
Tio terus mendesak ketiga orang tersebut untuk menyebutkan nama dari bos mereka, namun usahanya sia - sia, ketiganya masih nggan untuk menyebutkan nama bos mereka, walaupun Tio tau siapa bos dari mereka, tapi Tio ingin mendengarnya secara langsung dari ketiga orang tersebut.
Hari sudah pagi, Tio memerintahkan anak buahnya menjaga ketiga orang tersebut, Tio enggan menyerahkannya dulu ke pihak polisi sebelum mereka bertiga menyebutkan nama bos mereka, Tio kembali ke rumahnya, ia sadar pasti istrinya sangat mengkhawatirkannya.
Tio memang terkenal di kalangan para pereman, karena jaman Sekolah Sma dan awal kuliah Tio merupakan seorang pereman, ia sedang berkelahi, bahkan tak segan ia mengalahkan lawannya hingga tak bernafas lagi, namun kebiasaan buruk itu mulai Tio tinggalkan saat ia mengenal cinta yaitu yang kini jadi istrinya. Tio perlahan berubah apalagi setelah kenal dengan Bani, Tio benar - benar meninggalkan dunia peremannya.
Tio sudah sampai di rumahnya, dan di sambut sang istri yang sudah menunggu sejak tadi. "Kamu tidak habis berkelahikan ?" tanya istri Tio.
"Nggak ko, papa mau sarapan dulu lapar, lalu mau tidur, nanti setelah papa bangun maka papa akan ceritakan sama mama" ucap Tio seraya berjalan menuju ruang makan.
Istri Tio menyiapkan sarapan untuk suaminya, dan sebuah kopi di sajikan sambil menunggu sarapan tersebut di hidangkan. Tio menghubungi Bani, ia izin tidak datang ke kantor, karena alasan kurang enak badan, dan untungnya di kantor juga tak ada kerjaan yang harus kerjakan karena semuanya terhenti karena kebakaran tersebut.
...****...
Bani kembali meninjau kantornya yang sedang di renovasi, Bani kini memperketat keamanan kantornya, perbaikan kantor sudah sampai bagian finising, dua atau tiga minggu lagi di perkirakan akan segera selesai. Mesin - mesin yang rusak sudah di ganti dengan yang baru.
"Maafkan atas kelalaian kami" ucap salah satu orang satpam yang kini duduk di samping Bani.
"Ini semua musibah, jadi jangan salahkan diri kalian" jawab Bani seraya menepuk pundak satpam tersebut.
"Semoga pelakunya bisa di temukan bagaimana pun caranya, karena kejahatan tidak akan menang" ucap Satpam tersebut.
"Aminn" ucap Bani dan Satpam itu berbarengan.
Bani bersiap - siap untuk pulang, dan ingin mengajak istrinya makan di luar berdua, karena kalau malam akan bentrok dengan kegiatannya mengajar di pesantren. sebelum pulang terlebih dahulu Bani menghubungi sang istri untuk bersiap - siap.
Setelah mendapat telepon dari Bani, Syifa pergi ke kamarnya lalu mengganti pakaian rumahnya dengan pakaian untuk pergi keluar, memoles tipis wajahnya sedang make up. dan menunggu Bani menjemputnya di ruang televisi.
"Kamu mau ke mana ?" tanya Umi yang melihat Syifa sudah dengan pakaian rapih dan ada tasnya di samping.
"Abang ngajak makan di luar" jawab Syifa sopan. " Umi mau ikut ?" tanya Syifa.
__ADS_1
"Umi di rumah saja, kalian juga butuh waktu untuk berduaan" jawab Umi menolak untuk ikut.
Umi tak ingin merusak moment kebersamaan anak dan menantunya, ia paham jika anak dan menantunya butuh waktu untuk berduaan, apa lagi Syifa dan Bani tidak mengalamai masa pacaran, setelah menikah mereka tak bisa menghabiskan waktu bersama seperti pasangan pengantin baru, ujian silih berganti menerpa rumah tangga yang hanya baru beberapa hari, dari awal musibah hingga hadirnya orang di masa lalu. membuat Umi kadang merasa khawatir dengan kondisi rumah tangga anaknya.
Tak butuh waktu lama, Bani sudah tiba di rumah, sebelum pergi Bani mengganti terlebih dahulu pakaiannya dengan pakaian santai. mereka pun berangkat menuju sebuah restaurant yang sudah di pilih Bani.
"Hmm sudah jadi istrinya ustaz makin sombong saja" suara bariton tersebut tentu membuat Syifa menghentikan langkahnya. menoleh ke arah suara tersebut dan kembali berjalan, Syifa maupun Bani tak menggubrisnya.
"Sombong banget".
"Maaf Rima, kita sedang buru - buru" ucap Syifa lembut, ia berusaha menjaga emosinya.
Syifa kemudian menyusul suaminya yang sudah berjalan terlebih dahulu. " Maaf tadi aku kesel banget sama Rima" ucap Syifa saat menaiki mobilnya dan duduk di samping Bani.
"Orang kaya gitu jangan suka di ladenin nanti kegirangan" Jawab Bani lembut.
Bani pun melajukan kendaraannya keluar area pesantren. "Apa kita makan di restonya Fariz ?" tanya Syifa.
"Nggak, kita makan di resto lain saja" jawab Bani, Syifa pun tak mau bertanya alasannya ia lebih baik diam dan menikmati perjalanan mereka.
"Dua puluh menit lagi sampai" jawab Bani. "Pasti istri abang ini sudah kelaparan yah" goda Bani yang masih fokus dengan kemudinya.
"Bukan gitu ih" jawab Syifa.
"Lalu ?".
"Bingung aja ko gak sampai - sampai" jawab Syifa jujur.
Dua puluh menit kemudian Syifa telah sampai di resto yang di pilih Bani, resto itu berada di pusat kota, Bani memarkirkan mobilnya lalu menggandeng Syifa untuk masuk ke dalam resto tersebut. di sana Syifa dan Bani di sambut oleh para pelayan yang ramah - ramah, nuansa resto tersebut di bilang sangat romantis, karena setiap meja akan di hiasi bunga mawar yang segar. Bani dan Syifa memesan makanan dan minuman yang tertera di buku menu.
"Abang sering ke sini ?" tanya Syifa.
__ADS_1
"Baru kali ini" jawab Bani. "Emang kenapa ?".
"Hmm tempatnya sosweet banget, yang datang ke sini rata - rata yang berpasangan" jawab Syifa seraya memonitor seluruh ruangan resto tersebut.
"Tempat ini baru berjalan beberapa bulan dan lagi hits di kalangan anak muda" jelas Bani.
Pelayan menghidangkan makanan dan minuman di meja Bani dan Syifa, mereka berdua menikmati setiap suap makanan mereka, tak segan - segan Bani menyuapi Syifa dan sebaliknya, mereka berdua begitu menikmati makan siang romantis mereka. hingga suara ramai dari luar resto dan suara tembakan membuat Syifa panik ketakutan.
"Bang ada apa ini ?" tanya Syifa ketakutan.
"Tentang dulu, ada abang di sini" ucap Bani menenangkan istrinya. Bani memanggil pelayan dan membayar makanan mereka.
Diluar orang - orang berkerumun di sebuah hotel di sebrang resto tersebut membuat jalanan macet.
"Ini ada apa ya ?" tanya Bani ke salah satu pelayan resto yang habis dari luar.
"Kata orang - orang di hotel sebrang resto ada bandar narkoba yang sedang di kepung oleh pihak polisi" Jelas pelayan tersebut.
"Kita pulang saja ya" punta Syifa yangbsudah pucat karena mendengar suara tembakan yang tak henti - henti.
"Gimana kita bisa keluar, lihat jalanan aja macet" ucap Bani seraya melihat ke arah jalanan di mana mobil dan motor tak ada yang bergerak sama sekali.
Keadaan semakin mencekam, banyak orang yang berkerumun, membuat para petugas keamanan sulit mengaturnya, Bani meragkul Syifa dan berjalan keluar, Suara tembakan sudah tak terdengar lagi, membuat Syifa sedikit bisa tenang. Polisi dan satpam sedang berusaha membubarkan orang - orang yang berkerumun di halaman hotel termasuk di depan pintu utama hotel, sebuah mobil polisi berhenti di depan pintu masuk hotel, dan dari dalam beberapa polisi membawa bandar narkoba dengan kaki yang berdarah karena mendapat tembakan dari pihak kepolisian akibat melakukan perlawanan saat menangkapan. beberapa tas juga di bawa polisi sebagai barang bukti.
Para wartawan pemburu berita sudah bersiap di depan pintu hotel dan siap mewawancara para polisi. pihak polisi tak bisa menyampaikan banyak hal karena ini semua butuh penyelidikan. sebagian wartawan sibuk mengabadikan seseorang yang di sebut sebagai bandar narkoba.
Setelah keadaan kembali kondusif, Syifa dan Bani langsung meluncur pulang. "Bang kira - kira siapa ya tadi yang di tangkap ?" tanya Syifa penasaran.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Hai para readers yang setia menunggu update terbaru dari novel ini, Author mengucapkan mohon maaf karena belum bisa kembali double up karena keadaan Author yang belum memungkinkan.
__ADS_1
Pasti banyak yang bertanya sebenarnya Author ini sakit apa sih ?. Sebenarnya Author gak sakit, namun sedang masa hamil muda jadi kadang author mengalami mual muntah dan kadang juga pusing hingga membuat author jadi tak konsentrasi dalam menulis, namun author selalu berusaha up walaupun hanya satu bab.
terima kasih🙏🙏