh praduga atas perubahan sikap sang istri. Salwa yang biasanya terlihat ceria setelah kehamilannya, namun setelah pulang dari mengunjungi keluarganya berubah menjadi banyak diam dan melamun. Robby mengembuskan napasnya dalam. sangat paham apa yang di rasakan Salwa saat ini. istrinya itu masih mengalami tekanan dari mertuanya. berusaha menguatkan, selalu mengingatkan agar tetap sabar dan berpasrah, itu yang bisa Robby lakukan saat ini.
Salwa tersenyum getir. tebakan suaminya benar, tak terelakkan. meski sekuat tenaga Salwa berusaha tegar, namun jiwanya mengalami kerapuhan.
"Kenapa mamah masih belum bisa menerima aku ?" tanya Salwa lirih.
"Aku yakin suatu saat nanti mamah akan bisa menerima kamu dengan baik" ujar Robby menguatkan sang istri.
"Tapi kenapa mamah punya pikiran jika ini bukan anak mas ?" tanya Salwa lagi.
"Mungkin mamah masih terkejut dengan kehamilan kembar kamu, karena tak ada riwayat keturunan kembar. tapi nanti juga mamah akan mengerti tentang kehamilan kembar walaupun tak ada keturunan kembar". Robby berusaha menjelaskan agar istrinya bisa mengerti dan juga sabar agar bisa di terima oleh keluarga nya.
"Sekarang jangan pikirkan yang aneh - aneh dulu, tapi pikirkan lah anak yang ada di dalam kandungan kamu" Robby menasehati istrinya. Salwa hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.
Salwa hanyut dalam pelukan suaminya, dan dalam dekapan tersebut Salwa bisa merasakan sebuah kenyamanan dan juga ketenangan. menurutnya pelukan suaminya merupakan obat saat dirinya sedang berada dalam titik terendahnya.
Salwa terlelap dalam pelukan suaminya. Bani menatap lembut sang istri, di belainya secara perlahan agar tak membangunkan istrinya.
"Maafkan Mas ya sayang, Mas belum.bisa meyakinkan mamah untuk bisa menyayangi kamu dan juga menerima kamu sebagai menantu terbaiknya. tapi aku janji aku akan berusaha agar kamu bisa di terima dengan baik oleh mamah" gumam Robby dalam hatinya.
Tangan Bani kini beralih menuju perut Syifa, di elusnya secara lembut dan penuh kasih sayang "Nak semoga kamu baik - baik saja di dalam sana, hingga suatu hari nanti kita bisa bertemu dan bermain bersama" ujar Robby pelan, tak terasa hingga Robby pun meneteskan air matanya.
__ADS_1