Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 42


__ADS_3

POV Bani.


Pagi hari seperti biasa aku menikmati secangkir kopi, namun tiba - tiba Umi memintaku untuk mengantarkan seorang santri yang sakit, entah kenapa aku langsung iya saja tanpa banyak tanya, aku langsung panasin mobil. Betapa kagetnya saat Melihat Umi dan ustazah Aisyah sedang membopong seorang santri begitu lemas tak berdaya, ketika aku perhatikan siapa santri tersebut ternyata adalah Syifa. Rasanya aku ingin langsung membopongnya sendirian tapi mana mungkin Umi mengizinkannya. Aku membawa mobil dengan cepat dan untung saja jalanan masih lengang. Aku semakin khawatir saat dia mengigau menyebut orang tuanya. Sempat berpikir gimana kalau dia ngigau menyebut nama ku, oh betapa senangnya aku.


Sampai di rumah sakit Syifa langsung di bawa ke UGD, rasanya aku ingin menemani dia, tapi situasinya tidak memungkinkan. Aku mondar - mandir menunggu kamar Syifa, namun ternyata sikapku membuat yang lain terheran - heran termasuk Umi.


Saat harus pulang rasanya berat banget ninggalin dia dengan ke adaan seperti itu, namun tak mungkin aku membiarkan Umi pulang sendirian, rasanya kalau seperti ini ingin langsung nikahin saja tak perlu resepsi di rumah sakit saja rasanya lebih dari cukup. Entah kenapa aku jadi tergila - gila dengan Syifa. Dari awal aku ketemu dengannya sudah dapat menggetarkan hati ku, namun karena ego ku yang tinggi membuat aku harus mengabaikan perasaan ini.


Selama bekerja aku tak konsen pikiran ku selalu tentang Syifa dan Syifa, untung Umi dan Abah meminta ku mengantar mereka siang ini, jadi aku bisa melihat dia lagi. Aku lihat Umi begitu menyayanginya, berarti ada lampu hijau untuk mendapatkannya. Saat ia terbangun tak sengaja pandangan kita bertemu, membuat hatiku semakin tak karuan, aku tak kuat memandang dia lama - lama, selain dosa tapi entah tatapannya itu bikin aku jadi salah tingkah sendiri.


Tekad ku semakin kuat untuk memilikinya, bahkan aku sudah ada rencana nanti malam aku akan membicarakan ini semua dengan Abah dan Umi.


Pov author


Di pesantren setelah sarapan pagi Nayla dan Mila mendapat tugas untuk membersihkan tempat tidur dan juga mencuci bekas muntahan Syifa, tanpa banyak penolakan mereka melakukannya dengan senang hati, apalagi setelah mereka di perbolehkan tidak mengikuti kegiatan hari itu sampai dzuhur.


"Mil sekalian seprainya di ganti juga" titah Nayla.


"Iya ini aku lagi bongkar ko" jawab Mila seraya membongkar kasur milik Syifa.


Mereka mencuci pakaian seprai bahkan selimut milik Asyifa dengan senang hati tanpa ada keluhan bahkan sesekali mereka saling bercanda untuk mengusir kejenuhan mereka, saat mencuci baju milik Asyifa Nayla menemukan sesuatu yang menganjal di saku bajunya, dengan perlahan Nayla merogoh saku bajunya dan menemukan sebuah kertas yang sudah basah kuyup.


"Mil kira - kira ini penting gak ya ?" tanya Nayla seraya mengangkat kertas tersebut.


"Takut penting jangan di buang, taro saja di atas meja dia, nanti juga kering lagi" jawab Mila seraya membilas selimut.


"Baiklah" ujar Nayla.


Nayla membawa kertas itu ke meja milik Syifa, lalu membuka lipatan kertas tersebut supaya cepat kering, tanpa sengaja Nayla membaca tulisan nama Rabbani di akhir tulisan tersebut.

__ADS_1


"Rabbani, bukankah itu nama Ustaz Bani, berarti kertas ini dari ustaz Bani, tapi kapan memberikannya ko dia gak cerita" ucap Nayla dalam hatinya.


"Lebih baik aku tutup lagi saja kertas ini" sambung Nayla.


Walaupun dia penasaran dengan tulisan tersebut, namun jika ia membacanya itu namanya tidak sopan, apalagi tanpa izin kepada orang yang punyanya.


Sementara di rumah sakit, Bani lebih banyak diam sesekali mencuri pandang ke arah Asyifa yang sedang bercengkrama dengan Umi dan Ummahnya.


"Nak Bani tidak bekerja ?" tanya pak Umar.


"Tadi sepulang dari rumah sakit sudah ke kantor sebentar lalu ke sini lagi buat nganter Abah dan Umi, gak enak membiarkan mereka ke sini hanya menggunakan kendaraan Umum" jawab Bani dengan penuh ke sopanan.


"Hmmm. Maaf jadi merepotkan nak Bani" ucap pak Umar lagi.


"Tidak papa ko, malah saya lebih senang ada di sini" jawab Bani seraya tersenyum.


Jawaban Bani spontan membuat Abah dan Uminya saling pandang, mereka meyakini ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh anak mereka. pak Umar hanya tersenyum penuh makna mendengar jawaban Bani.


Umi dan Abahnya hanya tertawa penuh maksa. Begitupun dengan pak Umar dan Ummah hanya tersenyum tanda mereka mengerti sedangkan Syifa pipinya sudah merona karena dari tadi ustaz Bani terus mencuri pandang hingga sesekali mereka beradu pandangan.Hari semakin sore, Kyai Hasan dan keluarganya pamit pulang.


"Ummah Kak Abian mana ?" tanya Syifa yang tak melihat sosok kakanya sejak ia bangun.


"Kak abian dan kak shela pulang, kak Shela tidak kuat dengan bau rumah sakit" jelas Ummah pada Syifa.


Asyifa kembali terdiam, ia kembali teringat pada surat yang di berikan oleh Bani, Surat tersebut ada di baju yang terkena mutah.


"Ummah boleh minta tolong tanyain ke Umi, baju kotor Syifa ada di mana" titahnya pada sang Ummah.


"Nak baju kotor kamu ya ada di tempat asrama kamu lah, gimana si" jawab Ummah santai.

__ADS_1


"Bukan gitu, tapi tadi pagi Syifa muntah kenpa selimut dan juga baju, nah ustazah Aisyah bantu Syifa ganti baju, Syifa baru sadar itu baju kalau didiemin lama - lama nanti bau busuk, Ummah ambil ya ke pesantren" Asyifa menjelaskan maksudnya menanyakan baju kotor miliknya.


"Astaghfirullah, kenapa gak ngomong dari tadi, bentar Ummah tlpon Umi dulu" ucap Ummah seraya merogoh ponselnya dari dalam tasnya.


Ummah menghubungi Umi, dan setelah mendapat jawabannya Ummah kembali mendekati Syifa.


"Nak, kata Umi baju kamu sudah di cuciin sama temen asrama kamu, bahkan mereka mencuci seprai dan selimut juga" Jelas Ummah.


Gawat, bagaimana jika Mila dan Nayla menemukan surat itu, malu aku. ucap batin Asyifa panik.


"Kamu kenapa, ko jadi panik ?".


"Nggak papa, Cuma gak enak saja sama Nayla dan Mila yang sudah mau nyuciin baju kotor Syifa" jawab Syifa bohong.


Sementara keluarga Kyai Hasan baru tiba di pesantren, Fariz menyambut kedatangan mereka di depan pintu utama rumah mereka.


"Pergi ko nggk ngajak - ngajak" protes Fariz.


"Kita habis dari rumah sakit, bukan habis jalan - jalan" jawab Bani seraya menjatukan badanya di kursi.


"Kata Bi Tuti kalian pergi bareng - bareng, Aku kira habis jalan - jalan, shopping atau makan - makan gitu, mana aku tau kalau kalian habis dari rumah sakit" ujar Fariz yang masih kesal.


"Makanya tanya dulu, jangan langsung protes" seru Bani.


"Emang siapa yang sakit, Tumben kak Bani mau nganter ?" tanya Fariz yang mulai penasaran.


"Syifa sakit demam berdarah, tadi pagi kak Bani dan Umi membawanya kerumah sakit, dan kali ini kami nganter Abah buat jenguk Syifa, karena bagaimana pun Syifa tetap keluarga pesantren" ujar Umi menjelaskan.


🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Jangan Lupa Like dan Votenya.


Terima kasih.


__ADS_2