
Salwa sangat terkejut dengan kedatangan mertuanya, namun yang membuat ia bertanya - tanya, siapa wanita yang datang bersama mertuanya, Wanita itu terlihat sangat cantik dengan rambut yang pirang dan di balut dres yang sangat seksi, penampilannya sangat berbeda dengan Salwa yang kesehariannya hanya menggunakan baju gamis dan kerudung, tetapi tak menghilangkan kecantiakan Salwa.
"Mamah mau ngapain ke sini ?" tanya Salwa pelan.
"Emang mamah gak boleh datang ke apartemen anak mamah sendiri " ketus mamah Erni.
"Tapi mah mas Robby . . " ucapan Salwa terpotong oleh mamah Erni.
"Iya mamah tahu" sahut mamah Erni kemudian nyelonong masuk ke dalam apartemen.
"Mamah mau minum apa ?" tanya Salwa ramah.
"Tidak perlu, saya hanya sebentar di sini" sahut mamah Erni dengan ketus.Salwa pun hanya menghela nafasnya panjang.
"Mamah ke sini hanya untuk memberikan jamu penyubur kandungan dan juga obat - obatan penyubur kandungan" ujar Mamah Erni seraya menyerahkan dua paper bag.
"Mah yang kemaren juga masih ada kenapa mamah bawakan lagi" sahut Salwa pelan.
"Apa masih ada ?" teriak mamah Erni. " jangan - jangan kamu tidak pernah minum jamu dan obat - obatan yang mamah kasih, pantes saja kamu tidak hamil - hamil" ujar mamah Erni kesal.
Di dalam kamar Robby mendengar ada suara orang tuanya, Robby pun mendengarkan percakapan mamah dan istrinya. Jadi mamah sering kesini ketika aku sedang bekerja, dan mamah selalu datang dengan membawa jamu dan obat - obatan. Gumam Robby sangat kecewa terhadap orang tuanya.
"Bukan begitu mah" Salwa membela dirinya.
"Oh iya satu lagi, ini namanya Sinta dia wanita yang akan mamah jodohkan dengan anak mamah jika kamu tak kunjung hamil juga" ujar mamah Erni memperkenalkan wanita cantik nan seksi yang sedari tadi diam menyaksikan perdebatan antara Salwa dan mamah Erni.
Mamah tidak datang sendirian, kurang ajar. Gumam Robby yang sudah melebihi batas kesabarannya.
"Kamu tanda tangan surat perjanjian ini" ujar mamah Erni seraya mengeluarkan kertas dan pulpen dari dalam tasnya.
"Apa ini mah ?" tanya Salwa penasaran.
"Ini surat perjanjian, jika dalam enam bulan kami tak kunjung hamil juga maka kamu harus dengan ikhlas , merelakan suami mu untuk menikah dengan Sinta wanita pilihan mamah" jelas Mamah Erni membuat Salwa terkejut.
"Apa cuma enam bulan ?, kenapa tidak setahun saja mah" ujar Salwa.
"Tanda tangan saja, jangan banyak membantah, dan ingat satu lagi jangan pernah bilang ke Robby tentang masalah ini" Ancam mamah Erni.
Saat Salwa hendak menandatangani surat perjanjian tersebut, tiba - tiba Robby keluar dari dalam kamarnya.
"Salwa hentikan" teriak Robby membuat semua terkejut.
__ADS_1
"Ohh jadi ini kelakuan mamah selama ini, datang ke apartemen ku ketika aku sedang tidak ada di rumah" ujar Robby pada mamahnya.
"Bukan begitu nak, dengarkan penjelasan Mamah dulu, ini tidak seperti yang kamu pikirkan" ujar mamah Erni membela dirinya.
"Keluar dari apartemen ku sekarang" teriak Bani seraya menunjuk pintu keluar.
"Robby dengarkan mamah dulu" pinta sang mamah.
"Pergi sekarang juga" Bentak Robby.
"Tante kita sebaiknya pergi, lihat Robby sepertinya marah sekali" bisik Sinta pada mamah Erni. kedua wanita itu pun meninggalkan apartemen milik Bani.
"Apa mamah sering ke sini ?" tanya Robby dengan tatapan tajamnya.
"Iya setiap hari ke sini, kecuali hari sabtu dan minggu, ia tahu kalau kamu ada di rumah" jawab Salwa seraya menunduk.
"Setiap hari datang dengan membawa jamu dan obat - obatan sebanyak ini ?" Salwa pun hanya mengangguk pelan. "Lalu kamu meminumnya ?" tanya Robby lagi.
"Tidak Mas, Salwa tidak pernah meminum jamu atau pun obat - obatan itu, kecuali jika mamah memaksanya. setelah mamah pulang aku langsung membuangnya, karena takut ketahuan kamu, aku tidak mau kamu dan mamah kamu berantem hanya karena gara - gara aku" jelas Salwa.
"Aaarrrghhhh sial aku bisa kecolongan seperti ini" gerutu Robby, ia merasa telah gagal dalam melindungi sang istri.
"Yang ia lakukan sudah keterlaluan" gerutu Robby.
"Kita harus pindah dari kota ini" ujar Robby tegas.
"Sepertinya tidak perlu sayang" bujuk Salwa.
"Keputusan ku sudah bulat, kita akan pindah keluar kota, dan kembali ketika kamu sudah hamil" ujar Robby dengan tegas dan tak bisa di bantah oleh siapa pun.
...*******...
Bani pulang kerja lebih awal dari biasanya, ba'da dzuhur pun Bani sudah sampai rumahnya.
Kenapa abang pulang jam segini, apa ada yang ketinggalan. gumam Syifa dalam hatinya.
"Sayang kita makan di luar yuk" ajak Bani.
"Tapi Syifa sudah masak" jawab Syifa.
"Buat nanti malam saja" sahut Bani.
__ADS_1
"Hmm sepertinya hari ini gak bisa, Syifa lelah dan males juga buat perginya" jawab Syifa.
"Sayang maafin Abang, abang tau abang salah, sekarang Syifa boleh minta apa saja nanti bakal abang turuti" ujar Bani memelas pada sang istri.
"Kamu mau Shopping, mau nonton, mau jalan - jalan, mau makan di resto, atau mau beli tas, perhiasan atau sejenjisnya" ujar Bani.
"Di kira aku cewek apaan, kalau marah bisa di bujuk dengan seperti itu" ketus Syifa.
"Ya maaf, abang bingung harus bagaimana lagi biar kamu bisa maafin Abang" ujar Bani yang sudah pasrah karena istrinya tak memaafkan dirinya.
Melihat raut wajah Bani yang terus memelas membuat Syifa pun merasa kasihan, di raut wajahnya terlihat gurat penyesalan.
"Hari ini aku mau ke salon, mau pijat repleksi" ujar Syifa.
"Ayo sayang, aku akan menemani kamu" ujar Bani senang.
"Aku lapar, dan aku akan makan dulu" sahut Syifa dengan wajah datarnya.
"Ya sudah kita sekalian saja makan di luar sayang" ujar Bani ke girangan karena istrinya mau di ajak keluar walaupun dirinya hanya menemani sang istri kesalon.
"Aku sudah cape - cape masak, dan sekarang kamu malah ngajak makan di luar, berarti kamu sudah tidak mau makan masakan aku lagi" ujar Syifa dengan sedikit menaikan intonasi bicaranya.
"Bukan begitu sayang" ujar Bani. Aduh mampus aku, pake salah ngomong segala sih. gerutu Bani dalam hatinya.
"Sana makan di luar sana sendirian" ujar Syifa seraya berlalu menuju meja makan. dan Bani pun mengikuti istrinya kemeja makan.
"Sayang jangan marah - marah mulu napa, kamu lagi dapet ya ko sensi banget" ujar Bani.
"Udah tau lagi dapet pake namanya lagi" gerutu Syifa.
Bani lebih memilih diam, mereka pun menyantap makan siang mereka dengan lahap, setelah itu Syifa pun bersiap - siap untuk ke salon.
"Sudah siap, ayo berangkat" ujar Syifa pada suaminya.
Syifa menunggu Bani di dekat pintu gerbang rumah mereka, dan tiba - tiba ada tetangga yang lewat.
"Mau keluar ya neng" ujar ibu - ibu tersebut.
"Iya bu" sahut Syifa ramah.
"Kalau mau di luar rumahnya di pastiin sudah terkunci ya neng, soalnya tadi saya lihat ada dua orang lelaki menggunakan motor dan helm sedang mengawasi rumah ini" jelas ibu - Ibu tersebut.
__ADS_1