Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 202


__ADS_3

Bi Tuti masih menunggu di ruang tunggu dengan harap - harap cemas, ia belum menerima kabar tentang keadaan Syifa. bibirnya terus merapalkan doa - doa untuk kelancaran persalinan Asyifa.


"Astaghfirullah" Gumam bi Tuti, ia tersadar telah melupakan sesuatu, dengan cepat Bi Tuti merogoh kantung celananya mencari benda pipih bernama ponsel.


"Asalamulaikum Umi" Bi Tuti baru ingat jika ia belum menghubungi keluarga Bani.


"Waalaikumsalam bi, Ada apa ? tumben malam begini telepon ?" tanya Umi dari sebrang telepon.


"Umi, Syifa di larikan ke rumah sakit, sepertinya Syifa akan segera melahirkan" ujar Bi Tuti.


"Rumah sakit mana Bi ?".


Bi Tuti menyebutkan nama rumah sakit dan juga alamat rumah sakitnya, setelah itu panggilan pun terputus.


Setelah mendapat kabar dari bi Tuti, Umi langsung bergegas mencari Sang suami ke gedung utama pesantren, karena kebetulan waktu itu sedang di adakan kumpulan para pengurus pesantren.


"Asalamulaikum" ucap Umi seraya ngos - ngosan karena harus berlari agar cepat sampai.


"Walaikumsalam" jawab semuanya kompak.


"Abah, Syifa di larikan ke rumah sakit, katanya mau segera melahirkan" Ujar Umi memberi tahu sang suami.


"Astagfirullah, ayo kita ke rumah sakit sekarang" Abah Hasan bangkit dari posisi duduknya. "Ustaz Ali tolong ambil alih untuk memimpin pertemuan hari ini" titah Abah Hasan. Ustaz Ali kini menjadi orang kepercayaan Abah Hasan di pesantren.


"Baik Abah !".


Abah Hasan dan Umi berangkat ke rumah sakit di antar oleh supir pribadi mereka. di tengah perjalanan Abah Hasan menghubungi Abi umar untuk memberitahu kabar Asyifa, mereka yakin jika belum ada yang menghubungi Abi Umar.

__ADS_1


Sementara Syifa baru saja selesai melakukan serangkaian pemeriksaan. Syifa setidaknya harus menunggu sekitar dua jam dan selama itu Syifa tidak boleh ada asupan yang masuk ke dalam lambungnya.


Bani sempat protes, kenapa tidak langsung saja di bawa ke ruang operasi, hatinya nyeri menyaksikan sang istri yang terus merintih kesakitan. salah satu perawat pun menjelaskan bahwa prosedurnya memang begitu dan dokter pun bilang bahwa air ketuban Syifa masih bagus dan cukup sampai dua jam ke depan.


"Abang, Syifa sudah enggak kuat, sakit sekali bang". Rintih Syifa seraya mencengkram kuat tangan sang suami.


"Istighfar sayang, kamu kuat, bertahan ya. jangan takut ada Abang di sini". Bani tak kuasa melihat sang istri kesakitan. wajahnya terlihat ikut meringis tatkala menyaksikan sang istri menahan rasa sakitnya. Allah, Andai saja bisa bertukar posisi biarkan aku saja yang meraskan kesakitan ini. batin Bani.


"Abang" rintih Syifa. wajahnya sudah penuh dengan peluh, sementara kedua tangannya terkadang memegang perutnya yang semakin tak karuan. bibirnya terlihat di gigit sendiri, menghalau rasa sakit yang bukan main.


"Syifa sudah enggak kuat, sakit sekali bang" ucap Syifa, buliran bening menetes pada kedua pipinya.


"Istighfar, sayang, kamu harus kuat ya". Bani masih mencoba menengkan istrinya. ingin rasanya Bani mengumpat, istrinya sudah sangat kesakitan, tetapi belum juga di ambil tindakan.


"Dokterrr !!! Tolong periksa , istri saya kesakitan terus !!" Seru Bani dengan setengah emosi.


"Tekanan darah pasien naik derastis dok, nyeri hebat pada perut, serta ada pembengkakan di kaki, saya khawatir indikasi pre eklampsia dok". perawat tersebut menjelaskan sementara dokter Della mencatat hasilnya.


Tapi kini yang paling ketar - ketir dan gelisah adalah Bani, telinganya mendengar perawat yang mengatakan bahwa Syifa terindikasi pre eklampsia. ah ! apa lagi itu, ya allah. Bani membatin bener - bener ketakutan.


"Dokter, saya mohon ambil tindakan secepatnya" ucap Bani dengan suara yang gemetar.


Dokter pun mengangguk, memahami kecemasan lelaki itu. " Baik pak, Sekarang juga kita bawa keruang operasi. suster, tolong bantu pasien untuk berganti pakaian, saya akan memanggil dokter Dinda untuk tindakan anestesi pasien dan Dokter Nisa untuk menangani bayinya nanti".


Sementara Abah Hasan dan juga Umi baru saja tiba di rumah sakit, dengan setengah berlari Abah dan Umi menyusuri lorong rumah sakit hingga mereka menemukan Bi Tuti yang sedang merenung di ruang Tunggu.


"Bi bagaimana kondosi Syifa ?" tanya Umi.

__ADS_1


"Enggak tau Umi, dari tadi belum ada yang keluar dari ruangan tersebut" jelas bi Tuti.


"Ya Allah, selamatkan menantu dan cucu ku mudahkan proses persalinannya" doa Umi dan langsung si aamiinin oleh Abah Umar dan Bi Tuti secara bersamaan.


Di tempat lain, tepatnya di rumah Ummah dan Abi Umar mereka langsung bergegas menuju rumah sakit setelah mendapat kabar dari Kyai Hasan tentang kondisi anaknya. Abi Umar mampir terlebih dahulu ke rumah Shela dan Abian, Tetapi mereka tidak ikut berangkat sekarang, karena kondisinya sudah larut malam dan mereka juga mempunyai anak kecil, Shela dan Abian akan menyusul pada esok hari. Abi Umar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, untung saja jalanan malam itu lengang membuat Abi Umar dan Ummah bisa sampai dengan cepat.


Syifa sudah siap di bawa keruangan operasi, Tangan Bani selalu menggenggam tangan sang istri untuk memberikan kekuatan.


"Sabar ya nak, terus berdoa ya, jangan takut, kami semua ada untuk Syifa di sini. pikirkan yang baik - baik saja, ya nak" ucap Umi saat Syifa akan di bawa keruangan operasi. Umi mencium pucuk kelapa Syifa dan tangis Syifa pun pecah.


Allah, ternyata seperti ini rasanya perjuangan seorang ibu saat akan melahirkan. rela bertaruh nyawa demi melihat sang buah hati lahir ke dunia, rela menggadaikan keselamatan sendiri asal bayi yang dilahirkan selamat tanpa kurang suatu apa pun. Syifa kini merasakannya sendiri. sejenak, semua kesalahan yang pernah ia perbuat pada orang - orang terdekat melintas dalam otaknya.


"Umi, Abah, Maafkan Syifa kalau ada kesalahan Sama Umi dan Abah, Selama ini Syifa belum bisa jadi menantu yang baik". ucap Syifa. sesegukan Syifa berubah jadi tangisan. Atmosfer sedih bercampur tengang membaur.


"Maafkan Segala kelakukan Syifa yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja yang telah melukai hati Umi dan juga Abah" tangis Umi pun pecah saat adegan Syifa mencium tangannya.


"Nak, jangan berbicara seperti itu, Selama ini Syifa sudah menjadi menantu yang baik buat Umi dan Abah, Syifa harus kuat demi si kembar". Umi bener - bener tak kuasa menahan keharuan tersebut.


"Syifa harus kuat ya nak. ingat sebentar lagi bakal bertemu dengan si kembar" ucap Abah Hasan, ia berusaha tidak mengeluarkan air matanya agar tak terlihat lemah di hadapan sang menantu, yang akan membuat menantunya ikut lemah juga.


"Abi dan Ummah mana ?" tanya Syifa karena tak melihat keberadaan kedua orang tuanya.


"Abi dan Ummah masih di jalan nak" sahut Umi.


"Umi nanti sampaikan maaf Syifa untuk Abi dan Ummah, Syifa sudah gak kuat" ujar Syifa meringis menahan sakit.


"Iya nanti Umi sampaikan, pikirkan yang postifnya saja ya nak" ujar Ummah.

__ADS_1


__ADS_2