
mendengar penuturan sang Umi membuat Bani sedikit kaget, kenapa Malik tidak mengantarkan Umi dan istrinya sampai depan kantor, dan tidak menemuinya langsung, kenapa harus berhenti di pertigaan, namun Bani menepis semua pikiran jelek terhadap Malik, pikirnya mungkin Malik sedang sibuk makanya ia hanya mengantar Umi dan istrinya sampai pertigaan.
Bani kembali ikut bekerja, sedangkan Umi dan Syifa hanya memperhatikan dari kejauhan, Bani bener - bener semangat agar kantornya cepat jadi dan bisa beroprasi kembali. waktu sudah mulai sore Bani pun pulang bareng Syifa dan Umi mereka memesan taxi online karena kebetulan hari ini Bani tak membawa mobilnya.
kegiatan hari ini membuat badan Bani sedikit pegal - pegal, dan memutuskan untuk tidak ikut mengajar di pesantren, dengan telaten Syifa memijat badan suaminya.
"Hebat juga istri Abang" puji Bani.
"Harus dong" ucap Syifa seraya tersenyum. "Bang emang yang namanya Malik itu temen abang ?" tanya Syifa yang masih pemasaran akan sosok siapa itu Malik.
"Iya dulu temen kuliah, tapi dia jarang gabung karena dia punya grup juga" jelas Bani. "Emang kenapa ?" tanya Bani.
"Oh, tapi kenapa ya hati kecil Syifa berkata kalau dia bukan orang baik - baik" ucap Syifa menjelaskan isi hatinya.
"Husstt, gak boleh berprasangka buruk sama orang sayang" ucap Bani lembut. tak mungkin Bani menceritakan soal kejadian tempo dulu pada istrinya.
"Tapi sepanjang perjalanan dia selalu memandang Syifa dengan tatapan aneh, Syifa jadi takut" jelas Syifa.
"Aneh gimana ?" tanya Bani, ia sudah selesai di pijit, kini Bani duduk berhadap - hadapan dengan istrinya.
"Aneh aja, gak bisa di jelasin dengan kata - kata" ujar Syifa.
Bani memeluk istrinya, memberi sebuah ketenangan " gak usah takut kan ada abang" usap Bani, lalu ia mendaratkan satu kecupan di bibir mungil sang istri. dan lama - lama berbuah menjadi suasana panas dan kecupannya sudah menjalar ke seluruh tubuh, dua insan itu saling memadu kasih di atas ranjang, menciptakan suara desahan yang terdengar begitu merdu dan menggoda.
__ADS_1
...*****...
Semenjak pertemuannya dengan Bani dan juga istrinya, Aisha telah berhenti bekerja menjadi spg, kini hidupnya seakan - akan tidak jelas, tak ada yang di harapkan untuk hidup, namun ia harus terus berjuang untuk cintanya. Aisha perlahan kembali mengubah pakaiannya seperti dahulu, kini ia ikut menjadi tenaga pengajar di sebuah taman kanak - kanak yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya, dan ia juga membuka les private bahasa inggris. penghasilan dari keduanya cukup untuk menghidupi dirinya dan juga adiknya.
Jam delapan Aisha baru saja pulang mengajar les private di sebuah perumahan yang cukup elit, seperti biasa Aisha selalu menggunakan jasa ojek online untuk mengantar dirinya ke berbagai tujuannya.
"Kak sudah pulang " sambut sang adik yang sudah menunggu ke datangan sang kakak.
"Iya de, kenapa emang ?".
"Kak, tadi pak kosim datang, dia menagih uang kontarakan, katanya kakak nunggak dua bulan, kalau sampai besok gak di bayar maka kita harus keluar dari kontrakan ini" jelas sang adik.
"Besok kakak akan membayarnya, kamu tenang saja" ucap Aisha sambil berlalu ke kamarnya.
Malam semakin larut namun matanya belum bisa terpejam, pikirannya melanglang buana entah kemana, masa depannya telah pergi meninggalkannya karena kebodohannya sendiri. untuk merelakannya pun tak ada kesanggupan, hanya bisa berharap ada sebuah keajaiban yang bisa mempersatukan mereka kembali di suatu hari nanti.
...******...
Robby dan Salwa sedang berkunjung ke rumah Mamah Erni, walaupun mamah Erni selalu meminta mereka untuk tinggal di rumah tersebut namun mereka selalu menolaknya, tinggal di apartemen adalah hari yang paling terbaik dan biasanya Robby dan Salwa akan menginap di hari sabtu.
Dari lubuk hatinya Salwa enggan untuk datang kerumah mertuanya, karena mertuanya selalu membahas tentang cucu, sudah beberapa bulan menikah Salwa dan Robby belum juga di kasih kepercayaan, namun untuk Robby itu tak jadi masalah tapi mamah Erni selalu memuntut hal itu, bahkan Mamah Erni sering berkunjung ke apartemen Robby untuk mengantarkan berbagai macam ramuan untuk kesuburan.
"Robby kapan kamu beri mamah cucu " ucap mamah Erni di tengah - tengah pembicaraan keluarga mereka.
__ADS_1
"Mamah harus sabar, kita berdua sudah konsultasi dan menurut dokter kami juga sehat - sehat saja, bahkan Salwa juga sangat subur"Jelas Robby, kadang ia juga kesal sendiri kenapa mamahnya selalu memintanya cucu.
"Tapi kenapa istrimu belum hamil juga" Seru mamah Erni.
"Mah jika mamah terus - terusan bertanya tentang itu maka Robby dan Salwa akan pulang, dan Robby gak akan datang ke sini lagi" Ancam Robby karena sudah geram, ucapan sang mamah tentunya akan melukai hati istrinya.
"Pulang sana, datang ke sininya nanti saja kalau sudah isi" ketus mamah Erni lalu pergi kekamarnya meninggalkan Robby dan juga Salwa.
Mendengar keributan dari ruang keluarga membuat Tasya keluar dari kamarnya. "Kenapa sih sekarang kakak dan mamah selalu saja beradu pendapat ?" tanya Tasya yang merasa heran kenapa sang kakak dan mamahnya selalu bertengkar setiap kakaknya datang kerumah.
"Tanya saja pada mamah" jawab Robby. "kakak mau pulang dulu jaga mamah" ucap Robby lalu menarik tangan istrinya agar segera keluar dari rumah orang tuanya.
Tasya yang terlalu cuek, dan Salwa yang juga cuek, membuat hubungan Tasya dan Salwa tak begitu dekat, mereka akan saling sapa jika hanya ada keperluan saja, sebenarnya Tasya tak begitu setuju dengan pernikahan kakaknya yang begitu mendadak, bahkan mamah Erni dan Tasya tak mengenal siapa yang akan menjadi calon untuk kakaknya.
Sepanjang perjalanan Salwa hanya bisa menangis, perkataan mertuanya begitu menyakitkan baginya, harusnya orang tua itu mendukung dalam proses kehamilan bukan menuntutnya agar segera hamil.
"Mas begitu hinanya aku, jika aku belum hamil juga ?" tanya Salwa dalam isak tangisnya.
"Apa yang di katakan mamah tadi jangan kamu pikirkan, pikiran stres bisa menghambat dalam proses ke hamilan" ucap Robby yang masih fokus mengendarai kuda besinya.
Bukan saja orang tua dari Robby yang selalu menuntutnya agar segera hamil, namun ke dua orang tuanya juga melakukan hal yang sama, mereka selalu bertanya tentang kapan Salwa akan hamil dan memberinya seorang cucu.
Salwa selalu mendapat tekanan dari kedua pihak, apalagi ia belum bisa mencintai Robby dengan sepenuhnya, karena di hati kecilnya masih ada nama Bani di sana. tapi untungnya Robby selalu menyemangatinya, Suaminya begitu sabar dalam mengahadapinya. Apa ini sebuah karma, karena aku dulu begitu jahat memperlakukan suamiku, bahkan aku tak melayaninya, bahkan aku memperlakukannya seperti pembantuku. Gumam Salwa dalam hatinya.
__ADS_1
Dalam Hati kecil Robby, ia juga ingin mempunyai seorang anak agar bisa melengkapi keluarga kecilnya, namun ia harus bersabar karena istrinya tak kunjung hamil, Robby bahkan dengan rajin selalu mendatangi dokter kandungan untuk bertanya tentang kesuburan dirinya dan istrinya walaupun perjuangannya kini belum berbuahkan hasil, namun Robby selalu percaya suatu saat istrinya akan hamil juga.